
Layla mendorong tubuh Bayu sekuat tenaganya, “Jangan berpikiran yang nggak-nggak, Mas!”
Bayu terdorong satu langkah ke belakang, ia tersenyum tipis melihat penolakan Layla. “Kenapa, La? Kita saling mecintai, apa salahnya kita memadum kasih kita? apa kamu tidak percaya sama kalau aku akan menikahimu?”
“Cukup, Mas!” Mata Layla berapi-api melihat kekasihnya, “jangan buat aku membencimu atau membuat rasa cintaku untukmu luntur karena sikapmu ini. Aku perempuan, tolong hargai kehormatan dan martabatku sebagai seorang perempuan, Mas.”
Bayu menggeram dengan jengkel karena penolakan Layla, hasratnya untuk menyentuh gadis itu sudah terasa sampai ke ubun-ubun. Tapi Layla masih saja kekeh menjaga nilai yang telah diajarkan kepadanya sejak di panti.
“Aku butuh bukti cintamu, La. Apa kamu tidak mau memberikan itu sebagai buktinya, dimana-mana perempuan itu memberikannya sebagai bukti cinta pada kekasihnya.” Bayu menatap mata Layla dengan penuh pengharapan, mencoba memelas kepada Layla agar mau memenuhi hasratnya.
“Aku sudah siap menikah denganmu, Mas. Lalu bukti apa lagi yang kamu butuhkan? Seharusnya aku yang bertanya apa bukti cintamu untukku? Aku minta dinikahi saja, kamu menolak, jadi jangan salahkan aku jika menerima laki-laki lain yang lebih siap darimu.” Layla membalas ucapan Bayu dengan geram.
“Udah lah, La. Kamu bikin kau badmood aja, capek tahu nggak ngehadapin perempuan kolot kayak kamu.” Bayu berjalan cepat meninggalkan Layla di dapur. Lekas ia pergi membawa rasa kecewa di hatinya. Hasratnya yang terasa memenuhi ubun-ubunnya tidak bisa ia lepaskan, membuat perasaannya terasa tersiksa dengan keadaannya saat itu.
Sementara Layla terpaku berdiri disana, apa dia memilih laki-laki yang salah? Apa Bayu adalah pilihan yang salah untuk masa depannya? Tapi hanya laki-laki itu yang terlihat tulus selama ini kepadanya. Sementara laki-laki lain hanya menjadikannya mainan, selingkuh sana sini, dan yang paling parah, memakan hasil keringatnya untuk bersenang-senang dengan perempuan lain.
Alasan mereka hampir sama dengan yang dikatakan Bayu, Layla terlalu kolot dengan nilai yang dipegangnya. Nilai yang sebagian besar sudah diabaikan anak muda dan memilih menuruti hasrat yang tak terbendung.
Layla menarik nafas panjang, dari kompornya yang menyala, terdengar suara air yang sudah mendidih. Lekas ia berdiri dan mematikan kompor, lalu kemudian membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Ia harus menenangkan dirinya sesaat akan apa yang baru saja terjadi.
Mungkin Bayu akan menghindarinya untuk beberapa hari. Mungkin juga mereka akan perang dingin dulu sebelum kemudian hubungan mereka kembali membaik. Terkadang Layla sudah cukup lelah menghadapi siklus seperti itu yang selalu berputar. Marah, diam-diaman, perang dingin, kemudian minta maaf dan kemudian baikan. Setelah itu saat ada masalah lagi, siklus tersebut kembali berputar.
***
Hari Minggu yang cerah, Layla melanjutkan rencananya untuk mengunjungi panti asuhannya dulu. Siang itu, ia bermain bersama dengan para anak panti yang telah seperti adik-adiknya sendiri. Layla ikut menemani anak-anak perempuan yang asyik bermain di halaman belakang panti. Ada yang bermain karet gelang, rumah-rumahan hingga bermain boneka yang sudah lusuh karena sering diperebutkan.
Anak-anak panti yang berusia remaja lebih sering menolong petugas panti untuk bekerja dan mengawasi adik-adik mereka. Layla asyik bertepuk tangan memberi dukungan bagi adik-adik pantinya yang tengah bermain lompat tali dengan karet gelang. Ia duduk memeluk seorang anak perempuan yang belum genap umurnya 5 tahun.
Sesekali Layla bersuara mendukung adik-adiknya yang melompat diantara karet gelang yang berputar mengitari mereka. Sesekali juga ia memegang tangan anak yang ia peluk dan membimbingnya bertepuk tangan untuk memberi dukungan pada kakak-kakaknya. Menatap anak yatim piatu yang sudah harus tinggal di panti di usia sekecil itu, membuat Layla mengingat masa lalunya selama di panti. Seorang anak malang, yang tidak tahu siapa ayah dan ibunya, namun beruntung diasuh petugas panti yang memperlakukannya dengan baik.
__ADS_1
Terkadang Layla berpikir untuk mengabdi kepada panti tersebut, namun sayangnya, saat masanya di panti sudah habis dan ia harus pindah, panti tersebut tidak menerima pegawai lagi. Layla meminta bekerja tanpa digaji, namun yayasan pengelola panti menolaknya. Memaksa Layla meninggalkan tempat yang sangat ia sayangi itu dan bekerja melawan keras dunia seorang diri.
Suasana di panti dapat mengusir pikiran Layla dari masalahnya dengan Bayu kemarin. Hingga seorang anak panti mengusap bahu Layla, dan membuat Layla menoleh kepada anak itu. “Ada apa, dek?” Layla bertanya ramah kepada anak panti yang tersenyum kepadanya.
“Katanya kakak mau ketemu ibu, beliau sudah pulang, kebetulan beliau juga ingin bertemu dengan kakak,” tutur anak perempuan itu.
Layla mengangguk pelan, “Makasih ya dek!” Layla kemudian berdiri dan melepaskan anak yang tadi ia peluk. Ia kecup hangat pipi anak itu. “Kakak ke dalam sebentar ya, dek. Kamu main dulu sama yang lain,” tutur Layla penuh kelembutan.
Anak tersebut mengangguk pelan, ia kemudian berdiri dan berlari mengejar anak-anak yang bermain boneka. Layla tertawa tipis melihat tingkah lucu anak tersebut. Layla kemudian berjalan pelan menuju kantor panti. Saat ia akan menaiki teras panti, ponselnya berdering. Lekas Layla mengangkatnya tanpa melihat nama yang menelfonnya.
“Halo, selamat siang!” jawab Layla.
“Besok setelah kamu pulang kerja, aku ingin bertemu denganmu, La.” Mata Layla membulat kaget mendengar suara Bayu di ujung panggilan itu. “Aku mau bicara serius tentang hubungan kita,” lanjut Bayu.
“Ma—Mas Bayu,” tutur Layla dengan terbata.
“Iya, ini aku. Ya udah, aku hanya ingin mengabari itu, besok aku jemput ke kantormu.” Bayu mematikan panggilan itu.
Layla masuk ke dalam kantor panti, lekas ia menghampiri Ibu panti berkaca mata yang tersenyum melihat kehadirannya. “Siang, Bu ….” Layla memeluk Ibu pantinya dengan penuh kehangatan yang telah mengunung menjadi rindu.
“Siang, La. Kamu tambah cantik aja sekarang, Nak.” Puji ibu panti kepada Layla.
“Ibu bisa aja mujinya.” Layla tersenyum sengir memandang perempuan yang dulu paling telaten menjaganya. Sudah seperti ibunya sendiri, dan sekarang telah naik jabatan menjadi pemimpin di panti tersebut.
“Ibu apa kabar? Layla udah lama nggak ke sini rasanya. Melihat ibu, semakin muda aja sekarang.”
Tawa mereka lepas karena gurauan Layla. “Kamu ini ada-ada aja mujinya, La.” Ibu Panti—Bu Irma mengeluarkan selembar kertas. "Kamu tampak lelah, La. Ada masalah?" tanya Bu Irma memperhatikan wajah lelah Layla.
"Nggak, Bu, semalam mimpi buruk lagi. Jadi nggak bisa tidur."
__ADS_1
"Oh, api lagi? kamu dari kecil kok mimpinya tentang api terus, La, sampai besar pun mimpi terus tentang api," tutur Bu Irma.
"Nggak tahu, Bu. Entah kenapa dari dulu aku mimpi tentang api terus. Aku mimpi aku melihat api membakar sebuah bangunan hingga hangus."
"Kamu terlalu memikirkannya, makanya mimpi terus. Oh ya, La, sebenarnya ibu sudah lama ingin bertemu denganmu, La. Ada hal penting yang harus ibu bicarakan denganmu.”
Layla memasang telinganya dengan baik, Bu Irma terdengar serius berbicara kepadanya. “Apa Bu? Apa ada masalah yang bisa Layla bantu?”
Bu Irma melepas nafas panjangnya sesaat, ia memandangi wajah Layla yang semakin putih dan menarik. “Ibu tahu kamu kerja di Marc property, La. Ini berkaitan dengan kantormu.”
Alis Layla terangkat sebelah, keningnya berkerut, ia menatap Bu Irma penuh kebingungan. “Ada masalah apa dengan kantorku, Bu?”
Bu Irma memperbaiki posisi kaca matanya sejenak. “Pemilik yayasan kita punya hutang ke Bank, La. Salah satu aset yang digadaikannya adalah panti ini. Dan sekarang pemilik yayasan tidak punya uang untuk membayar hutang tersebut.”
“Maksud ibu panti ini akan menjadi milik bank?” Layla bertanya dengan deru nafas tak beraturan. Kabar itu memukul hatinya. Panti tersebut adalah tempat paling bersejarah dalam hidupnya.
“Bank sudah melelang sertifikat panti ini, La. Dan perusahaan tempatmu bekerja memenangkannya. Mereka mau membangun apartemen mewah di tanah panti ini.” Bu Irma lanjut menjelaskan.
Layla kesulitan menelan salivanya, apa sekarang dia menjadi bagian dari orang-orang yang akan menghancurkan panti tersebut?
“Disini ada 67 anak yatim piatu, La. Ibu tidak tahu harus memindahkannya kemana, ibu sudah coba menghubungi beberapa panti lain. Tapi mereka menolak menerima anak-anak sebanyak itu, anak-anak juga tidak ingin dipisah-pisah jika memang harus pergi dari sini.”
Layla menarik nafas panjang untuk melegakan perasaannya yang terasa sesak. Ia mengangkat kepalanya dengan tegar untuk membalas tatapan Bu Irma kepadanya.
“Beberapa hari lalu, Tuan Dinan datang ke sini, dia sangat menyukai lahan ini sebagai salah satu bisnis mereka selanjutnya. Beliau meminta kami mengosongkan panti ini dalam waktu 2 minggu, La. Ibu benar-benar kebingungan dengan keadaan sekarang.”
“La—lalu Layla bisa bantu apa, Bu?” tanya Layla yang berharap bisa membantu pantinya itu.
“Apa kamu bisa membujuk Tuan Dinan untuk membatalkan rencananya itu, La. Kalau bisa, ibu berharap beliau mau memberikan sertifikat itu untuk kita dengan cuma-cuma. Hitung-hitung sedekah dari beliau.” lanjut Bu Irma.
__ADS_1
Layla terpaku, mendengar nama Dinan saja sudah membuat romanya berdiri. Dia adalah calon pewaris Marc property, terkenal tegas di kantor. Sikapnya dingin dan tanpa ampun dengan sebuah kesalahan. jika ia menemui laki-laki itu, bisa habis karirnya nanti. Tapi ia bisa apa? Ia tidak punya uang untuk membeli tanah panti seluas itu. Membujuk Dinan? Itu jelas bukan pilihan, detik itu ia bicara dengan Dinan, detik itu juga ia dipecat.
“Gimana, La? Apa kamu bisa bantu ibu?” tanya Bu Irma penuh harap kepada Layla.