Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 15


__ADS_3

“Setiap hari aku mengantarmu kemana pun, tetap saja aku tidak tahu kalau bosku sendiri akan menikah,” ucap Richard yang tengah menemani Dinan di kamar laki-laki itu.


“Jangan banyak bicara, kamu urus saja masalah pekerjaan. Juga pastikan jangan ada satu pun orang kantor yang tahu masalah ini.”


“Dan kamu menikah sama perempuan yang kemarin, kan? ini gila, masa kamu menikah sama staff biasa seperti dia,” lanjut Richard lagi.


“Jangan banyak tanya!” ucap Dinan setengah membentak, “gimana masalah lahan itu? sudah kamu selidiki?”


Richard mengembuskan nafas kesal. Ia benar-benar dianggap sebagai bawahan saja oleh Dinan. Tidak lebih, semuanya bermula sejak Dinan dan Jenny berpisah, lalu laki-laki itu pergi ke Amerika. Sepulang dari Amerika, sikap Dinan jauh berubah, menganggapnya hanya sebagai bawahan saja, bukan teman seperti dulu.


“Baiklah Pak Dinan,” ucap Richard yang mulai mengubah nada bicaranya, “lahan itu jadi perebutan antara yayasan dan keluarga Barata, keluarga itu tengah memperjuangkan lahan itu sekarang, sedangkan yayasan sudah lepas tangan karena lahan itu sudah dilelang oleh Bank.”


“Lalu?” tanya Dinan mendesak.


“Sepertinya masalah ini amat panjang, karena ada pihak lain yang ikut disana, orang dari kementerian yang kemarin kita bicarakan. Juga ada yang aneh, dulu lahan itu digunakan untuk penginapan, namun sekitar 25 tahun lalu, tiba-tiba saja diubah menjadi panti asuhan.”


Dinan mendengarkan itu semua dengan seksama.


“Saat baru didirikan, mereka mengambil anak-anak jalanan yang tak jelas keluarganya, juga beberapa anak dari panti asuhan lain yang sudah over capacity.”


“Apa ada yang aneh soal itu? Aku tidak menemukan masalahnya,” sela Dinan.

__ADS_1


“Anehnya itu, Pak …” Richard menjeda kalimatnya, “sebelum panti asuhan itu didirikan, penginapan itu termasuk ramai karena berada di pusat kota, jadi sangat aneh jika diubah menjadi panti yang tidak memberikan keuntungan apapun bagi mereka.”


Dinan terdiam, seakan menemukan titik masalah akan lahan yang baru ia menangkan dari pelelangan Bank beberapa waktu lalu.


“Dinan, ayo turun, acaranya segera dimulai,” ucap Bu Eva saat membuka pintu kamar Dinan setelah mengetuknya tiga kali. Pembicaraan mereka terhenti. Dinan harus turun menghadapi salah satu acara penting dalam hidupnya.


***


Semuanya berlangsung lancar, pernikahan Layla dan Dinan berjalan sesuai rencana. Layla dengan tegar menghadapi hari tersebut, tidak ada semburat sedih akan pernikahan yang tidak ia inginkan itu. Juga Dinan yang menghadapinya tanpa beban. Di kepala laki-laki itu berputar berbagai masalah dan tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan. Tak ada masalah dengan pernikahan itu karena sesuai dengan keinginannya.


Semua tamu yang datang juga menikmati acara dengan khidmat. Tidak terlalu ramai, sehingga mereka benar-benar menikmati acara. Pun anak-anak panti yang riang, bermain bersama Risa yang ceria mendapatkan teman baru. Bu Irma sedari awal acara juga menemani Layla dengan setia, ia ingin memastikan bahwa Layla tidak salah mengambil keputusan, hingga  menyaksikan Layla resmi menjadi istri Dinan, istri dari seorang direktur perusahaan besar.


Tuan Marc dan Bu Eva juga menikmati acara dengan orang-orang kepercayaan mereka. Sesekali juga bermain dengan anak-anak panti yang tampak ceria sepanjang acara.


“Saya juga senang bapak dan Tuan Marc mengundang saya dan anak-anak ke rumah ini,” jawab Bu Irma dengan sopan.


“Ini semua rencana Ayah saya, Bu,” jawab Dinan. Mereka tengah duduk di salah satu meja di taman belakang, bersama dengan tamu lain yang menikmati suasana.


“Saya titip Layla, Pak. Dia anak baik dan pekerja keras sejak kecil. Saya ingin melihat dia bahagia dalam hidupnya,” pinta Bu Irma seraya mengeratkan tangannya pada Layla yang duduk di tengah-tengah mereka berdua.


Dinan tersenyum, ia merangkul  bahu Layla tanpa beban dan menarik gadis itu ke dadanya. “Ibu tenang saja, saya akan menjaga istri saya dengan baik.”

__ADS_1


Layla menelan ludah, ahh, ia tersadar bahwa sekarang ia sudah resmi menikah dengan Dinan. Ia pasrah, diam dengan kepala menempel di dada suaminya. Menunjukkan kepada Bu Irma bahwa tidak ada masalah sama sekali dengan pernikahan itu. Menutupi rasa sedih dan kalut akan cintanya kepada Bayu. Tidak menyangka pada akhirnya dia yang mengkhianati Bayu dan menikah dengan laki-laki lain di saat hubungan mereka tengah break.


“Ngomong-ngomong, sejarah panti ibu berdiri itu gimana?” tanya Dinan santai.


Bu Irma menelan ludah, gugup dengan pertanyaan yang tidak ia duga itu.


“Ma-maksud Pak Dinan apa?” tanya  Bu Irma berusaha bersikap tenang.


“Panti itu berdiri sekitar 25 tahun, dan ibu juga sudah bekerja untuk yayasan lebih dari itu, berarti ibu tahu betul tentang pendirian panti itu,” tutur Dinan, Layla menarik kepalanya dari dada Dinan. Ia melihat wajah laki-laki itu dengan penuh selidik, kenapa Dinan bertanya tentang pantinya seperti itu?


“Oh, itu … pemilik yayasan ingin membentuk kegiatan amal pada anak yatim piatu, Pak,” jawab Bu Irma dengan tenang.


“Dengan mengorbankan bisnis penginapan mereka yang untung besar?” tanya Dinan mendesak, membuat Bu Irma gelagapan untuk mencari jawaban, “bukannya seharusnya mereka mencari lahan lain yang lebih murah, mengorbankan bisnis penginapan pada masa itu benar-benar merugikan, bukan?”


Bu Irma kelimpungan, ia berusaha bersikap tenang. Tapi tak tahu harus menjawab apa. “I—itu, saya juga tidak mengerti, Pak. Semuanya keputusan pemilik yayasan.”


“Bapak kenapa bertanya soal itu?” Layla memotong pembicaraan mereka, ia tidak suka melihat Dinan mendesak Bu Irma yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


“Aku hanya mencari topik pembicaraan,” jawab Dinan dengan santai, ia kembali menarik Layla untuk berada dalam dekapannya. Memperlihatkan kepada tamu yang datang bahwa mereka menikah dengan perasaan cinta satu dengan yang lain.


Sementara bagi Layla sendiri, hati kecilnya seakan mengutuk keadaan. Apalagi harus mengingat lima poin kesepakatan yang sangat merugikannya sebagai seorang istri. Layla hanya bisa melakukan satu hal, satu hal yang ia pikirkan untuk menyelamatkan dirinya dan anaknya. Dia tidak akan punya anak dengan Dinan. Tuan Marc jelas menginginkan cucu, itu sudah disampaikan laki-laki itu sejak pertama kali memintanya menikah dengan Dinan. Mungkin dengan pilihan itu ia tidak harus kehilangan darah dagingnya dan bisa terbebas dari Dinan.

__ADS_1


Namun di sisi lain, hatinya juga ragu. Apa dia bisa mengelabui Dinan untuk tidak memiliki anak? Apa dia harus mempersiapkan banyak-banyak pil KB? atau dia harus memasang spiral agar tidak hamil? Layla sudah memikirkan hal itu sejak kemarin malam. Tapi ia belum mendapatkan pilihan yang baik. Namun yang jelas ia tak ingin memiliki anak dan dipisahkan dari anaknya kelak. Layla memikirkan hal itu seraya menatap Risa yang tengah bermain dengan adik-adiknya dari panti asuhan. Menutupi sedih dan kengerian yang ia rasakan saat kembali menyadari bahwa ia dan Dinan sudah resmi menikah.


__ADS_2