
‘La, kamu sudah pulang kerja, kan? aku lagi di parkiran kantormu, cepat turun ya,’ Bayu
Mata Layla membulat saat melihat pesan itu muncul di ponselnya.
‘Kamu ngapain ke sini, Mas?’ tanya Layla
‘Kita jalan-jalan sebentar, yuk ke pantai lagi.’
Layla gelagapan. Ia bergegas merapikan semua barang di mejanya. Membuat Emma di sampingnya memperhatikan dengan wajah bingung.
“Kamu kenapa, La? Kenapa buru-buru gitu?” tanya Emma.
“Ada keperluan mendadak, Ma. Aku ke bawah duluan ya,” Layla bergegas pergi menuju lift. Bayu tidak akan pergi kecuali ia temui lebih dulu. Layla tidak ingin Bayu bertemu dengan Richard apalagi Dinan. Ada ketakutan di dalam hatinya jika apa yang ia lakukan itu diketahui oleh Dinan.
Layla langsung berlari menuju parkiran setelah keluar dari lift di lantai satu. Gadis itu berkeringat deras, jantungnya berdetak cepat. Sesampai di parkiran, ia melihat semua mobil yang ada di sana. Mencari dimana mobil Bayu berada. Hingga Layla melihat laki-laki itu melambai kepadanya.
“Astaga, Mas Bayu,” lirih Layla. Gadis itu berjalan cepat mendekati Bayu. Ia langsung masuk ke dalam mobil Bayu karena takut ada yang melihatnya dengan laki-laki itu.
“Jadi kita mau kemana sore ini?” tanya Bayu dengan semangat seraya menghidupkan mobil.
"Kemana aja, lagian Mas kenapa datang mendadak gini sih?” tanya Layla dengan kesal.
“Kamu diajak selalu menolak, jadinya aku datang seperti ini deh,”
“Aku lagi sibuk, Mas. Kerjaan di kantor lagi banyak,” kilah Layla.
“Aku juga sudah bilang, kerja itu sewajarnya saja, sebatas tanggung jawabmu. Kalau jam pulang, ya pulang,” tukas Bayu.
Layla mengembuskan nafas panjang, ia melihat Bayu dengan hati resah.
“Mas, jika aku berbuat kesalahan fatal, apa kamu akan memaafkanku dan tetap menerimaku?” tanya Layla sedikit bimbang.
__ADS_1
“Kesalahan fatal? kesalahan seperti apa?”
“Selingkuh misalnya,” ucap Layla dengan hati-hati.
“Setiap orang bisa melakukan kesalahan, termasuk aku, juga kamu, La. Jika kamu sadar akan kesalahanmu dan berjanji tidak akan mengulangnya, aku akan memaafkanmu. Cintaku ini tidak sebanding dengan apapun, La,” ucap Bayu yang membuat Layla menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Berada di posisi Layla memang sangat menyulitkan. Ia masih sangat mencintai laki-laki di sampingnya itu.
***
Dinan memperhatikan keadaan apartemennya yang sedikit kotor. Mungkin memang tidak terlihat dengan kasat mata, tapi Dinan bisa melihat dengan jelas keadaan apartemennya yang belum dibersihkan seperti apa. Laki-laki itu berjalan ke arah dapur, masih rapi dan tidak ada kesibukan apapun disana. Dinan melihat jam di tangannya. Sudah lewat dari jam enam, Layla masih belum juga kembali.
“Kemana dia?” tanya Dinan dengan kesal.
Sementara yang ditunggu tampak cemas. Layla masih terjebak macet di jalanan. Layla gusar, tadi ia meminta Bayu mengantarnya ke kontrakan, tapi sekarang hal itu tidak memungkinkan. Jika ia ke kontrakan, ia akan sampai ke apartemen kemalaman. Apalagi kemacetan yang cukup parah karena ada kecelakaan di ujung jalan.
“Mas, bisa antar aku ke tempat lain saja,” ucap Layla yang pasrah akan keadaan.
“Kemana?” tanya Bayu.
Mobil Bayu berjalan cepat memecah jalanan menuju gedung apartemen Dinan. Layla memang tidak ahli berbohong apalagi menyembunyikan sesuatu. Sekarang ia harus pasrah akan hal ini. Entah seperti apa jadinya nanti, ia hanya berharap agar Dinan tidak tahu apa-apa tentang dirinya dan Bayu. Mobil Bayu sampai di gedung apartemen Dinan lebih dari satu jam kemudian. Saat jam sudah hampir mendekati pukul delapan malam.
“Mas, aku tidak bisa cerita sekarang. Besok saja aku jelaskan.” Layla menarik knop mobil. Bayu menahan tangannya.
“Jelaskan saja sekarang, La.”
“Mas, tolong, besok aku jelaskan, sekarang aku benar-benar harus pergi,” ucap Layla memohon.
“Aku harus tahu sekarang, La. Kamu mau ke tempat siapa? kenapa tidak pulang ke kontrakanmu?” tanya Bayu mendesak.
“Mas, tolonglah, jangan mempersulit keadaanku, aku mohon,” ucap Layla memelas.
Bayu mengalah, ia melepaskan tangan Layla. Gadis itu lekas keluar dari mobil, ia berlari menuju lift. Meninggalkan Bayu yang melihat kepergiannya dengan penuh curiga. Layla pergi ke tempat siapa? kenapa tidak pulang ke kontrakannya? Laki-laki itu memukul stir dengan kesal. Kenapa Layla tidak mau menjelaskannya?
__ADS_1
Layla berkeringat dingin saat memencet password apartemen Dinan. Ia masuk dengan rasa takut yang menggelayut di hatinya. Gadis itu segera menuju dapur, keadaan masih sama seperti saat ia pulang. Ia memeriksa seluruh ruangan di apartemen itu. Dinan tidak ada sama sekali.
“Apa dia belum pulang?” tanya Layla. Keadaan apartemen itu masih sama seperti saat dia pergi. Dinan memang belum pulang, Layla bisa bernafas lega. “Sepertinya dia sibuk mengurus pemindahan anak-anak di panti,” ucap Layla menduga. Gadis itu segera menuju dapur, ia memasak makan malam untuk Dinan saat laki-laki itu pulang.
Layla hanya menyiapkan menu sederhana yang terbaik. Layla selalu memastikan masakannya itu enak agar Dinan bisa makan dengan lahap seperti biasa. Apalagi Dinan pulang amat malam, laki-laki itu pasti akan sangat lapar saat sampai di apartemen.
Waktu berlalu, dan hidangan sudah tersaji di meja makan. Layla kemudian naik ke kamar untuk membersihkan diri. Nasib baik masih berpihak padanya. Ia benar-benar bersyukur karena kebetulan malam itu Dinan juga pulang malam.
Saat ia turun untuk memeriksa apa Dinan sudah pulang, ia masih mendapati laki-laki itu belum berada di apartemen mereka. Layla kemudian duduk di ruang tengah, ia memeriksa ponsel seraya menunggu Dinan kembali.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bayu.
‘Besok harus kamu jelaskan, La. Aku tidak tenang memikirkanmu.' Bayu.
Layla mengembuskan nafas kasar membaca pesan dari Bayu. Apa dia harus mengakui semuanya kepada Bayu? Memikirkan hal itu benar-benar membuat Layla frustrasi. Pintu apartemen terbuka. Layla lekas menyembunyikan ponselnya dan menuju ke pintu depan. Dinan baru saja masuk dengan pakaian kerja yang masih sama seperti tadi pagi. Layla merasa dugaannya kalau Dinan terlambat pulang benar adanya.
“Kenapa Bapak terlambat pulang?” tanya Layla dengan memasang wajah seperti biasa.
“Seharusnya pertanyaan itu untukmu, bukan untukku,” tukas Dinan dengan kesal, laki-laki itu kemudian berjalan menuju lantai dua.
“Apa Bapak tidak makan malam dulu?” tanya Layla, ia masih bingung dengan ucapan Dinan barusan.
“Aku baru selesai makan di luar, kamu pulang terlalu malam,” jawab Dinan. Laki-laki itu berjalan menuju kursi santainya. Ia beristirahat disana menikmati suasana malam. Sementara Layla berdiri di belakang kursi itu. Memperhatikan Dinan dengan wajah resah.
Sekarang ia menyadari bahwa Dinan pulang seperti biasa. Karena dia tidak ada di apartemen, makanya laki-laki itu keluar untuk mencari makan.
“Maaf, Pak, saya tadi ada keperluan dengan teman-teman yang lain,” ucap Layla berbohong.
Dinan tidak menanggapi, laki-laki itu memejamkan mata, menikmati suara ribut dari luar dinding kaca itu. Sementara Layla memilih turun ke bawah dengan perasaan tidak menentu. Ini kali pertama Dinan tidak memakan apa yang ia masak. Sekalipun laki-laki itu tidak marah karena dia pulang terlambat. Atau juga marah karena dia tidak memasak tepat waktu, tapi mendengar Dinan makan di luar dan membuat masakannya tidak tersentuh di meja makan sungguh membuat hatinya terasa perih.
Kali ini Layla hanya bisa memandang masakan yang ia masak. Masakan yang ia harap bisa dimakan Dinan dengan lahap seperti biasa. Namun sekarang tidak akan disentuh Dinan. Bahkan Layla sendiri tidak selera untuk makan.
__ADS_1
Semua rasa bersalah muncul seketika. Dinan sudah amat baik kepadanya, tidak ada satupun hukuman yang ia terima dari setiap aturan yang ia langgar. Bahkan statusnya yang disepakati dari awal sebagai pembantu sama sekali tidak ia rasakan. Ia hanya melakukan pekerjaannya sebagai istri dan makan di meja yang sama dengan Dinan. Tetapi semua kebaikan Dinan selalu saja ia balas dengan kesalahan demi kesalahan yang terus saja ia lakukan.
“Aku harus gimana? kenapa aku harus ada di posisi ini?” Layla bertanya lirih.