Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 25


__ADS_3

“Kenapa menunduk gitu? ambil piringmu, temani aku makan,” ucap Dinan melihat Layla yang tertunduk di depannya.


“Maaf, Pak, jika ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki semuanya, katakan saja, pasti saya lakukan,” ucap Layla dengan sungguh-sungguh.


“Kamu sudah tahu, kan? dan kamu gagal.”


“Besok saya akan temui Tuan Marc, dan memastikan dokumen itu kembali ke tangan Bapak,” jawab Layla dengan yakin dengan kepala masih tertunduk salah.


“Bagus, seharusnya kamu lakukan itu sebelum ayahku tahu kalau lahan itu bermasalah, tapi walaupun sudah terlambat, itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Sekarang ambil piringmu,” ucap Dinan lagi.


Setelah selesai makan, Layla membersihkan meja makan dan mencuci piring. Kemudian ia duduk manis di dalam kamar untuk menunggu Dinan datang dari ruang kerjanya. Layla menghabiskan waktu dengan bermain ponsel. Ia tidak boleh lagi seperti dua malam sebelumnya. Tidur lebih dulu dan bangun paling lambat dari Dinan. Itu sungguh buruk sekali bagi dirinya.


Ketika tengah sibuk memainkan ponsel, tiba-tiba ada pesan masuk yang membuat jantungnya berdebar hebat.


‘Hai, Layla, gimana keadaanmu selama kita break?’ pesan itu tak lain dikirim oleh Bayu.


Layla terhenyak untuk beberapa saat, beberapa saat kemudian ia dihantui kebingungan, dan beberapa saat terakhir ia gugup untuk membalas pesan tersebut.


‘Kenapa? masih marah? kenapa hanya dibaca?’ tanya Bayu lagi.


‘Aku baik-baik saja, Mas. Mas sendiri gimana?’ Layla balik bertanya seadanya.


‘Besok siang makan bareng yuk, benar-benar ada yang hilang rasanya dari hidupku saat kita break La, kita harus membicarakan semuanya,’

__ADS_1


Layla menelan ludah. Alih-alih ia akan senang, sekarang ia malah dihantui oleh ketakutan berikutnya. Apa dia harus menjaga jarak dulu dengan Bayu sampai ia bisa pergi dari Dinan? Layla bimbang juga ragu.


***


Sudah hampir jam sepuluh malam, Layla sudah amat mengantuk, namun Dinan masih belum masuk ke dalam kamar. Gadis itu akhirnya memilih berdiri, sedikit pemanasan ringan untuk mengusir ngantuk. Ah, sialnya tubuh Layla terasa amat lelah. Dan ingin segera menjemput tidur.


Layla memutuskan keluar kamar mencari Dinan dan menyuruh laki-laki itu segera tidur. Baru saja Layla membuka pintu kamar, matanya langsung dibuat takjub dengan pemandangan di depannya. Dinding kaca yang dua hari ini ia disana selalu tertutup tirai sekarang terbuka lebar. Menampakan keindahan langit malam dengan ribuan bintang kerlap kerlip di langit. Juga bulan sabit yang menggantung indah di sana. Sungguh benar-benar membuat takjub, kenapa dia baru tahu bahwa ada pemandangan seindah itu di depan kamarnya sendiri?


Layla mengerjapkan mata, seakan tidak percaya dengan keindahan di depan mata. Ia kemudian mendekati Dinan yang tengah duduk di kursi santai menghadap ke langit luas.


“Saya kira Bapak masih sibuk bekerja,” ucap Layla dengan berdiri tepat di samping Dinan duduk dengan santai.


“Baru selesai,” jawab Dinan dengan datar, “seperti kamu lihat, setelah pulang dari kantor aku masih harus kerja, memastikan perusahaan berjalan sesuai rencana dan setiap target tercapai, bertemu orang-orang penting, berlari melawan waktu agar tidak ada yang gagal. Tapi orang-orang yang kupecat itu bekerja seenak mereka. Gaji mereka dua kali lipat dari standar, tapi hasil kerja mereka tidak becus sama sekali. Seenaknya beralasan sudah bekerja dengan maksimal, sudah bekerja semampu mereka, dan menyalahkan orang lain atau bawahan mereka. Padahal memang kerja mereka yang sampah.”


Dinan diam sejenak, ia melihat kepada Layla yang sekarang tengah menatapnya. Gadis itu seakan kaget mengapa Dinan mengatakan hal itu.


Layla diam, tak bisa menjawab. Dibandingkan beban kerjanya, jelas Dinan memikul tanggung jawab yang besar sebagai direktur. Namun jika bicara hasil kerja yang dinilai sampah oleh Dinan, Layla tak bisa berkomentar.


“Saya hanya bisa meyakini kalau Bapak melakukan yang terbaik untuk perusahaan, termasuk saat bapak memilih memecat karyawan,” jawab Layla yang lebih memilih membenarkan sikap Dinan.


“Dan kamu termasuk karyawan seperti itu, kan?” tanya Dinan yang seketika membuat Layla menelan ludah.


“Maaf, Pak, saya melakukan kesalahan fatal dan membuat bapak dan direksi lain berada pada posisi sulit.”

__ADS_1


“Nah, itulah jenis jawaban orang-orang yang kupecat itu. Mulai sekarang berhentilah meminta maaf atau mencari pembelaan atas kesalahanmu, tapi berusaha menemukan solusi atas kesalahanmu. Itu jauh lebih terhormat daripada meminta maaf ribuan kali. Dalam dunia profesionalitas bekerja, kata maaf sama sekali tidak berlaku.” Dinan berdiri dari kursi santainya. “Kamu sudah mengantuk, kan? ayo kita tidur.”


Dinan melangkah pergi menuju kamar mereka, meninggalkan Layla yang hanya bisa berdiri terpaku disana. Kalimat Dinan barusan seakan menusuk jauh ke dalam hatinya. Dia seperti perempuan lemah yang tidak berusaha mencari solusi dari masalah yang ia timbulkan. Tetapi pasrah akan keadaan dan meminta belas kasih Dinan untuk memaafkan kesalahannya.


Setitik air mata jatuh dari mata kanan Layla. Ia melihat ke arah langit yang indah di depannya. Berusaha memberi keyakinan pada dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ia bisa memperbaiki semua kesalahan.


Layla terdiam hampir setengah jam disana, menangisi kebodohan dirinya dalam bersikap. Sebelum akhirnya ia berbalik badan, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Membawa segunung rasa bersalah di pundaknya.


Saat memasuki kamar, Layla melihat Dinan sudah berbaring dengan mata terpejam. Gadis itu memutuskan untuk ikut naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap punggung Dinan.  Dua malam belakangan ia tidak pernah tahu apa dia benar-benar tidur seranjang dengan Dinan, dan malam ini ia akhirnya melihat Dinan benar-benar tidur di sebelahnya. Bukan sosok Bayu yang selama ini ia dambakan menemaninya setiap malam.


“Maafkan kesalahan saya, Pak, saya janji, saya akan memperbaiki semuanya untuk Bapak. Karena ulah saya, bapak ada di posisi sulit, juga karena ulah saya, bapak juga terpaksa menikahi saya yang hanya karyawan biasa. Maafkan saya, saya janji semuanya akan kembali seperti sedia kala dan Bapak dapat hidup bebas tanpa diri saya. Saya akan pergi dari Bapak dan perusahaan saat semuanya sudah kembali  seperti semula,” lirih Layla melihat punggung Dinan.


Dinan membuka matanya mendengar hal itu. Untuk kemudian kembali memejamkan mata. Ah, sialnya Layla yang mengucapkan kalimat tadi. Ia memang cukup lama berdiri di luar, sehingga saat masuk ia mengira bahwa Dinan sudah terlelap tidur


Malam berlalu, saat Layla membuka mata, ia melihat Dinan berdiri di depan ranjang. Laki-laki itu menguap dan mengusap matanya yang terasa perih. Tampak samar oleh Layla yang masih setengah sadar.


“Ini perempuan kenapa nggak bisa bangun pagi, sih?” gerutu Dinan.


Mendengar suara itu, kesadaran Layla langsung kembali seratus persen. Perempuan itu lekas berdiri dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi.


“Segera saya siapkan air hangatnya, Pak,” ucap Layla berlari melewati Dinan. Membuat laki-laki itu mendengus kesal.


Layla mengisi bathtub dengan air hangat. Ia berusaha melawan dingin dan kantuk yang menyerang. Bahkan ia berkali-kali hampir ketiduran disana. Layla tidak ingin melakukan kesalahan lagi seperti hari sebelumnya. Selesai mengisi air di bathtub, Layla bisa bernafas lega. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih awut-awutan. Tak peduli dengan penampilan, ia menghampiri Dinan yang duduk di ranjang.

__ADS_1


“Sudah siap, Pak,” ucap Layla dengan lega.


“Kamu seharusnya mandi sebelum aku bangun, agar kamu bisa bersiap-siap dan menyiapkan sarapan selama aku mandi,” ucap Dinan dengan datar, ia kemudian geleng-geleng melihat rambut Layla. Perempuan itu benar-benar kacau.


__ADS_2