Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 19


__ADS_3

“Kamu mau makan apa?” tanya Dinan kepada Layla.


“Tidak, Pak, saya masih kenyang,” tolak Layla, ia takut mengeluarkan uang besar untuk makan di restoran tersebut.


“Nasi putih sama ikan karang dua porsi, dan jus jeruknya juga dua,” ucap Dinan memesan makanan kepada pelayan yang menghampirinya itu.


“Baik, Pak, kami siapkan,” ucap pelayan tersebut sebelum pergi.


Layla melihat Dinan dengan lekat, “Bapak makan sebanyak itu?” tanyanya dengan polos.


“Kamu harus makan, tidak ada makanan di apartemenku, jangan sampai kamu mati disana, itu akan sangat membuatku repot.” Dinan menjawab dengan dingin. Membuat Layla kembali bingung dengan keadaan.


Selesai makan malam, Dinan langsung pulang ke apartemennya. Ia memarkirkan mobil di baseman dan segera menuju lift. Diikuti oleh Layla yang menarik koper berisi pakaian mereka. Dinan menekan tombol 23 dan mereka naik cepat ke lantai tersebut.


Apartemen Dinan benar-benar membuat Layla takjub. nuansanya gelap dengan dinding berwarna abu-abu. Perabotan kebanyakan berwarna hitam dengan penerangan yang terang. Saat melangkah masuk, Layla tampak ragu. Seakan merasa tidak pantas tinggal di apartemen semewah itu. Dari pintu masuk, mereka berjalan melewati tangga menuju ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu.


“Kamar kita di lantai atas,” ucap Dinan saat melewati tangga, “bawa koper ke sana dan rapikan baju-baju ke dalam lemari.”


Layla menelan ludah mendengar kata ‘kamar kita’ seakan mengalirkan kejutan listrik di sekujur tubuhnya. Apa malam ini dia sudah harus memberikan dirinya kepada Dinan seutuhnya?


Sementara Dinan berjalan menuju dapur, Layla beranjak menuju lantai 2. Ada pintu kamar di sebelah kiri dengan ruangan lepas menghadap langit di sisi kanannya. Bintang-bintang terlihat amat jelas dari sana, sungguh membuat Layla takjub dengan kemewahan hidup yang Dinan miliki. Gadis itu membuka pintu kamar dan segera merapikan isi kopernya ke dalam lemari.


Jam digital dekat nakas menunjukkan pukul delapan lewat. Karena Dinan belum juga datang, Layla memberanikan diri menaiki ranjang itu setelah memasukkan semua pakaian ke dalam lemari. Empuk sekali ranjang Dinan. Berbanding terbalik dengan kasur keras di kontrakannya.


“Pasti dia selalu tidur nyenyak di ranjang ini,” gumam Layla menikmati kenyamanan di ranjang itu.


Matanya mengedar, memandangi langit-langit kamar yang dihiasi lampu yang tidak terlalu terang. Suasana kamar begitu sejuk, tidak sepanas kamar Layla di kontrakannya.


“Apa malam ini akan menjadi malam pertama kami?  Apa malam ini aku akan menjadi miliknya seutuhnya?” tanya Layla dengan suara pelan.

__ADS_1


***


Layla mengerjapkan mata beberapa kali.  Ia bangkit dan mengusap matanya yang terasa perih. Gadis itu menarik nafas dalam dan mengembuskannya.


“Astaga, aku ketiduran,” ucapnya yang sadar dengan keadaan. Empuk sekali kasur itu hingga ia tidak sadar terlelap di sana.


Layla memutar kepala, melihat ke arah nakas. Jam digital disana menunjukkan pukul tujuh kurang.


“Apa jamnya rusak?” seru Layla yang tak percaya dengan keadaan. Ia tidak pernah bangun selambat itu. Kepalanya kembali berputar melihat ke jendela kamar yang sudah terang.


“Aaaa!!!” teriak Layla yang lekas bangkit dari ranjang. Gadis itu bersegera merapikan kasur Dinan. “Kenapa aku bisa ketiduran gini? apa dia akan membunuhku karena tidur di ranjangnya tanpa izin?”


Dengan buru-buru Layla keluar kamar dan turun ke lantai 1. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Kemudian berjalan ke arah ruang tengah dan bergegas menuju dapur. Disana ia melihat Dinan tengah menuangkan omelet ke dalam piring. Laki-laki itu baru saja selesai menyiapkan sarapan. Layla dengan melawan rasa takutnya menghampiri Dinan disana.


“Maaf, Pak, saya ketiduran,” ucapnya dengan kepala tertunduk takut.


Dinan mengembuskan nafas kasar, kemudian duduk untuk memulai sarapannya.


Layla memejamkan mata, menggigit bibir untuk melawan rasa takutnya yang semakin besar. Kemudian lekas ia mengambil piring dan duduk di depan Dinan.


“Ini kali pertama dan terakhir untukmu seperti ini,” ucap Dinan dengan tatapan tajam kepada Layla.


“Pertama.” Dinan mulai mengeluarkan titahnya, “sebelum aku bangun, air hangat untukku mandi sudah harus siap.”


Layla mengangguk patuh. “Kedua, Sebelum aku turun, sarapan sudah harus siap. Ketiga. rumah sudah harus bersih sebelum aku pulang. Keempat, makan malam sudah harus siap sebelum pukul tujuh malam. Kelima, ranjang harus rapi sebelum aku tidur, jadi jangan pernah tidur duluan sebelum aku tidur!”


Layla kembali menunduk patuh, “Baik, Pak. Saya akan ingat selalu perintah Bapak.”


“Itu dulu, nanti aku tambahkan sesuai kebutuhan.” Dinan memotong omelet dan memindahkannya ke piring makannya.

__ADS_1


“Maaf, Pak, kemarin saya terlalu lelah dan tidur duluan,” aku Layla.


“Nah itu, kamu terlalu besar menggunakan kasur untuk tidur, aku tidak bisa tidur nyenyak semalam,” ucap Dinan dengan kesal.


Mata Layla seketika membulat. “Apa semalam kita tidur seranjang, Pak?” tanya Layla dengan polos.


“Apa kamu pikir aku tidur di lantai?” Dinan balik bertanya.


Mulut Layla seketika membulat, ia kemudian melihat dadanya, kemudian melihat Dinan yang tengah menikmati sarapan. Seketika Layla memeluk dirinya sendiri, menutupi dadanya dengan gelisah. Apa dia sudah tidak perawan lagi? Ah, Layla belum siap untuk hal itu.


“Apa Bapak melakukannya ketika saya tidur?” tanya Layla dengan ragu-ragu.


Dinan berhenti makan sejenak, ia mengangkat kepala, melihat tingkah aneh Layla yang membuatnya bingung.


“Melakukan apa?” tanya Dinan dengan datar.


Layla terdiam, sedikit ia bernafas lega karena Dinan tidak menyentuhnya semalam. Ia kemudian bersikap tenang dan ikut memotong omelet untuk sarapannya.


"Tidak, tidak apa-apa," ucap Layla berusaha mengakhiri pembahasan itu.


“Apa kamu sedang berpikiran tentang hal mesum?” tanya Dinan menyelidik.


Wajah Layla seketika memerah, ah, malu sekali ia saat Dinan bisa menebak isi pikirannya yang berpikir tentang hal yang tidak-tidak. Dia mendesis kesal, ia membuang mukanya yang memerah. Kenapa Dinan bisa menebaknya coba?


“Tidak, aku sedang memikirkan Bapak tidur seperti apa semalam,” ucap Layla yang berusaha menyelamatkan rasa malunya di depan Dinan. Namun laki-laki itu seakan tidak peduli sama sekali. Ia lebih memilih melanjutkan makannya seraya berkata “pastikan dokumen itu sampai ke meja saya sebelum jam pulang.”


Selesai sarapan, Dinan langsung berangkat menuju kantor. Meninggalkan Layla yang dengan nafas lega membersihkan meja makan.


“Dia membuatkan sarapan untukku? Apa dia sehat?” tanya Layla saat mencuci piring.

__ADS_1


Namun dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Layla harus segera mandi dan bersiap ke kantor. Dia sudah sangat terlambat sekarang. Di dalam pikiran Layla, ia ingin sekali mengambil libur setelah pernikahan kemarin. Namun disisi lain di juga merasa tidak nyaman jika hanya berdiam diri di apartemen itu seharian. Layla tengah memikirkan apa yang akan ia lakukan hari itu.


__ADS_2