Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 35


__ADS_3

Semilir angin menerpa wajah Layla. Gadis itu tengah duduk di sebuah taman, menghadap ke tugu indah di tengahnya. Angin yang dirasakannya bisa mengusir sejenak rasa resah di hati. Layla melihat lurus ke depan dengan rasa sedih. Mau tak mau ia harus jujur pada Bayu, agar satu beban di pundaknya bisa terasa lebih lega. Layla hanya bisa berharap agar Bayu bisa memaafkan kesalahannya itu.


Sebuah es krim tiba-tiba muncul di depan wajah Layla. Gadis itu seketika tersenyum, es krim strawberry kesukaannya. Lekas Layla mengambil es krim itu dan tersenyum kepada Bayu.


“Mas tahu aja kesukaanku,” ucap Layla dengan amat senang. Gadis itu segera menikmatinya.


Bayu duduk di samping Layla. Ia menatap wajah kekasihnya itu dengan lekat. Ingin detik itu juga ia memiliki Layla seutuhnya. Tapi gadis itu terlalu kekeh dengan pendirian. Ia tidak akan memberikan apapun kepada Bayu sebelum mereka menikah.


“Sekarang kamu bisa menjelaskannya, La?” tanya Bayu dengan nada pelan.


Layla seketika berhenti menikmati es krim tersebut. Ia menoleh lagi kepada Bayu, perasaannya kembali bimbang. “Aku rasa Mas lebih baik tidak tahu. Semuanya baik-baik saja, Mas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tutur Layla yang masih berusaha merahasiakannya, sekalipun ia tahu hal itu tidak akan berguna.


“Semakin kamu menghindar, semakin aku ingin tahu apa yang kamu sembunyikan itu, La.”


Layla mengembuskan nafas panjang. Ia memberanikan diri untuk menjelaskan hal tersebut.


“Mas harus janji agar jangan marah dengan siapapun. Mas juga harus janji akan merahasiakannya. Mas juga harus janji tidak akan mengungkit-ungkitnya lagi suatu hari ini nanti.”


“Aku janji, La,” tukas Bayu yang tak sabar mendengarkan penjelasan Layla, “Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi.”


“A-aku,” ucap Layla memejamkan mata, ”aku dipaksa menikah oleh pemilik perusahaan, Mas.”


Bayu terdiam, ia mendengar hal itu dengan wajah yang tak percaya sama sekali. “Kamu dipaksa menikah, La?”


“Aku harus menyelamatkan adik-adikku di panti, Mas. Untuk itu aku harus menikah.”


Bayu tertawa, ia meraih dagu Layla hingga mereka saling bertatapan. “Candaan kamu itu receh bangat, La.”


“Aku serius, Mas. Dan aku sudah menikah,” ucap Layla seraya memperlihatkan cincin di tangan kirinya.


Bayu menelan ludah, ia menggeleng. “Kamu bercandakan, La?” tanya Bayu memastikan.


“Aku serius, Mas. Tempatmu mengantarku semalam adalah rumah suamiku.”

__ADS_1


“Ini gila, benar-benar gila. Ini baru dua minggu sejak kita break, dan kamu sudah menikah?”


Layla mengembuskan nafas kasar. “Aku sangat mencintaimu, Mas. Tapi untuk hal ini aku benar-benar terpaksa.”


“Kamu dipaksa menikah, dan kamu hanya menurut?” tanya Bayu yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Layla.


“Mas tenang saja, aku bisa menjaga diriku dengan baik.”


“Tenang gimana?” tanya Bayu yang tampak resah dengan ucapan Layla, “kamu menikah dengan laki-laki lain dan kamu menyuruhku untuk tetap tenang?”


“Aku bisa menjaga diriku dengan baik, Mas. Sampai detik ini dia sama sekali tidak pernah menyentuhku,” aku Layla yang berharap Bayu bisa mempercayainya.


“Tapi kamu tinggal serumah dengannya, La.”


“Ini hanya sementara, Mas. Aku dan dia sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Kami akan berpisah saat tujuan dia tercapai.” Layla meraih tangan Bayu, “aku mohon, Mas percaya sama aku, aku tidak pernah mengkhianatimu, Mas. Aku melakukan ini juga untuk adik-adikku di panti. Jika aku tidak menikah dengan dia, adik-adikku di panti akan hidup menggelandang di jalanan.”


“Kamu sudah keluar dari panti, buat apa lagi ngurusin mereka? Apalagi sampai mengorbankan dirimu seperti ini.”


“Mas tahukan betapa pentingnya panti itu untuk hidupku? Aku tidak bisa hanya diam jika mereka membutuhkanku.”


“Mas nggak akan pernah kehilanganku. Hidupku hanya untuk, Mas. Aku akan menjaga diriku dengan baik untuk, Mas,” ucap Layla mengusap bahu Bayu, ia pasrah Bayu memeluknya.


“Aku hanya bisa percaya sama kamu, La. Jangan biarkan laki-laki itu menyentuhmu. Segera selesaikan semuanya, lalu kembali padaku,” lirih Bayu.


Layla mengangguk dalam pelukan Bayu. "Terima kasih banyak, Mas. Sudah mau percaya kepadaku," lirih Layla dengan lega.


***


Dinan menikmati makan malamnya di meja makan seorang diri. Itu adalah hal yang biasa bagi Dinan. Sejak ia pergi ke Amerika, juga sejak dia keluar dari rumah, Dinan memang terbiasa menjalani semuanya seorang diri. Tidak bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, bahkan mencuci pakaian pun dilakukan Dinan sendiri saat malas pergi ke laundry.


Sedari kecil Dinan memang sudah biasa dengan hal itu. Di saat sang ayah pergi mengurus bisnisnya ke berbagai daerah hingga ke luar negeri, Dinan di rumah berkuras tenaga membereskan semua pekerjaan. Ibu sambungnya yang melakukan itu. Bahkan tak jarang Dinan dipukul habis-habisan bila menolak apalagi melawan.


Laki-laki itu menarik nafas kasar. Makan malamnya sudah selesai, ia meminum segelas air dan membersihkan tangannya dengan tisu. Laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Sejak Tuan Marc menyiramnya dengan air, Dinan belum datang lagi ke rumah itu. Sekarang ia malah merasa rindu dengan Risa. Gadis cilik yang menjadi wallpaper ponselnya.

__ADS_1


Dinan mendengar pintu depan terbuka. Laki-laki itu mengembuskan nafas kasar. Ia berdiri untuk mengambil air minum.


“Maaf, Pak. Hari ini saya terlambat pulang lagi,” ucap Layla saat sudah berdiri di depan Dinan.


Dinan masih melihat gelasnya yang tengah diisi dengan air. Ia tidak menoleh kepada Layla sama sekali. “Makanlah, kamu pasti lapar,” ucap Dinan.


Layla menelan ludah. Ia melihat meja makan. Ada daging bakar dengan ikan kecap di sana. Membuatnya bingung, siapa yang memasak.


“Bapak beli makanan di luar?” tanya Layla memastikan. Selama ini Dinan tidak pernah memarahinya kecuali saat ia berlutut di depan Tuan Marc. Apalagi sampai KDRT kepadanya, membuat gadis itu jauh lebih berani untuk menghadapi Dinan.


“Aku yang masak,” ucap Dinan, ia menoleh kepada Layla yang masih memperhatikan meja makan. Ia menatap gadis itu dengan datar.


“Wah, Bapak hebat sekali, masakan Bapak harum, buat saya lapar saja,” tutur Layla dengan polos.


“Dari dulu aku tidak pernah salah menilai, semua perempuan itu sama. Tidak ada yang bisa dipercaya di antara mereka,” ucap Dinan yang mengabaikan pujian Layla.


Layla seketika menoleh kepada Dinan. Ia bingung kenapa Dinan berbicara seperti itu kepadanya.


“Maksud, Bapak?”


“Ambil piringmu dan segera makan.” Dinan berjalan ke arah ruang tengah.


Layla memperhatikan Dinan dengan jantung berdebar-debar entah kenapa. Belum sempat Dinan meninggalkan ruang makan, ia berhenti dan berbalik badan, melihat lagi kepada Layla yang masih memperhatikannya. “Anak-anak panti sudah dipindahkan tadi sore.”


Layla mengangguk, kabar yang seharusnya membuat Layla senang itu malah terasa hampa karena ucapan Dinan tadi.


“Apa kamu tidak senang?” tanya Dinan memastikan.


“Senang kok, Pak. Saya senang adik-adik saya dapat tempat yang baru dan lebih layak. Saya sudah dengar kabar dari rekan-rekan yang lain. Lahan yang sekarang lebih luas dan jauh dari pusat kesibukan orang,” ucap Layla berbohong, ia sama sekali belum tahu kabar itu.


“Kamu pasti senang, tapi jangan berpikir untuk pergi dulu, kamu harus disini, ada hal yang harus kamu lakukan untuk menghadapi ayah.”


Mendengar ucapan Dinan, Layla teringat akan sesuatu. “Pak, apa Bapak sudah yakin memindahkan anak-anak panti secepatnya ini?” tanya Layla lagi, ia masih merasa saran Tuan Marc adalah yang terbaik.

__ADS_1


Dinan hanya menggeleng, ia kemudian pergi, meninggalkan Layla seorang diri disana. Gadis itu terduduk ke kursi tempat Dinan duduk tadi. Entah mengapa perasaannya terasa amat tidak nyaman. Apa kalimat Dinan tadi untuk dirinya? Apa Dinan menganggap bahwa dia sama seperti perempuan-perempuan yang dulu menyakiti Dinan seperti cerita Bu Eva?


__ADS_2