
Layla terpaku disana menatap wajah Bayu. Ah, apa yang harus dia jawab? Jujur, hatinya ingin berkata iya. Bayu adalah orang yang masih merajai hatinya. Tapi di sisi lain ia berstatus istri Dinan.
“La, kamu mau kan untuk melanjutkan lagi hubungan kita yang terputus?" tanya Bayu lagi. "Jujur, La, ini baru seminggu kita tidak komunikasi, aku sudah sangat kehilanganmu.”
Layla menelan ludah. Jika ia menolak, apa yang bisa ia jadikan alasan? Tidak mungkin ia mengaku sudah menikah. Itu akan sangat melukai hati laki-laki yang ia cintai itu. Tapi bagaimana dengan Dinan?
“La, kamu maukan?” tanya Bayu mendesak.
“Mas aku ….” ucap Layla dengan ragu-ragu.
“La, aku janji, kita takkan seperti ini lagi. Dan setelah aku diangkat jadi karyawan tetap, kita bisa langsung menikah.”
Layla menatap Bayu yang amat serius dengan ucapannya. Ia kemudian mengangguk. Membuat Bayu tersenyum lebar penuh kemenangan. Mereka melanjutkan makan siang bersama, sebelum akhirnya Bayu pamit untuk kembali ke kantor.
“Aku pamit duluan ya, La.”
“Mas mau balik langsung ke kantor?” tanya Layla menatap wajah Bayu yang begitu amat dirindukannya.
Laki-laki itu mengeluarkan dompet untuk membayar makanan mereka pada pelayan yang datang. Namun dengan cepat Layla menahan tangan laki-laki itu.
“Pakai uangku saja, Mas. Mas kan belum gajian tanggal segini,” ucap Layla yang memahami keadaan Bayu. Laki-laki itu tersenyum. Ah, lega sekali perasaan Bayu melihat Layla membayar makan siangnya, setidaknya itu bisa menghemat uang sakunya.
Bayu kemudian pamit, meninggalkan Layla yang melihat kepergiannya dengan senyum senang karena bisa dekat lagi dengan Bayu. Namun sesaat kemudian sekelebat bayangan ayah Bayu saat makan malam di restoran bersama Dinan berputar di kepala Layla. Membuat perempuan itu bertanya-tanya, kenapa hubungan Bayu dan ayahnya tidak berjalan harmonis?
__ADS_1
***
‘Byuuurrr’
Segelas air putih membasahi wajah Dinan.
“Astaga, apa yang Ayah lakukan?” tanya Bu Eva yang kaget melihat air putih yang ia bawa untuk suaminya malah langsung disiramkan kepada Dinan yang berdiri di depan mereka.
Lekas Bu Eva mengambil tisu di meja kerja Tuan Marc dan mengelap wajah Dinan yang basah. Namun anak tirinya itu menahan tangan Bu Eva.
“Apa yang kamu lakukan pada Layla hingga ia berlutut di depanku untuk kamu?” tanya Tuan Marc menahan emosi.
“Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya.”
“Lincah sekali kamu berbohong kepada ayahmu ini, Dinan. Apa kamu memarahinya hingga ia begitu takut kepadamu?”
“Kamu masih mau berbohong? kamu pasti ingin membuat dia tidak nyaman denganmu agar dia minta cerai,kan? aku sudah menduga hal itu dari awal, Dinan. Tapi kamu salah orang, Layla bukan tipe perempuan seperti itu. Jadi jangan berharap dia akan menuntut cerai darimu.”
“Apa ayah hanya ingin memarahiku untuk hal yang tidak penting? Seharusnya ayah menepati janji ayah karena aku sudah menikah dengan dia!” ucap Dinan balik melawan.
“Tidak ada bagian untukmu sebelum kamu punya anak. Bagianmu hanya akan diterima oleh anakmu,” ucap Tuan Marc dengan tegas.
“Beginilah Ayah, menuduhku berbohong, padahal ayah sendiri yang tidak pernah bisa menepati janji. Aku menikahi perempuan itu hanya untuk dokumen yang ia berikan kepada Ayah. Sementara janji ayah itu hanya bonus jika ayah menepatinya untukku,” ucap Dinan balik menyerang ayahnya.
__ADS_1
Tuan Marc menatap sinis putranya itu. “Kamu pikir ayahmu ini orang bodoh? tidak mempelajari dokumen itu saat memegangnya? kamu pikir setelah menikah dan kamu berjanji memberikan tempat yang layak untuk anak-anak panti, aku akan terpedaya dan mengembalikan dokumen itu?”
“Pastikan dulu siapa pemilik sebenarnya lahan itu, baru aku mengizinkan langkah selanjutnya. Sekarang cari Layla dan minta maaf atas perlakuanmu, ajari dia untuk menjadi anakku yang berani menghadapi apapun.”
Dinan balik tersenyum sinis. “Aku bahkan bisa membuatnya lebih menderita dari sekarang.”
“Apa lahan kecil itu benar-benar membuatmu gila, Dinan? aku bahkan setiap tahun mendapat proyek dari pemerintah dengan keuntungan yang jauh lebih besar dari perkiraanmu untuk lahan itu. Sedangkan kamu tergila-gila dengan lahan yang untungnya tidak seberapa itu.”
Dinan menatap ayahnya dengan perasaan penuh emosi. Dari dulu ayahnya memang tidak pernah mau menghargai usaha dan ide-ide bisnisnya. Bahkan untuk hal yang ia anggap besar seperti potensi lahan itu sama sekali tidak dihargai oleh sang ayah.
“Percuma bicara sama Ayah, egois tidak mau menghargai anak sendiri.” Dinan berbalik badan, kemudian pergi dari ruangan kerja ayahnya. Meninggalkan rumah itu begitu saja.
Ia bahkan tidak menyempatkan waktu untuk menemui Risa sebelum pergi. Keadaannya sekarang sedang kacau, dan ia tidak ingin adiknya tahu akan hal itu.
Bu Eva mengambil gelas yang tadi airnya disiramkan ke Dinan oleh Tuan Marc. “Ayah berlebihan memperlakukan Dinan.”
“Dia sudah seperti yang aku inginkan, Bun. Jangan terlalu diambil hati kejadian barusan. Dari dia kecil hubunganku memang tidak baik dengannya. Dan bagiku inilah cara terbaik untuk mengajarinya.”
“Tapi ayah tidak perlu sampai menyiramnya seperti tadi.”
“Sudahlah, Bun. Aku lebih mengenal Dinan dengan segala rasa sakitnya dulu. Aku tahu kalau apa yang terjadi barusan akan menjadi pelecut untuknya agar lebih baik lagi ke depan.” Tuan Marc duduk ke kursi kerjanya tanpa ada beban dan rasa bersalah sedikit pun.
Dinan mengendarai mobil ke apartemennya dengan hati terluka. Jujur saja, ia sudah menaruh harapan besar mendapatkan seluruh harta ayahnya jika dia sudah menikah, apa yang ia ucapkan tadi hanya untuk menyelamatkan wajahnya di depan sang ayah. Dan juga harapan dokumen itu akan kembali kepadanya tanpa sang ayah tahu kalau lahan yang ia menangkan di lelang itu bermasalah. Ia sudah memutuskan menikah, berjanji manis akan merelokasi anak-anak panti ke tempat yang lebih baik. Namun semua yang ia harapkan dimentahkan oleh sang ayah yang lebih cerdik darinya.
__ADS_1
Saat dokumen itu dikabarkan diambil oleh seseorang dari bagian building manager, Dinan seketika panik dan cemas. Ia tidak mau ada orang lain tahu bahwa lahan yang ia beli itu bermasalah. Nasib buruknya dokumen itu malah jatuh ke tangan ayahnya sendiri. Dinan sudah bersikap sebiasa mungkin agar sang ayah tidak tahu lahan itu bermasalah. Namun siapa sangka, saat Tuan Marc menyelidiki Layla ke panti asuhan, ia mendapatkan fakta lain tentang masalah lahan itu dari Bu Irma. Tuan Marc langsung membaca dokumen itu dengan cermat dan mengerti, Dinan sudah melakukan kesalahan besar.
Dinan sekarang melajukan mobilnya dengan cepat. Ia benar-benar kecewa dengan sikap sang ayah. Apa yang harus dilakukan Dinan sekarang? otaknya terasa buntu karena hatinya yang emosional. Jika harus menyalahkan Layla, itu juga tidak berguna, perempuan itu tidak bisa diandalkan dan hanya bisa meminta maaf. Yang bisa dilakukan Dinan sekarang hanya satu, menyesali dirinya sendiri karena mengusir Layla saat gadis itu memohon agar panti asuhannya tidak digusur. Andai saja Dinan tahu dokumen yang dibawa Layla hari itu adalah dokumen amat penting, maka ia tidak akan membiarkannya menjadi serumit ini.