Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 28


__ADS_3

Layla baru saja sampai di apartemen setelah selesai belanja untuk keperluan dapur. Ia menenteng dua kantong besar dari lantai dasar apartemen ke lantai 23. Gadis itu memencet password apartemen Dinan dan masuk ke dalam dengan keadaan lebih tenang. Apalagi tadi ia bertemu Bayu, semua masalahnya seakan sirna karena mereka sudah kembali baikan. Sekarang Layla harus menjaga rahasia Bayu dari Dinan dan Dinan dari Bayu. Setidaknya sampai ia berhasil lari dari kehidupan Dinan.


Saat Layla berjalan menuju dapur untuk menata belanjaannya, ia melihat Dinan duduk di meja makan dengan segelas air ada di depannya. Penampilan Dinan amat kusut, rambutnya berantakan dan bajunya juga tak beraturan. Mata Layla membulat, ia menaruh belanjaannya di ruang tengah dan berlari menghampiri Dinan di meja makan. Lekas Layla mengambil gelas Dinan, dan laki-laki itu refleks menahannya. Gelas itu terjatuh dan pecah di lantai. Mata Layla menyelidik ke atas meja dan memastikan tidak ada minuman keras disana.


“Apa salahku kepadamu?” tanya Dinan dengan nafas memburu, kedua tangannya menahan kedua lengan Layla.


Layla menoleh, ia seketika gugup melihat sorot mata Dinan yang amat tajam.


“Maksud, Bapak apa?” tanya Layla dengan suara hampir hilang.


“Kamu yang memulai masalah ini, dan sampai detik ini kamu terus saja menambah masalah di hidupku.”


“Saya tidak melakukan apapun, Pak.”


“Buat apa kamu berlutut di depan ayahku? ha?” bentak Dinan yang tidak mampu lagi menahan rasa kecewanya. Layla hanya bisa menggeleng lemah.


“Kamu mau menunjukkan di depan ayah kalau aku ini tidak bisa apa-apa? hingga kamu harus berlutut di depannya untuk diriku?”


“Sa-saya tidak bermaksud seperti itu, Pak.” Layla membela diri.


“Dari dulu aku tidak pernah memperlihatkan kelemahanku di depan Ayah, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu menginjak-injak harga diriku, Layla!”


“Ma-maaf, Pak.”


“Maaf lagi, maaf lagi. Maafmu itu tidak berguna! Apa tidak bisa sekali saja kamu melakukan hal yang benar? Setidaknya berterima kasihlah karena kamu masih bekerja di kantor.”


“Saya hanya ingin mengambil dokumen itu dari Tuan Marc, Pak. Hanya itu, saya hanya ingin membantu Bapak dari posisi sulit ini,” aku Layla dengan air mata bercucuran, sungguh ia tidak menduga Dinan akan marah kepadanya atas kejadian di rumah Tuan Marc tadi.

__ADS_1


“Sial! Dasar tidak berguna!” bentak Dinan. Ia mendorong tubuh Layla hingga gadis itu terduduk di kursinya tadi. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Layla yang terus menangis. Ia terisak, air mata terus mengalir, dadanya benar-benar sesak dan pikirannya benar-benar kalut.


Entah kenapa setiap yang ia lakukan selalu membuat Dinan berada di posisi sulit. Padahal ia hanya ingin memperbaiki segala kesalahannya. Tapi sekarang ia malah menjatuhkan harga diri Dinan di depan Tuan Marc. Layla terpaku di sana. Terduduk menangisi semuanya.


***


Waktu berlalu, Layla sudah membersihkan apartemen dan menyiapkan makan malam. Selama melakukannya, gadis itu lebih sering melamun. Sesekali ia melihat ke pintu depan, berharap Dinan segera kembali. Entah apa yang akan terjadi ke depan, sungguh Layla tidak bisa membayangkannya.


Bahkan saat ia duduk melamun di meja makan, memperhatikan masakannya yang sudah dingin, Dinan tak kunjung datang. Saat jam terus berputar, melewati pukul delapan. Laki-laki itu belum juga pulang. Layla resah, tidak tahu harus mencari Dinan kemana. Sementara menunggu di sana malah membuatnya frustrasi. Berkali-kali gadis itu berteriak kecil, melepas sesak di dadanya.


Sesekali juga ia bergumam. “Aku berniat baik, dan hasil akhirnya pasti akan menjadi baik.” Layla terus menguatkan dirinya agar tidak terus merasa bersalah. Dari awal ia hanya ingin menyelamatkan adik-adiknya yang terancam hidup menjadi gelandangan. Bahkan ia rela mengorbankan dirinya untuk menikah dengan Dinan yang dianggap banyak orang laki-laki kejam.


Waktu berlalu lagi, yang ditunggu tak kunjung juga tiba. Hingga akhirnya terdengar bunyi bel di depan. Layla yang kaget segera bangkit dari kursinya. Berlari ke depan untuk membukakan pintu. Apa Dinan sudah pulang?


Saat gadis itu membuka pintu, bukan Dinan yang ia dapati disana. Tapi Bu Eva yang membawa Risa di sisinya. Layla segera mengusap matanya, memastikan bahwa tidak ada air mata disana. Kemudian mencoba tersenyum menyambut mertuanya itu.


Bu Eva geleng-geleng pelan melihat keadaan Layla. “Kamu kacau sekali, La.”


***


Risa sibuk bermain di ruang tengah, ada banyak hiasan miniatur bangunan yang menjadi pajangan di apartemen itu, miniatur itulah yang jadi mainan Risa. Sesekali ia juga sibuk memperhatikan TV yang ada disana, menampilkan film kartun kesukaannya. Padahal tadi ia ingin sekali bertemu kakaknya, namun yang dicari tidak ada di sana, membuat gadis cilik nan manis itu sedikit kecewa.


Bu Eva melihat putrinya itu dari meja makan. Matanya tampak prihatin dengan keadaan Layla.


“Aku tahu posisimu sulit, La. Bukanlah hal yang mudah berada di antara ayah dan anak yang berselisih. Tidak akan ada yang mau mengalah di antara mereka. Aku pun sudah merasakannya sejak lama.”


Layla takzim mendengarkan.

__ADS_1


“Tadi Dinan di suruh ayahnya pulang ke rumah. Ayahnya sangat marah, bahkan dia menyiram Dinan dengan air minum yang kubawa untuknya. Dinan pasti sangat sakit hati sekali karena itu, makanya dia tidak ada di sini sekarang.”


Layla menelan ludah, “Apa itu karena saya, Bun?”


“Apa Dinan memperlakukanmu tidak baik selama tiga hari pernikahan kalian ini, La?” tanya Bu Eva menyelidik.


Layla menggeleng, Dinan tidak pernah marah kepadanya sebagai seorang istri. Laki-laki itu hanya marah karena kesalahannya sebagai seorang karyawan, kecuali untuk satu hal, ia berlutut di depan Tuan Marc dan menjatuhkan harga diri suaminya itu.


“Ayahnya kira Dinan memperlakukanmu dengan tidak baik. Hingga kamu berlutut dan memohon di depannya karena tidak tahan dengan sikap Dinan.”


“Itu tidak benar, Bun. Bahkan setiap kesalahan yang aku lakukan, Pak Dinan tidak pernah marah sama sekali.”


Bu Eva tersenyum tipis. “Ayahnya Dinan sudah mengira itu, La, dari awal ia sangat yakin Dinan tidak akan berlaku kasar kepadamu. Tapi jika kamu benar-benar memohon sampai berlutut untuk Dinan, dia mungkin menduga yang sebaliknya.”


Layla mengusap kasar wajahnya.


“La, cobalah perbaiki suasana hatinya. Aku sadar bukanlah hal yang mudah untuk masuk ke dalam hati Dinan. Ia sudah banyak menderita oleh perempuan. Tapi aku yakin, kamu pasti bisa, La.”


Bu Eva menoleh, ia melihat Layla dengan penuh harap.


“Menderita oleh perempuan, Bun?” tanya Layla keheranan.


“Ibu kandungnya dulu memukulnya di perut, ia ketahuan oleh Dinan membawa laki-laki lain ke kamarnya. Dinan berlari karena takut dimarahi, Ibunya dan laki-laki itu mengejar, dan ia dipukul dan sekarang pukulan itu masih berbekas di perutnya seperti yang kamu lihat. Juga jika kamu perhatikan rambut Dinan sedikit panjang, ia sengaja untuk menyembunyikan bekas luka di kepala belakangnya. Itu kekejian ibu sambungnya yang pertama dulu. Serta ibu sambungnya yang kedua pernah mengurungnya tiga hari tanpa boleh keluar dari dalam kamar.”


“Dia benar-benar benci dengan perempuan-perempuan itu, La. Dulu ayahnya menjodohkan dia dengan seorang perempuan dengan keuntungan bisnis yang menggiurkan. Sialnya dia juga bukan perempuan yang baik. Perempuan itu menghina Dinan di depan umum dan pergi dengan laki-laki lain. Karena itu Dinan pergi ke Amerika. Dia benar-benar membawa banyak rasa sakit, sedih, malu hingga ia tinggal di Amerika selama bertahun-tahun sekalipun kuliahnya sudah selesai.”


“La, kami butuh kamu untuk bisa membuat Dinan membuka lembaran baru yang lebih baik dari masa lalunya yang hancur. Jangan sakiti lagi dia, La. Bantu kami untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak kami.”

__ADS_1


Layla menelan ludah. Hatinya bergetar, dia merasa hina sehina-hinanya. Teringat tadi siang ia sudah balikan dengan Bayu. Apa dia sudah berselingkuh dari Dinan? Ah, bahkan ia membayar makan Bayu dari uang yang diberikan oleh suaminya itu. Layla bahkan tak sanggup mengingat itu semua. Sungguh malu ia kepada dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia melakukan hal seburuk itu? jalan dengan laki-laki lain di belakang suaminya dan membayar makan laki-laki itu dengan uang suaminya juga.


__ADS_2