
“Duduklah Layla! Aku senang melihatmu datang ke sini.” Tuan Marc mempersilahkan Layla duduk di kursi yang ada di depannya.
Layla menelan salivanya, sikap Tuan Marc terlalu baik untuk staff biasa seperti dirinya.
“Te—terima kasih, Tuan. Tapi Saya tidak ingin mengganggu waktu Tuan, saya ke sini hanya untuk mengambil dokumen apartemen yang berkaitan dengan lahan panti kemarin,” tukas Layla dengan sopan, ia menunduk, menunjukkan sikap hormatnya kepada Tuan Marc.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut Tuan Marc, “Kamu terlalu terburu-buru, Layla. Bahkan tawaranku agar kamu duduk terlebih dahulu tidak kamu pedulikan,” tutur Tuan Marc.
Mata Layla membulat mendengarnya, jantungnya lagi-lagi berdetak cepat tak karuan. “Bu—bukan itu maksud saya, Tuan! Saya hanya tidak ingin mengganggu waktu Tuan disini. Saya hanya ingin mengambil dokumen kemarin karena staff bagian building manager memintanya,” jawab Layla dengan rasa gugupnya.
Tuan Marc sejenak tersenyum sinis, “Aku punya penawaran untuk menyelamatkan pantimu itu dari penggusuran, jadi duduklah sebentar,” tutur Tuan Marc.
Sesaat Layla tercengang, "Anda serius, Tuan?" Layla serasa mendapat angin segar mendengarnya, ia lekas menarik kursi dan duduk disana. Layla memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk melihat Tuan Marc yang sekarang tengah menoleh ke dalam ruangan tengah.
“Bun … Bunda!” Tuan Marc memanggil Bu Eva seperti putrinya memanggil bundanya.
Bu Eva lekas berjalan cepat menghampiri mereka. Ia mendorong pintu kaca dan menatap wajah Tuan Marc dengan sopan. “Ada apa Ayah? Ayah perlu sesuatu?” tanya Bu Eva dengan lembut.
“Buatkan tamu kita ini minuman, Bunda. Dia pasti haus,” pinta Tuan Marc.
“Nggak usah Tuan, Bu.” Lekas Layla mencegahnya, ia tak enak jika sampai istri Tuan Marc membuatkan minuman untuknya.
“Jangan sungkan Layla, ini adab kami untuk menghormati tamu,” tukas Tuan Marc.
“Baik, Ayah. Akan Bunda buatkan teh hangat untuk Layla.” Bu Eva kemudian masuk kembali ke dalam rumah.
Layla tersentuh melihat sikap Tuan Marc dan Bu Eva yang begitu menghargainya, dan yang paling membuat Layla iri adalah, Tuan Marc dan Bu Eva terlihat romantis dengan kata-kata lembut, walaupun tidak menggunakan panggilan seperti beib, yang, atau honey. Panggilan ayah bunda mereka terdengar adem di telinga Layla. Apa dia dan Bayu bisa seperti itu nanti? Belum nikah saja, mereka sudah sering ribut seperti kemarin.
“Jadi, La. Aku punya penawaran untukmu, anggap saja penawaran ini sebagai pinangan juga,” tutur Tuan Marc.
__ADS_1
“Pinangan, Tuan?” Dahi Layla berkerut bingung mendengarnya. Apa maksudnya pinangan?
“Pantimu akan selamat, bahkan kalau perlu akan ku jadikan sebagai bagian khusus dari perusahaan untuk mendapatkan dana sosial perusahaan setiap bulan.” Tuan Marc sejenak menghela nafas panjang. “Sebagai gantinya, kamu harus mau menikah dengan Dinan, putraku.”
Mata Layla seketika membulat mendengarnya, menikah dengan Dinan? Apa dia salah dengar? Apa dia sedang bermimpi? Mimpi indah atau mimpi buruk? Yang benar saja!
“Ini tawaran yang menarik, bukan! Kamu tidak akan dirugikan sama sekali untuk ini,” Lanjut Tuan Marc.
“Tu—Tuan tidak salah bicarakan? Tuan memintaku menikah dengan Pak Dinan.” tanya Layla dengan tubuh yang terasa bergetar hebat.
“Iya. Banyak hal yang terjadi di masa lalu, hingga Dinan sampai sekarang begitu membenci perempuan. Dia tidak punya pacar, sama sekali, aku takut dia akan melajang sampai tua. Umurku sudah uzur, La. Aku hanya ingin melihat Dinan menikah, dengan begitu aku akan bisa beristirahat dengan tenang,” jelas Tuan Marc.
“Tapi kenapa saya Tuan? Saya hanya staff biasa di kantor, Tuan Dinan bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari saya.” Layla berusaha menolak ide gila itu dengan sopan.
“Kemarin saya sudah mengirim orang untuk mengawasimu. Hubunganmu dengan pacarmu sudah berakhirkan? Jadi tak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Saya percaya sama kamu, saya sudah bertemu dengan Ibu panti yang mengurusmu sejak kecil. Kamu tumbuh dengan baik di dalam pengawasannya. Saya yakin, kamu adalah perempuan yang tepat untuk Dinan,” jelas Tuan Marc panjang lebar.
Bu Eva datang menghampiri mereka dengan membawa segelas teh hangat untuk Layla. Ia menaruhnya di depan Layla dan kemudian mengusap bahu Layla dengan lembut.
“Dia cantik’kan Bunda? Ayah pasti tidak salah pilih untuk Dinan,” tukas Tuan Marc membalas tatapan istrinya. Di sisi lain, Layla merasa semakin terpojok disana, mana mungkin ia bisa menolak permintaan Tuan Marc. Ahh! Tapi ini berkaitan dengan masalah hidupnya dia. Mana mungkin ia mengikuti permintaan Tuan Marc begitu saja.
“Hmmm … cantik kok, Yah.” Bu Eva menarik dagu Layla hingga kepala gadis itu menengadah melihatnya. “Bunda yakin dia bisa membawa Dinan pulang ke rumah ini.”
Tuan Marc melepas nafas berat mendengar ucapan Bu Eva, ia meminum lagi kopi hangatnya dan kemudian kembali melihat Layla yang sepertinya kebingungan mencari kalimat penolakan atas permintaannya.
“Dinan itu keras kepala Layla.” Tuan Marc kembali buka suara, “sikapmu yang punya prinsip kuat, bisa membuatnya melunak dan menghargai orang lain. Ada trauma di masa lalunya terhadap perempuan, itu membuatnya membenci perempuan. Kamu pasti sudah tahu bahwa karyawan yang dipecatnya di kantor, sebagian besar adalah perempuan.”
Layla terasa linglung seketika, terserah seperti apa Dinan itu, ia tidak peduli. Dia masih mencintai Bayu, lagi pula mereka hanya break sesaat untuk mengintrospeksi diri masing-masing. Bukan benar-benar putus.
“Sa—saya mohon maaf, Tuan.” Layla memberanikan dirinya untuk menolak, demi cintanya yang teramat besar untuk Bayu. “Saya tidak bisa, saya hanya staff biasa, tak seharusnya saya menikah dengan direktur utama. Pak Dinan pantas mendapatkan yang lebih baik.”
__ADS_1
Suara tawa tipis terdengar dari mulut Tuan Marc, “Aku tahu kamu akan menolaknya Layla, tapi jangan salahkan aku jika siang ini juga, panti itu harus dikosongkan. Aku dengar belum ada yang mau menerima anak-anak di panti itu, karena mereka semua tidak ingin dipisahkan.”
Mata Layla membulat mendengarnya, apa Tuan Marc menggunakan anak-anak panti untuk menekan dirinya?
“Keputusan ada di tanganmu, jika kamu menerima, panti itu akan semakin bagus dan sejahtera, anak-anaknya nanti juga bisa mendapatkan pendidikan yang baik melalui perusahaanku. Bahkan jika Dinan bersikeras mengambil alih tanah panti itu, aku akan carikan tempat yang lebih bagus untuk mereka, jauh lebih baik dengan kondisi mereka sekarang. Tapi jika kamu menolak, jangan katakan aku laki-laki yang kejam jika mereka harus menggelandang di jalanan.” Tuan Marc tersenyum sinis menatap wajah Layla yang pias.
Bu Eva mengembuskan nafas kasar, kemudian pergi meninggalkan mereka, perempuan itu seperti tidak ingin terlibat dalam masalah itu. Bu Eva lebih memilih menemani putrinya menonton film kartun di tv.
“Dunia ini kejam Layla. Kamu pasti paham seperti apa kejamnya dunia ini. Dan sekarang keputusan ada di tanganmu,” lanjut Tuan Marc untuk mengintimidasi Layla agar mau menerima permintaannya.
“Tapi Pak Dinan takkan mau dengan saya Tuan, saya hanya staff biasa, tidak akan bisa memberinya apa-apa.”
“Kamu bisa memberinya anak’kan? Dinan sudah hancur dari dulu, aku butuh perempuan sepertimu, agar cucuku yang akan meneruskan perusahaan bisa tumbuh dengan baik, tidak seperti Dinan. Aku percaya sama kamu Layla. Aku tidak memandang statusmu yang hanya staff biasa dan anak yatim dari panti asuhan. Aku butuh perempuan sepertimu untuk melahirkan dan mendidik cucuku yang akan meneruskan perusahaan ini."
"Aku memang sudah tua, untuk itu aku harus memastikan agar usaha yang kubangun dari nol ini bisa terus berjalan sampai kapanpun. Sekarang silahkan pilih, aku takkan sungkan berlaku kejam kepada adik-adikmu di panti. Dan juga ibu panti yang membesarkanmu, aku bisa berlaku kejam kepadanya. Jangan jadikan kucing baik sepertiku, menjadi singa kejam yang menerkam siapapun yang tak menuruti keinginannya.”
Nafas Layla terasa tercekat ke tenggorokannya. Itu pilihan sulit, kenapa Tuan Marc mengancamnya dengan membawa panti dan Bu Irma segala?
“Tuan sa—saya,” ucapan Layla terasa terpotong, ‘Mas Bayu! Tolong aku.’ Layla membatin, mengingat wajah kekasihnya.
“Aku anggap jawabanmu iya, Layla. Aku tahu kalau kamu tidak akan mengorbankan adik-adikmu di panti dan ibu pantimu. Aku sudah tahu betul, untuk itu aku memiliihmu. Sekarang minumlah tehmu sebelum dingin.” Tuan Marc kembali meminum kopinya hingga habis.
Tubuh Layla terasa membeku, kenapa hidup orang lemah seperti dia selalu ditindas oleh orang kaya seperti Tuan Marc dan Dinan. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan laki-laki yang ia cintai, Bayu. Lalu kenapa sekarang ia terjebak dengan Tuan Marc yang memintanya untuk menikah dengan Dinan?
“Kakak ….” Suara putri Tuan Marc terdengar berteriak keras memanggil seseorang. Tuan Marc dan Layla seketika menoleh kepada gadis cilik yang imut itu.
Gadis yang mengenakan dress putih itu terlihat berlari menghampiri seorang laki-laki. Mata Layla membulat, jantungnya kembali dibuat berdetak tak karuan. “Pa—Pak Dinan.” gumamnya dengan menutup mulutnya dengan tangan.
Dinan terlihat berjongkok mengecup kening adiknya. Perbedaan umur adik dan kakak itu terlalu jauh, cukup aneh bagi Layla. Ada apa sebenarnya dengan Tuan Marc dan keluarganya? Mata Layla masih melihat Dinan yang memeluk dan mengecup rambut hitam adiknya berkali-kali. Sikap Dinan jelas menunjukkan betapa sayangnya ia kepada gadis cilik itu. Namun sesaat kemudian, sorot mata Dinan berubah menjadi sorot membunuh saat ia melihat Layla.
__ADS_1
Membuat tubuh Layla terasa kaku, tak bergerak sedikitpun. Bibirnya terasa kering dan memucat. Kenapa Dinan menatapnya seperti itu?