
Layla berdiri di sebuah ruangan, ia melihat ke setiap sisi. Ada lima orang perempuan yang sibuk bekerja disana. Layla memperhatikan dengan lekat semua kegiatan mereka. Ada yang tengah menyalin data dari sebuah buku besar. Ada yang sibuk merapikan tumpukan dokumen. Ada yang membaca surat dan dua lagi tengah mengangkat dua kotak besar. Layla sangat familiar dengan ruangan itu, tapi ia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang bekerja.
Lalu tiba-tiba dari arah belakang muncul asap tebal. Seorang perempuan berteriak pada perempuan lainnya, “ada yang membakar tempat kita, Buk.”
“Apinya sudah membesar! cepat keluar …” teriak perempuan yang lain.
Mereka semua teriak ketakutan saat asap semakin tebal. Semuanya berlarian menuju pintu di depan. Naasnya pintu yang hendak dibuka itu terkunci. Yang lain berusaha membuka pintu itu, sementara seorang perempuan memeriksa semua jendela. Naasnya juga, jendela itu seperti di palang dari luar, mereka terkurung di dalam sana, sementara api sudah merambat ke arah mereka. Membakar apa saja yang ada disana. Meja, lemari, kertas-kertas dan dokumen-dokumen terbakar, membuat api cepat membesar.
Bulu roma Layla merinding memperhatikan itu semua. Mereka semua berteriak histeris, api dari belakang sudah sampai ke depan. Besar dan melalap semua perabotan. Satu per satu perempuan itu tumbang karena asap yang memenuhi dada mereka. Layla terduduk, ia menangis, tubuhnya terasa memanas.
“Ini dimana? ada apa ini?” lirihnya tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Sebuah lemari besar roboh, menimpa perempuan-perempuan yang sudah pingsan itu. Perlahan membakar pakaian dan kulit mereka. Layla menelan ludah, menyaksikan itu semua dengan ketakutan dan menangis histeris, ia terduduk tak berdaya.
“Apa yang terjadi disini? siapa saja tolong kami!!” teriak Layla.
Lalu entah dari mana datangnya, Layla melihat Dinan berusaha membantu seorang perempuan. Dinan berusaha mengangkat lemari yang menimpa tubuh perempuan itu. Namun tidak bisa, kayunya sudah terbakar, panas dan Dinan kesulitan mencari pegangan untuk mengangkatnya. Layla memperhatikan itu semua dengan wajah kebingungan, kenapa Dinan tiba-tiba ada disana?
Perempuan itu sadar, ia melihat kepada Dinan dan menggeleng. Mereka tampak saling berbicara, namun Layla tidak mendengarnya. Perempuan itu kemudian menunjuk kepada Layla. Membuat Layla tersentak kaget. Wajah perempuan itu tampak memelas lemah kepada Dinan, laki-laki itu mengangguk paham.
Dinan kemudian berdiri dan menghampiri Layla. “Ayo keluar,” ucapnya seraya membantu Layla berdiri dan memapah Layla untuk menyelamatkan diri dari sana.
Anehnya pintu yang tadi tidak bisa dibuka oleh perempuan-perempuan itu, dapat dibuka dengan mudah oleh Dinan. Mereka dapat menyelamatkan diri dengan mudah. Baru beberapa meter saja mereka keluar dari tempat terbakar itu, Layla melihat dirinya sendiri ketika berusia tiga tahun berdiri terpaku menatap ke arah kebakaran. Ia berdiri dengan air mata terurai ketakutan. Layla kecil kemudian berlari menangis, takut melihat api yang semakin membesar.
“He, bangun! cepat bangun … Layla! bangun!”
Layla membuka mata, ia tersentak dan melihat wajah Dinan amat dekat dengannya.
“Kamu kenapa? mimpi buruk?” tanya Dinan memastikan.
Layla menggeleng, ia merasakan tubuhnya basah oleh keringat. Dinan menyentuh dahi Layla.
“Panas sekali, kamu kok bisa demam malam-malam gini?” tanya Dinan lagi. Layla tidak menjawab, ia masih merasakan ketakutan. “Wajahmu juga pucat, apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?”
Layla kemudian duduk menggeleng, “saya nggak apa-apa, Pak.”
Dinan mengembuskan nafas kasar. Ia kemudian pergi dari kamar, meninggalkan Layla dengan nafas tersenggal-senggal seperti baru habis berlari. Gadis itu mengusap lehernya, basah oleh keringat. Ia kemudian menyingkirkan selimut, teringat bahwa ia belum ganti baju sama sekali sejak pulang dari rumah Tuan Marc.
__ADS_1
Selang beberapa saat, Dinan kembali masuk ke kamar. Laki-laki itu membawakan segelas air untuk Layla dan semangkuk air hangat dengan handuk kecil. Ia memberikan Layla obat demam yang ia simpan di nakas.
“Minum obat demam ini dulu, biar enakan,” ucap Dinan, ia kemudian mengusap keringat Layla di wajah dan leher dengan tisu. “Kamu mimpi apa?” tanya Dinan pada Layla yang tengah minum.
“Nggak, Pak. Saya tidak mimpi apa-apa,” kilah Layla, ia menaruh gelas di nakas.
Dinan kemudian membantu Layla berbaring dan mengompres Layla dengan air hangat yang tadi ia ambil. Laki-laki itu tampak cemas karena keadaan Layla yang tiba-tiba deman di tengah malam.
“Kamu lapar? mau kubikinin sesuatu?” tanya Dinan.
“Nggak, Pak, saya nggak apa-apa,” ucap Layla seraya memeramkan mata.
Dinan kemudian berdiri, ia mengambil gelas untuk mengisi lagi gelas Layla yang kosong. Laki-laki itu kembali menaruh gelas yang sudah ia isi di nakas Layla.
“Kalau perlu air, bilang saja,” ucap Dinan. Ia kemudian berbaring di samping Layla untuk melanjutkan tidur.
Kali ini laki-laki itu tidak membelakangi Layla seperti biasa, ia melihat kepada Layla yang berbaring melihat langit-langit kamar. Ia masih belum bisa tidur karena memikirkan mimpi barusan.
“Kamu mimpi apa? kenapa teriak-teriak seperti tadi? kenapa ketakutan seperti itu?” tanya Dinan melihat bibir Layla yang pucat.
“Saya nggak apa-apa, Pak,” elak Layla lagi.
“Tidurlah, nggak usah takut, ada aku yang melindungimu disini,” lirih Dinan.
Layla menelan ludah. Tubuhnya terasa amat lemah, ia memejamkan mata untuk kembali beristirahat. Pelukan Dinan membuatnya merasa lebih nyaman. Ia melupakan sejenak tentang mimpi yang tidak ia mengerti itu.
***
Suara pintu kamar berdenyit. Layla yang tengah tidur terjaga. Ia membuka mata dan melihat Dinan membawa mangkuk ke dekatnya. Sementara di jendela ia melihat cahaya matahari sudah amat terang.
“Bapak tidak ke kantor?” tanya Layla yang berusaha duduk.
“Kamu lagi sakit, bagaimana aku bisa ke kantor?” tukas Dinan, “ini kubuatkan bubur, ayo makan sebentar.”
Layla menggeleng, ia menatap Dinan dengan lekat. Jarang sekali ia bisa melihat Dinan sedekat itu walau mereka tinggal satu atap.
“Saya nggak ada selera makan, Pak,” jawab Layla, ia tertunduk lesu.
__ADS_1
“Makan sedikit, tadi aku sudah suruh Richard menelpon dokter ke sini, jadi makan sedikit dulu biar ada tenaga,” tutur Dinan. Namun Layla tetap menggeleng.
Dinan berdesah pelan. Ia mengambil sesendok bubur yang ia buat dan menyuapi Layla.
“Ayo, bubur buatanku ini lebih enak dari masakanmu,” bujuk Dinan.
“Apa masakan saya enak, Pak?” tanya Layla dengan semangat.
“Lebih enak masakanku, ayo makan.”
Layla tersenyum senang, ia membuka mulut menerima suapan Dinan. Entah mengapa ia merasa begitu bahagia dengan segala perhatian Dinan. Walaupun semalam ia amat sakit hati karena kalimat laki-laki itu.
“Pak, apa Bapak benar-benar ingin membuang saya karena laki-laki itu?” tanya Layla dengan ragu, ia baru saja menelan suapan pertama Dinan dan menerima suapan berikutnya.
“Dari kecil aku selalu belajar untuk tidak bergantung dan percaya dengan orang lain. Tidak ada yang benar-benar peduli dengan kita selain diri kita sendiri. Jadi jangan berharap apapun kepadaku.”
“Tapi Bapak sangat baik sama saya, apa salah kalau …”
“Lalu kamu ingin aku seperti apa?”
Layla terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus berargumen seperti apa.
“Bapak juga tidak percaya dengan Pak Richard?” tanya Layla mencoba menjebak Dinan dengan kalimat laki-laki itu sendiri.
“Dia hanya karyawan, tidak lebih. Aku akan memecatnya jika di tidak becus bekerja.”
“Jika status saya sebagai karyawan membuat Bapak tidak bisa percaya sama saya, bagaimana dengan status saya sebagai istri? Apa Bapak juga tidak bisa percaya kepada saya?” tanya Layla lagi.
Dinan masih telaten menyuapi Layla makan. “Tidak ada yang bisa kamu percayai selain dirimu sendiri, La. Tidak ada yang benar-benar peduli pada dirimu dan hidupmu selain dirimu sendiri. Orang-orang lain hanya akan membantumu saat mereka mendapatkan manfaat dari keberadaanmu. Di luar itu, mereka akan menerkammu, membuatmu jatuh sedalam-dalamnya dan tidak bisa bangkit lagi. Jadi berhentilah untuk bergantung dan berharap pada orang lain.”
“Lalu kenapa Bapak menyuapi saya seperti ini? Apa dengan sikap Bapak selama ini saya tidak bisa percaya dengan Bapak?” tanya Layla kembali mendebat Dinan.
“Aku seperti ini karena ada hal darimu yang bisa kumanfaatkan, selain itu aku akan menerkammu dan membuatmu tidak bisa bangkit lagi.”
Bubur yang disuapkan Dinan sudah habis. Layla mengambil gelas air minum dan meminumnya hingga habis. Ia ingin berbicara banyak hal dengan Dinan, mencari tahu apa benar Dinan tidak menaruh rasa apa-apa kepada dirinya setelah dua minggu bersama. Setidaknya sedikit saja ada perasaan dari laki-laki itu untuknya atas apa yang mereka lakukan saat bersama. Namun setiap kalimat yang dikatakan Dinan, selalu membuat argumennya mentah, Dinan masih sulit untuk dinilai, dan dipahami.
Dinan berdiri, ia membawa mangkuk kosong dan gelas kosong keluar dari kamar. Meninggalkan Layla yang hanya bisa terdiam. Berpikir tentang apa yang bisa ia lakukan lagi untuk bisa mengetahui isi hati Dinan sebenarnya.
__ADS_1
Layla mengeluarkan ponselnya dari laci nakas. Ia ingat belum mengabari orang kantor bahwa ia sakit. Baru saja layar ponselnya bercahaya, ada banyak notifikasi dari Bayu. Mulai dari puluhan pesan dan belasan panggilan tak terjawab. Layla mengeluh ringan. Ia berada di simpang jalan. Hatinya pun bimbang karena keadaan yang tidak ia inginkan. Entah mengapa ia merasa ada ganjalan di hatinya jika harus pergi dari Dinan suatu saat nanti. Ganjalan yang membuatnya ingin selalu mencari tahu tentang Dinan dan berharap semuanya bisa berubah.