Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 26


__ADS_3

“Saya mau izin siang ini, Pak, saya akan menemui Tuan Marc untu meminta dokumen itu,” ucap Layla saat mereka berada di meja makan.


“Kamu pikir kerjaanku mengurusi karyawan sepertimu? minta izin sama atasanmu sana,” jawab Dinan dengan kesal.


“Iya, Pak, saya sadar kalau saya cuma karyawan biasa. Nggak perlu minta izin sama direktur.”


“Kalau kamu sadar, ngapain tadi minta izin sama aku?”


Layla menatap Dinan yang lahap memakan masakannya dengan kesal. Ingin sekali ia menusuk mulut Dinan dengan garpu yang ia pegang saking kesalnya dengan sikap suaminya itu. Namun hal itu urung dilakukan. Ia hanya bisa menahan rasa kesalnya seorang diri.


“Bapak nanti malam mau makan apa? Biar bisa saya siapkan dan belanja dulu sebelum pulang.” Layla memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka pagi itu.


“Persediaan di kulkas sudah habis?” Dinan balik bertanya.


“Sudah, Pak, kita harus belanja.”


Dinan teringat akan satu hal mendengar kata ‘belanja’ dari Layla. Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya di saku. Ia mengeluarkan uang satu juta dan memberikannya kepada Layla tanpa berpikir dua kali.


“Uang belanja dan uang sakumu. Minggu depan kukasih lagi, jika kurang sebut saja, nanti kutambahkan.”


Layla melihat uang itu dan Dinan bergantian. Ini sikap aneh Dinan berikutnya yang ia lihat.


“Masak makanan yang terbaik yang bisa kamu masak.” Dinan mengakhiri sarapan dan pergi lebih dulu meninggalkan meja makan.


Meninggalkan Layla yang kembali merasa kesal akan tingkahnya. Gadis itu bahkan memberikan tinju untuk kepergian Dinan. “Mau masak apa saja, masakanku tetap yang terbaik,” rutunya.


Layla mengambil uang di meja dan melihatnya dengan mata berbinar. Dia dapat uang jajan yang amat banyak hari itu.


***


“Maaf Tuan, saya benar-benar telah melakukan kesalahan besar.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Layla di depan Tuan Marc.


Tuan Marc mengembuskan nafas kasar mendengar kalimat menantunya itu.

__ADS_1


“Dinan masih marah karena masalah dokumen itu?” tanya Tuan Marc. Mereka berada di dekat kolam—tempat kesukaan Tuan Marc di rumahnya.


“Perusahaan membutuhkan dokumen itu untuk mencari solusi terbaik agar lahan itu tetap menjadi milik perusahaan, Tuan.”


“Layla…” gumam Tuan Marc memperbaiki posisi duduknya, “aku sudah bilang, Dinan itu terlalu berambisi besar, ia dibutakan oleh ambisinya. Lahan itu tidak boleh disentuh dulu sampai perusahaan tahu siapa pemilik sebenarnya dari lahan itu. Yayasan yang mengelola panti itu bermain curang. Mereka mengadaikan lahan itu ke bank tanpa sepengetahuan keluarga Barata yang juga punya hak kepemilikan di sana."


"Keluarga Barata selama ini diam karena mereka tidak mau dituntut membayar hutang ke bank untuk memilikinya. Sekarang masalah di bank sudah diselesaikan oleh perusahaan kita melalui lelang itu. Keluarga barata bisa saja kembali dan merebut lahan itu jika kita bertindak gegabah.”


“Sekarang bilang sama Dinan, pastikan dulu siapa orang yang namanya tercatat sebagai pemilik lahan itu. Baik di yayasan maupun keluarga Barata. Lalu baru putuskan langkah berikutnya setelah mengukur kekuatan dan kelemahan lawan. Dinan harus belajar untuk hal-hal seperti ini.”


Layla terdiam untuk beberapa saat. Ia benar-benar tidak punya kemampuan apa-apa untuk mendebat setiap kalimat Tuan Marc. Gadis itu akhirnya memilih jalan yang telah ia pikirkan sejak dari apartemen tadi. Ia bersimpuh, berlutut di hadapan Tuan Marc.


“Tuan, saya mohon, percayakan kepada Pak Dinan untuk menyelesaikan masalah ini. Dia akan melakukan hal yang terbaik untuk perusahaan agar tidak mengalami kerugian atas kesalahan di lelang itu.”


Tuan Marc menyunggingkan senyumnya, tipis dan sinis.


“Apa Dinan menyuruhmu seperti ini, Layla? Jangan mengecewakanku karena memilihmu sebagai istrinya.”


“Tidak, Tuan, Pak Dinan tidak menyuruh saya seperti ini. Saya hanya ingin menebus kesalahan dan saya yakin kalau Pak Dinan mampu mengatasinya,” ucap Layla dengan penuh penghambaan.


Layla tersentak, kalimat Tuan Marc menusuk batinnya. Ia tak sanggup berkata-kata untuk menjawab ucapan Tuan Marc itu. Layla berdiri, ia menunduk lemah. Kembali ia melakukan kesalahan. Menjatuhkan harga diri suaminya di depan Tuan Marc.


“Posisimu sama seperti Dinan, Layla. Jadi hadapi aku seperti Dinan berani menghadapiku,” perintah Tuan Marc.


“Ta-tapi, Tuan, sa-saya ….”


“Pergilah jika kamu belum bisa seberani Dinan menghadapiku. Jangan harapkan apa-apa dengan mentalmu seperti itu. Kamu boleh menghargai dan menghormatiku. Tapi kami tidak boleh tampak lemah apalagi sampai merendahkan diri. Itu aib untuk nama besar keluargaku.”


“Tuan, saya ….”


“Pergilah dan pelajari hal itu, Layla. Di atas semua harta dan nama besar ini. Martabat keluarga ini jauh lebih tinggi dari itu semua. Tapi dengan sikapmu ini, kamu benar-benar akan membuat kami malu, Layla. Sekarang belajarlah untuk lebih baik. Bayar kepercayaanku sebaik mungkin.” Tuan Marc mengakhiri kalimatnya. Ia mengambi ponsel dan mulai mencari kesibukan lain.


Layla terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Cara yang ia yakini ampuh memenangkan Tuan Marc ternyata malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Layla dengan lemah keluar dari rumah itu. Menahan air matanya agar tidak jatuh. Untung saja ia datang pagi, jika sore, mungkin Risa akan melihat dirinya menangis.

__ADS_1


Saat tengah berada di dalam bis, merenungi semua yang terjadi dan kegagalannya lagi. Layla hanya bisa melamun kosong. Bahkan ia tidak punya kesempatan bicara saat Tuan Marc sudah mulai marah pada dirinya yang tadi berlutut. Membuatnya kembali gagal mendapatkan dokumen itu dari Tuan Marc.


Tiba-tiba saja ponsel Layla berbunyi. Ia mengeluarkannya dan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.


‘Siang ini jadi, kan? kita makan dimana?’ isi pesan tersebut.


Layla mengembuskan nafas panjang, ia baru ingat jika kemarin ia berjanji akan makan siang bersama Bayu yang sudah menahan rindu untuk dirinya.


***


“Aku masih ingat kalau kamu menyukai ikan kakap, La,” ucap Bayu saat menikmati menu makan siangnya.


“Terima kasih karena masih mengingatnya, Mas. Ngomong-ngomong pekerjaan Mas gimana?”


“Lancar kok.” Bayu tertawa tipis, “bekerja disana perlu sedikit kecerdasan agar bisa dapat hasil lebih, La,” jawab Bayu. “Kamu sendiri gimana? masalah terakhir yang kamu ceritakan sudah selesai?”


Layla membulatkan mata, kaget dengan pertanyaan Bayu itu. Ia ingat terakhir kali bertemu Bayu ia menceritakan bahwa ia tengah ada masalah di kantor.


“Su-sudah, Mas, semuanya baik-baik saja sekarang,” jawab Layla sedikit gugup dengan keadaan. Bahkan gerak tangannya untuk makan berhenti seketika.


“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kamu jangan terlalu terbebani oleh pekerjaan, La. Bekerjalah sebatas tanggung jawabmu, jangan berlebihan, apalagi sampai menjadi beban pikiran. Mereka membayar kita itu kewajiban mereka, kita juga bekerja juga sebatas kewajiban,” terang Bayu.


“Tapi kita harus bekerja dengan maksimal, Mas. Gaji yang kita dapatkan harus kita ganti dengan hasil kerja terbaik juga.”


Bayu Tertawa tipis. “Jangan begitu serius bekerja, La. Kamu pikir mereka menghargai kita? Kita hanya akan menjadi budak yang mengalirkan uang ke kantong mereka. Sementara apa yang kita dapatkan selain gaji?”


Layla diam tak menjawab. Tidak mau ada perdebatan disana. Toh tidak ada gunanya berdebat. Hanya buang-buang energinya saja.


“La, kamu tahu, kan kenapa aku ajak makan siang?” tanya Bayu yang akhirnya sampai pada inti pertemuan mereka.


“Emang ada apa, Mas?” tanya Layla begitu saja, pikirannya masih terbebani oleh kejadian di rumah Tuan Marc.


“Aku mau kita lanjutkan lagi hubungan kita yang terhenti, La. Aku sayang sama kamu, dan aku tidak bisa jauh dari kamu. Maaf kemarin aku terlau emosi hingga meminta kita untuk break.”

__ADS_1


Layla terpaku menatap wajah Bayu. Bingung harus bagaimana. Walaupun jika harus Jujur, kalimat itu begitu ia harapkan.


*note : jangan lupa like dan komennya ya kakak


__ADS_2