
“Aku nggak ikut-ikutan kok, Bu. Untuk masalah lahan itu aku hanya merasa bersalah, dokumen lahan itu dipegang oleh Tuan Marc karena ulahku. Semua pimpinan perusahaan dan Pak Dinan sekarang dalam posisi sulit karena itu,” terang Layla.
“Pokoknya jangan terlibat apapun dengan urusan mereka, La,” tegas Bu Irma.
“Iya, Bu. Aku mau cerita sesuatu sama ibu,” ucap Layla dengan menatap lekat wajah Bu Irma yang sudah menua.
“Cerita apa, La?”
“Mimpi itu datang lagi, Bu.”
“Api?” tanya Bu Irma yang tahu Layla dari dulu sering mimpi buruk tentang kebakaran.
Layla mengangguk pelan.
“Kamu mungkin kecapekan, La. Makanya usahakan istirahat yang cukup setiap hari,” lanjut Bu Irma.
“Tapi, Bu, aku mimpi setelah Pak Richard bertanya tentang kebakaran yang pernah terjadi di panti kita dulu. Apa benar panti kita pernah kebakaran, Bu?” tanya Layla dengan penasaran.
“Kebakaran, La?”
“Iya, Bu. Aku mimpi ruangan kantor ibu terbakar. Ada lima perempuan disana, mereka terkurung dan tidak bisa keluar. Anehnya di mimpi itu aku melihat Pak Dinan menolong seseorang, tapi perempuan itu menolak dan menyuruh Pak Dinan menyelamatkanku dari kebarakan itu. Saat aku dan Pak Dinan keluar, aku malah melihat diriku saat kecil melihat kebakaran itu, Bu,” terang Layla menjelaskan mimpinya.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Bu Irma. “Itu hanya mimpi, La. Kamu terlalu menyayangi Pak Dinan, makanya kamu bermimpi dia menolongmu,” ucap Bu Irma seadanya.
Layla terpaku mendengarnya. Dia mungkin memang benar telah jatuh hati pada Dinan. Dan tidak bisa mengelak dari hal itu.
“Tapi kebakaran itu benar terjadi, Bu?” tanya Layla memilih fokus dengan pembahasan mereka.
“Iya, La. Saat itu usiamu masih tiga tahun lebih, kamu tidak mungkin ingat dengan baik. Semua anak-anak di panti melihat kebakaran itu di halaman. Memang benar ada lima orang yang meninggal karena kebakaran itu, kamu mengenal mereka karena merekalah yang merawatmu sejak masih bayi. Jadi wajar saja jika kamu bermimpi seperti itu,” terang Bu Irma.
“Oh, ya, La. Saat anak-anak pindah, Pak Dinan bicara sama Ibu. Dia seperti menuduhmu selingkuh, La. Ibu jadi khawatir, apa benar kalian baik-baik saja?” tutur Bu Irma mengalihkan pembahasan.
__ADS_1
Layla membuang nafas panjang. “Sebelum kami menikah, aku punya kekasih lain, Bu. Aku rasa aku sudah pernah menceritakan ini sama ibu.”
“Astaga, La. Kamu beneran selingkuh? itu perbuatan hina, La.”
“Bu,” potong Layla, “aku tidak selingkuh, laki-laki itu masih menginginkanku. Aku sudah tidak ingin bertemu dengan dia lagi dan tadi aku sudah minta dia tidak menemuiku. Pernikahanku dan Pak Dinan itu mendadak, Bu. Jadi aku harus menyelesaikan masalahku dengan dia di dalam pernikahanku dan Pak Dinan. Jadi mungkin Pak Dinan salah paham untuk hal itu.”
Bu Irma geleng-geleng kepala mendengarnya. “Selesaikan cepat, La. Jangan buat ada kesalahpahaman di dalam pernikahanmu. Jelaskan semuanya kepada Pak Dinan dengan sejujur-jujurnya dan terbuka apa adanya,” ucap Bu Irma menasehati Layla.
Layla mengangguk paham. Ia melihat Bu Irma kembali membuka buku yang tadi ditutupnya. Membuat Layla tahu diri untuk tidak mengganggu pekerjaan Bu Irma. Ia kemudian pamit untuk bertemu dengan adik-adiknya di halaman panti.
***
Layla baru saja membuka pintu apartemennya dan Dinan. ia menenteng dua plastik putih besar setelah tadi berbelanja di supermarket. Gadis itu melangkah senang, ia sejak tadi terus memikirkan akan memasak menu apa untuk makan malam. Mengingat Dinan begitu menikmati setiap yang ia masak, Layla pun jadi bersemangat untuk terus mencoba menu baru yang lebih enak
Saat melangkah menuju ruang tengah, Layla mendengar suara TV menyala disana. “Apa dia sudah pulang?” tanya Layla dengan lirih.
Layla terus melangkah, ia melihat Dinan duduk menonton berita bisnis.
“Bapak sudah pulang?” tanya Layla.
“Bicara apa saja kamu dengan Bu Irma?” tanya Richard dengan santai.
Layla menelan ludah, apa Richard memberi tahu Dinan kalau dia tadi bertemu Bayu? Rasa senang gadis itu seketika berubah hampa. Ia berdiri terpaku di sana.
“Hei, kenapa kamu berdiri di sana?” tanya Richard yang sudah duduk di samping Dinan.
“Sa-saya,” ucap Layla terbata.
“Kamu bicara apa dengan Bu Irma?” tanya Dinan kepada Richard.
Layla mengembuskan nafas lega. Dinan tidak menghakiminya disana.
__ADS_1
“Dia masih mengelak, pasti dia menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita,” ucap Richard seraya meminum air dan melihat ke arah TV. Ia memilih mengabaikan Layla karena tahu Dinan tidak ingin menyalahkan gadis itu atas apa yang dikerjakannya.
“Kalau begitu kita cari tahu apa yang dia sembunyikan. Apa penemuan terbarumu sekarang?” tanya Dinan lagi.
Layla memilih segera ke dapur untuk merapikan semua belanjaannya. Posisi dapur dengan ruang tengah yang dekat, membuat Layla bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Ini menarik, Nan,” ucap Richard yang tidak memanggil Dinan dengan sebutan bapak. “Nama salah satu korban kebakaran itu sama dengan salah satu cucu pemilik yayasan.”
“Menariknya dimana? apa kamu tidak bisa bekerja dengan becus, Richard? jelas-jelas yayasan itu milik mereka, tentu saja ada kemungkinan keluarga mereka di panti itu!” bentak Dinan dengan kesal.
“Eh, menariknya itu karena mereka mengamini hasil penyelidikan polisi bahwa kebakaran itu karena hubungan pendek arus listrik, padahal Bu Mulia mengatakan ada kemungkinan kebakaran itu disengaja. Menurutmu kenapa mereka tidak mencari tahu penyebab kebakaran itu jika ada faktor kesengajaan? Mengapa mereka membiarkan saja keluarga mereka hangus seperti itu?” terang Richard akan pendapatnya.
Dinan mengembuskan nafas panjang. “Dunia ini kejam, Chard. Bahkan keluargamu sendiri tidak akan peduli kamu mau mati atau hidup. Bahkan jika kamu mati dan mereka mendapat keuntungan ksrena itu, kamu akan dibunuh untuk kepentingan mereka.”
“Ya, kamu benar, Nan. Tapi menurutku ini menarik, aku merasa ada yang aneh disini, karena Bu Irma tidak pernah mau terbuka bercerita kepada kita. Secepatnya akan ada info lain, orang-orangku sudah menyelidiki semua data Herman Barata. Kita bisa punya kekuatan untuk mendapatkan lahan itu.”
“Bagus,” tutup Dinan.
“Tapi, perempuan ini mau kamu biarkan saja sesukanya seperti tadi?” tanya Richard seraya menyorot tajam kepada Layla yang sibuk menata belanjaannya di lemari.
Dinan menoleh kepada Layla. “Biarkan dia bertemu laki-laki itu sesukanya,” ucap Dinan, Layla yang sadar bahwa kalimat itu untuk dirinya spontan menoleh. Ia melihat Dinan yang menatapnya dengan datar.
“Semakin dia sering bertemu laki-laki itu, semakin bagus. Aku benar-benar bisa menampar harga diri ayah bahwa dia tidak pernah becus memilih perempuan,” ucap Dinan dengan dingin.
Layla menggeleng, ia sadar bahwa Dinan sudah tahu ia bertemu dengan Bayu lagi. Mata gadis itu seketika melemah. Kenapa dia melakukan kesalahan lagi yang akan mempersulit posisinya sendiri di sisi Dinan?
“Bereskan semuanya, Chard. Kita harus segera memulai pembangunan dalam waktu dekat.” Dinan kemudian berdiri, ia berjalan menuju lantai dua.
Layla dengan cepat meninggalkan dapur, ia berhenti tepat di dekat Richard yang masih duduk di ruang tengah. “Apa Bapak senang membuat saya selalu salah di mata Pak Dinan?” tanya Layla dengan suara gemetar menahan tangis.
“Kamu yang berulah, cukup tenang saja di sisi Dinan, maka tidak ada yang akan mengusikmu. Tapi kamu malah bermain dengan laki-laki lain di belakang Dinan. Itu benar-benar membuatku tak nyaman. Dari pada Dinan terlanjur kecewa karena menyimpan perasaan untukmu, lebih baik aku membuatnya membencimu dari awal,” ucap Richard tanpa beban.
__ADS_1
“Saya tidak berniat buruk kepada Pak Dinan, Pak. Saya juga tidak berniat menyakitinya. Jika Pak Dinan menerima saya sebagai istrinya, saya akan senang hati untuk mengabdi padanya. Tapi dari awal dia mengancam akan menendang saya dari apartemen ini.”
Richard berdiri, membuat kalimat Layla terhenti. “Jika kamu ingin menjadi istri Dinan, maka jadilah istri yang baik, bukan bermain dengan laki-laki lain. Dia memulai pernikahan ini dengan banyak luka dan kekecewaan kepada perempuan. Jadi mengertilah dengan hal itu, bukan mencari laki-laki cadangan untuk tempatmu bersandar saat kalian berpisah, tapi buatlah Dinan mencintaimu.” Richard kemudian berjalan dua langkah, “jika kamu ingin menjadi istri Dinan dan setia kepadanya, maka tunjukkan, aku akan mendukungmu untuk itu.” Richard kemudian pergi dari apartemen Dinan.