Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 42


__ADS_3

“Kenapa datang mendadak, Jen?” tanya Dinan yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


“Mendadak? aku tidak punya nomormu, Dinan. Jika punya akan kukabari sebelum datang,” tutur Jenny yang tengah duduk di sofa ruangan Dinan.


Laki-laki itu menghampiri Jenny dan duduk di depan gadis yang berdandan amat cantik itu. Dinan memperhatikan Jenny dari atas sampai bawah, lalu kembali lagi ke atas. Gadis itu jauh berubah ketimbang saat mereka masih bersama dulu.


“Katakan, ada perlu apa kamu datang?” tanya Dinan tidak mau berbasa basi.


Jenny tersenyum senang. “Kamu pasti senang saat tahu kedatanganku, kan? Hingga bela-belain datang ke kantor saat mendengar aku datang.”


“Kamu tahu masalahnya kan, Jen? Jadi jelaskan saja.”


Jenny mengembuskan nafas kasar, “Kamu tidak seasyik dulu, Nan,” ucap Jenny berkeluh ringan. Ia menatap Dinan dengan mata menggoda, “tawaranku masih berlaku. Kita bisa menikah dan lahan itu akan kamu dapatkan.”


Dinan tersenyum senang, “aku lebih suka tawaranmu yang pertama dulu, tentang lahan untuk perumahan itu. Apa masih berlaku?” tanya Dinan dengan tenang.


Jenny mendengus kesal. Ia melihat Dinan dengan mata tak suka. “Kamu tahu itu hanya karanganku saja. Tawaran utamaku adalah lahan di panti itu!” bentak Jenny dengan geram.


“Apa keluarga Barata sudah bergerak karena anak panti itu dipindahkan?” tanya Dinan menyelidik.


“Informasi itu mahal, aku menawarimu kesuksesan besar, tapi kamu malah seperti ini, Dinan!”


Dinan tersenyum senang(lagi) “dugaanku benar, selama ini keluarga Barat diam karena tidak ingin mengurus anak panti, apalagi mencari tempat baru yang lebih layak untuk mereka. Makanya mereka diam, termasuk saat aku menang lelang. Setelah anak panti dipindahkan, mereka segera bergerak, karena tidak ada lagi beban yang akan menyusahkan mereka.”


“Dinan!” bentak Jenny tak suka dengan kalimat Dinan.


“Aku benarkan, Jen? Keluarga Barata sama liciknya seperti kamu.” Dinan kemudian berdiri, “sebaiknya kamu godai saja anak presiden atau anak menteri. Atau anak pejabat dan pengusaha lain agar kamu tidak dibuang dari keluarga Barata. Aku tidak perlu perempuan di hidupku. Makhluk seperti kalian hanya sampah yang harus kubuang pada tempatnya.” Dinan kemudian pergi. Meninggalkan Jenny yang menahan marah dan geram karena kalimat laki-laki itu.


Tangan Jenny mengepal, hatinya terasa panas. Ia memukul sofa ruangan Dinan seraya berteriak keras. Memaki dengan sumpah serapahnya kepada Dinan.


Sementara Dinan sudah berdiri di depan meja Richard, laki-laki itu memperhatikan Dinan yang tampak tersenyum senang. “Bapak baik-baik saja?” tanya Richard dengan ragu.


“Aku senang bisa membuatnya tidak berkutik. Aku juga senang bisa menginjak-injak harga dirinya. Aku mau pulang dulu, kamu urus informasi tentang panti itu, Chard. Temui Bu Irma lagi, pastikan dia buka mulut.”

__ADS_1


Richard mengangguk patuh. Sekarang laki-laki itu harus menyusun jadwal untuk besok. Ia akan menemui beberapa orang untuk mengejar informasi lengkap tentang lahan itu.


***


Dinan baru saja sampai di apartemen. Ia berjalan pelan seraya membuka dasi yang ia kenakan. Laki-laki itu melangkah menuju ruang tengah, hendak ke dapur mencari minum. Di sana ia melihat Layla mengenakan pakaian tidur tengah sibuk memotong bawang. Dinan menggertakkan bibir karena kesal.


“Kamu itu masih sakit, kenapa sudah memasak seperti ini?” tanya Dinan dengan geram.


Layla terlonjak kaget mendengar suara Dinan. Ia terlalu fokus bekerja hingga tidak menyadari ada yang masuk dari pintu depan. Gadis itu berusaha tersenyum melihat Dinan pulang.


“Bosan cuma diam di kamar, Pak. Jadi saya ke sini buat masak,” ungkap Layla.


“Kamu istirahat saja, biar aku yang masak. Besok kamu sudah harus sehat, aku tidak punya waktu untuk mengurus orang sakit,” tukas Dinan mengambil pisau yang dipegang Layla.


Gadis itu tersenyum senang, ia membiarkan Dinan mengambil alih pekerjaannya. Layla memperhatikan Dinan mengiris bawang dari kursi meja makan. Entah mengapa ia senyum-senyum tak jelas melihat tingkah Dinan.


“Kamu mau makan apa? biar aku bikinin,” lanjut Dinan.


“Mengapa Bapak sebaik ini pada saya?” tanya Layla melanjutkan percakapan mereka.


Dinan seketika berhenti dari pekerjaannya. “Jangan tanyakan hal yang tidak aku suka, La.”


“Saya ingin tahu, Pak.  Bapak dengan mudah memecat banyak perempuan dari kantor. Tapi untuk saya, Bapak tak sejahat yang orang bicarakan. Bapak baik sama saya, dan Bapak perhatian sama saya.”


“Aku sudah pernah menjelaskannya, kan? Aku seperti ini karena kamu berguna untukku,” jawab Dinan dengan ketus, ia sudah kembali melanjutkan apa yang ia kerjakan tadi.


“Tapi saya yakin ada alasan yang lebih untuk itu. Jika Bapak hanya merasa saya bisa Bapak manfaatkan. Bapak tidak akan seprti ini kepada saya.  Karena Bapak tahu sejahat apapun Bapak kepada saya, saya akan tetap bertahan disini, karena saya punya hutang pada, Bapak,” terang Layla akan pendapatnya.


Dinan menghentakkan tangannya dengan kesal. Ia memutar badan, memandang Layla yang masih memandangnya. Wajah gadis itu terlihat masih pucat. Dinan urung memarahinya.


“Pergilah istirahat, nanti kuantar ke kamar kalau sudah masak,” ucap Dinan memilih mengalah.


“Saya ingin menemani Bapak di sini,” tolak Layla dengan tegas.

__ADS_1


“Kalau begitu diam, jangan bicara apapun dan jangan bertanya apapun,” ucap Dinan juga dengan tegas.


Dinan kembali memutar badan, melanjutkan pekerjannya lagi. Layla tersenyum memperhatikan Dinan. Laki-laki itu lucu, Layla merasa Dinan memang menaruh hati untuk dirinya. Itu sudah terlihat dari sikap Dinan yang tidak memaksakan kehendak kepada Layla. Hanya saja laki-laki itu gengsi mengakuinya. Sementara Dinan memikirkan Layla untuk hal yang berbeda, Layla benar-benar menjadi bebannya saja.


“Pak, besok saya izin kantor boleh, nggak?” tanya Layla kembali bersuara.


Dinan menggeram kesal. Ia memutar badan lagi, melihat Layla yang tersenyum sengir melihatnya. Layla begitu yakin Dinan tidak akan memarahinya.


“Minta izin sama atasanmu! sana” perintah Dinan.


“Loh, Bapak juga atasan saya, kan?” Layla bertanya dengan polos.


“Kamu lebih baik dipecat. Menyusahkan banyak orang saja …” rutu Dinan. Laki-laki itu kembali melanjutkan kerjanya.


“Benarkah? saya yakin Bapak tidak akan pernah memecat saya dari kantor,” pancing Layla lagi.


Dinan terdiam, ia tak menanggapi. Tidak ada sedikitpun terlintas di pikirannya untuk memberhentikan Layla setelah semuanya selesai. Bahkan ia belum memikirkan alasan apa yang akan ia berikan kepada Tuan Marc dan Bu Eva untuk berpisah dengan Layla. Dinan hanya ingin masalah lahan itu segera selesai dan kehidupannya bisa kembali normal. Laki-laki itu lebih ingin menikmati hidupnya yang sepi tanpa diganggu orang lain.


“Pak, tadi saya dengar Bapak dan Pak Richard membicarakan tentang kebakaran di panti,” ucap Layla dengan ragu.


Dinan kembali  memutar badan untuk kesekian kalinya, berhenti sejenak dari pekerjaannya mengiris bawang.


“Kamu tahu tentang kebakaran itu?” tanya Dinan menyelidik.


Layla menggeleng. Ia tidak tahu kalau panti pernah terbakar. Bahkan Bu Irma sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya.


“Lalu?”


Layla melihat kepada Dinan dengan penuh harap. Semalam ia bermimpi tentang kebakaran panti itu. Layla tidak tahu apa maksud mimpi itu, mimpi yang berkali-kali datang ke dalam tidurnya semenjak dia kecil.


“Saya hanya ingin tahu tentang kebakaran itu, Pak. Karena panti itu sangat berarti dalam hidup saya.”


Dinan mengembuskan nafas kasar. Menurut perhitungannya, Layla baru berumur 3-4 tahun saat panti itu mengalami kebakaran. Anak umur segitu belum begitu baik mengingat sesuatu, mungkin hanya satu atau dua potong kejadian saja yang bisa diingat di usia segitu.

__ADS_1


__ADS_2