
Layla terdiam, ia tidak bisa bicara apapun. Tak tahu harus seperti apa menanggapi masalah Dinan yang amat pelik.
“Aku sudah bertahun-tahun mencoba untuk masuk ke dalam hidup Dinan, La. Tapi sungguh sulit, sejak aku menjadi ibu sambung ketiganya, dia memilih pergi dari rumah dan tinggal seorang diri disini, dia tidak mau diperlakukan seperti dulu lagi oleh perempuan. Karena aku juga hubungan Dinan dan ayahnya menjadi buruk, karena Dinan tidak terima ayahnya menikah lagi.”
“Posisi Bunda pasti amat sulit saat itu,” lirih Layla menanggapi.
“Sangat, La. Setiap hari aku mendengar mereka ribut saat ayah menyuruh Dinan datang ke rumah. Sikapnya Dinan sedikit berubah saat Risa lahir. Karena Risa juga aku bisa menilai bahwa Dinan tidak sekeras yang orang-orang bilang. Dia sangat menyayangi adiknya itu, sangat menjaganya dan memperhatikannya sekalipun ia jarang pulang.” Bu Eva kembali melihat kepada Risa yang sibuk dengan mainannya.
“La, Dinan memang keras, tapi jika kamu bersabar, dia pasti bisa luluh.”
“Kenapa harus saya, Bun?” tanya Layla memotong kalimat Bu Eva.
“Karena Ayahnya Dinan memilihmu. Kamu datang di saat yang salah, karena itu kamu tidak bisa menolak. Juga karena Ayahnya Dinan punya kekuatan untuk menekanmu agar mau menuruti keinginannya.”
“Karena saya hanya orang lemah dan bisa mereka tindas?” ucap Layla menebak.
Bu Eva berdiri dari kursinya. “Kamu bisa melewati ini, La. Dinan tidak seburuk yang kamu kira. Jika kamu bisa meluluhkan Dinan, aku yakin kamu pasti akan sangat bahagia dalam hidupmu.”
Layla diam tak menjawab.
“Aku pulang dulu, La. Aku kira Dinan di sini, aku ingin menghiburnya, karena itu aku membawa Risa. Nanti saat dia pulang, bilang kalau Risa merindukannya,” ucap Bu Eva.
Risa dan Bu Eva pamit pulang. Gadis cilik itu tersenyum manis sebelum pergi, meminta Layla untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa makan es krim bersama.
Selepas kepergian Bu Eva, Layla memilih untuk naik ke lantai dua. Ia berjalan ke kursi santai yang semalam di duduki Dinan. Tirai disana tertutup rapat. Membuat Layla bingung bagaimana cara membuka tirai sebesar dinding itu. Hingga ia melihat tombol merah seperti kontak lampu di salah satu sisi ruangan. Gadis itu berjalan menekan tombol itu dan tirai secara otomatis terbuka.
Mata Layla kembali dibuat takjub dengan apa yang ia lihat. Pemandangan indah dengan ribuan bintang yang berkelap kelip di langit luas. Gadis itu duduk bersandar di kursi santai Dinan, memperhatikan langit dengan penuh tanya akan apa yang terjadi esok pagi. Apa Dinan tidak akan pulang? kemana laki-laki itu pergi?
Ah, pikiran Layla benar-benar kacau, bahkan berkali-kali Bayu mengiriminya pesan, tak ada satupun yang ia buka. Ia hanya bisa kalut dengan keadaan. Layla berada di simpang jalan, memilih melanjutkan hubungannya dengan Bayu. Atau bertahan dengan Dinan. Bayu tetap menjadi pilihan, namun sekarang dia juga merasa bersalah karena menjalin hubungan dengan Bayu dalam pernikahannya dengan Dinan. Juga untuk masalah yang sekarang tengah ia hadapi akan persoalan dokumen yang masih dipegang Tuan Marc. Memikirkan itu semua benar-benar membuat Layla lelah dan capek dengan semua keadaan. Hingga ia akhirnya tertidur karena tubuh yang terasa amat lelah.
__ADS_1
***
Layla mengerjapkan mata. Perih sekali matanya terasa, ia tidak sadar telah tertidur di kursi santai tersebut. Saat Layla melihat ke arah dinding kaca, dia melihat seorang laki-laki berdiri di sana. Sesaat kemudian Layla tersadar akan keadaan.
“Ba-bapak sudah pulang?” tanyanya dengan gugup.
“Kamu menyukainya?”
“Me-menyukai apa, Pak?”
“Pemandangannya indah, bukan? Aku memilih kamar ini karena pemandangan yang indah ini.”
Layla berdiri dari kursi santai tersebut, ia mendekati Dinan yang masih berdiri di dekat dinding kaca. Perempuan itu kemudian bersimpuh dan berlutut. Ia menunduk lemah di depan Dinan.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Saya tahu Bapak tidak mau lagi mendengar kata maaf dari saya, jadi …” kalimat Layla terhenti, Dinan berlalu pergi dari sana.
“Bapak mau kemana?”
“Makan, kamu tadi masak, kan?”
“Bapak belum makan malam? Apa Bapak tadi tidak makan di luar?”
“Aku tahu kamu masak, jadi aku tidak makan di luar,” tukas Dinan. Laki-laki itu berjalan cepat ke meja makan.
Layla dengan sigap mengambil piring dan gelas. Ia juga cekatan menuangkan nasi. Entah kenapa ia merasa amat dihargai saat Dinan memilih tidak makan di luar karena dia sudah masak di rumah.
“Bapak mau ayam apa daging?” tanya Layla.
__ADS_1
“Keduanya.”
Layla mengambil daging ayam dan daging sapi, ia memasak sup daging, menu yang biasa dinikmati anak-anak panti. Ia kemudian menaruh piring di depan Dinan dan mengambilkan segelas air.
“Tadi Risa datang ke sini, Pak. Dia bilang dia ingin sekali bertemu dengan Bapak.”
“Bunda ngomong apa tentang aku?” tanya Dinan yang tidak berbasa basi sama sekali. Membuat Layla terdiam sejenak, memperhatikan Dinan yang menikmati masakannya.
“Bunda hanya cerita tentang masa lalu, Bapak.”
Seketika suapan Dinan terhenti. Laki-laki itu tampak terdiam dan kemudian mengembuskan nafas kasar. “Lupakan, kamu tidak perlu tahu tentang itu.”
“Kenapa, Pak?” tanya Layla menyelidik.
“Katakan kapan kamu mau pergi dariku?”
Kali ini dahi Layla berkerut. Ia melihat Dinan dengan bingung.
“Maksud Bapak apa?”
“Jangan bertingkah seolah aku tidak tahu. Aku tahu kalau kamu pasti ingin pergi dariku. Tidak ada satu orang pun yang betah untuk dekat denganku. Begitu juga kamu. Apa kamu menunggu anak-anak itu mendapatkan tempat yang layak, dan kemudian lari dariku?”
Layla tersentak, bagaimana mungkin Dinan bisa menebak hal itu?
“Bapak tidak ingin saya tetap disini? selamanya?” tanya Layla yang tidak ingin membenarkan ucapan Dinan.
Dinan hanya tersenyum tipis. “Sejak awal menikah, aku sudah berpikir untuk memulangkanmu ke kontrakan lusuh itu,” ucap Dinan tanpa beban.
“Kalau begitu, saya hanya menunggu hari itu,” balas Layla.
__ADS_1
Mereka tidak bicara lagi. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Layla sendiri merasa lega karena Dinan sendiri yang bilang ingin memulangkannya ke kontrakan. Jadi ia tidak perli repot memikirkan bagaimana caranya ia pergi dari Dinan. Sementara Dinan masih menghitung langkah ke depan. Ia tidak mau buru-buru menyingkirkan Layla. Gadis itu masih bisa ia manfaatkan untuk menghadapi ayahnya, juga untuk masalah lahan di panti Layla jika keadaan yang dihadapi menjadi rumit.
Paling tidak malam itu Layla bisa istirahat dengan tenang. Lagi-lagi pikiran buruknya tidak terbukti. Dinan memang marah saat pergi tadi sore. Tapi sekarang ia pulang dengan keadaan yang lebih tenang. Bahkan sikapnya seolah tidak ada masalah di antara mereka. Entah mengapa, Layla merasa sikap Dinan begitu amat baik kepadanya. Laki-laki itu selalu memaafkan setiap kesalahan yang ia lakukan di apartemen itu. Untuk hal pekerjaan, itu persoalan lain yang tidak bisa disatukan dengan kehidupan mereka sebagai suami istri di apartemen yang tidak terlalu luas itu.