Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 24


__ADS_3

Sudah hampir tiga menit Layla berdiri di depan Pak Denis yang duduk di kursi kerjanya. Laki-laki berumur 47 tahun itu tampak gusar. Sesekali ia mengurut kening karena bimbang dengan keadaan. Layla pun hanya bisa diam, sekalipun ia tahu tentang apa yang akan dibahas Pak Denis.


“Dokumen itu masih belum kembali, La?” tanya Pak Denis yang akhir membuka suara.


“Maaf, Pak, Tuan Marc tidak ingin mengembalikannya kepada Pak Dinan, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” aku Layla.


“Seharusnya kamu tidak membuat masalah seperti ini, La. Aku tidak mau kehilangan staff seperti kamu yang selalu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat.” Pak Denis mengembuskan nafas panjang, melihat kepada Layla yang menunduk salah di depannya, “Pak Dinan tadi mengadakan rapat mendadak, dia menginginkan dalam waktu kurang dari seminggu lahan itu sudah harus diratakan. Dia juga sudah mengarahkan pemindahan anak-anak panti ke kawasan timur yang lahannya akan segera rampung diakuisisi oleh perusahaan.”


Layla menelan ludah saat mendengar rapat dadakan. Entah mengapa ia meyakini rapat itu diadakan karena ia gagal mengembalikan dokumen itu ke meja Dinan kemarin.


“Semuanya dilakukan dengan cepat, saya tidak habis pikir kenapa Pak Dinan seperti ini, padahal dia biasanya penuh perhitungan, tapi sekarang seperti tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.”


“Maaf, Pak. Apa tadi Pak Dinan menyebut nama saya saat rapat?” tanya Layla memotong penjelasan Pak Denis.


Laki-laki itu merubah posisi tangannya. Ia bersandar di sandaran kursi dengan mata menatap lekat kepada Layla. “Kamu beruntung karena dia tidak melimpahkan kesalahan pada kelalaianmu itu. Tapi jika hal ini berdampak buruk pada proyek strategis perusahaan, kamu siap-siap saja angkat kaki dari sini.”


Layla ternganga mendengarnya, itulah mimpi buruk yang sama sekali tidak ia inginkan terjadi.


“Maaf, Pak. Kemarin Tuan Marc meminta agar proyek di lahan itu ditunda untuk beberapa waktu. Kepemilikan lahan itu sedikit bermasalah dan bisa berdampak panjang bagi perusahaan kita.”


“Dan itu semua sudah diantisipasi oleh Pak Dinan, tapi apa yang kamu lakukan? kamu malah membuat semuanya semakin rumit. Tuan Marc itu ketua komisaris perusahaan, jika masalah ini dibawa ke rapat komisaris, semua yang terlibat dalam pengambil alihan lahan itu bisa dicap buruk oleh mereka. Itu berarti semua dewan direksi, termasuk aku juga dan pimpinan divisi lain kena dampaknya. Menurutmu bagaimana penilaian kinerja kami di mata komisaris jika ternyata kami mengambil lahan seperti itu? Jika masalah ini dibahas nanti saat rapat pemegang saham, betapa jeleknya nama Pak Dinan, dia akan dinilai sebagai direktur bodoh yang mengambil lahan bermasalah seperti itu.”


Kali ini Layla menelan ludah. Kenapa masalahnya malah membesar seperti itu? Apalagi ulahnya bisa berdampak amat buruk bagi Dinan seperti ucapan Pak Denis barusan.

__ADS_1


“Pak Dinan ingin mengembangkan bisnis baru dalam perusahaan ini. Dalam prosesnya jika terjadi sebuah kesalahan adalah hal yang biasa, termasuk jika keputusan mengakuisisi lahan panti itu yang ternyata  bermasalah. La, ini tidak sekecil yang kamu kira, tapi ini juga tidak serumit yang kamu pikirkan. Yang terpenting adalah cara kita menyikapinya, sikap yang sudah dipilih Pak Dinan sejak awal sebelum kamu mengacaukan semuanya,” terang Pak Denis.


Gadis itu tertunduk semakin lemah.


“Sekarang kembali bekerja, kita hanya bisa berharap agar Pak Dinan bisa mengatasi masalah ini walaupun dokumen itu tidak ada.”


Layla meminta izin untuk pergi keluar, meninggalkan Pak Denis yang kembali fokus dengan segala pekerjaannya di meja. Sementara di sisi lain kantor tersebut, Dinan dan beberapa dewan direksi tengah menyusun rencana untuk menghadapi masalah itu. Mereka sedikit kerepotan karena dokumen yang diberikan Layla kepada Tuan Marc sangat penting untuk mereka. Dokumen itu berisi segala surat menyurat tentang lahan dan konsep pembangunan disana. Yang membuat mereka lebih kerepotan sebenarnya adalah masalah itu sudah sampai ke tangan komisaris.


Layla kembali ke meja kerjanya. Ia hanya bisa diam dan fokus dengan pekerjaan. Meskipun Emma di sebelahnya berkali-kali bertanya ada masalah apa Layla di panggil Pak Denis. Saat istirahat siang pun Layla lebih memilih menyendiri. Semua yang terjadi sekarang benar-benar membebani gadis itu. Jikalau ia tahu dari awal akan masalah pelik dari lahan panti asuhannya itu, ia tidak akan memberikan dokumen itu pada Tuan Marc.


Saat Layla masuk ke dalam lift untuk istirahat siang, ia bertemu dengan Leo yang baru saja turun dari lantai lima.


“Kamu mendengar kabar itu, La?” tanya Leo membuka pembicaraan dengan Layla.


“Kabar apa, Mas?” tanya Layla dengan datar.


Seketika Layla menoleh kepada Leo. Jantungnya berdebar cepat, karena merasa yang dimaksud Leo adalah dirinya.


“Maksud, Mas?” tanya Layla dengan nafas memburu.


“Tadi ada rapat dadakan untuk membahas soal itu. Sayang Pak Dinan menyuruh untuk tidak menyudutkan karyawan itu.” Leo melihat Layla dengan lekat, “kamu merasa nggak karyawan itu seperti ingin mengadukan kesalahan Pak Dinan kepada komisaris karena membeli lahan bermasalah? Mungkin ada pihak-pihak di perusahaan ini yang tidak suka Pak Dinan menjadi direktur.”


Layla menelan ludah, ia hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ucapan Leo. Tapi jujur saja, ia tidak ingin mengadukan kesalahan Dinan kepada komisaris perusahaan seperti yang dituduhkan Leo barusan.

__ADS_1


“Mungkin karyawan itu sudah dipecat, La, jadi Pak Dinan tidak mau mempersoalkan apa yang dilakukan karyawan itu lagi,” ucap Leo sesaat sebelum pintu lift di lantai satu terbuka.


Semua berlalu dengan begitu buruk bagi Layla hari itu. Ia benar-benar tidak bersemangat untuk bekerja. Beban rasa bersalah sekarang membebani hati dan pikirannya. Pun itu terbawa sampai ia pulang ke apartemen. Saat ia membersihkan apartemen dan menyiapkan makan malam, semuanya terus terbayang dalam pikirannya. Apalagi saat ia melihat jam yang sudah lewat dari pukul enam dan Dinan masih belum pulang, membuat ia resah bahwa laki-laki itu sekarang pasti dibuat kelabakan dengan persoalan yang terjadi.


Saat jam di ponsel Layla hampir menunjukkan pukul tujuh malam dan semua makanan sudah terhidang di meja makan. Dinan masih juga belum datang. Layla mengusap wajahnya dengan resah. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang tengah. Di saat bersamaan pintu depan apartemen itu terbuka. Dinan berjalan cepat masuk ke dalam dan lekas naik menuju lantai dua. Laki-laki itu mengabaikan Layla yang menatapnya penuh kekhawatiran di ruang tengah.


Layla memilih untuk kembali ke meja makan dan menunggu Dinan disana.  Gadis itu kembali dihadapkan dengan perasaan resah. Berkali-kali ia mengusap wajah, berkali-kali juga ia melihat jam di ponsel. Hingga akhirnya Dinan datang juga. Laki-laki itu mengenakan celana denim selutut dengan kaos polos putih.


“Kamu masak apa?” tanya Dinan seraya menarik kursi di tempat ia biasa duduk.


“Saya hanya memasak apa yang ada di kulkas, Pak,” jawab Layla.


Bahkan di detik itu ia berharap Dinan memarahinya habis-habisan agar ia tidak merasa bersalah lagi. Namun sayangnya laki-laki itu bersikap seolah tidak ada masalah. Seakan tidak ada beban sedikit pun di pundaknya.


“Maaf, Pak. Kenapa Bapak pulangnya malam?” tanya Layla dengan hati-hati.


“Banyak kerjaan di kantor,” jawab Dinan dengan santai.


“Apa itu karena kesalahan saya kemarin?”


“Kamu sudah tahu, kan?” Dinan balas bertanya.


“Saya salah, Pak, saya siap dipecat atas kesalahan saya, itu adalah kesalahan fatal yang merugikan semua petinggi perusahaan,” ucap Layla dengan pasrah.

__ADS_1


“Kamu masih harus di kantor, agar aku mudah mencarimu untuk membunuhmu nanti jika semua rencanaku gagal,” ucap Dinan tanpa ada beban sama sekali.


Berbeda dengan Layla yang hanya bisa tertunduk lemah.


__ADS_2