Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 49


__ADS_3

Risa berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama Bu Eva yang memayunginya dari panas matahari. Gadis cilik tampak berjalan dengan kesal, entah apa masalahnya di kelas, yang jelas Bu Eva tengah berupaya menghibur anak gadisnya itu.


Ketika Bu Eva tengah membujuk Risa, anaknya itu tiba-tiba tersenyum lebar, kemudian berlari seraya berteriak, “KAKAK!”


“Risa, mau kemana?” tanya Bu Eva yang kaget melihat Risa lari begitu saja.


Sesaat kemudian Bu Eva tersenyum, ia melihat Dinan berlutut menyambut Risa yang melompat ke pelukannya. Bu Eva amat senang melihat pemandangan itu. Dinan adalah sosok kakak yang baik menurutnya. Jika saja Dinan tinggal di rumah, pasti Risa akan sangat beruntung sekali.


“Kakak tidak kerja hari ini?” tanya Risa dengan polos kepada Dinan.


Laki-laki itu menggeleng, ia tersenyum pada adiknya. Gadis cilik itu selalu bisa membuat pikiran Dinan terasa lebih tenang. Setidaknya Dinan bisa menenangkan semua beban pekerjaannya.


“Loh, memangnya sekarang hari libur, ya?” tanya Risa lagi.


“Ya, nggak, tapi kakak lagi kangen sama Risa, sekarang kita jalan-jalan dulu, yuk,” ajak Dinan dengan semangat.


“Ye!” sorak Risa dengan riang, “Kakak serius mau ajak aku jalan-jalan? kemana?”


“Kemana aja deh, yang penting kakak bisa bareng sama kamu.”


Risa dengan gemas mencubit hidung Dinan. Hal yang sampai detik itu tidak berani dilakukan Layla pada suaminya sendiri.


Bu Eva berjalan menghampiri mereka, kemudian memayungi kedua anaknya dari sinar matahari. “Kamu tidak kerja, Nan?” tanya Bu Eva.


“Lagi mumet, Bun, aku mau ajak Risa jalan-jalan dulu,” jawab Dinan dengan singkat.

__ADS_1


“Kamu tidak bawa mobil? mana Richard?” tanya Bu Eva yang melihat Dinan seorang diri disana.


“Dia sudah kembali ke kantor. Kita pakai mobil Bunda saja,” jawab Dinan.


Bu Eva mengangguk paham, Ia memperhatikan Dinan. Tidak biasanya Dinan pergi di jam kerjanya. Apa ia bisa tidak salah menduga bahwa Dinan sedang punya masalah dengan Layla?


Beberapa saat kemudian, mereka sudah meluncur pergi meninggalkan sekolah Risa. Dinan menyetir mobil, sementara Risa duduk dipeluk Bu Eva di sebelahnya. Mobil mereka berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota.


Risa asyik memperhatikan jalanan, sesekali ia melihat Dinan yang menyetir. Betapa bahagianya Risa saat ini, Dinan tidak pernah mengajak Risa jalan-jalan sebelumnya, dan hari ini Dinan datang ke sekolah untuk memberinya kejutan.


“Kenapa tidak ajak Layla, Nan? kan kita bisa pergi jalan bersama,” ucap Bu Eva membuka suara di antara mereka.


Dinan diam sejenak, ia jelas-jelas pergi dari perusahaan karena pikirannya yang kacau memikirkan Layla. Mana mungkin dia mengajak gadis itu jalan-jalan bersama. Bisa membuatnya tambah kacau saja nantinya.


“Apa kalian ada masalah, Nan?” tanya Bu Eva dengan hati-hati.


Dinan membuang nafas kasar. Hatinya merasa ragu, apa dia jujur saja kepada Bu Eva? sungguh ia butuh seseorang untuk mendengarkan semua masalahnya. Sungguh sakit bagi Dinan memendamnya seorang diri. Selama ini ia selalu menahan semua perasaannya sendiri. Ia tidak pernah bercerita pada siapapun. Bagi Dinan sulit untuk percaya kepada orang lain.


“Kami baik-baik saja, Bun.” Dinan memilih untuk menyimpannya sendiri.


“Kamu dan Layla masih muda, Nan. Hati dan pikiran kalian belum sama seperti Ayah dan Bunda yang sudah dewasa. Kami bisa diam saat kamu menunjukkan sikap yang tidak kami suka, tapi Layla pasti tidak. Dia pasti akan menunjukkan sikap egoisnya juga, karena seperti itulah jiwa seorang anak muda. Tidak ingin ditindas dan ingin menunjukkan bahwa mereka kuat dan lebih baik dari orang lain.”


“Aku mungkin terlalu baik kepadanya, Bun, hingga sekarang dia begitu lancang bicara kepadaku. Dia bahkan berani membentakku dan memaksakan kehendaknya,” ucap Dinan menanggapi nasehat Bu Eva.


“Jangan terlalu diambil hati, Nan. Selisih pendapat dalam rumah tangga itu biasa. Apalagi kalian baru saling mengenal setelah menikah. Pasti perlu menyesuaikan diri antara satu dengan yang lain dulu. Yang jelas, saat dia di rumah, dia istrimu. Saat dia di kantor, dia karyawanmu. Jangan campur adukkan keduanya, itu bisa jadi masalah. Dia membentakmu dan memaksakan kehendaknya sebagai istri, jadi jangan perlakukan dia sebagai karyawan,” nasehat Bu Eva sebisanya.

__ADS_1


“Seorang suami dan seorang istri memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Ada kalanya Layla harus diam dan mengalah, ada kalanya juga kamu yang harus diam dan mengalah. Sesuaikan saja keadaannya, dan ambil porsi kalian masing-masing. Perlahan kalian pasti akan merasa nyaman hidup berdua. Karena kalian sudah terbiasa dan menikmati porsi kalian masing-masing.”


“Mungkin Layla akan mengalah saat kamu mumet sama pekerjaan, juga mungkin kamu yang mengalah saat Layla ngomel-ngomel karena pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.”


Hati Dinan mengeluh mendengar nasehat panjang Bu Eva. Perempuan itu seakan mengajarinya hal yang tidak penting.


“Apa yang terpenting menurut Ibu dalam sebuah hubungan pernikahan?” tanya Dinan.


“Komitmen dalam menjalaninya, Nan.” Bu Eva menjawab dengan pasti. “Komitmen untuk setia dalam hubungan, komitmen untuk menjadi istri dan suami terbaik, juga komitmen untuk membuat pasangan dan keluarga kecil kalian selalu bisa tertawa bahagia. Hal itu sulit, karena antara satu orang dengan orang lain pasti ada gap yang membuat perselisihan terus saja terjadi. Tapi itulah titik kebahagiaan pernikahan, Nan. Saat kalian bisa menyamakan posisi antara satu dengan yang lain, gap tersebut menghilang dan hanya saling pengertian yang kalian rasakan.”


Kali ini Dinan hanya diam, Bu Eva tidak tahu apa masalahnya. Jadi dia hanya menasehati dengan coba menerka-nerka saja, namun ia tetap ingin memberi solusi bagi masalah Dinan dan Layla. Mungkin di mata Bu Eva, Dinan keras kepala dan sulit diatur, hingga jika ada masalah, maka biangnya adalah Dinan sendiri. Memanglah sikap pendiam Dinan membuat orang salah paham, padahal dalam hubungan mereka, Layla-lah yang telah berkhianat, Dinan merasa tidak ada komitmen dari perempuan itu untuk menjadi istrinya. Hanya sebuah keterpaksaan karena permintaan Tuan Marc.


“Sepercaya apa Bunda sama Layla?” tanya Dinan setelah beberapa saat.


Risa yang tak mengerti dengan pembicaraan mereka hanya diam memperhatikan.


“Dia sedikit mirip dengan Bunda. Dia anak baik, jujur dan polos. Bunda sama Ayah yakin Layla adalah perempuan terbaik untukmu,” ucap Bu Eva dengan yakin.


Senyuman sinis keluar dari mulut Dinan. “Sebaiknya Bunda jangan terlalu berharap lebih dengan perempuan seperti dia,” ucap Dinan dengan jelas, membuat Bu Eva melihatnya dengan penuh selidik. Ia tidak akan salah menilai, Dinan tengah ada masalah dengan Layla. Masalah akan sebuah kepercayaan.


“Kamu harus berani lepas dari masa lalu, Nan. Tidak semua perempuan seperti mereka yang menyakitimu. Seperti Jenny yang mengkhianatimu, atau seperti ibu-ibumu yang dulu. Bunda saja bisa menerima ayahmu dengan segala masa lalunya. Seharusnya kamu juga melakukan hal yang sama, menerima masa lalu itu dan mencoba membangun kepercayaan untuk Layla.”


“Jika kamu tidak bisa percaya dengan Layla, bagaimana kalian bisa saling mengerti? Kepercayaan itu kunci hubungan yang harmonis, karena komitmen yang sebenarnya selalu diawali oleh kepercayaan yang penuh,” lanjut Bu Eva.


Dinan tak menanggapi lagi. Kepercayaan apa yang bisa ia berikan pada perempuan yang pergi jalan dengan laki-laki lain di belakangnya?

__ADS_1


__ADS_2