Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 23


__ADS_3

Layla tengah memanggang daging di oven. Sementara menunggu daging matang, ia sibuk menyiapkan bumbu untuk hidangan daging panggangnya. Juga menyiapkan sayur untuk tambahan. Semenjak di panti, Layla sudah sangat lihai memasak. Ia sering membantu petugas panti untuk memasak makanan bagi anak-anak yang jumlahnya tidak sedikit. Setidaknya sejak remaja, Layla sudah akrab dengan dapur, oleh karena itu jangan pernah ragukan kemampuannya dalam memasak. Walaupun hanya memaksimalkan isi kulkas Dinan untuk mempersiapkan makan malam, hasilnya tentu sudah dipastikan enak.


Dinan datang ke dapur itu seraya melihat jam di tangannya, sudah lewat dari jam tujuh dan makan malam belum siap. Padahal ia sudah mempertegas soal itu tadi pagi.


“Ini sudah lewat dari jam tujuh,” seru Dinan seraya menuangkan air ke dalam gelas.


Layla yang sibuk memasak berhenti seketika, ia melihat kepada Dinan yang tampak berwajah datar.


“Maaf telat, Pak. Saya capek,” jawab Layla. Ia seakan pasrah jika Dinan akan memarahinya saat itu juga.


“Aku sudah menjelaskannya kepadamu tentang lahan panti itu yang amat penting bagi perusahaan.”


“Saya sudah berusaha, Pak. Tapi ayah anda tidak mau mengembalikannya,” ucap Layla yang benar-benar kesal kepada Dinan. Entah mengapa hal itu harus dibahas lagi.


“Saya memarahimu karena kamu karyawan saya, ini hubungan profesional kerja,” ucap Dinan memperingatkan Layla. “Itu dagingnya sudah matang, pastikan makan malam siap setelah aku selesai mandi.” Dinan kemudian berlalu pergi meninggalkan Layla seorang diri di sana.


Gadis itu segera membuka oven dan mengeluarkan daging yang matang. Untuk sesaat kemudian ia menyadari ada yang aneh dari sikap Dinan kepadanya. “Kenapa dia tidak memarahiku seperti tadi pagi? kenapa dia juga tidak marah karena aku membentaknya di kontrakan tadi?” lirih Layla lagi bertanya.


Sementara Dinan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya saat menuju kamar mandi di dekat kamar. Sekarang ia tampak resah akan suatu hal.


***


Dinan melahap makan malam yang disiapkan Layla. Gadis itu menyuap nasinya seraya memandangi Dinan dengan ragu. Ia memperhatikan betapa lahapnya Dinan menikmati makanan buatannya. Ada sebersit perasaan tidak nyaman di hati Layla setelah kejadian di kontrakan tadi. Tidak pantas untuknya memarahi bosnya sendiri, apalagi sebenarnya kesalahan ada pada dirinya. Tidak pantas juga baginya memaki laki-laki yang jelas-jelas itu suaminya sendiri.


“Saya minta maaf, Pak?” ucap Layla setelah memutuskan untuk mengeluarkan kalimat itu.


“Kamu sudah aku maafkan,” jawab Dinan tanpa beban.

__ADS_1


Dahi Layla seketika berkerut. Dinan memaafkannya?


“Bapak tidak marah kepada saya?” tanya Layla tampak ragu.


“Tadi saya sudah bilang, saya memarahi kamu karena kamu itu karyawan saya,” terang Dinan yang masih terus melahap makan malamnya.


“Maksud Bapak?” tanya Layla yang masih tidak mengerti dengan keadaan.


“Kamu ini, masa itu saja tidak paham sih?”


“Dan bapak memaafkan saya karena saya adalah istri Bapak?” ucap Layla yang teringat akan ucapannya tadi sore di kontrakan. Apa ucapan Dinan itu adalah jawaban dari ucapannya tadi sore? ‘Saya memaki anda sebagai atasan, dan saya meminta tolong kepada anda karena anda adalah suami saya.’ Layla teringat akan emosionalnya ia mengucapkan itu tadi.


“Kamu ini membuatku hilang selera makan saja,” ucap Dinan dengan kesal. Ia kemudian berlalu pergi untuk masuk ke ruangan kerjanya.


Layla memperhatikan itu semua dengan keheranan. “Apa-apaan dia? hilang nafsu makan? dasar gila!” keluhnya saat melihat makanan di piring Dinan tidak bersisa sama sekali.


Gadis itu memainkan ponselnya untuk menunggu Dinan datang.


***


“Oh Tuhan, kenapa aku telat bangun lagi?” Layla menatap jam digital yang menunjukkan pukul tujuh tepat dengan wajah cemas.


Bergegas ia merapikan tempat tidur. Kemudian dengan secepat kilat ia sudah berlari ke lantai satu. Saking takutnya kepada Dinan, Layla bahkan tidak pernah melihat cahaya matahari masuk ke dalam apartemennya itu karena jendela yang selalu tertutup tirai.


Di meja makan, Layla melihat Dinan tengah menikmati sarapan paginya. Lagi-lagi suaminya itu memasak omelet untuk sarapan. Dengan cemas, Layla memberanikan diri untuk menghampiri Dinan.


“Maaf, Pak, saya terlambat,” Layla tertunduk lemah di depan Dinan yang tengah menikmati sarapannya.

__ADS_1


“Ini baru dua puluh empat jam sejak aku menegaskan aturan di apartemen ini kepadamu. Dan semua peraturan itu kamu langgar tanpa terkecuali.”


Layla memejamkan mata, ia menyadari kesalahan fatal itu. “Sa-saya janji ini yang terakhir, Pak,” ucapnya dengan segala rasa penyesalan.


Dinan kemudian berdiri dan menyudahi sarapannya. “Segera sarapan, jangan sampai terlambat ke kantor.” Laki-laki itu kemudian pergi tanpa bicara lagi.


“Baik, Pak.”


Tinggallah Layla sendiri di sana dengan segala kebingungannya. Sikap Dinan yang tak banyak bicara dan selalu menyudutkannya malah membuat Layla frustrasi dengan keadaan. Dia benar-benar tidak tahan jika harus hidup serumah dengan orang seperti itu. Dalam beberapa saat, terlintaslah bayangan Bayu dalam pikiran Layla. Perempuan itu hanya bisa mengeluarkan nafas panjang. Berharap agar Bayu tidak tahu apa yang terjadi hingga ia dapat pergi dari Dinan. Mungkin Layla akan merahasiakan itu semua seumur hidupnya dari Bayu.


Namun sayangnya Layla tidak bisa berlama-lama untuk memikirkan itu semua. Ia sudah terlambat bangun, sekarang perempuan itu segera menghabiskan omelet yang tersisa di meja makan. Untuk kemudian bersiap-siap ke kantor.


Layla menjalani harinya dengan lesu. Semua persoalan terasa membebani pikirannya. Selagi dokumen itu belum kembali kepada Dinan, selama itu juga ia akan selalu dibayangi rasa takut untuk menatap wajah suaminya itu.


“La, kok kemarin kamu nggak masuk? Pak Richard nyariin kamu loh,” ucap Emma setengah berbisik saat mereka bekerja.


Layla menoleh sejenak kepada Emma, wajahnya tampak begitu lelah. “Aku sibuk, Ma, nggak usah mikirin masalah itu lagi, capek tahu.”


“Apa itu berarti masalah itu belum selesai juga, La? nanti Pak Dinan benar-benar memecat kamu lo, La. Apalagi kemarin aku nguping pembicaraan Pak Denis dan orang dari building manager itu. Dokumen yang kamu ambil itu berkaitan dengan rencana strategis perusahaan tahun ini.”


“Ma,  nggak usah dibahas lagi, aku benar-benar capek,” ucap Layla memelas.


Emma mengangkat bahu dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Percuma juga ia mendesak Layla, teman kerjanya tampak tidak ingin menjelaskan apapun terkait dengan masalah tersebut.


Namun masalah yang harus dihadapi Layla ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Pak Denis yang baru datang entah dari mana berjalan dengan wajah gusar, seakan sesuatu tengah membayangi dirinya saat itu.


“Layla, ke ruangan saya,” ucap Pak Denis tanpa berhenti berjalan dan menoleh kepada Layla.

__ADS_1


Layla tersentak kaget mendengarnya. Membuat semua orang di divisi tersebut seketika memandang matanya dengan penuh tanda tanya. Gadis itu diam membeku, untuk sesaat kemudian ia menelan ludah dan berdiri. Kemudian menyusul ke ruangan Pak Denis tanpa melihat kepada siapapun disana.


__ADS_2