Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 7


__ADS_3

Layla menunduk seraya meremas tangannya di depan Dinan yang menatapnya dengan mata menyipit tajam. Tubuh gadis itu teras gemetar menahan rasa takut, jantungnya berdetak cepat dan hatinya berdesir hebat. Sungguh berhadapan dengan Dinan seperti itu terasa berhadapan dengan seorang hakim yang akan menjatuhinya hukuman seumur hidup. Benar-benar membuat deru nafas Layla seakan akan habis disana.


“Aku masih berbaik hati memintamu ke sini dan mempertanggungjawabkan semua kesalahanmu kemarin,” tutur Dinan membuka suaranya dengan nada dingin.


“Ma—maaf, Pak. Saya tidak bermaksud untuk merugikan perusahaan disini,” tutur Layla membela diri.


“Lahan panti itu sangat strategis, dua sampai tiga tahun lagi, kawasan panti itu akan menjadi salah satu pusat hunian masyarakat, membangun apartemen sekarang, bisa memberikan keuntungan tiga sampai empat kali lipat dalam waktu tiga tahun. Dan Kamu bilang tidak merugikan perusahaan? Dimana otakmu? Ha!” Dinan berseru menahan emosi.


Lutut Layla terasa melemah, “Saya hanya ingin mengutarakan keinginan saya, Pak."


"Karena saya tidak mendengarkan keinginanmu itu, lalu kamu menemui ayah saya dan mengadu padanya, bagus sekali kerjamu itu," potong Dinan yang masih bersikap tenang.


"Tuan Marc sendiri yang meminta dokumen itu dari saya, Pak.”


“Dan karena kamu juga ayahku sekarang mempertimbangkan rencana menggusur panti itu. Aku sudah capek-capek memenangkan lelang tanah itu di bank, sekarang kamu seenaknya menghancurkan semua rencanaku,” tukas Dinan dengan geram.


“Kamu bicara apa sama ayahku? Hingga ayahku melarangku untuk memecatmu. Apa yang kamu lakukan kepada Ayahku? Ha?” tanya Dinan lagi yang masih berusaha mengontrol emosinya.


“Ju—jujur, Pak! Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab Layla.


Dinan tersenyum sinis seketika, ia berdiri dan berjalan pelan menuju dinding kaca ruangannya yang menampikan gedung-gedung tinggi perkantoran.


“Dasar perempuan, cuma menyusahkan saja, memberi beban dan menyakiti laki-laki yang bekerja keras.” Dinan bergumam dengan penuh emosional, Ia kemudian melihat kepada Layla yang semakin gugup dengan keadaan. “Aku kasih kamu waktu hingga besok siang, dokumen itu sudah harus ada di mejaku. Jika tidak, aku benar-benar akan memecatmu. Sekarang keluar dari ruanganku,” titah Dinan dengan suara sedikit meninggi.


Layla patuh, tanpa bersuara, ia lekas keluar dari ruangan Dinan. Dinan masih berdiri melihat gedung tinggi perkotaan. “Dasar perempuan! Hanya bisa menghancurkan laki-laki,” Dinan bergumam lagi.


Layla melangkah gontai menuju lantai bawah perusahaan, ia harus segera bertemu Tuan Marc dan meminta dokumen lahan panti tersebut. Layla sudah pasrah tidak bisa menyelamatkan pantinya. Tempat yang telah berjasa besar dalam hidupnya selama ini.


Siang itu Layla meninggalkan Marc property menuju alamat rumah Tuan Marc. Posisi Tuan Marc sebagai kepala dewan komisaris perusahaan, membuatnya lebih sering mengawasi perusahaan dari jauh dan mempercayakannya kepada dewan komisaris yang lain. Usianya sudah senja, dan kekuatannya sudah berkurang. Terlihat dari tubuhnya yang tak sanggup berdiri lama-lama untuk mengurusi pekerjaan.


***

__ADS_1


Layla memasuki kediaman Tuan Marc, disana ia sudah disambut oleh 2 orang laki-laki bertubuh tegap dengan menggunakan pakaian hitam. Layla menghampiri laki-laki yang berdiri di posnya yang ada di dekat pagar kediaman Tuan Marc.


“Permisi, Pak! Apa ini rumahnya Tuan Marc? pemilik Marc property,” tanya Layla berbasa basi.


“Maaf, Buk! Ada perlu apa anda bertemu dengan Tuan Marc?” tanya seorang penjaga rumah mewah bertingkat dua milik Tuan Marc.


“Anu, Pak. Tolong bilang sama Tuan Marc, saya karyawan Marc property yang kemarin ingin membahas tentang lahan panti asuhan.”


Penjaga rumah itu menatap wajah Layla dengan sedikit kebingungan, mereka seolah tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Layla. Seorang diantara mereka menyikut rekan kerjanya yang lain. Dan kemudian lekas orang yang disikut berjalan menuju pos mereka untuk menghubungi orang yang ada di dalam rumah.


Setelah menunggu beberapa saat, karyawan itu kemudian kembali kepada Layla dengan langkah pelan. Ia menunduk sejenak untuk memberi hormat.


“Silahkan masuk, Buk! Tuan Marc sudah menunggu anda dari tadi,” ujar penjaga tersebut yang membuat dahi Layla berkerut bingung. ‘Menunggunya dari tadi?’ Layla berpikir panjang mencari makna kalimat itu.


Layla masuk ke dalam pekarangan rumah Tuan Marc. Ia melangkah menapaki lantai pinblock halaman mewah rumah tersebut. Mata Layla mengedar, matanya terangkat melihat rumah lantai 2 bercat putih dengan desain ala eropa yang kental. Teras rumahnya luas, ada hiasan lampu besar di langit-langit teras tersebut yang menjadi tempat parkir mobil hitam mewah milik Tuan Marc.


Langkah Layla sejenak terhenti, ia mengedarkan matanya melihat taman rumah yang berhiasan air mancur dengan kolam tinggi berwarna putih. Bunga-bunga tertata rapi dengan rumput hijau yang luas. Layla tersenyum, seandainya ia adalah orang kaya, ia ingin membuatkan panti rumah baru sebesar itu, dengan halaman luas dan air mancur untuk anak-anak bermain.


“Bunda …” Layla mendengar suara seorang anak kecil. Lekas matanya mengedar, melihat sosok anak kecil yang berusia lima tahun menggunakan dress putih tengah berlari menuju pintu utama rumah mewah tersebut.


Mata Layla mengedar, ia melihat sosok perempuan yang sederhana, dari raut wajahnya, sepertinya masih berusia empat puluh tahunan. Perempuan itu juga menggunakan dress putih, sama seperti anaknya.


Layla melangkah pelan mendekati mereka, kebahagiaan jelas terlihat dari wajah dua orang perempuan yang tengah berpelukan di dekat mobil mewah Tuan Marc.


“Permisi, Nyonya!” Layla menunduk memberi hormat.


“Ya! Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan tersebut kepada Layla.


“Saya mau bertemu Tuan Marc, apa beliau ada di dalam?” tanya Layla dengan sopan.


“Siapa tante ini Bunda? Kenapa dia mencari ayah?” sahut anak perempuan yang dipeluk oleh ibunya.

__ADS_1


Layla memperhatikan 2 perempuan di depannya dengan bingung. Ayah? Apa anak itu adalah anak Tuan Marc dan adiknya Dinan? Bahkan anak itu lebih pantas menjadi anaknya Dinan dan cucu Tuan Marc. Layla membatin memikirkan hal itu.


“Dia tamu ayah, Sayang,” jawab sang ibu seraya mengusap lembut rambut hitam lurus anaknya yang terlihat imut dengan pipi chubby-nya.


“Siapa namamu? Aku baru pertama kali melihatmu disini,” ucap Ibu itu kepada Layla.


“Saya Layla, Nyonya.” Layla mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


“Saya Eva, panggil saya Ibu, bukan Nyonya, saya tidak suka dengan panggilan itu,” tutur Bu Eva.


“Ba—baik, Bu!” Layla kembali menunduk memberi hormat.


Bu Eva kemudian menggendong anaknya, “Mari ikut saya, Tuan Marc sedang berada di dekat kolam renang.”


Layla kemudian mengekori langkah Bu Eva untuk masuk ke dalam rumah Tuan Marc. Mata Layla berbinar takjub melihat rumah mewah dengan berbagai property yang menghiasinya, tak hanya furniture mewah, tetapi banyak juga guci-guci, lukisan, serta lemari kaca berisi berbagai pajangan mahal yang terlihat indah. Belum lagi lampu-lampu yang dihiasi hiasan lampu yang besar dan menakjubkan mata melihatnya.


Tak hanya di ruang tamu, saat Layla melewati ruang tengah, ia juga takjub melihatnya. Tv yang ukuran besar terpampang disana. Sofa mewah berwarna merah terlihat empuk dengan pernak pernik berwarna emas. Pantas saja Tuan Marc memiliki rumah mewah sebesar itu. Dia adalah pengusaha property terkenal dan diakui banyak orang. Siapa yang tidak tahu dengan Marc Property, iklan propertinya setiap hari wara-wiri di tv, koran, papan iklan pinggir jalan, hingga iklan di internet.


“Tuan Marc disana, kamu langsung saja menemuinya.” Bu Eva menunjuk ke arah Tuan Marc yang duduk di sebuah meja kecil di tepi kolam renang. Jelas terlihat dari ruang tengah karena hanya dibatasi dinding kaca.


“Baik, Bu. Terima kasih,” sahut Layla dengan sopan.


Bu Eva membawa anaknya duduk di ruang tengah seraya menyalakan tv, sementara Layla berjalan mendekati Tuan Marc. Suasana rumah itu sejuk, adem dan tenang. Benar-benar nyaman disana. Layla benar-benar iri dengan kehidupan Tuan Marc yang nyaris sempurna di matanya. Juga iri kepada Dinan yang menjadi anak Tuan Marc.


Mengingat nama Dinan, Layla sejenak kembali menoleh kepada Bu Eva. Mana mungkin perempuan itu adalah ibunya Dinan. Jika iya, apa itu berarti perempuan itu melahirkan Dinan diumur belasan tahun? Layla membuang pikiran itu, itu bukan urusannya, ia harus segera meminta dokumen panti asuhannya itu dan kembali ke kantor agar semuanya segera selesai.


Layla mendorong pintu menuju area kolam renang, seketika Tuan Marc menoleh kepadanya dan kemudian tersenyum.


“Permisi Tuan!” Layla membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


“Layla ayudya putri, anak yatim yang dibesarkan di panti, orang tuamu meninggal karena kecelakaan dan panti itu menyelamatkanmu. Kamu sudah datang sendiri ke sini sekarang, jadi aku tidak perlu repot-repot mencarimu, aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Tuan Marc seraya meminum kopi hitamnya dari sebuah gelas putih di meja yang ada di depannya.

__ADS_1


“Tu—Tuan menunggu saya?” tanya Layla yang bingung mendengar ucapan Tuan Marc. Kenapa Tuan Marc menunggunya?


__ADS_2