
Layla memperhatikan Dinan yang begitu lahap menikmati masakannya. Walaupun bukan menu sekelas restoran bintang lima, laki-laki itu tetap menikmati masakannya tanpa bisa berhenti.
“Bagaimana rasa masakan saya, Pak?” Layla mencoba bertanya
“Biasa aja,” jawab Dinan dengan ketus.
Layla berdecis kesal. Biasa apanya? Dinan terlihat begitu sangat lahap. Bahkan laki-laki itu sudah dua kali menambah nasi ke dalam piringnya.
“Pak, boleh tanya sesuatu?” ucap Layla lagi yang ingin memastikan dugaannya tentang Jenny.
“Kamu sudah bertanyakan barusan?” tanya Dinan dengan datar.
Layla kembali mendesah kesal. Laki-laki di depannya benar-benar membuatnya geram.
“Bukan itu, Pak, tapi tentang tadi siang,” tutur Layla tanpa ragu lagi karena sudah terlanjur kesal.
Dinan diam tak menanggapi. Ia terus saja menikmati makan malamnya, Sementara Layla belum sedikit pun menyentuh nasi di piringnya.
“Apa perempuan tadi siang itu calon istri Bapak sebenarnya?”
“Aku tidak pernah punya keinginan menikah, bagaimana bisa dia menjadi calon istriku?” Dinan menoleh kepada Layla, ia menatap gadis itu dengan lekat.
Layla dapat merasa lega. “Lalu kenapa dia mengajak Bapak menikah?”
Dinan mengeluarkan nafas kasar, “Apa hanya itu yang kamu dengar di ruanganku tadi siang?” Dinan balik bertanya.
“Apa Bapak dan dia membicarakan hal yang lain?”
“Kamu ini benar-benar tak berguna, apa di pikiranmu itu hanya masalah pernikahan saja? cinta-cintaan saja? tidak bisakah hidupmu lebih dari sekedar itu?”
__ADS_1
Layla terdiam, ia memang tidak terlalu menyimak pembicaraan Dinan dan Jenny tadi siang. Gadis itu malah fokus dengan ajakan menikah Jenny kepada Dinan.
“Cinta itu lebih dari segala-galanya, Pak. Saya hidup di panti asuhan, hidup tanpa cinta yang tidak pernah saya dapatkan. Untuk itu saya menginginkan cinta yang utuh dari pasangan saya, untuk melalui sisa hidup saya dengan cerita yang indah,” Layla berargumen dengan lugas.
“Cinta itu hanya membuat orang gila. Karena cinta orang bisa melakukan apapun, termasuk melakukan hal salah. Apa yang kamu harapkan dari hal seperti itu?”
“Tapi dengan cinta kita bisa dihormati, dihargai, dan disayangi. Apa ada yang lebih indah dari hidup dengan semua itu, Pak?” Layla balas mendebat Dinan.
“Apa kamu merasa aku tidak menghargai dan menghormatimu?”
Layla terdiam untuk beberapa saat. Ia memperhatikan Dinan yang menanti jawabannya. Perempuan itu malah salah tingkah, dan mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya. Pikirannya terasa tidak terlalu tenang, entah mengapa ia membahas masalah itu di depan Dinan.
“Ngomong-ngomong, Bapak tadi ada perlu apa memanggil saya ke ruangan, Bapak?” Layla mengalihkan pembahasan mereka.
“Nah, aku baru ingat. Anak panti akan segera dipindahkan, lahan baru untuk mereka sudah siap. Paling lambat dua hari ke depan mereka akan menempati tempat baru itu.”
“Apa Bapak yakin untuk memindahkan mereka secepat ini? Saya rasa Bapak harus mengikuti saran dari Tuan Marc.” Layla mencoba memberi saran.
“Apa maksud Bapak?” tanya Layla dengan ragu.
“Aku sudah menuruti keinginanmu untuk anak-anak panti, jadi berterima kasihlah dengan membantuku menghadapi Ayah,” ucap Dinan dengan datar, ia berdiri dan pergi dari meja makan. Piringnya sudah kosong, laki-laki itu sudah selesai makan malam.
Layla termenung sendiri di sana. Bahkan ia tidak pernah berpikir untuk pergi dari Dinan. Dalam pikiran gadis itu, ia ingin berada di sisi Dinan setidaknya sampai masalah lahan itu selesai dan Dinan tidak mendapatkan masalah karenanya. Sekarang ia sungguh merasa tak nyaman, dan entah mengapa setitik air mata menetes dari sudut mata kirinya.
***
Setiap malam Layla selalu duduk di kursi santai, melihat langit malam yang menampilkan bintang-bintang. Walaupun bintang di malam itu tidak sebanyak malam biasanya, Layla tetap disana menunggu Dinan selesai bekerja. Gadis itu mengisi waktu dengan bermain ponsel untuk berbalas pesan dengan Bayu. Ah, perasaan Layla terasa hampa. Bahkan Bayu tidak bisa lagi membuat hatinya berdebar-debar seperti dulu.
Entah berapa lama Layla berada disana, ia bahkan tidak menyadari berapa waktu yang berlalu. Dinan datang menghampiri gadis itu disana. Ia duduk di lantai, tepat di samping Layla yang sibuk berbalas pesan dengan Bayu.
__ADS_1
“Kamu sudah ngantuk?” tanya Dinan.
Layla kaget seketika, ia salah tingkah dan gelagapan menyembunyikan ponselnya dari Dinan. Dinan melihat tingkah Layla yang gugup dengan wajah datar.
“Bapak kenapa duduk di bawah?” tanya Layla yang merasa tidak sopan kepada Dinan. Ia hendak berdiri, namun Dinan menahan tangannya.
“Duduklah, tak perlu merasa tidak enak denganku,” ucap Dinan memperingatkan Layla.
Gadis itu merasakan hangatnya tangan Dinan di tangannya. Untuk beberapa saat kemudian ia merasakan hatinya berdesir hebat. Seperti sengatan yang membuat hatinya terasa melemah. Namun itu hanya sesaat, karena Dinan sudah melepaskan pegangan itu.
“Bapak mau minum sesuatu? biar saya buatkan di dapur,” ucap Layla yang berusaha menenangkan hatinya yang tak karuan.
“Sebenarnya, saran ayah adalah yang terbaik.” Dinan tidak menanggapi tawaran Layla. “Tapi aku tidak ingin dikendalikan oleh Ayah, aku lebih memilih resiko buruk ini dari pada mengikuti saran ayah untuk menunda memindahkan anak-anak itu sampai pemilik lahan itu jelas siapa orangnya.”
“Kenapa, Pak? Bukannya keberhasilan untuk memiliki lahan itu adalah yang utama? Kenapa Bapak memilih resiko buruk itu?” tanya Layla menyelidik, ia gusar.
“Karena aku tidak mau lagi menuruti keinginan Ayah. Dari dulu dia tidak pernah mendengarkanku, saat aku menuruti keinginannya, ia tetap saja tidak pernah menuruti keinginanku, sekalipun ia sudah berjanji akan memenuhi apa yang kuminta, ia tetap saja berkilah."
"Aku lebih memilih hancur dengan resiko buruk itu, sekalipun nanti aku harus pergi lagi ke Amerika untuk waktu bertahun-tahun, sepuluh atau lima belas tahun pun di Amerika tidak masalah. Aku masih bisa bekerja di perusahaan tempatku dulu bekerja.”
“Saya tidak mengerti seberapa buruknya hubungan Bapak dengan Tuan Marc, tapi bukankah lebih baik untuk mundur satu langkah agar bisa maju beberapa langkah? saya rasa mengalah untuk hasil yang lebih besar itu jauh lebih baik.”
“Aku sudah berkali-kali mundur agar bisa maju lebih jauh, tapi kenyataannya, semakin aku mundur, semakin sulit aku untuk maju, dan semakin aku memberikan ruang untuk ayah mengendalikan diriku. Semakin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku tidak bisa apa-apa dan hanya bergantung pada Ayah. Aku lebih memilih seperti ini daripada terus-menerus berdiri di bawah bayangan Ayah.” Dinan menoleh kepada Layla yang masih memandangnya.
“Aku tahu kalau kamu tidak nyaman ada di dekatku dan ingin segera pergi dari sini. Tapi bertahanlah, aku tidak akan membuat ini lama, dan kamu bisa segera bebas dari orang sepertiku dan …”
“Pak …” Layla memotong kalimat Dinan, “saya tidak pernah merasa tidak nyaman berada di dekat Bapak. Saya yang membuat Bapak ada di posisi ini, saya juga akan pastikan Bapak keluar dari posisi ini tanpa mengalami kerugian sedikitpun.”
Dinan tertawa tipis, ia berdiri, “Kamu tidak bisa apa-apa, jadi jangan berpikir kamu bisa membantuku. Ayo tidur, kamu pasti sudah mengantuk.” Dinan lekas pergi ke kamar.
__ADS_1
Layla menelan ludah disana. Ia memperhatikan punggung Dinan yang perlahan menghilang masuk ke dalam kamar. Gadis itu memperhatikan layar ponselnya yang tadi ia sembunyikan dari Dinan. Ada ucapan selamat tidur dari Bayu di sana. Ternyata benar kata Dinan. Cinta itu membuat orang-orang mau melakukan sesuatu yang sekali pun ia sadari itu salah.
“Aku harus gimana sekarang?” gumam Layla yang sedih dengan dirinya sendiri.