Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 20


__ADS_3

“Ma, bisa ambilkan absenku dulu nggak? Aku mau menjemput dokumen itu ke rumah Tuan Marc dulu pagi ini,” ucap Layla saat menelpon Emma di dalam bis kota. Ia sudah sangat terlambat untuk ke kantor. Lebih baik dia mencari alasan lain yang membuat keterlambatannya bisa ditolerir oleh Pak Denis.


“Kamu ini, La, ini sudah hampir seminggu, tapi masalah dokumen itu belum selesai juga. Bereskan segera, nanti aku sampaikan sama Pak Denis.”


Layla tersenyum mendengar jawaban Emma. Gadis itu duduk bersandar di dalam bis, memikirkan apa yang terjadi semalam di rumah Dinan. Apa benar laki-laki itu tidak menyentuhnya sama sekali semalam? Jujur saja, Layla masih belum siap memberikan dirinya untuk Dinan. Di hatinya masih terukir indah rasa cinta untuk Bayu. Ia tidak ingin memberikan dirinya selain untuk orang yang ia cintai.


“Aku harus bisa menjaga diriku sendiri. Semoga saja anak-anak di panti dapat segera pindah dan aku bisa cepat pergi dari dia,” lirih Layla.


Bis yang dinaiki Layla berhenti cukup jauh dari rumah Tuan Marc. Memaksa gadis itu untuk naik ojek hingga sampai di depan rumah mewah kediaman keluarga Marc tersebut. Suasana rumah pagi itu amat sepi. Hanya beberapa penjaga dan tukang kebun yang bekerja. Di depan teras juga terparkir mobil hitam mewah milik Tuan Marc. Pagi itu Risa ke sekolah diantar Bu Eva, sehingga Layla tahu hanya Tuan Marc sendiri di rumah.


Setelah meminta izin masuk, Layla langsung menuju ruang tengah dan mendapati Tuan Marc tengah sibuk dengan laptop di dekat kolam. Laki-laki tua itu sangat suka sekali duduk disana. Setiap Layla datang, laki-laki itu selalu duduk di dekat kolam tersebut. Dengan berani, Layla melangkah mendekati mertuanya itu.


“Pagi, Tuan!”


Tuan Marc menoleh, “Eh, Layla, ada apa pagi-pagi kamu sudah datang?”


“Maaf, Tuan, Saya mau menjemput dokumen lahan panti asuhan itu, Tuan. Pak Dinan meminta dokumen itu harus ada di mejanya sebelum jam pulang.”


Tuan Marc mengembuskan nafas kasar, “anak itu, aku sudah menyuruhnya untuk libur bekerja dulu. Tapi tetap saja dia keras kepala. Dinan pasti sudah menceritakan semua masalah di lahan itu padamu, kan?” tebak Tuan Marc.


“Maaf, Tuan, saya melakukan kesalahan besar, seharusnya saya tidak mengganggu pekerjaan Pak Dinan terkait lahan itu.” Layla tertunduk lemah dengan penuh rasa bersalah.


“Ini bukan salahmu, La, Dinan memang seperti itu, padahal lahan itu tidak terlalu luas, tapi ia amat berambisi. Tergiur dengan keuntungan 4-5 kali lipat dalam waktu tiga tahun, atau jika bersabar, dalam waktu lima tahun perusahaan bisa untung 20 kali lipat saat semua program pembangunan pemerintah selesai di kawasan itu. Jadi kamu tidak perlu takut Dinan akan mencari perempuan lain, dia terlalu sibuk dengan semua ambisinya.”


“Sekarang lakukan tugasmu sebagai istri, dukung dia setiap apa yang ia lakukan. Luluhkan dia dengan semua perhatian dan dukunganmu. Jika ada yang salah menurutmu, peringati satu dua kali, jika ia keras kepala, biarkan ia menanggung semua resikonya. Jika Dinan mengancammu dengan perceraian, itu takkan pernah terjadi, aku jamin akan hal itu. Jadi saja istri yang baik untuknya.”


Layla terdiam, Tuan Marc seakan memiliki harapan besar untuknya menjadi istri Dinan selamanya. Sementara dirinya sendiri berharap segera lepas dari laki-laki yang baru menjadi suaminya sehari itu.

__ADS_1


“Bilang kepadanya Layla, dokumen itu aku yang pegang, jangan sentuh dulu anak-anak panti sampai dia tahu seluk beluk lahan itu. Jika dia gegabah memindahkan anak-anak panti, musuhnya akan dengan cepat melahapnya sebelum pembangunan apartemen itu dimulai.”


Layla tertegun mendengarnya. Ia menelan ludah, padahal ia berharap anak-anak panti dapat segera pindah dan ia bisa segera kabur dari Dinan.


“Ta-tapi, Tuan. Pak Dinan …”


“Dinan itu masih belum cerdas untuk berbisnis, Layla. Jika dia bertindak seperti itu, pihak lawan akan menerkamnya secepat kilat. Sekarang kamu pulang ke apartemen. Istirahat, seharian kemarin kamu pasti kelelahan. Jangan bekerja dulu dua hari ini, La. Aku akan mengurus izin kerjamu.”


"Tuan, Pak Dinan ..."


 "La, turuti kataku, menghadapi Dinan memang tidak mudah. Sekarang pulanglah, dokumen itu biar aku yang simpan," potong Tuan Marc yang tidak memberikan kesempatan Layla berbicara.


 Layla menelan ludah, ia tidak berani mendebat Tuan Marc. Pada akhirnya ia hanya bisa pergi dengan perasaan luka. Mendengar ucapan Tuan Marc yang tidak ingin memindahkan anak panti secepatnya membuat kepalanya linglung. Ia tidak ingin tinggal dengan Dinan lebih lama. Takut Dinan benar-benar meminta dirinya seutuhnya. Ia masih ingin memberikan hidupnya untuk Bayu. Laki-laki yang terukir indah di dalam hatinya.


Dengan perasaan murung Layla kembali naik bis menuju ke kantornya. Sekarang ia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Dinan. Tanpa disadari Layla, ia terjebak dalam hubungan yang tidak harmonis antara Dinan dan Tuan Marc. Posisi Layla malah terasa sulit, karena ia tidak bisa memilih untuk berdiri pada pihak siapa.


 “Kamu dari mana Layla?” tanya Leo


 Layla yang sedari tadi melamun dan tidak memperhatikan siapa yang masuk seketika kaget saat namanya disebut. Gadis itu menoleh dan menatap Leo dengan gusar.


 “Aku dari rumah Tuan Marc, Mas.”


 “Rumah Tuan Marc?” tanya Leo yang kaget mendengarnya, “kamu ada perlu apa dengan Tuan Marc, La?”


 “Ah, itu … hanya tugas dari Pak Denis, Mas,” jawab Layla mencari alasan.


 Leo mengangguk paham. Namun saat melewati lantai empat, pintu lift tidak terbuka. Kali ini Leo kembali heran dengan Layla.

__ADS_1


 “Kamu tidak ke lantai tiga, La?” tanya Leo lagi.


 “Aku mau ke lantai tujuh, Mas.”


 “Lantai tujuh? kamu ada masalah dengan Pak Dinan, La?” tanya Leo menebak.


 Layla seketika menggeleng, tidak ada yang boleh tahu kalau ia dan Dinan punya ikatan.


 “Aa, itu, aku harus mengambil beberapa dokumen yang perlu diperbaiki di meja Pak Richard, Mas. Tidak ada hubungannya dengan Pak Dinan kok,” ucap Layla berkilah.


 Leo manggut-manggut, ia kemudian harus keluar saat sampai di lantai lima. Sementara Layla terus naik ke lantai tujuh. Ia menghampiri Richard yang selalu setia duduk di depan ruangan Dinan seorang diri. Gadis itu dengan lemah menyapa Richard dan meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Dinan.


 “Permisi, Pak, boleh saya masuk ke dalam?” tanya Layla dengan nada melemah.


 “Ada perlu apa?” tanya Richard dengan ketus tanpa melihat kepada Layla. Laki-laki itu tampak sibuk dengan dokumen di tangannya.


 “Saya baru dari rumah Tuan Marc. Ada pesan yang harus saya sampaikan kepada Pak Dinan.”


 Richard seketika tersenyum. Ia menatap Layla dengan mata sinis. “Kamu mau lihat singa marah, kan? masuklah, tapi jangan ketuk pintu dulu.”


 Layla tak mempedulikan kalimat Richard. Yang ada di pikirannya hanya bertemu dengan Dinan dan menyampaikan pesan Tuan Marc. Terserah mau semarah apa Dinan nanti kepadanya, Ia sudah pasrah dengan keadaan.


 Layla mendekati pintu ruangan Dinan, tanpa mengetuknya lebih dulu, Layla masuk ke dalam.


 ‘Braak!!!’


 Mata Layla membulat melihat Dinan memukul meja dengan kuat.

__ADS_1


“Kayak gini kamu pulang bilang kerja?” ucap Dinan dengan marah tertahan.


__ADS_2