Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 37


__ADS_3

“Kamu lihat gaun ini deh, La. Cocok nggak buat aku?” tanya Emma saat mereka rehat sejenak dari pekerjaan. Emma memperlihatkan layar ponselnya kepada Layla.


Layla mengangguk, membayangkan Emma dengan kulit putihnya memakai gaun merah tua yang ia lihat di ponsel gadis itu. Temannya itu pasti akan terlihat amat cantik jika memakainya. Di saat mereka tengah sibuk berbincang berdua, pintu ruangan Pak Denis terdengar terbuka. Layla dan Emma lekas kembali fokus dengan pekerjaan mereka. Pak Denis keluar, ia berdiri di dekat pintu seraya mengembuskan nafas kasar.


“Layla, masuk ke ruangan saya!” Pak Denis kembali masuk ke ruangannya.


Layla dan Emma saling pandang. Kedua bahu Layla terangkat untuk menjawab tatapan Emma, menandakan ia tidak tahu kenapa Pak Denis memanggilnya. Layla segera berdiri dan masuk ke dalam ruangan Pak Denis. Di dalam, Layla melihat Pak Denis yang tampak gelisah.


“Maaf, Pak. Ada apa ya Bapak memanggil saya?” tanya Layla dengan sopan.


“Pak Richard ada di restoran seberang kantor. Dia ingin bertemu denganmu empat mata disana,” ucap Pak Denis.


Layla terdiam, ia berpikir sejenak, untuk apa Richard memanggilnya? Sesaat kemudian Layla mengangguk patuh kepada Pak Denis. “Baik, Pak,” jawab Layla. Gadis itu berbalik badan hendak keluar. Belum sempat ia melangkah, Pak Denis kembali bersuara.


“Apa masalah dokumen itu belum selesai juga, La? Kenapa pimpinan perusahaan ini masih memanggilmu?” tanya Pak Denis menyelidik.


Layla kembali berbalik badan, menatap kedua bola mata Pak Denis. “Tuan Marc masih memegang dokumen itu, Pak. Tapi Pak Dinan tidak mempermasalahkannya, saya tidak dituntut apa-apa olehnya. Dan untuk Pak Richard memanggil saya sekarang, saya tidak tahu kenapa.”


“Kamu punya hubungan apa dengan Pak Dinan dan Pak Richard, La?” Pak Denis bertanya dengan penuh curiga.


“Maksud, Bapak?” tanya Layla yang gugup seketika, ia ingat permintaan Dinan agar tidak ada satu orang pun yang tahu tentang pernikahan mereka.


“Pak Dinan memaafkan kesalahan fatalmu, itu sudah membuatku ragu. Ia orang yang tidak kenal ampun atas kesalahan karyawan. Apalagi kesalahanmu ini amat fatal. Dan juga Pak Richard, dia seakan menutupi kesalahanmu dari semua orang di perusahaan ini. Karena itu posisimu masih aman karena tidak ada yang tahu masalah kamu mengambil dokumen penting itu kecuali beberapa orang saja.”


“Bapak menuduh saya apa sebenarnya?” tanya Layla dengan tegas. Ia tidak boleh tampak gugup di depan Pak Denis untuk menjaga rahasia pernikahannya.


“Aku ingin tahu masalahnya, La. Kamu ini bawahanku.”


“Bapak lebih baik bertanya langsung kepada mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka seperti itu,” elak Layla. “Saya pamit dulu, Pak. Saya takut dimarahin Pak Richard kalau terlambat.” Layla lekas pergi dari ruangan Pak Denis. Meninggalkan laki-laki paruh baya itu yang tampak tak senang dengan jawaban Layla.


***


Layla memberi hormat kepada Richard yang sudah menunggunya. Laki-laki itu tengah menikmati jus jeruk seraya memandang ke arah lantai tujuh gedung kantor mereka.


“Duduklah, aku sudah memesankan minuman untukmu,” ucap Richard dengan datar.


Layla memperhatikan Richard. Ia menarik kursi dan segera duduk. Richard terlihat tidak seperti biasanya. Layla berusaha bersikap sopan agar Richard tidak memarahinya.


“Ada dua hal yang ingin aku bahas. Aku sudah memaafkan semua kelancanganmu beberapa waktu lalu,” tutur Richard tanpa basa-basi. “Sebenarnya sulit untuk itu, Karena kesalahanmu, semua orang berada di posisi sulit. Tapi aku hanya bisa mengikuti Pak Dinan yang juga sudah memaafkanmu.”

__ADS_1


“Saya mohon maaf untuk itu, Pak. Saya sama sekali tidak berniat membuat perusahaan sesulit sekarang karena masalah lahan itu.”


“Pembahasan pertama tentang pantimu,” ucap Richard langsung pada inti pembicaraan mereka. “Bisa kamu jelaskan tentang Bu Irma?”


Layla menarik nafas panjang. Ia melihat Richard dengan berani, keberaniannya kepada Dinan membuatnya lebih berani menantang mata siapapun walaupun posisinya jauh lebih rendah dari orang yang dilihatnya.


“Ada masalah apa dengan Buk Irma, Pak?” tanya Layla.


“Jelaskan saja!" perintah Richard


"Penjelasan seperti apa yang Bapak inginkan?" tanya Layla memilih mengalah, walaupun ia merasa tak nyaman jika harus bercerita tentang orang lain.


"Apa saja, terserah kamu.”


Layla menarik nafas kasar. Ia  dengan polos mulai bercerita. “Bu Irma itu ibu panti saya, Pak. Sejak saya kecil, dia sudah menjadi pengurus disana. Beliau adalah orang kepercayaan yayasan untuk menjaga panti. Beliau orang biasa, seorang ibu rumah tangga dengan dua anak beliau yang sudah bekerja. Di masa tuanya sekarang, Bu Irma pernah bicara kalau dia ingin menghabiskan sisa umurnya mengabdi untuk panti sekalipun tidak dibayar karena yayasan sudah melepaskan panti itu.”


Richard mengembuskan nafas panjang. “Kamu tahu kantor Panti itu dulu pernah terbakar? dan banyak petugas yang meninggal disana. Bisa kamu jelaskan tentang Bu Irma sebelum kebakaran itu?”


Dahi Layla seketika mengernyit bingung. “Panti kebakar? kapan, Pak? Saya tidak pernah dengar.”


Richard melihat Layla dengan penuh selidik. Wajah Layla menunjukkan kalau gadis itu memang tidak tahu apa-apa tentang kebakaran itu.


“Bu Irma dekat dengan semua orang, Pak. Dengan pegawai, dengan anak-anak, bahkan dengan donatur pun Bu Irma juga dekat.”


Richard mengeluh kesal. “Apa kamu tidak bisa memberi informasi yang berguna? Jawabanmu itu tidak ada manfaatnya sama sekali!” bentak Richard dengan kesal menahan marah.


“Maaf, Pak. Saya hanya menjawab apa yang saya tahu,” aku Layla, ia tidak takut sama sekali sekalipun Richard tampak marah. Laki-laki itu tidak akan berani kepadanya selama ia masih menjadi istri Dinan.


“Ya sudah, sekarang bahas masalah kedua,” ucap Richard berusaha menenangkan rasa kesalnya.


“Tentang apa, Pak?” tanya Layla sedikit ragu.


“Kamu masih mau hidupkan?” tanya Richard penuh intimidasi.


“Ma-maksud, Bapak?”


“Jangan bertemu laki-laki itu lagi!” perintah Richard dengan tegas. Layla menelan ludah.


“Laki-laki siapa, Pak? saya tidak mengerti,” elak Layla.

__ADS_1


“Kemarin sore kamu pergi dengan laki-laki lain di depan Pak Dinan. Apa kamu benar-benar mau mati? Pergi dengan laki-laki lain di depan kantor suamimu sendiri?”


Layla terdiam, ia tidak bisa mengelak untuk hal itu. Ia ingin bertanya, tapi untuk bersuara pun ia takut sekarang.


“Kamu seorang istri, bersikaplah sebagai seorang istri, kamu bukan perempuan lajang yang bisa seenaknya pergi dengan laki-laki tak jelas seperti kemarin. Bahkan setelah menikah, yang kemarin itu bukan kali pertama kamu pergi dengan dia, kan? Apa kamu benar-benar sudah gila?”


“Ta-tapi Pak Dinan tidak pernah membahasnya saat kami di apartemen, Pak.”


“Apa perlu dia marah dulu baru kamu sadar?  Menurutmu apa yang akan dilakukan Tuan Marc jika tahu menantu pilihannya melakukan hal fatal seperti itu?” tanya Richard dengan nafas memburu.


“Kami hanya teman, Pak, dia membutuhkan bantuan saya kemarin,” Layla berkilah, menyelamatkan dirinya.


“Siapa yang kamu bodohi? jangan buat aku muak dengan berbohong seperti ini!” bentak Richard.


“Sa-saya jujur, Pak. Kami hanya teman.”


Richard tertawa sinis. “Aku sudah menyelidikimu sebelumnya, dan sekarang kamu malah membodohiku. Kamu benar-benar mau mati, ha?”


Layla menelan ludah. Richard menyelidikinya? apa itu berarti Richard dan Dinan sudah tahu tentang dia dan Bayu sebenarnya? Layla terdiam, ia tidak bisa mengelak.


“Apa kamu mau lihat seperti apa kebaikan Tuan Marc dan Pak Dinan berubah menjadi kemarahan?” lanjut Richard.


Layla menggeleng. “Sa-saya salah, Pak, saya mohon maaf,” ucap Layla yang tidak bisa mengelak lagi.


“Kamu memang salah. Karena itu kamu harus sadar. Tuan Marc sudah menuruti keinginanmu untuk menyelamatkan anak-anak panti. Tapi kamu sama sekali tidak berniat menuruti keinginan Tuan Marc untuk mendampingi Pak Dinan sebagai istrinya.”


“Pak Dinan tidak menginginkan saya, Pak. Dia ingin menendang saya dari apartemennya dan membuang saya ke kontrakan lusuh saya. Karena itu …”


“Karena itu kamu memilih berkhianat?” tanya Richard menyudutkan Layla.


“Sa-saya tidak ingin terlalu berharap,” aku Layla dengan air mata menetes. “Pak Dinan orangnya sangat baik. Dia suami yang pengertian. Dia tidak pernah marah-marah, membentak saya, apa lagi membuat saya sakit hati. Sikapnya memang dingin dan saya bingung bagaimana menghadapinya, tapi di balik itu semua, saya berharap kehadiran saya benar-benar dianggap istri olehnya.


"Dia tidak manja dan bisa mengerjakan semuanya seorang diri saat saya tidak bisa melayaninya dengan baik. Dia bahkan memasak sarapan untuk kami saat saya terlambat bangun, juga memasak makan malam saat saya terlambat pulang.”


“Dia membuat saya merasa dihargai dan dihormati. Dia tidak pernah memaksa apapun kepada saya, dan dia sempurna sebagai sosok suami yang saya inginkan. Saya tidak ingin berharap lebih pada dia, karena itu saya menjaga hubungan dengan kekasih saya. Agar saat dia menendang saya dari hidupnya, saya tidak merasa sedih dan kehilangan karena saya bisa kembali pada kekasih saya."


"Saya nyaman melihatnya tidur di samping saya, saat saya bangun, saya selalu semangat untuk menyiapkan air mandi untuknya. Saya merasa benar-benar memiliki teman hidup saat melihatnya.”


Richard tersenyum sinis mendengarkan Layla yang hampir menangis di depannya. “Dinan benar, perempuan sepertimu benar-benar munafik. Kamu berkilah seolah-olah Dinan yang salah. Padahal kamu sendiri yang tidak ingin lepas dari laki-laki itu untuk Dinan.”

__ADS_1


Richard berdiri dari kursinya, “Jika kamu berani berbuat yang macam-macam, anak-anak panti termasuk Bu Irma dan keluarganya kupastikan membusuk di jalanan. Jangan macam-macam denganku,” ucap Richard, laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Layla yang terisak sedih di kursinya. Dia bahkan tidak mengira;bisa berbicara seperti tadi kepada Richard. Mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Dinan.


__ADS_2