Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 4


__ADS_3

Layla baru saja selesai merangkum beberapa laporan penjualan rumah dan apartemen yang masuk ke meja kerjanya. Sejenak ia merenggangkan tangannya dan menggerakkan kepalanya yang terasa kaku. Sebentar lagi jam pulang kantor akan segera tiba. Beberapa rekan kerja Layla terlihat sudah bersiap-siap untuk segera pulang.


Perlahan Layla berdiri dari kursi kerjanya, ia beranjak untuk berjalan cepat menuju kursi Pak Denis—Marketing manager Marc Property, pimpinan bidang tempat Layla bekerja. Layla membawa laporan kerjanya hari itu untuk ia laporkan kepada Pak Denis.


Layla mengetuk pintu ruangan pimpinannya itu, dan segera masuk ke dalam. “Sore, Pak,” sapa Layla menunduk memberi hormat.


“Sore, La, itu laporan kerjamu hari ini?” tanya Pak Denis yang tengah mengoreksi beberapa laporan dari anak perusahaan.


“Iya, Pak. Saya sudah merangkum semua laporan dari anak perusahaan yang masuk ke email saya,” jawab Layla. Layla mendekat dan meletakan laporan kerjanya di meja Pak Denis.


“Ok, kamu boleh keluar, nanti saya periksa,” tukas Pak Denis.


Layla terdiam sejenak, ia masih ingat permintaan Bu Irma kemarin. Ia harus berani menemui Pak Dinan—Direktur utama Marc property untuk membicarakan masalah lahan panti asuhannya. “Ma—maaf pak, kalau saya mencari tahu soal rencana pengembangan bisnis perusahaan, saya harus bertanya kemana ya, Pak?” Layla bertanya sedikit ragu-ragu.


Pak Denis mengangkat sedikit kepalanya, ia tatap wajah Layla yang menunggu jawaban yang akan ia berikan. “Kamu ke bagian building manager aja, La. Mereka menyimpan rencana strategis perusahaan ke depan.” jawab Pak Denis dengan ramah.


Layla tersenyum senang dengan kebaikan pimpinannya itu. Ia membungkukkan badan untuk memberi hormat. “Terima kasih atas inforamsinya, Pak.”


Layla pamit dan segera keluar dari ruangan Pak Denis ia berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 5, bagian building manager berada. Saat menunggu pintu lift terbuka, rekan satu bidang Layla datang mendekatinya.


“Mau kemana, La?” Emma—sahabat Layla, merangkul bahunya.


“Eh! Emma … aku mau ke bagian building manager, Ma. Mau nanyain sesuatu ke sana,” jawab Layla.


“Nanyain apa, La? Apa itu pekerjaanmu disuruh Pak Denis?” tanya Emma.


Layla menggeleng, “Tentang pantiku dulu, Ma. Perusahaan kita membeli lahannya dan ingin menggusur pantiku, aku mau bertemu Pak Dinan untuk memintanya membatalkan rencana itu.”

__ADS_1


Emma menelan salivanya mendengar penuturan Layla. “Gila kamu, La! Kamu mau ketemu Pak Dinan? Kamu itu cuma karyawan biasa. Mau dipecat kamu dari perusahaan ini?”


Layla melepas nafas panjang. “Ibu Irma memintaku seperti itu, Ma. Dia nggak ngerti masalah hirarki perusahaan begini, yang dia tahu aku bekerja di Marc property ini,” jawab Layla dengan lemah.


“Mau aku temanin? Aku juga belum pernah ke sana. Tapi kalau bicara sama Pak Dinan, aku nggak mau ikut-ikutan, La,” tawar Emma kepada sahabatnya itu.


Layla mengangguk senang, mereka masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 5. Disana Layla bertanya-tanya pada beberapa staff building manager perusahaan tentang lahan panti yang akan dijadikan apartemen mewah oleh perusahaannya itu. 5 staff ia tanyai disana, tapi tidak ada yang tahu dengan lahan tersebut. Hingga pada staff ke-6 yang ditanyai Layla, barulah informasi itu ia dapatkan.


“Lahan panti yang didapatkan dari lelang bank kemarin ya, Buk,” tanya staff yang ditanyai Layla.


“Iya, Pak. Lahannya di dekat sebuah mall mewah.” Layla memperjelas lokasi yang ia maksud.


Staff tersebut membuka lemari mejanya dan memilah-milah beberapa dokumen disana. “Ibuk butuh dokumennya? untuk apa?” tanya staff tersebut yang masih sibuk mengobrak abrik  lemari meja kerjanya.


“Saya mau ketemu Pak Dinan, Pak. Mau membahas lahan itu,” jawab Layla tanpa ragu.


Staff tersebut memberikan sebuah dokumen kepada Layla, “Nanti kembalikan lagi kepada saya ya, Buk. Ibuk tulis dulu nama dan posisi ibu, agar nanti bisa saya cari.”


“Aku yakin, Ma. Setidaknya ini bisa membalas jasa panti yang sangat besar untukku,” tutur Layla menguatkan niatnya itu.


“Tapi aku nggak ikut ke atas ya, La. Aku nggak berani melihat Pak Dinan.”


Emma akhirnya memilih turun ke lantai 3 tempat mereka bekerja, sementara Layla melanjutkan niatnya ke lantai 7, tempat ruangan direktur utama berada. Tangan Layla terasa gemetar, ia berusaha menguatkan hatinya untuk bertemu dengan Dinan. Kalau saja Bu Irma mengerti tentang perbedaan posisinya yang bagaikan bumi dan langit dengan Dinan. Mungkin Bu Irma tidak akan memintanya seperti itu.


Layla berjalan cepat menghampiri sekretaris pribadi, seorang laki-laki yang selalu sibuk di depan ruang kerja Dinan. Layla menyapa dengan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat. “Sore, Pak Richard. Apa Pak Dinan ada di dalam?” tanya Layla langsung pada maksud ke datangannya ke sana.


Richard—sekretaris pribadi Dinan melihat datar kepada Layla yang gugup menghadapinya. gadis itu memegang map berwarna merah di tangan kanannya. “Kamu ada perlu apa sama Pak Dinan?” tanya Richard dengan dingin.

__ADS_1


“A—anu pak! Saya mau membicarakan projek penting perusahaan dengan Pak Dinan,” tukas Layla.


“Projek penting?” Richard berkerut bingung mendengar ucapan Layla. “Siapa namamu? Di posisi mana kamu bekerja?”


“Sa—saya Layla, Pak. Saya staff marketing manager.” jawab Layla.


“Kamu staff Pak Denis?” Layla mengangguk menjawabnya. “Truss mau ketemu sama direktur utama?”


Ucapan Richard membuat Layla semakin gugup. “Ma—maaf, Pak. Ini benar-benar penting.”


“Taruh saja dokumennya di meja ini, nanti saya sampaikan.” jawab Richard.


“Ta—tapi Pak! Saya harus bicara langsung dengan Pak Dinan.”


“Ehh! Lo gila ya. Lo cuman staff, mau dipecat lo dari sini?” teriak Richard dengan setengah emosi. Mata Layla membulat mendengarnya, belum apa-apa, ia sudah diancam dipecat.


Pintu ruangan Dinan tiba-tiba terbuka, Richard lekas berdiri dan memberi hormat, begitupun dengan Layla. Dinan keluar dari ruangan itu bersama seorang laki-laki paruh baya yang diketahui Layla bernama Marc. Dialah pendiri Marc property sekaligus ayah Dinan dan sekarang menempati posisi sebagai kepala dewan komisaris perusahaan.


“Ingat kata-kata ayah tadi, Nan. Kalau kamu tidak segera menikah dan punya anak, ayah tidak akan pernah mengalihkan saham mayoritas dari perusahaan ini untukmu. Kamu tidak akan pernah memiliki perusahaan ini.” Suara Tuan Marc tegas kepada Dinan.


“Ayah ingin aku punya anak’kan? Nanti ku buatkan anak untuk ayah, biar ayah puas sekalian.” Dinan berseru menentang ayahnya.


“Anak ini! Keras kepala kalau dibilangin. Keputusan ayah sudah tegas! jangan tantang lagi, atau kamu ayah tendang dari perusahaan ini.” Tuan Marc berlalu pergi dan memandang Layla dan Richard yang masih menunduk memberi hormat.


Dinan masuk ke dalam ruangannya dengan perasaan kesal, sebelum pintu ruangan tersebut, Layla berlari masuk tak ingin kehilangan kesempatan. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa melewati Richard untuk menemui Dinan. Richard selalu menjaga Dinan dengan baik, Layla pasti tidak akan menemukan celah untuk melewati laki-laki itu.


Layla mendorong pintu ruangan Dinan yang hampir tertutup dengan sekuat tenaganya.

__ADS_1


Bruukk!


Dinan terdorong jatuh ke lantai.


__ADS_2