Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 34


__ADS_3

‘La, aku sudah di parkiran, cepat turun,’ Bayu.


Layla tampak resah membaca pesan singkat dari Bayu. Dia sama sekali tidak menginginkan Bayu menjemputnya seperti itu lagi. Tapi mau gimana lagi, sejak kemarin Bayu menuntut Layla untuk menjelaskan semuanya. Dari dulu memang tidak ada yang bisa disembunyikan Layla dari laki-laki itu.


Dengan tergesa-gesa Layla meninggalkan ruangan kerjanya. Hal yang kembali membuat Emma bingung dengan tingkah teman kerjanya itu. Layla tampak berubah sejak masalah dokumen yang ia ambil di bagian building manager beberapa waktu lalu.


Segera Layla turun ke bawah. Menemui Bayu yang sudah menunggunya di parkiran. Laki-laki itu berdiri di dekat mobilnya, tak sabaran menunggu Layla datang dan menjelaskan semuanya.


***


“Apa semuanya sudah kamu urus, Chard?”


“Semuanya sudah siap, Pak. Bangunan di lahan itu sudah cukup untuk menampung anak-anak panti. Untuk bangunan baru akan dibangun mulai akhir pekan ini dan selesai dalam waktu 3 bulan. Semuanya sudah diatur dengan baik, Bapak tenang saja.”


“Kamu memang selalu bisa diandalkan, Chard,” puji Dinan pada sekretarisnya yang setia itu.


“Sekarang kita ke panti atau langsung ke tempat baru itu, Pak?” tanya Richard.


“Tunggu sebentar,” ucap Dinan, Richard seketika melihat kepada Dinan di belakangnya, ia melihat Dinan menoleh ke arah pintu kantor.


Richard pun ikut menoleh. Layla tampak berlari dengan cepat keluar dari sana. Gadis itu tampak cemas akan sesuatu. Dinan memperhatikan Layla dengan wajah datar. Pun saat Layla menghampiri Bayu. Laki-laki itu masih memasang wajah datar. Saat Layla masuk ke pintu mobil dan mereka pergi dari sana. Dinan masih saja memasang wajah datar. Hanya Richard yang tersenyum sinis.


“Sepertinya dia sama rendahnya dengan Jenny, aku harus menarik kalimatku tentang dia dulu, Pak,” ucap Richard dengan kesal. “Apa Bapak ingin saya memberinya sedikit pelajaran?” tanya Richard menahan geram kepada Layla.


“Tidak usah, kita memang tahu dari awal kalau dia punya laki-laki lain. Jadi hal ini sudah pasti akan terjadi.”


Richard menggeram marah, “Orangku yang mengawasinya melaporkan Layla sudah bertemu laki-laki itu dua kali sebelum ini, termasuk kemarin sore. Dia sudah semakin berani menginjak harga diri Bapak.”


Dinan masih berwajah datar. “Jangan mempermasalahkan hal yang sudah pasti terjadi, Chard. Dari awal kita memang sudah tahu, biarkan saja. Aku masih menyusun rencana untuk memanfaatkannya menghadapi Ayah.”


“Tapi dia sudah kelewatan, Pak. Kita sekarang mau mengurus anak yang dibelanya di panti itu, tapi dia malah pergi dengan laki-laki lain untuk bersenang-senang.” Richard masih berusaha memancing Dinan untuk membenci Layla. Ia tidak suka jika harga diri atasannya itu diinjak-injak oleh orang lain. Seakan harga dirinya juga ikut terinjak karena itu.

__ADS_1


“Sekarang kita ke panti asuhan, biar orang-orangmu yang menyambut anak-anak panti di tempat baru itu,” ucap Dinan memberi perintah.


Richard diam menahan kesal. Ia melajukan mobil untuk keluar dari parkiran kantor.


***


Tiga buah truck besar dan dua bis besar terparkir di depan panti asuhan yang berada di tengah kota. Dinan dan Richard turun dari mobil mereka. Memperhatikan para pekerja yang sibuk mengangkat barang ke dalam truck, juga anak-anak yang tampak riang karena mereka akan segera pindah ke tempat baru.


Beberapa anak perempuan kecil membuat Dinan terpaku memandang mereka. Wajah mereka polos dengan keriangannya. Menyandang tas masing-masing, mereka tampak ceria menyambut suasana baru. Dinan tersenyum tipis, seperti itulah perempuan, mereka tampak polos, tidak tahu apa-apa dan begitu lugu. Dibalik itu semua, apa yang mereka tampilkan hanya sebuah kemunafikan, mereka pandai berbohong, liar dan tidak bisa diatur. Seperti perempuan-perempuan yang selama ini Dinan kenal, juga Layla yang sudah ia lihat belangnya.


“Permisi, Pak Dinan,” sapa Bu Irma dengan senyum sumringah.


Dinan berbalik badan dan menoleh. Bu Irma menunduk sebentar memberi hormat, “saya senang dapat bertemu lagi dengan Bapak, terima kasih banyak sudah mau menjadi donatur tetap untuk panti asuhan kami dan memberikan tempat baru yang jauh lebih baik keadaannya dari pada tempat kami ini.”


Dinan hanya mengangguk. Ia sudah menepati semua keinginan Tuan Marc sesuai janjinya. Dinan kemudian berjalan pelan melihat-lihat keadaan lahan itu. Ia melewati lorong, berselisih jalan dengan orang-orang yang sibuk mengangkat barang ke dalam truck.


“Aku ingin bicara sebentar, Buk,” ucap Dinan pada Bu Irma yang mengikutinya.


“Bapak mau bicara apa?”


“Jelaskan semua yang ibu tahu tentang lahan ini.”


Bu Irma terdiam beberapa saat, tangannya tampak gemetar. Kemudian ia mengembuskan nafas kasar.


“Semua wewenang ada di tangan yayasan, Pak. Saya hanya diminta mengelola, sementara aset diurus oleh yayasan,” jelas Bu Irma.


“Setidaknya ibu pasti tahu sejarah panti ini sebelum berdiri. Apalagi ibu sudah mengabdi kepada yayasan lebih lama dari umur panti ini. Kami butuh informasi dari ibu, tentang siapa pemilik asli lahan ini.”


“Pak, saya tidak tahu akan hal itu. Jika Bapak ingin tahu, Bapak bisa menyelidikinya kepada pemilik yayasan.” Bu Irma mempertegas kalimatnya.


“Siapa orang dari keluarga Barata yang menghibahkan lahan ini sebagai panti asuhan?” tanya Dinan mendesak.

__ADS_1


“Saya tidak tahu, Pak!” Bu Irma semakin tegas.


“Siapa perempuan yang mengelola penginapan disini sebelum panti ini berdiri?” tanya Dinan mendesak.


“Saya tidak tahu, Pak. Jika saya tahu, saya pasti menyampaikannya kepada Pak Richard.”


“Apa keluarga Barata mengancam Ibu supaya tidak mau buka mulut kepada kami?” Dinan menatap tajam kepada Bu Irma dengan kesal.


“Saya tidak bisa menjawab apapun, Pak. Dan ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Barata.” Bu Irma menatap Dinan dengan lekat.


“Layla bagaimana, Pak? Apa dia baik-baik saja di sana?”


“Dia baik-baik saja, sekarang ibu jawab pertanyaanku tadi.”


“Jangan sakiti Layla, Pak, dia anak baik, saya takut karena status keluarga Layla yang tidak jelas, membuat Bapak melirik perempuan lain yang jauh lebih jelas latar belakanganya dari pada Layla.”


Dinan mengembuskan nafas kasar. Percuma saja dia mendesak Bu Irma, perempuan itu tidak akan buka suara.


“Kalimat itu lebih baik ibu katakan kepada Layla. Nasehati dia agar tahu diri, jangan melirik laki-laki lain sekalipun dia tidak nyaman denganku.” Dinan kemudian berdiri, membuat Bu Irma bingung dengan ucapan Dinan.


“Maksud Bapak apa? Apa Layla berselingkuh dari Bapak?”


“Peringati dia selagi aku belum berpikir untuk membunuhnya karena itu.” Dinan kemudian pergi dari sana, ia keluar untuk kembali ke parkiran.


Disana Richard tampak berbicara dengan anak-anak yang hendak masuk ke bis. Richard memberi sedikit sambutan untuk anak-anak yang akan pindah itu. Tak lupa ia berpesan agar anak-anak yatim itu memberikan doa terbaik untuk perusahaan.


Dinan tidak memperdulikan hal itu. Ia memilih masuk ke dalam mobil dan menyuruh Richard untuk menyusulnya. Selang beberapa saat, mereka sudah berada di jalanan, memecah keramaian di jalanan ibukota.


“Bapak bicara apa dengan Bu Irma?” tanya Richard saat menyetir.


“Dia masih menyembunyikan tentang pemilik lahan itu. Kamu kejar pihak yayasan, Chard. Mereka pasti ada menyimpan dokumen terkait lahan itu.”

__ADS_1


“Mereka memiliki bukti kepemilikan lahan, Pak. Tapi persoalan di masa lampau itu yang membuat semuanya menjadi sulit.”


“Mereka memang punya itu, Chard. Karena itu mereka bisa menggadaikan lahan itu ke bank. Persoalannya sekarang adalah bukti kepemilikan mereka yang sudah kita dapatkan bisa dianggap tidak sah jika keluarga Barata bisa membuktikan bahwa lahan itu memang milik mereka. Kita harus hati-hati, jangan sampai persoalan ini jatuh ke tangan hukum dalam waktu dekat. Itu akan mempersulit posisi kita.”


__ADS_2