
“Ada apa?” tanya Dinan setengah berteriak di panggilan tersebut.
“Jenny bertanya tentang Layla, Pak,” jawab Richard.
“Emang dia dimana?” tanya Dinan dengan nafas memburu.
“Loh, bukannya dia sudah masuk dari tadi ke dalam?” Richard balik bertanya.
Dinan mendengus kesal, kali ini ia bertambah marah dengan keadaan.
“Ah, dasar orang-orang tak berguna,” bentak Dinan dengan kesal. Laki-laki itu menutup panggilan.
“Layla! Ke sini!” panggil Dinan dengan keras.
Membuat Layla tersentak kaget karena tidak mengira Dinan mengetahui ia ada di dalam ruangan itu. Dengan gugup Layla melangkah, gadis itu berhenti tepat di samping pajangan dan menghadap kepada Dinan yang memandangnya dengan tajam.
“Sejak kapan kamu belajar menguping pembicaraan orang lain?” tanya Dinan dengan mata memerah.
“Saya tidak bermaksud seperti itu, Pak, tadi saya lihat Bapak amat serius dengan perempuan itu, jadi saya tidak ingin mengganggu.”
“Apa kamu tidak bisa pergi kalau memang tidak ingin menggangguku? Kenapa malah diam disana?”
“I-itu …” Layla terbata, tidak tahu menjawab apa.
“Sekarang pergilah, emosiku sedang tidak baik untuk bicara denganmu,” Dinan lebih memilih mengusir Layla. Gadis itu segera pergi karena takut Dinan akan melampiaskan sakit hatinya kepada dirinya.
***
Richard melajukan mobilnya di tengah kemacetan. Dinan duduk di belakang seraya melihat beberapa laporan yang masuk hari itu. Kegiatan mereka pulang kerja masih seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Hanya saja saat itu pikiran Dinan sedang tidak tenang akan suatu hal. Yaitu lahan panti asuhan yang masih belum jelas duduk perkaranya.
“Kamu sudah dapat informasi baru tentang pemilik lahan itu, Chard?” tanya Dinan tiba-tiba.
__ADS_1
“Ada seorang perempuan yang mengubah penginapan itu menjadi panti asuhan, Pak. Perempuan itu menyewa tanah milik keluarga Barata untuk bisnis penginapannya. Lalu entah mengapa, perempuan itu mengubahnya menjadi panti asuhan. Perwakilan keluarga Barata saat itu merestuinya dan pengelolaannya diberikan kepada Yayasan Putri Gemala. Orang dari Keluarga Barata itu mendonasikan tanah itu kepada Yayasan tanpa persetujuan pihak keluarga yang lain. Di sanalah titik permasalahannya.”
“Jadi orang itu yang membuat kita dalam posisi sulit seperti sekarang?”
“Dia kunci untuk kita memenangkan lahan itu, Pak. Lahan itu pasti milik pribadinya, sehingga ia bisa memberikannya kepada yayasan. Pihak Barata hanya ingin merebut tanah itu dari kita karena mereka punya status sebagai ahli waris orang itu,” Richard memperjelas.
“Ahli waris? apa orang itu sudah meninggal?” tanya Dinan dengan serius.
“Iya, Pak. Itu membuat kita menjadi lebih sulit sekarang.”
“Lalu perempuan yang kamu bilang tadi gimana? dia bisa menjadi saksi kunci kalau tanah itu sudah didonasikan kepada yayasan.”
“Kami sedang menyelidikinya, Pak. Sulit sekali menemukan informasi tentang dia. Saya juga sudah bertemu ibu panti itu, dia tidak tahu apa-apa karena dia hanya bekerja untuk yayasan, bukan keluarga Barata apalagi perempuan itu.”
Dinan mengembuskan nafas kasar. “Sekarang apa kita bisa menang jika pada akhirnya kita gagal untuk mendapatkan orang-orang itu, Chard?”
“Kecil, Pak. Keluarga Barata tentu sudah siap dengan segala bukti kepemilikan mereka.”
“Sebenarnya Jenny menawarkan hal yang sangat menguntungkan, Chard,” tutur Dinan sedikit menggeser pembahasan mereka.
“Menguntungkan, Pak?”
“Kita bisa mendapatkan lahan itu tanpa perlu berkonflik dengan mereka. Dengan begitu, semua yang kita takutkan tidak akan terjadi. Namaku tidak akan dinilai jelek karena masalah itu. Juga itu akan menjadi kesempatan untuk kita mendapatkan sebagian bisnis keluarga Barata untuk meningkatkan value perusahaan ke level yang lebih tinggi.”
“Dia meminta Bapak menikahinya?” Richard mencoba menebak.
“Iya, dan sekarang aku tengah berpikir untuk melakukannya.”
Wajah Richard tiba-tiba berubah masam. Ia benci dengan apa yang disampaikan Dinan barusan.
“Apa Bapak lupa dengan apa yang ia lakukan dulu? Apa Bapak masih mencintai perempuan rendahan itu?” tanya Richard dengan nada tak suka.
__ADS_1
“Cinta?” tanya Dinan dengan senyum getir, “hatiku sudah lama mati sejak dia dan keluarganya mengkhianatiku untuk laki-laki itu. Aku hanya berpikir tentang masa depan, Chard. Aku butuh istri untuk status dan memperkuat citraku. Apalagi dia dari keluarga Barata, aku akan semakin kokoh di puncak Marc Property. Juga masa depan perusahaanku, anakku dari dia akan menjadi pemimpin besar karena berasal dari dua keluarga terpandang.”
“Aku lebih suka Bapak dengan Layla,” ucap Richard dengan datar. “Dia bisa kita manfaatkan sesuka kita, jika bapak perlu status, Layla sudah cukup, jika Bapak perlu anak, Layla juga bisa melahirkan.”
“Kau bercanda, Richard?” tanya Dinan setengah tertawa, “itu sama saja menjatuhkan namaku karena menikah dengan karyawan biasa. Dan jika aku punya anak dari dia, itu sama saja menghancurkan prestise yang dimiliki keluarga Marc. Perempuan yang tidak tahu siapa ayah dan ibunya, siapa latar belakang keluarganya, anak seperti apa yang bisa kuharapkan dari perempuan itu? Jika dia bisa kumanfaatkan untuk jangka panjang, aku pasti tidak akan merahasiakan pernikahan ini, Chard. Aku ingin membuangnya tanpa mengotori tanganku. Untuk itu aku menyembunyikan semua ini. Aku masih menunggu kesempatan untuk menyerang ayah dengan memanfaatkan Layla.”
“Tapi jika Bapak dengan Jenny, pernikahan dengannya hanya akan membuat Bapak sakit hati,” jelas Richard akan pendapatnya.
“Ini bukan tentang pernikahan yang kamu bayangkan, Chard. Ini tentang bisnis dan hegemoni. Aku tidak akan menikah tanpa ada untung sedikitpun untukku,” ucap Dinan mempertegas.
Richard hanya mendengarkan dengan mata penuh ketidaksukaan. Laki-laki itu tidak akan membiarkan Jenny masuk lagi ke dalam hidup Dinan yang dulu dihancurkan oleh perempuan itu.
“Aku tidak serius barusan, Chard. Aku hanya sedang memikirkan tawaran Jenny,” tutur Dinan dengan pelan. “ngomong-ngomong Jenny tanya apa tentang Layla?” tanya Dinan yang teringat kejadian tadi siang.
“Dia bertanya Layla itu siapa Bapak, karena ia yakin tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan Bapak seperti Layla. Tapi Bapak tenang saja, saya bisa pastikan dia tidak curiga sama sekali kepada Layla.”
Dinan mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Richard.
***
Di apartemen, Layla tengah sibuk menyiapkan makan malam. Gadis itu sudah selesai bersih-bersih rumah sejak pulang kantor. Juga sudah selesai mandi dan merapikan penampilannya setelah capek seharian bekerja. Layla sekarang tengah sibuk menumis sayur. Di pikirannya terbayang kejadian tadi siang saat Jenny memegang tangan Dinan.
Layla bertanya-tanya, siapa Jenny sebenarnya? Kenapa Jenny mengajak Dinan menikah? Apa Jenny itu mantannya Dinan? Semua pertanyaan itu berputar dalam pikiran Layla. Namun sayang, tidak ada satupun jawaban yang bisa ia temukan. Bahkan untuk bertanya pada Dinan pun ia juga merasa takut.
Layla tiba-tiba memukul wajan tempatnya menumis dengan spatula yang ia pegang. Kenapa ia merasa tidak suka jika ada perempuan lain yang memegang Dinan? Bahkan ia sendiri yang hidup seatap dengan Dinan, tidak pernah bisa memegang tangan laki-laki itu-kecuali Dinan yang memegang tangannya duluan.
“Jangan mentang-mentang dia cantik, anak orang kaya dari keluarga Barata, lalu seenaknya dia menggodai suami orang seperti tadi. Apa dia pikir dengan statusnya sebagai anak orang kaya, dia bisa merebut suami orang lain?” maki Layla seraya memukul wajan dengan spatula lagi.
Layla tiba-tiba saja meringis kesal. Dia memang kalah segalanya dari Jenny, bahkan jika dibandingkan pun, mereka jelas di level yang berbeda. “Apa Pak Dinan menyukai perempuan itu? bukannya tadi dia mengusirnya?” tanya Layla lagi.
Beberapa saat kemudian Layla mengambil mangkok kaca dan menuangkan sayur tumisnya. Sekarang ia bisa sedikit tersenyum. “Yang jelas aku jauh lebih jago memasak dari dia. Buktinya Pak Dinan selalu memakan masakanku dengan lahap,” ucap Layla sedikit lebih optimis dari sebelumnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya perempuan itu dikagetkan dengan suara notifikasi dari ponselnya. Lekas Layla mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tertera nama ‘Mas Bayu' dengan emoticon love di layar ponselnya itu. Bayu baru saja mengiriminya pesan.