Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 21


__ADS_3

Layla mendekati pintu ruangan Dinan, tanpa mengetuknya lebih dulu. Layla masuk ke dalam.


‘Braak!!!’


Mata Layla membulat melihat Dinan memukul meja dengan kuat.


“Kayak gini kamu pulang bilang kerja?” ucap Dinan dengan marah tertahan. Ia melempar sebuah map kepada perempuan yang berdiri di depannya.


“Maaf, Pak, saya sudah melakukannya semampu saya,” jawab perempuan itu membela diri. Wajahnya tertunduk, lututnya gemetar, lemah tak berdaya.


“Kamu itu digaji besar disini, gaji kamu itu dua kali lipat dari standar gaji di posisimu, Dengan gaji sebesar itu hasil kerjamu cuma kayak gini?” bentak Dinan dengan mata berapi-api.


Apa yang terjadi disana benar-benar membuat Layla bergidik ngeri. Apa ini kekejaman Dinan yang dibicarakan banyak orang? Tak kenal ampun atas sebuah kesalahan. Apalagi kesalahan itu datang dari staff perempuan.


“Saya sudah mengusahakan yang terbaik, Pak.”


“Ha? terbaik? seperti ini terbaik kamu bilang? hanya sampah yang bilang kerja seperti itu yang terbaik,” ucap Dinan dengan tajam. Sementara karyawan di depannya tampak sudah menahan tangis. “Pantas saja keuntungan perusahaan ini tidak pernah mau naik, staff marketing saja kinerjanya kayak gini. Kapan bisa bersaingnya dengan perusahaan asing yang kerjanya selalu all out? ha? kapan?”


Layla menatap wajah Dinan dengan gemetar. Dari pintu masuk ke meja Dinan memang dibatasi oleh sekat hiasan miniatur bangunan, sehingga Dinan masih belum menyadari kehadiran Layla disana. Perempuan yang tengah dimarahi Dinan tampak tak bisa memberi pembelaan lagi atas kesalahannya.


“Ini kesalahan yang fatal, sebelum jam dua siang surat pengunduran dirimu sudah harus sampai di mejaku. Sekarang keluar!” ucap Dinan yang tidak ingin memperpanjang masalah. Dia sebenarnya juga lelah setelah seharian kemarin menghabiskan waktu untuk acara perniakahnnya dengan Layla. Apa lagi semalam ia juga tidak tidur nyenyak karena Layla yang terlalu banyak memakan ruang di ranjanngya. Laki-laki itu duduk dan memilih melihat layar laptop kerjanya.


Perempuan di depannya itu tiba-tiba berlutut pasrah. “Saya salah, Pak, tolong jangan pecat saya, ini kesalahan terakhir yang saya buat.”


“Tidak ada pembelaan untuk kesalahanmu, ada banyak orang yang jauh lebih baik kinerjanya di posisimu itu, jadi pergilah, biarkan orang terbaik yang menggantikanmu.”

__ADS_1


“Saya mohon, Pak, saya tulang punggung keluarga, suami saya lari dan tidak bertanggung jawab kepada saya dan dua anaknya. Orang tua saya juga sakit-sakitan dan semua biaya rumah sakitnya saya yang tanggung.”


“Dasar orang ini," maki Dinan, "Sudah tahu kamu butuh pekerjaan ini, masih saja kerja asal-asalan, sudah, keluar sana, angkat kaki dari perusahaan ini. Perusahaan ini tidak butuh orang-orang tidak becus sepertimu.” Dinan berbicara tanpa peduli sama sekali kepada perempuan itu.


“Pak saya ….”


“Apa perlu satpam yang menyeretmu keluar? jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan yang lain!” ucap Dinan dengan dingin.


Perempuan itu berdiri, kemudian pergi tanpa pamit dari sana, ia sadar tidak akan mampu mendapatkan maaf Dinan, ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Semua orang tahu bahwa Dinan memang tanpa ampun atas kesalahan karyawan di perusahaannya. Perempuan itu sempat saling beradu pandang dengan Layla yang masih berdiri di dekat pintu. Untuk kemudian ia pergi seraya menghapus air matanya yang berderai.


Layla sadar betul akan gengsi bekerja di Marc Property. Gaji karyawan disana di atas standar gaji perusahaan lain. Peluang karir yang bagus dan kerjasama perusahaan dengan berbagai pengusaha di Asean yang membuat perusahaan itu sering mendapat projek bagus di negara lain. Membuat nama perusahaan itu begitu dikenal hingga banyak negara.


Dengan gugup Layla berjalan mendekati meja Dinan. Sekalipun mood Dinan sedang tidak baik Layla memang harus menyampaikan pesan Tuan Marc tadi. Ia harus berani menyampaikan pesan itu.


“Kamu belum keluar?” tanya Dinan yang mengira Layla adalah perempuan tadi. Dinan masih fokus dengan layar laptopnya.


Dinan seketika menoleh, ia mengembuskan nafas kasar saat melihat wajah Layla disana. “Mana dokumennya?” tanya Dinan tanpa basa basi.


“Tuan Marc menolak memberikannya, Pak.”


‘Braak!!!’


Dinan memukul mejanya dengan kesal. “Gila ya, meminta dokumen itu saja kamu nggak bisa, becus kerja nggak sih?”


Layla tertunduk, ia mengaku salah akan hal itu. Dinan kemudian berdiri, mendekat ke arah jendela kaca dengan wajah menahan marah.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Tuan Marc minta agar panti jangan dikosongkan dulu, karena itu akan membuat lawan kita menyerang kita, sementara kita tidak tahu seluk beluk kepemilikan lahan itu dengan jelas,” terang Layla akan penjelasan Tuan Marc yang masih dia ingat.


“Kamu cuma bikin masalah saja bisanya,” ucap Dinan. Membuat Layla menelan ludah disana. Suara Dinan terdengar menahan marahnya. Membuat Layla merasa dirinya benar-benar tidak berguna.


“Lahan itu proyekku, rencana pribadiku, tempatku membuktikan diri kepada ayahku. Sekarang kamu menghancurkannya dengan mudah. Aku sudah mengorbankan diriku untuk menikahimu agar proyek di lahan itu tetap berjalan sesuai rencanaku. Tapi apa yang kudapat? nggak guna tahu menikahimu jika proyek itu tetap tidak bisa berjalan sesuai rencana.”


Layla mengangkat kepala, melihat Dinan yang masih memandang jauh ke luar jendela kaca.


“Aku nggak mau tahu, pokoknya sore ini dokumen itu harus sampai ke mejaku. Atau aku akan menggusur panti itu malam ini juga, terserah mau anak-anak panti itu menggelandang dan tidur di kolong jembatan.”


Layla menelan ludah(lagi). “Pak, saya ….”


“Per setan dengan semua alasanmu, Layla,” ucap Dinan berapi-api. “Sekarang temui ayah dan minta dokumen itu, aku nggak mau tahu gimana caranya, dokumen itu harus kembali kepadaku hari ini juga.”


Layla tertegun. Tanpa pamit ia pergi dari ruangan Dinan. Meninggalkan Dinan yang tampak masih berusahan menahan emosi di dadanya yang terasa ingin meluap-luap. Layla melewati Richard yang tersenyum sinis melihat wajah Layla yang hendak menangis, ia juga tidak menyapa Richard saat pergi.


“Wah, wah, Si Bos benar-benar kejam sama perempuan, belum siang sudah dua perempuan menangis dari ruangannya,” gumam Richard tertawa tipis.


***


Layla terisak tangis di toilet kantornya. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Tuan Marc tidak mau memberikan dokumen itu. Sementara Dinan memaksanya untuk mengembalikan dokumen tersebut secepatnya. Kepala Layla terasa ingin pecah memikirkannya. Entah apa yang harus ia perbuat sekarang, ia tidak tahu. Kembali ke rumah Tuan Marc, ia juga tidak tahu harus bilang apa. Kembali ke Dinan, dia pasti dimarahi tanpa ampun.


Sial sekali bagi Layla, padahal ia hanya ingin panti asuhan itu diselamatkan dan adik-adiknya mendapatkan tempat yang layak untuk melanjutkan hidup. Anak-anak itu tidak punya ayah dan ibu, setidaknya Layla ingin mereka dapat tempat tinggal layak dan pendidikan yang cukup. Namun sekarang niat baik Layla malah berbalik menikamnya. Ia benar-benar berada di posisi sulit, jangankan berpikir tentang bagaimana cara lari dari pernikahannya dan Dinan. Menyelamatkan dirinya dengan posisi sekarang saja ia tidak bisa. Melangkah ke sana ke mari sama sulitnya bagi Layla.


“Mas Bayu, aku harus gimana?” lirih Layla yang tiba-tiba saja teringat pada sosok Bayu, laki-laki yang mengisi hidupnya dua tahun belakangan ini.

__ADS_1


Sementara Dinan masih berdiri melihat ke luar jendela. Laki-laki itu tak habis pikir bagaimana Layla bisa membuyarkan semua rencana yang ia susun dengan rapi sejak lama. Hanya sedikit batu sandungan saat Richard mengabarkan bahwa keluarga Barata mengklaim lahan itu milik mereka. Namun Dinan yakin dengan langkah yang ia ambil mampu membungkam keluarga yang telah menghancurkan hidupnya beberapa tahun silam.


“Aku menyusun semuanya untuk membuktikan kepada ayah kalau aku pantas melanjutkan perusahaan ini. Tapi perempuan itu entah datang dari mana malah menghancurkan semuanya. Kalau bukan karena ayah ada di pihaknya, aku sudah menendangnya seperti sampah keluar dari perusahaan ini.” Dinan bergumam lirih dengan menahan rasa sakit hati atas kesalahan Layla.


__ADS_2