
Layla sibuk membuka pintu lemarinya. Memilih beberapa barang yang hendak ia bawa untuk tinggal bersama Dinan. Tidak banyak yang dipilih Layla. Hanya beberapa barang pribadi dan keperluan make up-nya. Saat ia hendak menutup pintu lemari, matanya menyorot ke kotak kecil berwarna coklat di sudut lemari. Gadis itu tersenyum getir dan mengambil kotak tersebut. Mengeluarkannya dan melihat isinya. Sebuah kalung emas dengan riasan berlian hati berwarna merah.
Hanya itu satu-satunya perhiasan yang dimiliki Layla, sebelum ia mendapatkan cincin pernikahan dan anting emas dari Bu Eva sebagai hadiah pernikahannya tadi siang. Layla mengambil kalung itu dan memakainya. Kemudian ia menutup pintu lemari kecilnya itu. Setelah memastikan tidak ada barang yang hendak dibawanya lagi, ia keluar dari kontrakkannya itu.
Sementara di dalam mobil Dinan sibuk dengan tab-nya. Kali ini laki-laki itu mencari informasi tentang yayasan yang selama ini mengelola panti asuhan tersebut. Yayasan Putri Gemala, bergerak di bidang sosial dan pendidikan. Dinan mengurut dahi, tak banyak informasi tentang Yayasan tersebut di internet.
“Pantas saja yayasannya bangkrut, beradaptasi dengan perkembangan zaman saja tidak bisa. Seharusnya mereka masuk ke dunia digital untuk bisa terus bersaing di dunia bisnis pendidikan dan sosial,” gumam Dinan.
Laki-laki itu kembali membuka halaman beberapa web. Tak banyak informasi memang, hanya ada ulasan singkat tentang panti yang didirikan tahun 1996 itu. Bahkan tanggal pasti pun tidak ada selain tahunnya.
“Bagaimana aku bisa tahu benang merah masalah lahan itu jika informasinya saja sulit didapatkan seperti ini?” gumam Dinan lagi.
Pintu mobilnya tiba-tiba terbuka, Layla langsung masuk ke dalam dan duduk di samping Dinan.
“Sudah selesai?” tanya Dinan memperhatikan bawaan Layla di sebuah tas sandang kecil.
“Udah, Pak.”
Dinan masih memperhatikan Layla, sorot matanya tertuju pada kalung yang dipakai gadis itu. Dia tidak mungkin salah mengingat bahwa Layla sebelum ini tidak pernah menggunakan kalung. Tangannya terangkat menuju dada gadis itu. Kaget dengan apa yang dilakukan Dinan, Layla menepis tangan laki-laki itu dengan kasar.
“Bapak mau apa?” tanya Layla dengan cemas.
Dinan tidak menjawab, tangannya bergerak cepat meraih kalung Layla. “Kamu dapat kalung ini dari mana?” tanya Dinan menyelidik.
“Ini satu-satunya peninggalan ibu saya, Pak,” jawab Layla. Kali ini ia tidak berani lagi menepis tangan laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya beberapa jam lalu.
“Peninggalan ibumu?”
“Kata Bu Irma, ayah dan ibu saya meninggal saat kecelakaan, dan saya selamat, waktu itu ibu saya menggunakan kalung ini, jadi kalung ini diberikan kepada saya oleh Bu Irma,” terang Layla.
__ADS_1
Dinan melepaskan kalung itu, Ia menghidupkan mobil untuk segera pergi dari sana. Mata laki-laki melihat ke pintu kontrakan tempat Layla masuk tadi. ‘Jika semua aset sudah kumiliki, akan kubuang gadis ini ke kontrakan lusuhnya ini, sekarang dia harus berada di dekatku dulu untuk meyakinkan ayah,’ batinnya.
Mobil Dinan meninggalkan kawasan itu, masuk lagi ke jalan raya untuk bergabung dengan mobil-mobil lain di tengah ramainya jalanan.
***
Dinan tidak buru-buru untuk pulang ke apartemennya. Ia membelokkan mobilnya di salah satu restoran mewah. Kening Layla mengernyit saat tiba-tiba Dinan masuk ke parkiran restoran tersebut.
“Kenapa kita ke sini, Pak?” tanya Layla dengan bingung.
“Lapar.”
Layla menelan ludah, restoran berdinding kaca dan lampu terang berwarna warni itu seakan menggambarkan betapa mahalnya makanan di dalamnya. Ia diam di kursinya, memikirkan berapa uang yang ada di dalam dompetnya sekarang. Makan disana bisa saja menguras habis isi dompetnya. Bahkan mungkin sekali makan di restoran itu bisa menghabiskan seperempat dari total gajinya sebulan.
“Kenapa diam? turun!” perintah Dinan setelah keluar dari mobil, ia melihat Layla hanya diam tak bergerak sama sekali.
“Turun dan masuk ke dalam!” perintah Dinan, laki-laki itu berlalu pergi.
Layla meremas rambutnya dengan frustrasi. Ini saja sudah membuat dia gila menghadapi Dinan. Setiap kata yang keluar dari laki-laki itu harus dipatuhi, tidak boleh ditentang sedikit pun. Bahkan untuk menawar saja Layla tidak bisa. Ah, akan seperti apa hari-hari yang harus ia lalui bersama Dinan ke depannya?
Dengan sangat terpaksa Layla turun dari mobil, kemudian melangkah masuk ke dalam restoran. Melihat mobil-mobil mewah yang terparkir di depan restoran seakan membuat nyali Layla menciut. Mungkin orang-orang di dalam adalah pejabat, pengusaha, artis terkenal atau anak-anak orang kaya yang punya jatah bulanan puluhan juta.
Baru saja langkah pertama Layla masuk ke dalam restoran tersebut. Matanya sudah tertuju pada beberapa artis ternama yang biasa bermain di sinetron televisi. Layla menelan ludah, kali ini ia berusaha percaya diri untuk berjalan disana. Di sudut ruangan ia melihat seorang menteri yang tengah berbincang dengan koleganya.
Layla melangkah setenang mungkin, hingga ia akhirnya sampai juga di meja yang sudah ditempati Dinan lebih dulu. Ia menarik kursi dan duduk disana dengan sopan. Melihat kepada Dinan yang tampak memperhatikan keadaan sekitar.
“Jika ada yang bertanya tentang kamu, bilang saja kamu asistennya Richard,” ucap Dinan dengan suara amat pelan.
Layla mengangguk patuh, sadar diri dengan siapa dirinya.
__ADS_1
“Kamu lihat laki-laki memakai kemeja biru dekat Menteri itu?” tanya Dinan seraya menunjuk seseorang dengan sorot matanya.
Layla menoleh, melihat siapa yang dimaksud oleh Dinan. Seketika matanya membulat melihat ayah Bayu duduk disana, berbincang-bincang dengan orang-orang yang ia yakini punya jabatan penting di pemerintah pusat.
“Dia salah satu orang yang bermain di lahan panti asuhanmu itu, dia dekat dengan keluarga Barata,”
“Ma-maksud Bapak apa? saya tidak mengerti,” jawab Layla yang kembali melihat kepada Dinan.
“Data lelang di bank jelas menunjukkan pemilik lahan itu adalah Yayasan Putri Gemala yang mengurus panti asuhanmu selama ini, tapi ada fakta lain bahwa keluarga Barata mengklaim lahan itu adalah milik mereka, salah satu keluarga mereka pernah tercatat menjadi milik lahan itu. Secara kepemilikan, lahan itu tercatat sebagai milik yayasan yang aku menangkan di lelang kemarin, tapi jika mereka bisa membuktikan lahan itu punya mereka, pengadilan bisa saja memberikan lahan itu pada mereka dan membatalkan kemenangan lelang kita dari bank. Persoalan akan jadi rumit karena bank akan lepas tangan soal itu.”
Layla memperhatikan Dinan dengan seksama.
“Selama ini keluarga Barata tidak mempermasalahkan lahan itu digunakan untuk panti, karena sewaktu-waktu mereka bisa merebutnya dengan bukti yang kuat. Tapi ternyata yayasanmu bermain curang, lahan itu digadaikan ke bank dan pada akhirnya tidak bisa mereka tebus. Atau lebih tepatnya yayasanmu memang tidak ingin menebus lahan itu agar masalah dengan keluarga Barata selesai. Dan sekarang keluarga Barata bisa merebut lahan itu dari perusahaan kita.”
“Masalah ini bisa diurai jika semua pihak yang terlibat dalam pendirian panti itu di tahun 1996 masih hidup. Mereka pasti bisa menjelaskan lahan itu punya siapa sebenarnya. Sebelum diubah menjadi panti, lahan itu digunakan untuk penginapan, kerja sama antara yayasan dan keluarga Barata, masalahnya setelah diubah menjadi panti, kepemilikan lahan menjadi tidak jelas.”
“Jadi perusahaan kita sekarang secara tidak langsung sudah masuk ke dalam masalah mereka, Pak?” tanya Layla memastikan dugaannnya.
“Ini salahku, aku tidak berpikir panjang saat ikut lelang itu. Aku hanya berpikir memenangkan lelang itu karena posisi lahannya sangat strategis, dalam waktu 5 tahun aku yakin harganya bisa naik 20 kali lipat seiring dengan pembangunan pemerintah di sekitarnya. Aku tidak menyelidiki dulu lahan itu sebelumnya, sehingga sekarang posisiku amat sulit.”
“Sekarang masalah ini malah semakin panjang karena dokumen itu dipegang oleh ayah. Itu semua karena ulahmu. Aku sudah memenuhi keinginan ayah untuk menikahimu, dan menyelamatkan anak-anak panti. Tapi sampai sekarang dokumen itu belum juga kembali kepadaku.”
“Maaf, Pak, ini salah saya.” Layla tertunduk lemah, ia sama sekali tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan kemarin ternyata berdampak panjang untuk perusahaan.
“Besok pastikan dokumen itu kembali ke mejaku, laki-laki yang kamu lihat tadi itu punya kekuasaan terselubung di kementerian dan dia dekat dengan keluarga Barata. Dia bisa jadi bumerang untuk kita dengan meresmikan surat-surat ilegal untuk memenangkan keluarga Barata dan menyalahkan kita karena ikut lelang atas lahan yang tidak jelas kepemilikannya. Mereka itu orang-orang yang penuh kecurangan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
“Permisi, Pak, Buk, kalian sudah memesan makanan?” tanya seorang pelayan.
Dinan dan Layla seketika menoleh. Mereka terlalu serius dengan pembahasan barusan sehingga lupa kalau mereka belum memesan apapun.
__ADS_1