Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 53


__ADS_3

“Sekarang menurutmu aku harus gimana? apa Layla tidak bisa kugunakan untuk melawan ayah?” tanya Dinan dengan emosi.


“Tergantung,” jawab Richard dengan santai, “jika ayahmu betul-betul percaya dengan Layla dan berharap memiliki seorang cucu darinya, maka rencana awalmu akan berhasil. Jika dugaanku yang benar, Layla hanya digunakan ayahmu untuk mengurusmu disini, maka rencanamu akan sia-sia. Lagi pula ayahmu sudah bisa menebak dari awal kalau kamu tidak akan mau punya anak dari perempuan yang tidak jelas asal usulnya seperti Layla. Jadi dia tidak akan pernah khawatir Layla akan hamil anakmu.”


Dinan memejamkan mata, bibirnya menggeram. Ia paling benci dengan hal-hal seperti ini. Beradu strategi dengan ayahnya sendiri. Itu benar-benar menguras pikiran dan emosi. Hal yang membuatnya sering kali tidak fokus untuk bekerja.


Tangan Dinan mengusap rambutnya dengan frustrasi. Ia benar-benar bingung, ayahnya selalu sulit ditebak. Semakin ia berusaha, semakin sulit untuk Dinan lepas dari kendali ayahnya sendiri. Ia merasa hanya seperti bidak catur yang langkahnya sudah dikendalikan oleh Tuan Marc.


Richard sama bingungnya dengan Dinan, hanya saja dia bersikap lebih santai karena ia berdiri di belakang Dinan. Bukan seperti sahabatnya itu yang berdiri langsung di depan Tuan Marc. Sementara Dinan sendiri sudah merasa panas di otaknya. Menghadapi Tuan Marc memang tidaklah mudah.


“Jangan terlalu dipikirkan, Nan. Sekarang kita bahas tentang Herman Barata. Aku sudah dapat informasi penting tentang dia,” ucap Richard mengalihkan pikiran Dinan.


“Katakan saja, aku akan mendengarkanmu,” ucap Dinan memerintah.


“Herman Barata itu dulu memegang beberapa bisnis keluarga Barata, dia punya banyak aset dan saham di beberapa perusahaan besar. Memang dia yang memberikan lahan itu kepada yayasan untuk dijadikan panti asuhan. Namun motifnya aku belum tahu. Tapi sepertinya Herman Barata itu sudah menduga kalau lahan itu akan menjadi masalah di kemudian hari.”


“Maksudmu dia sudah tahu bahwa lahan itu akan menjadi masalah seperti sekarang?” tanya Dinan menebak.


Richard mengangguk. “Tak hanya lahan itu, tapi ada aset lain milik Herman Barata yang sedang diperjuangkan oleh keluarga Barata.”


Dahi Dinan mengernyit, ia bingung dengan maksud Richard. “Apa aset Herman Barata tidak diwariskan pada keluarganya?”


“Itu dugaanku, Nan. Orang-orangku sedang berusaha mencari informasi itu. Kabarnya ada pengacara yang Herman Barata yang menjaga aset-aset itu, kita sedang mencari tahu dia siapa.”


Dinan tersenyum, “Ini menarik, Chard, sepertinya ada hal besar yang terjadi saat itu. Sehingga masalah ini menjadi rumit. Kamu kirim orang untuk mencari data lebih lengkap tentang kebakaran panti dan kecelakaan Herman barata.”

__ADS_1


“Sebelum kamu bilang, aku sudah melakukannya, Nan.” jawab Richard dengan wajah tenang.


“Kedua peristiwa itu terjadi dalam waktu berdekatan. Dengan adanya masalah aset seperti ini, sepertinya ada sesuatu yang besar terjadi saat itu, Chard.” Dinan dengan berwajah sinis.


Richard mengangguk paham. “Aku juga berpikir seperti itu, Nan. Tapi aku tidak peduli itu apa, yang jelas kita harus berhasil mengamankan lahan itu.”


Richard berdiri, ia sudah menyampaikan kepada Dinan informasi terbaru yang perlu Dinan ketahui dengan cepat.


“Kabari aku tentang pengacara itu, kita berdua akan bertemu dengannya secara langsung,” ucap Dinan memberi perintah.


Richard mengangguk patuh. “Aku pulang dulu, jangan sia-siakan Layla, mumpung dia masih istrimu, nikmati saja sepuasmu. Nanti kalau kamu sudah bosan, baru dibuang. Kita tidak akan bisa menerka ke arah mana ayahmu hendak melangkah.”


Dinan tak menanggapi ucapan terakhir Richard. Ia tidak ingin kalah dari Tuan Marc. Layla masih akan ia pegang untuk mencari  jalan bagaimana memanfaatkan gadis itu. Setelah kepergian Richard, Dinan masih sibuk di ruangannya. Sementara Layla sudah naik ke lantai dua, duduk santai melihat bintang.


Gadis itu duduk dengan tersenyum senang. Dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Dinan. Selagi laki-laki itu masih mengizinkannya tinggal disana, selagi itu pula kesempatan itu akan selalu ada. Dan juga dengan Dinan masih menikmati setiap apa yang ia masak, selama itu juga ia merasa cepat atau lambat Dinan akan jatuh hati kepadanya. Layla amat bersyukur memikirkan kesempatan itu, tidak tahu bahwa laki-laki yang ada di sekitarnya sekarang hanya menjadikannya mainan saja.


“Pak, gimana akhir pekan ini kita ke rumah Tuan, daripada bengong aja di sini seperti akhir pekan yang lewat,” ucap Layla saat mereka sarapan.


“Kamu aja yang bengong di sini, aku kerja di ruanganku,” jawab Dinan dengan ketus.


“Iya, emang Bapak nggak mau bawa saya jalan-jalan gitu, keluar?” tanya Layla sedikit bimbang.


“Nggak,” jawab Dinan dengan singkat.


Layla menelan ludah, jawaban singkat Dinan membuat perasaannya begitu terasa kecewa. Seharusnya dia sadar diri bahwa ia memang istri yang tidak dianggap.

__ADS_1


“Aku tidak bisa bawa kamu jalan-jalan, nanti kita jemput Risa ke rumah dan main-main ke panti,” lanjut Dinan yang membuat Layla melihatnya tanpa ekspresi sama sekali. “Kamu dulu pernah bilang ingin mengajak Risa bermain dengan anak-anak panti, kan?”


Layla serasa mendapat angin segar, ia mengangguk cepat dengan senyum yang tak bisa ia tahan. Itu sudah jauh lebih dari cukup baginya.


“Sekalian aku mau lihat progress pembangunan di panti,” ucap Dinan. Laki-laki itu sudah selesai sarapan, ia meminum teh hangat yang disiapkan Layla. Kemudian berdiri seraya membersihkan tangan dan mulutnya dengan tisu.


Sebelum berangkat, Dinan memperhatikan gelas tehnya yang sudah kosong. Jika nanti Layla pergi dari sana, siapa yang akan menyiapkan semua ini untuknya? Dinan melihat kepada Layla yang memperhatikannya dengan lekat. Apa dia harus menerima Layla sebagai istrinya?


Dinan kemudian pergi begitu saja, membuang pikiran aneh yang entah datang dari mana. Tidak mungkin Dinan menjadikan Layla istri, perempuan itu jelas sama buruknya dengan mereka yang pernah ada di masa lalu Dinan. Layla sudah jelas-jelas pergi dengan laki-laki lain di depan matanya. Bahkan Dinan tidak yakin bahwa perempuan itu masih suci dan tidak pernah disentuh laki-laki lain. Memikirkan hal itu saja Dinan sudah berdecis jijik. Dia bahkan tidak pernah menyentuh perempuan manapun.


Sementara Layla di meja makan dengan semangat menghabiskan makanannya. Kali ini ia benar-benar amat bahagia, ia akan pergi jalan-jalan dengan Dinan. Ini kemajuan yang bagus bagi hubungan mereka. Walaupun hanya ke panti, Layla tetap bersyukur, ia bisa memperlihatkan sisi kehidupan yang berbeda kepada Dinan. Tidak hanya kehidupan yang Dinan rasakan sejak kecil, tapi juga kehidupan sederhana anak-anak panti yang selalu ceria walau tidak ada orang tua.


Ponsel Layla tiba-tiba berdering. Tanda ada pesan masuk disana. Layla mengeluarkan ponselnya dari saku baju yang ia kenakan.


‘La, aku di parkiran apartemenmu, pagi ini sarapan bareng yuk, lalu kuantar ke kantor.’ Bayu


Mata Layla seketika membulat membaca pesan tersebut. Ia gelagapan tak karuan, bahkan gadis itu sampai tersedak karena saking kagetnya mendapatkan pesan seperti itu.


‘Mas, kamu mau apa? pergi dari situ, jangan mempersulit posisiku, Mas.’ Layla.


‘Aku tunggu, dalam lima belas menit kamu harus sampai di bawah, kalau tidak, aku akan menemui laki-laki yang menikahimu itu!’ Bayu


'Tunggu! Aku turun sekarang.' Layla


Wajah ceria Layla seketika berubah cemas. Tanpa pikir panjang Layla langsung berdiri, ia lekas mencuci piring dan merapikan meja makan. Pikiran perempuan polos itu benar-benar kacau, ia hanya berpikir untuk segera menemui Bayu ke bawah sebelum laki-laki itu menemui Dinan.

__ADS_1


Bayu di parkiran bawah tersenyum sinis di dalam mobilnya melihat Richard dan Dinan yang masuk ke dalam mobil mereka.


“Layla milikku, setidaknya aku harus menikmati kekasihku dulu, baru memberikannya padamu,” ucap laki-laki itu dengan wajah yang tak bersahabat.


__ADS_2