Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 13


__ADS_3

Dinan dan Richard baru saja kembali dari makan siang. Mereka keluar dari lift dan berjalan beriringan menuju ruang kerja Dinan. Seperti biasa, Richard duduk di meja kerjanya di depan ruangan Dinan, sementara Dinan masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Rencana pernikahan dengan Layla ia kesampingkan, semua itu akan diurus oleh ayahnya, sementara ia hanya tinggal menunggu semuanya beres saja.


“Halo, Dinan!” suara seorang perempuan seketika mengejutkan Dinan.


Laki-laki itu menoleh, melihat pada perempuan yang tengah duduk manis di sofa ruangannya. Mata Dinan seketika menyipit tajam melihat wajah perempuan yang tidak asing lagi bagi dirinya. Sesak tiba-tiba saja muncul di dadanya, berbalut api kemarahan yang sudah lama terpendam.


“Apa kamu merindukanku?” tanya perempuan itu dengan tersenyum sinis.


“Disini bukan tempatmu, keluarlah.” Dinan mengabaikannya, tidak mau tersulut emosi, ia lebih memilih untuk segera menuju kursi kerjanya.


“Sombongmu semakin menjadi saja ya, apa sebegitu sakitnya kamu setelah aku tinggalkan?” tanya perempuan itu dengan santai.


Dinan memejamkan mata, dia benci dengan perempuan, termasuk perempuan itu.


“Jen, aku tidak punya masalah denganmu, sekarang keluarlah.”


“Aku datang untuk bisnis, Nan.”


“Bisnis denganmu tidak menguntungkan sama sekali, keluarga Barata hanya mencari keuntungan dari keluarga lain.”


Perempuan bernama Jenny itu tersenyum sinis lagi. “Pemerintah ingin mengembangkan kawasan industri baru, kami punya lahan luas di dekat kawasan itu, bagus sekali untuk proyek properti perusahaanmu. Lahan di kawasan itu akan naik tiga sampai empat kali lipat harganya, jika dikembangkan untuk perumahan, keuntungannya bisa jauh lebih besar lagi. Perusahaan kita bisa berbagi untung dengan persentasi yang bisa kita negosiasikan.”


“Keluarga Barata bukan tempat yang menarik untuk bekerja sama, sekarang pergilah,” ucap Dinan untuk kesekian kalinya menyuruh Jenny pergi.


Perempuan itu hanya tertawa tipis. “Atau tawaran lainnya, gimana?” tanya Jenny lagi.


“Jen, aku tidak punya kepentingan denganmu atau perusahaan keluargamu.”

__ADS_1


“Rencana lama orang tua kita,” lanjut Jenny yang tak peduli dengan ucapan Dinan, “Kita sama-sama tidak membutuhkan pernikahan bukan? kita bisa menikah untuk keuntungan bersama, keuntungan perusahaanku dan perusahaan keluargamu.”


“Ternyata kamu benar-benar gila setelah pergi dengan laki-laki itu, Jen,” tutur Dinan yang sudah duduk di kursi kerjanya.


Jenny hanya mengangkat kedua bahu, ia kemudian berdiri. “Kamu memang belum dewasa untuk mengerti dengan dunia bisnis ini, Nan. Pikirkan lagi tawaranku tadi, ini takkan merugikanmu.”


Perempuan itu kemudian pergi, meninggalkan Dinan  yang sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.


***


Selesai di panti asuhan, Layla memutuskan untuk datang ke kantor Bayu. Ia menaiki bis kota, berdesakan dengan puluhan warga ibukota lainnya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Menembus jalanan ibukota yang selalu ramai dan tak pernah sepi sama sekali. Gadis itu duduk salah satu kursi, ia tengah mengangkat panggilan telepon dari Emma.


“La, kamu dimana? dari tadi kamu nggak balik-balik,” tanya Emma di seberang panggilan tersebut.


“Di luar, Ma. Aku dapat izin untuk nggak ngantor hari ini.”


“Duh, La. Ini orang dari building manager kemarin mencarimu, dia minta dokumen kemarin.”


“Dokumennya masih sama Tuan Marc, Ma. Dia belum mengembalikannya kepadaku.”


“Astaga, La, Pak Dinan minta dokumen itu sekarang, kenapa kamu tidak segera mengurusnya sebelum pergi?” tanya Emma dengan nafas gelisah.


“Aku harus gimana, Ma? kemarin aku sudah ke rumahnya, tapi dia nggak mau ngasih,” ucap Layla sedikit berbohong.


“Lalu gimana? ini orangnya juga udah cemas kalau Pak Dinan marah nggak dapat dokumen itu.”


Layla meremas rambutnya karena kebingungan disana. Buat apa Dinan meminta dokumen itu? Bukannya mereka sudah mempunyai kesepakatan sesuai ucapan Tuan Marc kemarin?

__ADS_1


“Bilang saja dokumennya masih sama Tuan Marc, Ma. Kalau Pak Dinan marah, silahkan sebut saja namaku, aku siap menerima semua resiko atas kelalaianku itu.”


“Kamu gila, La. Mau habis karirmu di kantor ini?” tanya Emma yang sedikit kesal dengan jawaban Layla tersebut. Tapi mau gimana lagi? Layla juga tidak bisa mengurusnya sekarang, akan memakan waktu lama ke rumah Tuan Marc dan pergi ke kantor.


Semuanya dilupakan Layla saat ia sampai di depan kantor Bayu. Entah seperti apa masalah yang timbul nanti, namun ia tak memikirkan hal itu. Masalah perasaan sudah menggelayuti hatinya sejak tadi, takut sekali ia melangkah, memikirkan memberikan dirinya untuk laki-laki lain. Sementara laki-laki yang ia cintai harus ia tinggalkan.


Ah, entah mengapa mereka harus break dulu setelah pertengkaran kecil kemarin. Jika saja mereka tidak memutuskan break sesaat, mungkin Tuan Marc tidak akan meminta hal yang aneh-aneh itu kepadanya. Setidaknya akan ada kesepakatan lain untuk menyelamatkan panti tempat ia dibesarkan.


Sekarang mata Layla hanya bisa melihat sendu kepada Bayu yang baru saja keluar dari kantornya. Ia datang tepat waktu, di saat jam kantor Bayu sudah selesai dan laki-laki itu tengah bersiap-siap untuk pulang. Hanya raut wajah kesedihan yang bisa diperlihatkan Layla. Ia bahkan tidak berani untuk menghampiri Bayu dan menceritakan semuanya.


Apa Bayu bisa menyelamatkan dirinya dari Dinan? Apa yang akan terjadi nanti jika Bayu menolongnya? Apa Tuan Marc benar-benar berubah dari kucing yang baik menjadi singa yang kejam? Layla hanya bisa menunduk pilu memikirkan itu.


“Mas Bayu, aku harus gimana sekarang?” tanya Layla dengan lirih. Sesaat kemudian air matanya jatuh berderai. Cintanya kepada Bayu harus dikubur dalam-dalam. Entah seperti apa marahnya laki-laki itu kelak jika tahu ia sudah menikah.


Air mata Layla masih terus jatuh tatkala ia tengah duduk di depan kaca hias di dalam kamarnya. Ia tengah menghias diri karena akan ikut malam di rumah Tuan Marc. Tadi sore setelah pulang dari kantor Bayu, tiba-tiba saja Layla mendapat pesan dari orang yang tidak dikenalnya, menyuruhnya bersiap-siap untuk ikut makan malam di rumah Tuan Marc.


Setiap ayunan tangannya diiringi oleh isak kesedihan. Ia sudah berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Menyelamatkan panti sekaligus tidak menikah dengan Dinan. Tapi ia tidak punya ide apapun. Tuan Marc seakan tidak bisa dilawan oleh orang biasa seperti dirinya. Karyawan kantoran yang dihadapkan pada seorang komisaris perusahaan sebesar Marc property.


“Tunggu sebentar!” ucap Layla setengah berteriak saat mendengar pintu kontrakannya diketuk.


Layla segera bangkit dan membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang. Ada seorang perempuan disana, perempuan yang tidak dikenal oleh Layla sama sekali.


“Maaf, cari siapa ya, Mbak?”


Perempuan itu menoleh dan tersenyum, “Sudah siap, Mbak? Tuan Marc sudah menunggu anda, kita tidak boleh terlambat untuk makan malam ini.”


Layla menelan ludah, ia melihat mobil hitam yang sudah terparkir di halaman kontrakannya.

__ADS_1


‘Mas Bayu, tolong aku, aku tidak mau kehilanganmu,' hati Layla meringis, ia menahan sedih agar tidak dilihat oleh perempuan di depannya.


Layla kembali masuk untuk menyelesaikan persiapannya. Ia memakai gaun hitam selutut dengan lengan terbuka. Ah, gaun itu dulu ia beli untuk bisa makan malam bersama dengan Bayu dan bertemu dengan keluarga laki-laki itu suatu hari kelak. Tapi sekarang ia malah bertemu dengan keluarga laki-laki lain yang tidak ia harapkan sama sekali terjadi.


__ADS_2