Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 16


__ADS_3

Satu persatu undangan memberi selamat untuk Dinan dan Layla sebelum mereka pamit pergi. Juga anak-anak panti yang sudah masuk ke bis yang disiapkan Tuan Marc, mereka juga sudah memberi selamat untuk Layla dan bersiap untuk pulang.


“La, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Bu Irma saat Layla mengantarnya hingga ke gerbang rumah Tuan Marc.


“Ibu nggak usah khawatir, Layla baik-baik saja disini,” jawab Layla.


“Tapi ibu cemas, La. Kenapa kamu bisa nikah mendadak gini sama Pak Dinan? Apa mereka tidak mengancammu, atau mereka ingin  sesuatu darimu? Apa ini untuk panti kita?” tanya Bu Irma yang terdengar jelas amat khawatir dengan Layla.


“Semuanya baik-baik saja, Bu. Ibu lihat sendirikan, Tuan Marc dan Bu Eva itu orang baik, Pak Dinan juga orang baik, walau cara bicaranya itu ketus. Jadi tidak ada yang perlu ibu khawatirkan untuk Layla.”


Bu Irma mengembuskan nafas kasar, ia mengusap bahu Layla dan memeluk anaknya itu dengan erat. “Jika terjadi sesuatu, kamu langsung bicara sama ibu ya, ibu akan menolongmu apapun resikonya,” lirih Bu Irma.


Ia kemudian pamit dan bergabung dengan anak-anak panti yang bernyanyi riang di dalam bis. Layla melepas kepergian mereka dengan tersenyum getir. Sekarang kehidupan baru yang lebih sulit tengah menantinya. Entah seperti apa Dinan nanti memperlakukannya? Apa benar ia hanya akan menjadi budak bagi laki-laki itu?


Dengan langkah gontai Layla berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Suasana rumah yang tadi ramai sekarang sudah mulai sepi. Hanya beberapa orang yang tampak membereskan pesta sederhana pernikahannya dengan Dinan. Walaupun sederhana, namun bagi Layla pesta tadi sudah amat mewah dengan segala dekoran yang sederhana dan elegan. Juga makanan dan minuman serta property yang digunakan, itu bahkan sudah setara dengan pernikahan mewah bagi Layla.


Gadis itu terus melangkah menuju pintu rumah, Ia bersisihan dengan Richard yang baru keluar dari pintu depan. Berjalan dengan tatapan sinis kepada Layla. Tepat berada di samping Layla, Richard berhenti sejenak, membuat Layla refleks juga berhenti di dekat laki-laki itu.


“Wah, wah, rupanya nasibmu cepat berubah ya, baru kemarin aku mengirim surat pemecatanmu ke bagian personalia, sekarang kamu malah menikah dengan Pak Direktur.”


Layla hanya diam mendengarkan.


“Hati-hati saja dengan Pak Direktur, dia seperti singa kalau sudah di dalam rumah. Jika terjadi apa-apa jangan pernah mengadu kepada orang lain, tapi hadapi sendiri, jangan rusak citra baik Pak Direktur di luar sana,” lanjut Richard, laki-laki itu kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Layla yang terpaku, ngeri mendengarnya, juga membayangkan nasibnya kelak. Apa isu itu benar adanya? Apa Dinan benar-benar laki-laki yang kejam?


Layla melangkah masuk ke dalam, masih mengenakan gaun putih pernikahannya tadi. Ia melangkah masuk melewati ruang tamu, kemudian terhenti di dekat ruang tengah. Sekarang ia kebingungan untuk berbuat apa. Suasana rumah itu masih baru bagi Layla, bahkan itu baru kali ketiga baginya masuk ke rumah mewah yang luas itu. Disana Ia melihat Tuan Marc yang tengah membaca koran di dekat kolam, juga Risa yang tengah asyik menonton TV di ruang tengah.

__ADS_1


Hampir lima menit Layla berdiri tanpa tahu harus berbuat apa. Takut lancang jika ia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan pemilik rumah.


“Kamu lagi apa, La?” tanya Bu Eva yang baru saja keluar dari dapur.


Layla tersenyum, menggerakkan sedikit kepalanya. Menandakan bahwa ia bingung harus berbuat apa disana. Bu Eva yang mengerti akan hal itu mengembuskan nafas kasar. “Kamar Dinan ada di lantai dua, pintunya di pojok dekat teras, tadi dia bilang mau mandi, kamu siapkan ya baju gantinya. Juga segera ganti gaunmu, aku sudah siapkan beberapa pakaian untukmu di lemari Dinan.”


Kepala Layla mengangguk patuh, ia berjalan menuju tangga. Setidaknya ia tidak akan memakai pakaian lusuhnya lagi seperti datang ke rumah itu tadi pagi. Semuanya benar-benar dipersiapkan Tuan Marc dengan baik, mulai dari gaun pernikahan hingga pakaiannya di rumah itu.


Lantai dua rumah itu cukup luas. Ada beberapa pintu yang terlihat disana. Layla menuju pintu paling pojok seperti yang dikatakan Bu Eva tadi. Ia mengetuk pintu kamar tersebut tiga kali. Namun tidak ada yang membukanya. Kali ini Layla kembali bingung, apa tidak apa-apa jika ia masuk saja? bukannya Dinan juga sedang mandi, jadi tidak mungkin laki-laki itu membukakan pintu untuknya.


Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Layla memutuskan untuk masuk ke dalam. Tidak ada orang disana, hanya percikan air mengalir yang terdengar dari pintu kamar mandi yang berada di dekat pintu masuk kamar tersebut. Layla mengembuskan nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang gugup. Segera ia menuju lemari Dinan. Mencari baju untuk laki-laki itu disana.


Sialnya, tidak ada baju Dinan di lemari tersebut. Layla malah kebingungan karena hanya ada baju perempuan di sana. Ia mencari baju di sisi lain lemari, namun kosong, tidak ada isinya sama sekali.


Layla melenguh panjang, ia sudah merasa gerah dengan gaun yang ia kenakan sejak tadi pagi. Tapi ia harus menyiapkan pakaian untuk Dinan lebih dulu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dinan yang sudah keluar dari kamar mandinya.


Layla terlonjak kaget. Lagi-lagi ia dibuat gugup menghadapi Dinan. Ia refleks menoleh, memandang Dinan yang hanya mengenakan handuk disana.


“Ma-maaf, Pak. Tadi Bu Eva menyuruh saya untuk menyiapkan baju Bapak,” jawab Layla dengan kepala menunduk takut.


Dinan mengembuskan nafas kasar, ia menutupi bekas kehitaman di perut kirinya yang terbuka. “Bajuku di dalam koper, di lemari itu semua pakaianmu, sekarang segera mandi, kita harus pulang sebelum malam.”


Layla mengangkat kepala dengan wajah bingung. “Pulang kemana, Pak?” tanyanya dengan polos.

__ADS_1


“Jangan banyak tanya, sekarang mandi dan masukkan semua pakaianmu ke dalam koperku. Jangan buatku menunggu lama.”


Layla tak bersuara lagi, ia hanya menurut patuh. Membuka kembali lemari Dinan untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Kemudian lekas menuju kamar mandi. Sementara Dinan segera berganti pakaian dan bersiap untuk kembali ke apartemennya. Laki-laki itu tampak tak berekspresi sama sekali.


Sementara di lantai bawah, Bu Eva dan Tuan Marc tengah duduk di dekat kolam, membiarkan Risa yang masih asyik dengan film kartun kesukaannya.


“Apa Ayah tidak mengkhawatirkan Layla?” tanya Bu Eva yang tampak ragu setelah pernikahan tadi.


“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bun. Semuanya baik-baik saja.”


“Tapi Bunda takut kalau Dinan tidak memperlakukan Layla dengan baik, Yah. Bagaimana nanti nasib Layla jika tinggal berdua dengan Dinan di apartemen?”


“Kita tunggu sampai Layla bisa menaklukkan Dinan, setelah itu baru kita bisa membujuk Dinan untuk pulang ke rumah ini,” jawab Tuan Marc tanpa beban.


“Apa Ayah yakin Layla bisa melakukannya? Dinan itu keras, Yah.”


“Dia sama sepertiku, keras kepala dengan pandangannya sendiri, sementara Layla punya kemiripan denganmu, dia akan bisa mengendalikan Dinan seperti kamu mengalahkan egoku.”


Bu Eva diam sejenak, Tuan Marc seakan menganggap sepele kekhawatirannya.


“Layla itu tampak lemah, Yah. Dia nggak akan mampu menghadapi Dinan. Ayah saja sudah sering perang dingin sama Dinan, apa lagi saat dia di Amerika dulu. Layla yang hanya karyawan biasa, Dinan bisa saja menginjak-nginjak harga diri gadis itu.”


Tuan Marc hanya tersenyum tipis. “Dinan tidak seperti yang orang bicarakan, Bun. Dia memang tegas dan tidak kenal ampun untuk sebuah kesalahan, tapi itu sebatas profesionalnya saja dalam bekerja. Sementara soal keluarga, Bunda lihat sendirikan seperti apa dia selama ini kepada Risa?”


Kali Bu Eva tidak bisa mendebat Tuan Marc. Karena ia juga tidak pernah dekat dengan Dinan. Yang ia tahu tentang Dinan hanya dari laporan dewan komisaris perusahaan yang sering melaporkan sikap Dinan yang dengan memudah memecat karyawan yang berbuat kesalahan di perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2