Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 48


__ADS_3

Richard duduk di kursi kerjanya—tepat di depan ruangan Dinan. Laki-laki itu membuka map coklat yang diberikan oleh salah satu orang suruhannya. Laki-laki itu membaca satu demi satu kalimat yang ada di kertas tersebut. Mencoba memahami dan mengingat setiap kata dengan baik.


“Yashinta arli gemala, putri Arlina gemala,” gumam Richard, “jadi dia cucu pendiri yayasan yang tewas dalam kebakaran itu.”


Selembar foto dikeluarkan oleh Richard dari map tersebut. Tampak seorang perempuan muda dengan senyuman manis ke arah kamera. Foto itu diambil dengan kamera hitam putih. Tampak seperti berada di depan penginapan karena ada plang bertuliskan hotel di belakangnya.


“Jadi apa motifmu mengubah penginapan menjadi panti asuhan Bu Yashinta?” tanya Richard pada perempuan di foto itu. Richard tersenyum sinis, sekarang dia tahu siapa pendiri panti asuhan tersebut. Tugas selanjutnya adalah mencari latar kehidupan Herman Barata, si pemilik lahan itu sebenarnya.


Di rumah Tuan Marc, pendiri Marc property tersebut kedatangan tamu yang tak diundang. Seorang perempuan muda yang tampil cantik dengan segala outfit mewah yang dikenakannya. Jenny melangkah memasuki kediaman Tuan Marc dikawal oleh seorang laki-laki penjaga rumah tersebut. Mereka melewati ruang tamu, menuju ruang tengah. Laki-laki itu menuju teras dekat kolam renang. Di sana Tuan Marc tengah membaca laporan dari perusahaan dengan ponselnya.


“Permisi, Tuan. Nona Jenny ingin bertemu anda,” ucap laki-laki penjaga rumah itu kepada Tuan Marc.


Laki-laki tua itu menoleh, ia memandang datar kepada Jenny yang tersenyum manis kepadanya.


“Tinggalkan kami berdua,” perintah Tuan Marc kepada laki-laki tersebut.


Jenny melangkah, ia duduk di samping Tuan Marc dengan santai. “Siang, Om, lama kita tidak bertemu. Terakhir kali sebelum Dinan pergi ke Amerika kalau tidak salah,” ucap Jenny berbasa basi.


Tuan Marc menyembunyikan rasa ketidak sukaannya kepada Jenny. Ia mematikan ponselnya dan menaruh di atas meja. “Gimana kabar ayah dan ibumu, Jen?” tanya Tuan Marc juga berbasa basi.


“Ayah dan Ibu sehat, Om. Aku ke sini membawa kabar baik dari mereka,” jawab Jenny dengan semangat.

__ADS_1


“Kabar baik? Ada kabar apa dari keluarga Barata untukku?” tanya Tuan Marc.


“Ayah dan paman-pamanku ingin melanjutkan apa yang dulu terputus, Om.”


Tuan Marc tersenyum tipis, “antara kamu dan Dinan?” tebaknya.


“Aku sudah bertemu dengan Dinan, Om. Kami sudah membicarakannya, dia bilang sedang memikirkan rencana ini ke depan,” ucap Jenny setengah berbohong, “ada banyak keuntungan untuk keluarga Om dan keluargaku jika rencana ini terus kita lanjutkan, Om.”


“Kamu yakin, Jen? Apa kamu sudah siap menjadi istri kedua Dinan?” tanya Tuan Marc tanpa basa basi.


Jenny setengah kaget mendengar hal itu. Ia menatap Tuan Marc tanpa bisa berkedip sama sekali. “Is-istri kedua, Om? Apa Dinan sudah menikah?”


“Apa dia tidak memberi tahumu? Menantuku itu amat cantik dan baik, dia amat cocok dengan Dinan. Aku rasa Dinan tidak ingin kamu mengganggu istrinya, jadi dia tidak memberi tahumu, Jen.”


“Kamu tanyakan sendiri kepada Dinan, Jen. Jika kamu mau menjadi istri keduanya, aku bisa bertemu dengan ayahmu untuk menentukan hari baiknya,” balas Tuan Marc dengan senyuman yang sinis.


“Om sedang mengejekku?” tanya Jenny dengan kesal, “Apa Om masih sakit hati atas kejadian beberapa tahun lalu?”


Tuan Marc membuang nafas panjang, ia masih bersikap santai. “Aku tidak mau ikut campur dengan masalah anak muda, Jen. Apa yang terjadi dulu, itu adalah masalahmu dengan Dinan. Aku tidak terlibat di sana.”


“Om tahukan Dinan membeli lahan milik keluargaku? Dia membeli lahan bermasalah, lahan itu sebenarnya milik keluargaku. Jika kami menikah, posisi Dinan akan selamat, aku bisa melobi semua keluarga Barata untuk memberikan lahan itu kepadaku.”

__ADS_1


“Dan sebagai gantinya, bisnis keluargaku akan menjadi milik kalian?” tebak Tuan  Marc. “Jen, Marc Property tidak sekecil yang kamu kira. Bahkan aset perusahaanku jauh lebih besar dari aset keluargamu. Nilai bisnis kalian memang besar dari kami, tapi bukan berarti kalian bisa membeli kami hanya karena lahan kecil itu.”


Jenny terdiam seketika. Tuan Marc sebenarnya sudah bisa menebak isi kepala gadis itu. Ia sudah amat berpengalaman menghadapi persoalan bisnis. Ia juga sudah paham bahwa Jenny sedang mencoba memanfaatkan Dinan untuk menyelamatkan posisinya di keluarga Barata. Dia cucu perempuan tunggal di keluarga Barata. Jenny tidak akan mendapatkan apa-apa dari keluarga kaya itu. Semua aset kekayaan akan jatuh kepada sepupu Jenny yang laki-laki. Gadis itu sedang mencoba memanfaatkan nama besar Tuan Marc akan mendapatkan posisi penting di keluarganya.


Menjadi menantu Tuan Marc akan menjadi prestise sendiri bagi Jenny di tengah keluarganya. Apalagi saat ini nama Dinan juga tengah menjadi sorotan oleh pebisnis property, karena Dinan berhasil meningkatkan keuntungan perusahaan dalam kurun  waktu dua tahun terakhir dengan tingkat kenaikan yang besar. Hal itu akan membuat keluarga Barata mempercayakan beberapa bisnis kepada Dinan dan Jenny akan mendapatkan kehormatan sebagai istri Dinan. Namun sayang, apa yang diharapkan Jenny seakan jauh dari jangkauan. Tanpa Dinan, dia hanya akan menjadi perempuan terpinggirkan di keluarga kaya itu.


“Om, aku dan keluargaku selalu menganggap keluarga Om adalah keluarga kami juga. Aku sangat kecewa dengan sikap Om ini,” ucap Jenny yang berusaha menyembunyikan kekalahannya.


“Aku pun sama, Jen, tapi itu dulu, sekarang aku sudah tua, semua keputusan ada pada Dinan. Jadi temuilah dia jika kamu menginginkan sesuatu dari keluargaku ini,” tutur Tuan Marc yang kembali mengambil ponselnya di atas meja.


“Aku pastikan Dinan akan hancur jika dia tidak menerimaku, Om. Lahan itu akan membuat namanya jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia sudah membeli lahan milik keluargaku dari yayasan yang secara ilegal menggadaikannya ke bank. Kita liat apa yang terjadi nanti.” Jenny kemudian berdiri, ia meninggalkan Tuan Marc tanpa pamit sama sekali. Membuat laki-laki itu geleng-geleng kepala.


“Anak itu tidak punya sopan santun sama sekali,” gumam Tuan marc dengan kesal.


Tuan Marc duduk bersandar, sekarang ia merasa resah. Sudah sejauh mana Dinan mengurus lahan itu? Kenapa belum ada kabar juga yang datang kepadanya?


***


Dinan mengusap dahinya dengan kesal. Ia baru saja memecat seorang karyawan lagi. Perempuan itu melakukan kesalahan perhitungan, sehingga membuat perusahaan berpotensi mengalami kerugian. Itu kesalahan fatal bagi Dinan. Membuat para pekerja lapangan berpeluang mengambil uang perusahaan demi keuntungannya sendiri.


Kepala Dinan terasa sakit memikirkan hal itu. Padahal semalam ia dibuat kacau karena sadar dia sendiri juga melakukan kesalahan fatal. Laki-laki itu menggerutu kesal. Ia memejamkan mata, bersandar di kursi kerjanya. Sekarang dia malah memikirkan Layla, sedang apa gadis itu sekarang? Apa Layla tengah berbalas pesan dengan laki-laki itu.

__ADS_1


“Ah, sial!” bentak Dinan seorang diri. Hatinya tidak bisa diajak kerjasama sama sekali. Kenapa sekarang ia malah merasa seperti itu kepada Layla?


Dinan bangkit dari kursi kerjanya. Ia kemudian keluar untuk menenangkan pikirannya yang sulit untuk fokus bekerja.


__ADS_2