Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 51


__ADS_3

Dinan mengantar Bu Eva dan Risa hingga kembali ke kediaman keluarga Marc. Sebenarnya Dinan ingin segera pulang ke apartemen untuk beristirahat, tapi sang ayah ingin bertemu dengannya. Dinan dengan terpaksa harus singgah dulu di rumah itu. Saat sampai di rumah mewah kediaman keluarga Marc, Bu Eva segera membawa Risa ke kamar untuk bertukar pakaian. Sementara Dinan menuju ruang kerja Tuan Marc.


Dinan paham bahwa apa yang ingin disampaikan Tuan Marc bukanlah hal sembarangan. Tuan Marc selalu mengajaknya bicara di ruangan kerja jika hal yang mereka bahas adalah hal yang penting dan Bu Eva tidak boleh tahu.


Saat Dinan masuk, Tuan Marc terlihat tengah sibuk menggeser-geser layar tabletnya. Laki-laki tua itu menggeser sedikit kaca mata bacanya, melihat kepada Dinan yang baru masuk ke sana. Dinan mendekat dengan langkah pelan. Matanya meneliti keadaan ruangan itu dengan seksama.


“Kamu datang juga, Nan,” gumam Tuan Marc membuka suara.


“Ada perlu apa Ayah ingin bertemu denganku?” tanya Dinan tanpa basa basi.


Tuan Marc mengembuskan nafas kasar, Dinan masih menunjukkan sikap keras kepalanya. “Kamu memindahkan anak panti dengan cepat, apa kamu tidak sadar bahwa itu mengancam posisimu, Nan? Sementara kamu sama sekali belum tahu siapa pemilik sah lahan itu,” ucap Tuan Marc dengan menahan rasa kesal.


“Aku tahu apa yang kukerjakan, ayah duduk manis saja menunggu hasil kerjaku,” jawab Dinan tanpa ragu.


“Keluarga Barata sudah bergerak, tadi Jenny datang ke sini mencarimu,” ucap Tuan Marc.


“Aku sudah tahu apa yang dia katakan dan aku juga sudah tahu apa yang ayah jawab, jadi apa masih ada hal yang perlu kita bicarakan?” tanya Dinan. Ah, Dinan sudah bisa menebak bahwa Jenny pasti membawa penawaran yang sama seperti tempo hari. Dan Tuan Marc pasti menolak. Semuanya sudah bisa diterka oleh Dinan melihat keadaan yang berkembang.


“Aku sudah memberi saran terbaik untukmu, tunggu dan sabar, jangan pindahkan anak panti dengan terburu-buru, sekarang kamu malah mempersulit posisimu sendiri,” terang Tuan Marc dengan nada tak senang.


“Jika ayah ingin aku menjadi anak yang patuh, maka turuti juga keinginanku, sampai sekarang ayah belum menepati janji untuk memberikan semua harta ayah kepadaku,” ucap Dinan balik menyerang Tuan Marc.


“Apa kamu pikir dengan yang terjadi sekarang aku akan mempercayakan semua hartaku kepadamu?” Tuan Marc membalas ucapan Dinan.

__ADS_1


“Lalu apa ayah pikir dengan semua janji yang ayah ingkari, aku bisa percaya pada jalan yang ayah pilih?” balas Dinan.


“Aku tidak pernah mengingkari janji, Dinan. Aku harus berbuat adil untukmu, Eva dan Risa. Aku tidak bisa memberikan semua hartaku hanya kepadamu seorang.”


Dinan tersenyum sinis, “kalau begitu lakukan saja tugas ayah sebagai komisaris, aku akan mengerjakan tugasku sebagai direktur.” Dinan berbalik badan, “satu lagi, aku masih memberi ayah kesempatan untuk menepati janji, jika tidak juga ayah tepati, Layla akan kucampakkan. Dan kupastikan dia akan menyesal meminta tolong kepada ayah untuk menyelamatkan pantinya, dia akan menyesal karena menuruti keinginan ayah untuk menjadi istriku, dan dia akan menyesal karena mengenal ayah.”


Dinan kemudian pergi, meninggalkan Tuan Marc yang hanya bisa memukul meja menahan rasa emosi di dadanya. Dia hanya bisa bertanya-tanya, mau sampai kapan putranya itu akan keras kepala dan tidak mau mendengar semua ucapannya?


Setelah keluar dari ruangan Tuan Marc, Dinan mendatangi kamar Risa dan pamit pulang kepada adik dan ibu tirinya. Bu Eva tidak banyak tanya, selama ini tidak ada hal baik jika Dinan sudah keluar dari ruangan Tuan Marc. Untuk itu dia memilih tidak bertanya apapun, karena Dinan juga tidak akan menjelaskan apa-apa.


***


Layla tinggal seorang diri ruangan kerjanya. Ia menolak saat Emma mengajaknya turun bersama. Setelah memastikan semua rekan kerjanya pulang, Layla kemudian baru berdiri dan meninggalkan meja kerjanya. Perempuan itu bisa memberikan beribu alasan kepada yang lain termasuk Pak Denis kenapa ia masih belum juga pulang.


Sesampai di lantai 7, Layla bergegas menuju ruangan Dinan. Melewati Richard yang masih fokus dengan beberapa pekerjaan.


“Saya izin masuk ya, Pak,” ucap Layla tanpa menunggu tanggapan Richard.


Laki-laki itu menoleh, ia mendengus kesal. “Tadi Jenny, sekarang anak tak tahu diri ini, apa perempuan memang tidak tahu sopan santun sedikit pun?” tanya Richard menahan rasa kesal.


Layla di dalam ruangan Dinan hanya bisa berdiri bingung. Dinan tidak ada disana. Layla melangkah masuk, memperhatikan keadaan sekitar, memastikan Dinan benar-benar tidak berada di ruangan itu.


“Dia kemana?” tanya Layla seorang diri, kemana suaminya itu pergi? apa Dinan pergi dengan perempuan tadi? Apa Dinan mengkhianatinya? Apa Dinan ingin balas dendam karena dia jalan dengan Bayu di belakang Dinan?

__ADS_1


Layla menggeleng, pikirannya terasa tidak menentu apabila sudah memikirkan Dinan. Perempuan itu kemudian keluar, menghampiri Richard di meja kerjanya.


“Maaf, Pak, Pak Dinan kemana ya?” tanya Layla dengan penuh penasaran.


Richard menoleh kepadanya dengan mata geram. “Makanya tanya! kamu pikir aku duduk di sini untuk apa? ha?” bentak Richard dengan penuh emosi.


“Saya hanya ingin bertemu suami saya, kenapa saya harus tanya dulu ke Bapak?” tanya Layla membela diri.


Richard melenguh panjang. Untuk hal itu ia berpikir sejenak, tidak menyangka akan keluar kalimat seperti itu dari mulut Layla.


“Kamu jangan bicara macam-macam di kantor ini, apa kamu ingin semua orang tahu tentang hubunganmu dengan Dinan?” tanya Richard setengah berbisik.


Layla menggeleng, mengaku bahwa ia salah. “Tadi saya lihat ada perempuan yang tempo hari masuk ke ruangan Pak Dinan naik ke lantai 7. Jadi saya hanya sedikit cemas, Pak,” aku Layla juga berbisik.


“Lalu apa masalahnya?” Richard bertanya bingung, “mau siapapun yang masuk ke ruangan Dinan, itu bukan urusanmu.”


Layla terdiam sebentar, ia tidak suka dengan sikap Richard yang menyudutkannya seperti itu, “Saya juga punya hak untuk tahu, apalagi perempuan itu mengajak Pak Dinan menikah.”


Richard menatap geram kepada Layla, lagi-lagi perempuan itu berbicara hal yang tidak-tidak. “Pulang saja ke apartemen, mungkin Dinan sudah pulang,” ucap Richard yang memilih mengusir Layla dari sana. Jika Layla terus mendebatnya seperti itu, yang ada nanti hal itu akan menjadi pembicaraan orang-orang.


Layla pergi meninggalkan Richard dengan senyum kemenangan. Baru kali ini ia berhasil membuat Richard kalah dengannya. Ternyata laki-laki itu tak berani sama sekali melawan istri atasannya—walaupun Richard sering kali mengancamnya.


Kaki Layla berjalan cepat menuju halte bis. Sekarang ia harap-harap cemas. Semoga saja Dinan sudah sampai di apartemen. Tidak pergi dengan Jenny seperti yang dicemaskan Layla sejak tadi siang. Di satu sisi, Layla bingung dengan dirinya sendiri, mungkin ia memang tidak berharap bisa hidup bersama Dinan, namun di sisi lain ia bingung, kenapa ia begitu cemas jika ada perempuan lain yang menggoda Dinan. Bahkan semakin hari, ia merasa Dinan adalah hal paling penting di hidupnya. Menggeser nama Bayu yang sekarang selalu hampa dirasakan Layla saat mengingat laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2