
Seminggu sudah berlalu dari hari itu. Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada masalah berarti yang timbul antara Dinan dan Layla. Dinan tidak pernah lagi membahas masalah dokumen di tangan Tuan Marc. Layla juga sudah kembali fokus bekerja. Pak Denis dan Emma tidak lagi menanyakan masalah dokumen itu. Yang terpenting bagi Layla adik-adiknya masih dapat tinggal dengan nyaman di panti asuhan.
Di sisi lain kehidupan Layla, hubungannya dengan Bayu juga berjalan baik. Walaupun ia tidak bertemu dengan Bayu setelah hari itu, ia tetap menjaga komunikasi dan saling bertanya kabar. Saat Bayu mengajak bertemu, Layla menolak dengan alasan pekerjaan yang menumpuk. Gadis itu juga dibuat bimbang oleh keadaan. Di satu sisi bergantung harapan besar Tuan Marc dan Bu Eva kepadanya. Di sisi lain, ia masih sangat mencintai Bayu.
“Layla, ke ruanganku sebentar,” ucap Pak Denis memanggil Layla. Perempuan itu langsung berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan Pak Denis. Baru saja ia masuk, Pak Denis sudah berdiri menunggunya.
“Pak Dinan memanggilmu, La. Sepertinya masalah dokumenmu itu masih belum selesai.”
Layla menelan ludah, ia lekas pamit kepada Pak Denis dan segera menuju lantai tujuh. Gadis itu meminta izin terlebih dahulu kepada Richard sebelum masuk ke ruangan Dinan. Saat Layla membuka pintu tanpa mengetuknya, ia melihat ada seorang perempuan yang tengah berbicara dengan Dinan di sana.
***
Dinan baru saja menyuruh Richard untuk memanggil Layla ke ruangannya. Ada hal yang harus disampaikan Dinan kepada Layla secepatnya. Namun di saat Dinan menunggu kedatangan Layla. Perempuan lain malah masuk ke ruangan itu dengan santai.
Langkahnya terdengar jelas di ruangan kerja Dinan yang hening. Dinan sudah tahu orang yang masuk bukan Layla, karena istrinya itu tidak pernah menggunakan high heels sama sekali.
“Apa kedatanganku mengejutkanmu?” tanya perempuan itu dengan nada menggoda, Dinan mengangkat kepala, menatap siapa yang datang.
Jenny, gadis itu datang dengan pakaian yang cukup terbuka. Rok di atas lutut dengan gaun tanpa lengan. Juga make up-nya yang mencolok dengan bibir berwarna merah merona. Tak lupa mascara yang membuat alisnya begitu menarik perhatian. Gadis itu selalu bisa menghias diri agar bisa menjadi pusat perhatian.
“Apa kamu merasa ini adalah kantormu? sehingga kamu bisa seenaknya masuk ke ruanganku seperti ini,” tanya Dinan yang kesal dengan kedatangan gadis itu.
“Auh, Dinan … apa kamu masih marah dengan kejadian di masa lampau? aku bahkan sudah membuang laki-laki itu karena dia tidak berguna sama sekali.”
“Aku tidak mau bicara tentang masa lampau, lebih baik langsung saja ke inti kedatanganmu ke sini,” ucap Dinan dengan lugas.
“Kamu terlalu terburu-buru.” Jenny melangkah menuju sofa yang ada di ruangan Dinan. Ia mengeluarkan ponsel dan duduk santai di sana.
__ADS_1
“Aku tidak punya waktu untuk main-main, Jen, jadi pergilah jika kamu tidak ada urusan.”
“Duh, calon suamiku ini benar-benar sibuk. Aku datang hanya untuk mengurus bisnis kita. Apa kamu lupa dengan tawaranku beberapa waktu lalu.”
Dinan mengembuskan nafas kasar. Jenny tersenyum tipis, ia sibuk melihat layar ponselnya. Dinan menggertakkan gigi. Ia berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Jenny.
“Kamu datang juga, kan. Apa kita perlu memesan minuman lebih dulu?” tanya Jenny dengan nada masih menggodai Dinan.
“Aku tidak punya waktu, jika tidak ada yang perlu dibahas, maka keluarlah segera,” ucap Dinan dengan nada sedikit menekan.
“Kamu berubah, Nan. Nggak selembut dulu kepadaku.”
Dinan menahan kesal. Sikap Jenny seakan mempermainkannya. Seakan Jenny tahu bahwa Dinan sebenarnya juga ingin mendengar kabar dari keluarga Barata.
“Aku punya tawaran bagus untukmu, Nan.”
“Kita menikah,” ajak Jenny dengan wajah yang seketika berubah serius.
Layla yang sudah masuk sejak Dinan pindah ke sofa seketika membulatkan mata. Tak mengira ada perempuan yang selugas itu mengajak menikah laki-laki yang telah menemani tidurnya seminggu lebih ini. Layla masih berdiam diri memperhatikan Jenny dan Dinan dari balik pajangan ruangan suaminya itu.
“Ada ide yang jauh lebih gila dari itu?”
“Ini keuntungan, Nan. Kamu sudah tahu bahwa lahan yang kamu menangkan di lelang itu adalah milik keluargaku, kan? Aku bisa memberikanmu lahan itu dan menyelamatkan nama baikmu. Di sisi lain, pernikahan kita bisa mempererat hubungan keluarga kita untuk bisnis yang lebih besar.”
“Idemu ditolak, sekarang pergilah.” Dinan berdiri dari duduknya.
Jenny dengan cepat memegang tangan Dinan untuk menahan laki-laki itu. Hati Layla seketika berdesir melihat pertama kalinya ada perempuan yang memegang tangan suaminya.
__ADS_1
“Kita sama-sama tidak memperdulikan arti sebuah pernikahan, tidak ada yang dirugikan disini. Kamu butuh istri untuk status dan mendapat jatahmu dari Tuan Marc, juga menjaga nama baikmu karena masalah lahan itu. Aku juga butuh suami untuk status, aku butuh calon suami dari keluarga terpandang sepertimu. Kita juga sama-sama butuh anak sebagai pewaris, jika kita punya anak, dia akan menjadi orang hebat di masa depan karena lahir dari dua keluarga besar di negara ini.”
Dinan tersenyum sinis. “Kamu butuh aku, tapi aku tidak butuh kamu. Kalau kamu tidak menikah dengan laki-laki terpandang, kamu hanya akan dianggap sampah oleh keluargamu, juga anak-anakmu akan disingkirkan dari nama besar keluarga Barata. Jadi berhentilah seolah-olah aku sangat membutuhkanmu di situasi ini.”
Dinan menepis tangan Jenny dan berjalan menuju mejanya.
“Dinan!” teriak Jenny, “nasibmu ada di tangan keluargaku. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan lahan itu begitu saja? Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka kita berdua akan sama-sama menjadi sampah. Aku tersingkir dari keluarga Barata, kamu akan tersingkir dari Marc property. Aku tidak main-main, Dinan.”
Dinan berhenti sejenak, “aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan, sekarang pergilah sebelum aku menyeretmu keluar.”
Jenny berdiri, ia mendengus kesal. Sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan ruangan kerja Dinan. Sekarang ia boleh gagal, tapi untuk selanjutnya ia akan berhasil mendapatkan laki-laki itu. Jenny sempat berhenti di dekat pintu karena melihat Layla berdiri di sana. Ia hanya bisa melotot marah kepada Layla kemudian pergi karena tidak ingin ribut di depan Dinan.
Selepas kepergian Jenny, Layla masih berdiri disana. Ia memperhatikan Dinan yang tampak memukul meja berkali-kali untuk meluapkan rasa marahnya.
“SIALAN KAU JENNY!” teriak Dinan dengan semua dendam yang ia simpan di dalam dada. Sakit hati di masa lalu itu masih terasa, luka itu masih jelas ternganga di hatinya.
Beberapa saat kemudian telpon Dinan berbunyi. Laki-laki itu mengeluarkan sumpah serapah karena rasa marah yang belum terlampiaskan.
“Ada apa?” tanya Dinan setengah berteriak di panggilan tersebut.
“Emang dia dimana?” tanya Dinan dengan nafas memburu.
“Ah, dasar orang-orang tak berguna,” bentak Dinan dengan kesal. Laki-laki itu menutup panggilan.
“Layla! Ke sini!” panggil Dinan dengan keras.
Membuat Layla tersentak kaget karena tidak mengira Dinan mengetahui ia ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1