
“Ke—kesepakatan, Pak?” Tubuh Layla terasa gemetar hanya untuk mengeluarkan suaranya.
“Iya, ini hanya kita berdua yang boleh tahu, selain itu tidak ada, baik itu ayah dan bunda, serta semua kenalanmu.”
Layla menelan ludah mendengar ucapan Dinan. Sekarang pikirannya terasa kosong, hanya terlintas wajah Bayu disana, laki-laki yang ia harapkan sekarang bisa datang menolongnya. Tapi sayang, hal itu mustahil terjadi, apalagi mereka juga lagi break.
Dinan mengangkat telunjuk dengan jari lainnya terkepal kuat. “Pertama! pernikahan ini hanya kita berdua dan ayah bundaku yang tahu. Yang lain tidak ada yang boleh tahu, kecuali Richard. Dia sekretaris pribadiku, dan apartemen kita juga bersebelahan, jadi dia pasti tahu jika kita menikah.” Dinan menatap Layla yang menatapnya dengan rasa takut.
Jari tengah Dinan terangkat, “Kedua! kamu akan tetap bekerja disini, aku harus mengawasi kamu agar kamu tidak mengkhianatiku. Jangan pernah berhubungan dengan laki-laki lain, atau aku akan membunuhmu.”
Tubuh Layla terasa merinding, mendengar suara sinis Dinan penuh intimidasi mengatakan kata membunuhmu.
Jari manis Dinan terangkat. “Ketiga! kita akan menjadi suami istri, tapi statusmu di apartemenku hanya pembantu!” ucapan Dinan itu membuat Layla meneguk ludahnya lagi, pembantu?
Jari kelingking Dinan terangkat. “Keempat! Kita menikah hanya sampai aku punya anak darimu. Setelah kamu melahirkan, anak itu menjadi milikku, kita bercerai dan kamu pergi dari hidupku dan perusahaan ini, aku akan memberimu uang besar untuk pergi dan hidup mandiri. Aku tidak butuh perempuan, Cuma menyusahkanku saja,” tukas Dinan.
Jari jempol Dinan terangkat. “Kelima!”
“Saya tak setuju dengan nomor 4, Pak!” Layla bersuara, memotong kalimat Dinan. Melawan semua rasa takut dan rasa ngerinya kepada Dinan. “Saya tidak akan memberikan anak saya kepada siapa pun.”
Dinan tersenyum sinis. “Kelima! Aku yang berhak menentukan semuanya, dan kamu hanya perlu menuruti tanpa boleh membantah. Kesepakatan ini bisa saja bertambah, sesuai keadaan yang akan terjadi.” Dinan menyesap kopinya lagi dan kemudian menyingsingkan lengan kemejanya. Untuk kemudian berdiri menuju meja kerjanya.
“Kalau begitu saya menolak ini semua, semua kesepakatan tadi merugikan saya. Lagi pula saya juga tidak mau menikah dengan orang seperti bapak!” Layla berbicara tegas dengan penuh keberanian, tidak peduli siapa Dinan meskipun ia bisa saja memecatnya dengan jentikan jari.
__ADS_1
Dinan menghentikan langkahnya, Ia berbalik badan dan menoleh kepada Layla dengan senyum mengintimidasinya. “Kamu pikir aku mau menikah denganmu, sekarang temui ayah dan batalkan ini semua.” Perintah Dinan yang membuat tubuh Layla seketika membeku.
Panti asuhan itu sudah memberi anak yang tak punya ayah dan ibu seperti dirinya untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Apa dia tidak bisa berkorban sedikit saja untuk panti itu dan adik-adiknya yang terancam menggelandang di jalanan? Hati Layla bimbang, antara rasa egois untuk hidupnya dengan hati nuraninya yang ingin menyelamatkan panti asuhan itu.
“Ba—baik, Pak. Saya setuju dengan ke—kesepakatan itu, tapi tolong jangan pisahkan saya dengan anak saya.” Pinta Layla memelas untuk memohon.
“Aku hanya butuh anak, ingat kesepakatan ke lima, kamu hanya perlu menurut. Sekarang keluar dari ruanganku. Hari ini aku kasih kamu izin untuk menemui ayah. Jadi kamu sudah boleh pulang.” Dinan menuju kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sementara Layla menggigit bibirnya, ia meringis tak percaya dengan ucapan Dinan, kenapa Dinan begitu tega untuk kesepakatan nomor 4 itu.
“Bapak bisa cari perempuan lain untuk mendapatkan anak, jangan saya. Saya tidak akan ikhlas jika harus berpisah dengan darah daging saya sendiri.”
Dinan berdesis geram, ia menatap Layla dengan kesal. “Kamu Cuma punya 2 pilihan, menerima kesepakatan ini atau menolak. Jika kamu menolak, silahkan temui ayah dan batalkan semuanya. Jika tidak, jalani saja sesuai yang aku katakan tadi.”
Tangan Dinan menunjuk pintu keluar, “Sekarang keluar!” Perintahnya dengan menekan. Layla terdiam tak bisa bicara apa-apa lagi. Ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah jatuh ke dalam perselisihan Dinan dan Tuan Marc. Yang pada akhirnya membuatnya berada di posisi seperti itu. Dengan berat hati, Layla melangkah keluar dari ruangan Dinan.
Mendapatkan izin tidak bekerja hari itu dari Dinan, Layla memilih mengunjungi pantinya lagi. Ia duduk di taman panti seraya melihat anak-anak panti yang tengah bermain. Sebagian dari mereka ada yang masih mengenakan seragam sekolah. Wajah mereka penuh keceriaan, tertawa terkekeh, hingga ada yang berkacak pinggang mengusili yang lain.
Sungguh Layla tak tega jika tawa ceria anak-anak panti itu menjadi wajah murung yang menggelandang di jalanan. Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan panti itu? Cara yang lebih bagus tanpa perlu mengorbankan masa depannya. Layla yang duduk di kursi taman panti menengadah, melihat langit biru yang berhias awan tipis. Wajah Bayu terlihat tersenyum kepadanya di langit itu. Seandainya saja Ia dan Bayu sudah menikah, pasti persoalan pelik itu takkan menimpa dirinya.
“Mas! Aku mencintaimu.” Layla bergumam seorang diri.
Hingga ada usapan lembut di bahu Layla yang mengagetkan gadis itu. Layla menoleh kepada pemilik tangan itu. Bu Irma sudah duduk di sampingnya dan membelai lembut rambutnya yang terurai indah. Mata Bu Irma menatap lekat wajah Layla dan menelisik, menilai keadaan hati anaknya itu.
__ADS_1
“Kamu ada masalah, La?” tanya Bu Irma.
“Apa panti ini tidak bisa diselamatkan, Bu?” Layla balik bertanya.
Bu Irma menggeleng, ia mengalihkan matanya kepada anak-anak yang masih asyik bermain. Tangannya ia lepaskan dari rambut Layla, dan kemudian ia remas di pangkuannya. Terasa gugup ia menjelaskan itu kepada Layla.
“Ibu sudah bicara dengan Dinas Sosial, La. Juga lembaga perlindungan anak. Tapi mereka tak bisa membantu. Tanah ini sudah menjadi milik perusahaan itu, dan yayasan kita sudah dibekukan. Ini kas panti juga lagi seret, La. Nggak ada lagi yang mau menyumbang dan memberi dana karena panti ini tidak terdaftar lagi, kecuali donatur tetap kita.”
Bu Irma sejenak menoleh kembali kepada Layla. “Ibu sudah pasrah, ibu juga tahu kalau kamu tidak akan bisa menemui Pak Dinan dan memintanya menghentikan rencananya itu. Beberapa panti sudah siap menerima mereka, tapi anak-anak menolak. Mereka tetap ingin bersama dan tidak mau dipisahkan. Ibu takut, mereka akan diusir paksa dan harus hidup dijalanan. 67 anak terlalu sulit untuk dicarikan tempat tinggal La, belum lagi biaya makan, jajan dan kebutuhan sekolah mereka,” jelas Bu Irma.
“Mereka benar-benar tidak peduli dengan kehidupan anak-anak yatim, Bu. Mereka tak peduli dengan kehidupan anak-anak yang ada disini,” ujar Layla.
“Tidak juga, Tuan Marc peduli kok dengan panti ini, cuma kuasa dia di perusahaan tidak cukup besar. Karena yang memimpin perusahaan sekarang adalah anaknya, bukan dia,” ungkap Bu Irma.
Layla seketika mengangkat kepalanya lagi dan menoleh kepada Bu Irma dengan rasa penasaran. “Tuan, Marc, Bu?”
“Iya. 2 hari lalu ia ke sini. Dia bilang kamu memintanya mempertimbangkan penggusuran panti ini. Tuan Marc tidak bisa membantu banyak, karena semua keputusan ada di tangan Pak Dinan. Tuan Marc bilang, ia hanya bisa berbicara dengan Pak Dinan, dengan kemungkinan terbaik panti ini tidak gusur, dan jika digusur, maka bisa pindah ke tempat lain yang akan disiapkan perusahaan.” Bu Irma menjeda kalimatnya sejenak, ia menarik nafas dalam dan melepaskannya.
“Kemungkinan terburuknya, perusahaan akan mempercepat proses penggusuran, bisa lebih cepat dari waktu 2 minggu yang Pak Dinan berikan. Ibu sudah pasrah, La.” Sejenak Bu Irma melihat mata Layla yang berkaca-kaca memandangnya.
“Kamu pasti karyawan dengan kinerja yang bagus di kantor, Tuan Marc kemarin sampai bertanya-tanya tentang kamu, dia penasaran sekali dengan dirimu, La. Pertahankan itu, ya. Ibu senang jika ada anak panti ini yang bisa kuliah dengan biaya sendiri dan kerja di perusahaan bagus seperti kamu ini. Apalagi kamu juga menyisihkan sebagian gajimu untuk biaya sekolah adik-adikmu, semoga nanti ada dari mereka yang mengikuti jejakmu. Sekalipun panti ini tidak adalagi,” lanjut Bu Irma.
Layla memejamkan matanya, ia tidak rela panti itu digusur atau setidaknya diberikan gedung baru jika Marc property memang menginginkan lahan itu. Dengan melepas nafas panjang, demi adik-adiknya di panti, Layla memilih pasrah akan nasibnya, jika jalan menikah dengan Dinan bisa menyelamatkan panti, maka ia akan melakukan itu. Apalagi Tuan Marc menjanjikan dana besar untuk membantu anak-anak panti.
__ADS_1
“Ibu tenang saja, panti ini tidak akan digusur, jika pun digusur, pasti nanti akan pindah ke tempat yang lebih baik.”
Layla menurunkan kepalanya dan bersandar di pundak Bu Irma. Ia sudah memilih jalan itu, tapi untuk memberikan anak bagi Dinan, ia masih berpikir dua kali. Ia tidak ingin anaknya hidup dan besar tanpa kasih sayang seorang ibu, seperti yang ia rasakan, dan ia juga tidak akan membiarkan perempuan lain menjadi ibu dari anaknya jika Dinan menikah lagi nantinya