Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 41


__ADS_3

Dinan melihat dengan teliti apa yang dilakukan dokter kepada Layla. Memastikan tangan dokter itu tidak liar menyentuh tubuh istrinya. Richard berdiri di sampingnya ikut mengamati. Dokter laki-laki itu memeriksa denyut nadi Layla, memastikan suhu tubuh Layla dan menanyakan gejala apa yang Layla rasakan.


“Kamu sudah dapat informasi terbaru tentang panti, Chard? tentang kebakaran yang dibilang orang yayasan itu?” tanya Dinan yang sudah mendapatkan laporan Richard tentang keterangan Mulia.


Layla seketika menoleh kepada Dinan dan Richard. Ia ingat Richard kemarin siang bertanya tentang kebakaran di panti. Apa itu ada hubungannya dengan mimpi Layla semalam?


“Ada lima korban dari kebakaran itu, Pak. Aku sudah mendapatkan datanya. Ke limanya perempuan,” jawab Richard.


Layla membulatkan mata. Ia masih ingat dengan mimpi semalam, ada lima perempuan yang terkurung di dalam ruangan itu. Dan sekarang ia baru sadar, ruangan yang ia lihat di mimpi semalam adalah kantor Bu Irma di panti. Untungnya dokter yang memeriksanya sudah selesai bekerja, sehingga tidak tahu detak jantung Layla semakin kencang saat Dinan dan Richard membahas kebakaran panti itu.


“Tapi aku belum bisa memastikan siapa perempuan yang mengelola penginapan itu sekarang, Pak. Apa kita masih perlu mengejar orang itu?” tanya Richard.


Dinan mengusap dahinya yang sedikit berkerut. “Aku tidak tahu apa itu berguna atau tidak untuk kita. Menurutmu gimana?” Dinan balik bertanya.


“Lebih baik kita mencarinya. Lagi pula kita sudah tahu kalau nama yang akan keluar nanti adalah Herman Barata di surat milik keluarga Barata.”


“Kita terlambat mengetahuinya, Chard. Jika dapat informasi itu lebih awal, mungkin anak-anak panti itu bisa kita tunda dulu untuk pemindahannya.”


Richard mengembuskan nafas kasar. “Kita tidak terlambat, Pak. Rencana kita memindahkan anak panti itu memang untuk memancing keluarga Barata mengeluarkan nama pemilik lahan itu. Sekarang kita sudah dapat sebelum mereka membukanya. Kita sudah selangkah di depan. Sekarang kita susun jalan selanjutnya.”


“Kamu cari tahu tentang Herman itu, Chard. Dapatkan informasi tentangnya dalam waktu seminggu ini,” ucap Dinan memberi perintah.


Dokter yang memeriksa Layla berdehem ringan. Ia sudah selesai dan sekarang hendak kembali ke rumah sakit.


“Dia baik-baik saja, Nan,” ucap dokter itu yang tak lain teman sekolah Dinan dan Richard dulu.


Dinan menoleh kepada Layla, mereka saling pandang. Layla tidak melepaskan sedikitpun matanya dari Dinan.

__ADS_1


“Aku beri kamu resep untuknya, besok dia sudah dapat kembali bekerja,” ucap dokter bernama Amri itu. “ngomong-ngomong sejak kapan kamu menikah? kenapa aku tidak tahu?”


Wajah Dinan langsung berubah kesal seketika. Sementara Layla kecewa melihat hal itu. Ia ingin Dinan menyampaikan tentang pernikahan mereka dengan wajah bahagia.


“Itu bukan urusanmu, jangan bilang siapa-siapa soal ini. Atau aku tidak akan berinvestasi sama sekali untuk rencana klinikmu itu,” tukas Dinan dengan kesal.


Amri hanya mengangguk, Dinan selalu mengancam tidak akan berinvestasi untuk klinik yang ia cita-citakan. “Kamu benar-benar tidak bisa diajak bercanda sekarang, Nan. Kalau begitu jaga dia baik-baik. Kamu berhutang penjelasan pernikahan ini kepadaku.” Laki-laki itu kemudian pamit bersama Richard yang akan menebus resep untuk Layla.


Setelah pintu kamar tertutup, keadaan seketika lengang. Layla dan Dinan saling bertatapan tanpa suara. Selang beberapa saat, Layla membuka suara lebih dulu.


“Terima kasih, Pak,” ucap Layla dengan singkat.


 Dinan kemudian berbaring di sisi ranjangnya. Ia memejamkan mata, “aku ingin tidur, bangunkan aku jika perlu sesuatu,” ucapnya dengan datar.


 Layla mengembuskan nafas kasar. Ia kemudian ikut berbaring dan memejamkan mata. Apa Dinan tidak bisa memeluknya seperti semalam? Sungguh Layla ingin merasakan pelukan laki-laki itu lagi.


Saat Layla membuka matanya, ia tidak melihat lagi Dinan di ranjang. Layla bangkit dari tidurnya. Memperhatikan keadaan sekitar, ada mangkuk yang tertutup dengan segelas air yang juga tertutup. Serta satu plastik putih yang berisikan obat. Ada secarik kertas disana. Layla mengambil kertas itu dan membacanya.


‘Setelah bangun, langsung makan dan minum obat. Aku harus ke kantor karena ada masalah yang harus kuselesaikan.’


Layla mengembuskan nafas kasar. Ia duduk mengambil makanan yang disiapkan Dinan untuknya. Lalu membuka tutup mangkuk itu, bubur seperti tadi pagi. “Terima kasih, Pak,” lirih Layla, ia menikmati santapan siangnya dengan semangat.


Selesai makan siang dan minum obat, Layla mengeluarkan ponsel. Gadis itu mengeluarkan nafas resah. Apa yang harus ia sampaikan pada bayu? Apa dia harus tetap memilih jalan yang sudah ia jalani selama ini dengan Bayu? agar nanti ia bisa kembali pada laki-laki itu? Atau dia harus berjuang mendapatkan hati Dinan agar bisa menjadi istri Dinan selamanya?


Layla bimbang akan hal itu. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan Dinan. Yang ia rasakan Dinan adalah laki-laki yang baik. Dinan tidak pernah memaksanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan laki-laki itu cukup mandiri dan bisa memasak sendiri. Dinan juga merawatnya sejak demam semalam, juga laki-laki itu tidak pernah marah apalagi sampai memukulnya. Ah, pernikahan ini memang baru berjalan dua minggu, tapi mengingat Dinan sama sekali tidak ingin menikahinya, membuat Layla merasa kecewa dengan dirinya sendiri Kenapa ia tidak bisa mebuat Dinan mau memilihnya?


“Halo, Mas!” sapa Layla saat panggilannya terhubung dengan Bayu.

__ADS_1


“Kenapa baru menelponku, La? dari kemarin aku hubungi, tak ada satupun yang kamu respon,” Bayu terdengar kesal di balik panggilan itu.


“Maaf, Mas. Suamiku selalu ada di dekatku, jadi aku tidak bisa membalas pesanmu.”


“Oke, aku mengerti untuk itu, tapi setidaknya beri aku kabar,” tutur Bayu.


“Mas, untuk beberapa waktu ke depan kita break dulu ya, aku harus fokus dengan hidupku dulu.”


“HA! apa, La?” tanya Bayu yang kaget dengan ucapan Layla.


Layla membuang nafas dengan kasar. “Kita harus break dulu, Mas. Keluarga suamiku ini orang berkuasa, aku tidak ingin bikin gara-gara dengan mereka.”


“Aku tidak bisa jauh darimu, La. Masa kamu minta break?”


“Mas, mengerti dong dengan posisiku. Ini sulit buatku, Mas,” pinta Layla penuh harap.


“Aku harus mengerti seperti apa lagi, La? Aku sudah berbesar hati membiarkanmu jadi istri orang lain. Sekarang kamu minta aku menjauh. Aku tidak bisa, La.”


“Mas … ini lebih baik daripada kita putus. Aku juga harus hati-hati melangkah untuk hubungan kita sekarang.”


Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Bayu. Membuat Layla merasa bersalah disana. Namun ia harus membuat keputusan, jika Tuan Marc tahu dia memiliki hubungan dengan Bayu, entah seperti apa nasibnya. Tuan Marc dan Bu Eva mempercayakan Dinan kepadanya.


“Oke, La. Aku turuti permintaanmu, tapi besok aku ingin bertemu sekali saja. Aku ingin bicara denganmu, setelah itu aku tidak akan mengganggumu sampai kamu dan suamimu itu berpisah.”


Layla mengeluarkan nafas lega. “Baik, Mas. Besok aku mau ke tempat panti yang baru. Kita bisa bertemu sebelum aku ke sana. Besok aku kabari tempatnya ya.”


Panggilan mereka terputus setelah dua kalimat berikutnya. Layla akhirnya bisa tenang saat Bayu mau menjauh sebentar sampai semuanya selesai. Ini pilihan terbaik yang bisa Layla buat. Dia tidak ingin kehilangan Bayu. Di sisi lain ia ingin mendapatkan hati Dinan.

__ADS_1


“Ini egois, tapi aku tidak tahu harus memilih apa selain jalan ini,” lirih Layla. Ia kemudian berbaring, tubuhnya masih terasa lemas.


__ADS_2