
Layla menikmati waktu sore dengan melihat langit di dinding kaca depan kamarnya dan Dinan. Pemandangan yang tersaji amat indah. Awan jingga berarak pelan dengan langit yang perlahan mulai memerah. Gadis itu hanya ingin meringankan sebentar pikirannya yang terasa berat. Ah, dia benar-benar gugup untuk menghadapi Dinan kali ini. Bagaimana ia bisa menjelaskan tentang Bayu kepada Dinan?
Bahkan sejak berbicara dengan Richard tadi, Layla tidak berani lagi membalas chat-chat dari Bayu. Ia benar-benar takut membuat Dinan marah besar kepadanya. Sekarang gadis itu mulai resah, dia sebenarnya tidak ingin Bayu datang ke kantor dua hari belakangan ini. Tapi semuanya sudah terlambat. Dinan dan Richard sudah melihat semuanya. Kini Layla hanya bisa menyesali hal itu, ia bahkan tidak sanggup berpikir bagaimana mencari jalan keluar terbaik.
Mata Layla masih memandang jauh ke langit sore. Ia tidak memasak untuk makan malam karena Dinan mengajaknya makan di rumah Tuan Marc. Namun ternyata ia tidak bisa bersantai, pikirannya terasa amat linglung tak tentu arah.
“Kamu tidak bersiap-siap?” suara Dinan terdengar, seketika Layla menoleh.
“Bapak sudah pulang?”
“Kita berangkat sebelum jam tujuh, jadi segeralah bersiap,” tukas Dinan.
Layla berdiri dari kursi santai yang ia duduki. Ia melihat Dinan yang hendak turun ke bawah. Gadis itu setengah berlari, mengejar Dinan menuruni tangga.
“Bapak marah sama saya?” tanya Layla.
Dinan berhenti melangkah, ia berbalik badan hingga tubuh Layla menubruk badannya di tangga itu. Wajah mereka amat dekat dan mata mereka saling bertatapan.
“Marah? kenapa aku harus marah?”
“Karena …” jawab Layla dengan ragu, ia benar-benar merasa bersalah melihat bola mata Dinan yang tampak berbinar. Lagi, ia salah menilai, kemarahan Dinan yang ia duga tidak pernah ia lihat.
“Bapak tahu kenapa saya pulang terlambat kemarin, kan?”
Dinan mengembuskan nafas kasar. Ia kembali menuruni tangga. “Richard menemuimu? dia bicara apa saja?” tanya Dinan.
“Saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengkhianati Bapak.”
Dinan tak menggubris.
“Pak, saya berjanji tidak akan mengulanginya, saya tidak akan menemuinya dan tidak akan mengkhianati Bapak lagi,” ucap Layla yang mengikuti langkah Dinan untuk turun.
__ADS_1
Dinan baru berhenti di depan pintu ruang kerjanya. Sekarang ia dan Layla kembali berhadap-hadapan. Mereka saling pandang. Layla tampak gugup disana.
“Dari awal aku memang tidak percaya sama kamu. Mulai dari detik ini dan seterusnya kamu bertemu dengan dia atau tidak, tidak ada untungnya untukku. Karena aku sudah tahu seperti apa kamu sebenarnya. Sekarang siap-siap, kita harus berangkat ke rumah ayah.”
“Jadi Bapak benar-benar ingin menendang saya dari hidup, Bapak?” tanya Layla dengan mata berkaca-kaca.
Dinan membuka pintu ruang kerjanya dan masuk ke dalam. Meninggalkan Layla yang membeku dengan mata berkaca-kaca. “Saya harus apa, Pak? saya tidak ingin terluka karena Bapak cepat atau lambat akan membuang saya. Saya memang tidak akan pernah Bapak anggap sebagai istri. Lalu apa saya salah mempertahankan hubungan saya dengan Mas Bayu? saya hanya memikirkan kehidupan saya selanjutnya,” lirih Layla terisak sedih.
***
Mobil Dinan terparkir di depan rumah Tuan Marc. Ia dan Layla sudah berada di kediaman mewah keluarga Marc tersebut. Beberapa penjaga menyambut mereka di depan. Sementara di dalam tidak ada pembantu sama sekali. Semua pekerjaan rumah dibereskan Bu Eva setiap hari. Sesekali saja ada pembantu yang disuruh datang untuk bekerja saat Bu Eva tidak sempat mengurus pekerjaan rumah.
Malam itu di meja makan sudah tersaji hidangan nikmat. Layla duduk di samping Dinan, sementara Tuan Marc duduk di depan mereka. Di sebelahnya ada Bu Eva dan Risa duduk paling pojok. Semuanya berlangsung lancar seperti makan malam keluarga biasanya. Bu Eva sesekali mengajak Layla bercanda, dan menanyakan masakan yang sering dimasak Layla di apartemen. Tuan Marc juga bertanya bagaimana pekerjaan Layla di kantor. Hanya Dinan yang diam dan tidak bicara sama sekali disana. Hingga situasi terasa berubah saat Tuan Marc tiba-tiba bertanya pada Dinan.
“Kamu sudah memindahkan anak-anak panti kemarin, kan? Kenapa kamu tidak mengikuti kata-kataku, Nan?” tanya Tuan Marc, suasana mereka yang hangat tiba-tiba terasa tidak nyaman
“Aku tahu apa yang kulakukan,” jawab Dinan dengan singkat.
“Apapun resikonya, aku akan menanggungnya,” jawab Dinan dengan datar.
“Dinan!” bentak Tuan Marc.
Suasana hening seketika, termasuk Risa yang berhenti makan karena kaget mendengar bentakan sang ayah. Layla menelan ludah, ia melihat wajah Dinan yang masih datar menikmati makan malam.
“Aku menyembunyikan masalah ini dari komisaris lain. Ini semua untuk posisimu di perusahaan. Prestasimu sebagai direktur amat bagus. Kamu memecat banyak orang dalam setahun ini, dan dewan komisaris tidak mempermasalahkan itu, karena adanya effesiensi anggaran dan peningkatan performa perusahaan, juga keuntungan perusahaan yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kamu mau menjadikan hal sepele ini menjegal langkahmu ke depan.”
“Aku tahu apa yang aku lakukan, yah. Jadi tidak perlu khawatir, lagi pula ini makan malam keluarga, kenapa Ayah malah membahas perusahaan disini?” tanya Dinan yang kesal dengan keadaan.
Layla yang duduk di sebelah Dinan tampak gemetar. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk disana. Tuan Marc mengembuskan nafas kasar.
“Gimana keadaan kalian di apartemen? Bunda rencananya besok mau ke sana sama Risa, tapi kalian sudah datang duluan.” Bu Eva berinisiatif mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Tuan Marc seketika sadar dengan keadaan. Ia terpaksa mengalah karena tidak ingin tampak kasar di mata Risa yang juga ikut makan bersama mereka.
Di sisi lain, Layla menoleh kepada Dinan. Ia melihat laki-laki itu seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Bu Eva. Membuat Layla berinisiatif untuk menjawab.
“Semuanya baik-baik saja, Bun. Kami sibuk kerja di kantor, jadi baru sekarang bisa ke mari. Keadaan di apartemen baik-baik saja, Pak Dinan sering membantu saya membereskan pekerjaan rumah,” jawab Layla dengan tersenyum. Risa sudah kembali menikmati makan malamnya, tidak memperdulikan hal tadi.
“Kamu sudah ada tanda-tanda hamil, Layla?” tanya Tuan Marc.
Seketika semua orang di meja makan itu menoleh kepada Layla—kecuali Risa yang tetap asyik dengan makan malamnya.
“Ha-hamil, Tuan?” ucap Layla dengan gugup, ia kemudian menggeleng pelan, “belum, Tuan.” Layla kesulitan menelan ludah. Bagaimana mungkin dia bisa hamil? Dinan saja tidak pernah menyentuhnya. Lagipula hal itu memang tidak dia inginkan jika Dinan pada akhirnya ingin membuangnya.
“Kenapa kamu belum hamil juga?” tanya Dinan dengan datar.
Layla menoleh kepada Dinan dengan bingung. Ia seakan bertanya, apa maksud Dinan bertanya seperti itu.
“Kita sudah menikah lebih dari dua minggu. Kenapa kamu belum hamil juga?” tanya Dinan lagi.
Layla melotot marah pada Dinan. Dia tida suka ditanya seperti itu.
“Hamil juga tidak secepat itu, Nan,” timpal Bu Eva yang mengerti Layla berada di posisi sulit. “Banyak pasangan yang baru dikarunia anak setelah bertahun-tahun menikah. Ini kalian baru dua minggu.”
“Ayah sepertinya salah pilih menantu,” ucap Dinan mengabaikan Bu Eva, Layla seketika menelan ludah, apa Dinan ingin mengadukan masalah Bayu kepada Tuan Marc?
“Kamu bicara apa, Nan? Apa yang salah dengan Layla?” tanya Bu Eva yang mengerti dengan tersudutnya Layla disana.
“Seharusnya Ayah memilih menantu yang bisa memberi ayah cucu. Aku tidak yakin bisa punya anak dari dia.” Dinan memperjelas maksud kalimatnya dengan mata menoleh kepada Layla yang gugup melihatnya.
“Dinan, jaga ucapanmu. Apa seperti itu caramu memperlakukan istrimu sendiri?” ucap Tuan Marc memperingati putranya.
Dinan diam, ia tidak menggubris lagi. Sementara Layla tertunduk, ia sangat tidak menikmati makan malam yang menyakitkan itu. Apa Dinan sengaja memojokkannya di depan Tuan Marc dan Bu Eva? Semuanya berlangsung tidak baik bagi Layla malam itu. Setelah makan malam selesai, Dinan langsung mengajak Layla pulang. Laki-laki keras kepala itu benar-benar tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk Tuan Marc sendiri.
__ADS_1