
Bruukk!
Dinan terdorong jatuh ke lantai, tubuhnya ambruk karena Layla mendorong pintu ruangannya dengan keras. “Ahh! Sialan!” Dinan berteriak keras penuh emosi.
“Ma—maaf, Pak!” Layla seketika kaget melihat Dinan yang tersungkur ke lantai, lekas ia membantu Dinan untuk berdiri.
“Richard!” Dinan berteriak keras memanggil Richard.
“I—iya, Pak.” Richard lekas menarik tangan Layla agar menjauh dari Dinan.
“Ma-maaf, Pak! Saya tidak bermaksud mendorong bapak.” Layla berkeringat dingin, tubuhnya terasa menggigil menahan takut. Ia baru saja melakukan kesalahan besar.
“Kenapa dia bisa masuk ke sini? Lo kerja yang benar nggak sih!” Dinan berdiri dia menatap tajam kepada Layla yang berdiri dengan menunduk takut di depannya.
“Maaf, Pak. Ini kelalaian saya.” Richard menarik tangan Layla untuk segera keluar dari ruangan itu.
Tapi Layla bersiteguh untuk tetap berada disana, ia membalas tatapan Dinan dengan segenap sisa keberanian yang ia punya. “Sa—saya mau bicara hal penting sama bapak,” pintanya dengan memohon.
Dinan tak menggubrisnya, ia beranjak kembali ke kursi kerjanya. “Pak! Saya mohon, saya perlu bicara dengan bapak.” Layla masih meminta penuh harap.
Richard berusaha menarik tangan Layla dengan keras. “Cepat keluar! ini hari terakhir Lo kerja, Gue akan pecat Lo sekarang juga!” Richard menggeram menahan emosi melihat sikap Layla.
“Pak! Saya mohon,” lirih Layla dengan penuh harap, matanya berkaca-kaca, bahkan air bening itu sudah ada yang membasahi pipinya.
Dinan masih tak menggubris, ia sudah mengambil sebuah dokumen di meja kerjanya. Sementara Richard membuka pintu yang tertutup seraya menarik tangan Layla dengan kasar.
“Pakk!” Layla berteriak, ia kesal dengan Dinan yang tak memperdulikan panggilannya. “Saya mohon Pak!” teriak Layla lagi dengan nada melemah dan pipinya yang basah, jika ia gagal hari itu, maka ia tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu Dinan dan panti asuhannya benar-benar akan tergusur oleh perusahaan.
Dinan masih diam tak peduli, ia sudah fokus dengan pekerjaannya. Sementara Richard di luar ruangan Dinan mendorong Layla dengan kasar. “Pergi Lo sana, bereskan meja kerja Lo. Surat PHK Lo sebentar lagi gue kirim.” Richard berseru penuh kekesalan, Layla hanya menambah pekerjaannya yang sudah banyak menumpuk.
__ADS_1
“Pak, izinkan saya bertemu Pak Dinan, ini penting buat saya.” Layla memelas penuh harap, sekarang hatinya benar-benar hancur membayangkan panti yang ia cintai akan digusur dan berubah menjadi apartemen mewah.
“Sekarang Lo pergi! Atau perlu gue usir pakai satpam!” Maki Richard dengan kasar. Layla mengalah, ia berdiri dan kemudian berjalan meninggalkan ruangan Dinan. Tangannya mengusap pipinya yang basah, pikirannya melayang, kepada panti asuhan yang menyimpan banyak kenangan baginya. Seharusnya ia sadar, menemui Dinan bukanlah hal sepele di perusahaan itu.
Layla berjalan menuju lift, ia turun ke lantai 3 untuk segera bersiap-siap pulang. Ia sudah ada janji bertemu dengan Bayu. Mungkin ia juga harus siap-siap membereskan barang-barangnya. Apa perjuangannya menyelamatkan panti sudah pupus? Ahh! Sungguh menyesal Layla dengan dirinya sendiri. Tidak bisa menyelamatkan pantinya.
Saat Layla keluar dari lift menuju meja kerjanya, ia melihat Tuan Marc tengah berbicara dengan Pak Denis di dekat ruang staff marketing manager. Layla mendekat dan memberi hormat, karena ia harus melewati dua orang itu menuju meja kerjanya. Layla kemudian berjalan menuju meja kerjanya.
“Tunggu!” Suara Tuan Marc berseru kepada Layla, ia menghentikan pembicaraannya dengan Pak Denis sebentar. Layla berhenti dan lekas berbalik badan melihat Tuan Marc. “Kamu yang tadi di depan ruangan Dinan’kan? Kenapa matamu basah begitu?”
“I—ini.” Layla terdiam, bingung harus menjelaskan apa, hanya tangannya yang bergerak untuk mengeringkan pipinya. Sesaat kemudian ia ingat dengan dokumen yang tadi diberikan staff building manager yang masih dipegangnya. Lekas Layla memberikan dokumen itu kepada Tuan Marc, berharap laki-laki itu mau membantunya.
“Tu-Tuan, sa-saya mau memohon sesuatu sama Tuan,” tutur Layla dengan menunduk.
“Layla!” Pak Denis memperingatkan Layla akan tingkahnya. “Apa yang kamu lakukan?”
“Tak apa-apa Denis.” Tuan Marc membela Layla, ia mengambil dokumen itu dan membukanya. “Ada masalah apa dengan dokumen ini?”
“Jadi kamu ingin agar pantimu itu tidak digusur?” Tuan Marc mencoba menebak keinginan Layla.
“I-iya Tuan, maaf jika saya lancang,” tutur Layla dengan lemah, ia akan dipecat dari sana, buat apalagi peduli dengan pandangan Pak Denis.
Tuan Marc melepas nafas berat, ia perhatikan Layla dari atas hingga bawah dan kemudian kembali ke atas. Dia kemudian mengangguk, mungkin anak panti seperti Layla bisa dipercaya, tidak akan mengkhianati laki-laki seperti apa yang pernah ia alami dan Dinan rasakan.
“Saya pegang dulu, nanti saya akan memanggil kamu. Sekarang kembali bekerja, sebentar lagi jam pulang.” Perintah Tuan Marc.
“Ba—baik Tuan.” Layla menurut patuh, ia kembali ke meja kerjanya dan bersiap-siap untuk pulang.
***
__ADS_1
Layla duduk menatap Bayu yang tengah fokus melihat layar ponselnya. Sudah hampir setengah jam mereka duduk disana, tapi Bayu tidak bersuara sama sekali. Membuat Layla bingung dengan apa yang diinginkan laki-laki itu.
“Mas! Sebenarnya kamu mau ngapain ngajak aku ketemuan sekarang?” Layla membuka suara lebih dulu.
Bayu melirik kepada Layla, ia kemudian menurunkan ponselnya dan melipat tangannya di depan dada. “Kamu nggak sadar sama kesalahanmu? Nggak ada niat gitu untuk minta maaf, mengakui kesalahan.”
Layla mengusap dahinya, tadi di kantor dia sudah berbuat kesalahan besar, apa sekarang dia harus menghadapi Bayu lagi dengan segala masalah mereka yang terus berulang seperti itu?
“Aku capek, Mas. Tadi di kantor ada sedikit masalah, sekarang kamu malah marah-marah seperti ini sama aku.” Layla berkeluh dengan keadaannya.
“Ohh! Itu alasannya, jadi pekerjaanmu jauh lebih penting daripada meminta maaf kepadaku?” Mata Bayu menyipit tajam melihat wajah Layla yang menyimpan beban berat.
Nasib Layla seperti berada di ujung tanduk, ia akan dipecat di kantornya karena ulahnya tadi, dan sekarang Bayu malah menekan dirinya untuk hal yang tidak-tidak, laki-laki yang seharusnya memberinya semangat malah semakin menambah sakit kepalanya karena menanggung semua beban.
“Ok, Mas! Aku salah, aku minta maaf.” Layla memilih mengalah daripada harus memperpanjang masalah mereka.
“Ohh! Gitu aja, nggak ada tulus-tulusnya permintaan maafmu itu, La.” Bayu masih melipat tangannya dengan tatapan sinis kepada Layla.
“Maasss! Tolong dong … Aku benar-benar lagi nggak mood sekarang. Jangan ajak berantem lagi.” Layla memelas penuh harap kepada Bayu.
“Aku juga udah capek sama kamu, sekarang gimana? Mau lanjut nggak nih? Apa kita sampai disini aja?” Bayu bertutur tanpa ada beban kepada Layla.
“Kenapa gampang bangat kamu bicara kayak gitu, Mas? Kayak nggak ada artinya aja hubungan kita 2 tahun ini buat kamu.”
“Karena kamu nggak pernah mengerti dengan keadaan aku, La. Aku itu bu—“
“Nggak ngerti gimana, Mas?” Layla memotong kalimat Bayu. “Aku selalu ngertiin kamu, saat kamu di PHK beberapa bulan lalu, aku tetap di dekat kamu dan memberi dukungan untukmu, Mas. Sekarang aku lagi ada masalah di kantor, kenapa kamu nggak mendukungku, Mas? Kamu malah seperti ini sama aku, menambah bebanku dengan bilang kayak gitu.” Layla mengutarakan keluh kesahnya.
"Aku kayak gini juga karena sikapmu, La. Udah kita break dulu, aku capek menghadapi kamu yang nggak mau berubah."
__ADS_1
"Berubah apanya, Mas? Apa Mas pikir dengan kita pacaran, kita bebas ngapain aja?"