Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 10


__ADS_3

Bu Eva tengah menyisir rambut Risa di ruang tengah, ia dan Tuan Marc asyik bercanda menghabiskan waktu bersama, umurnya terpaut hampir 13 tahun dengan Tuan marc. Tapi ia bahagia dengan kebaikan Tuan Marc kepadanya selama ini.


“Ayah! Boneka ini lucu deh, tadi Bunda beliin ini buat Risa di mall.” Risa menggerak-gerakan boneka beruang coklatnya di depan Tuan Marc yang tengah menonton tv.


“Iya, lucu Sayang, sama kayak Risa. Lucu dan cantik.” Puji Tuan Marc kepada putrinya. “Cantik juga, sama kayak Bunda.” Tuan Marc mengusap lembut rambut istrinya.


“Ihh! Ayah ini, suka sekali gombalin bunda.”  Bu Eva mencubit hidung Tuan Marc. Kemudian mereka tertawa riang bersama.


Dinan yang baru masuk rumah dan tengah berjalan ke arah ruang tengah melihat pemandangan itu dengan tersenyum getir. Ia seakan tidak percaya jika perempuan benar-benar bisa memberi kebahagiaan bagi seorang laki-laki. Luka dengan para perempuan itu terlalu dalam di hatinya. Membuatnya membenci setiap perempuan yang ia lihat, termasuk Bu Eva, Ibu tirinya.


Dinan berjalan pelan mendekati mereka, Risa seketika menoleh kepada Dinan. Gadis cilik itu tersenyum, ia melihat kedatangan Dinan dengan mengumbar kebahagiaan.


“Kakak … Yeee! Kakak ke sini lagi.” Lekas Risa berlari menghampiri Dinan, Ia menghempaskan tubuhnya ke tubuh Dinan yang telah berjongkok untuk menyambut pelukannya.


Tuan Marc dan Bu Eva melihat kedatangan Dinan dengan penuh kebingungan, jarang sekali Dinan  datang ke rumah mereka malam-malam seperti itu. Terlihat Dinan mengecup kening Risa dengan penuh kasih sayang, tak hanya sekali, tapi tiga kali. Sungguh Bu Eva dan Tuan Marc terharu melihat kasih sayang Dinan untuk Risa.


“Ini kakak beliin Risa es krim yang gede.” Dinan melepaskan pelukannya dan memberikan sekotak es krim ukuran sedang kepada Risa.


“Yeee! Es krimnya gede!” Risa bersemangat menerimanya, Ia kemudian mengecup pipi Dinan dengan tersenyum. “Terima kasih kakak.”


“Sama-sama Sayang.” Dinan menggendong Risa dan berjalan menuju ruang tengah. Ia mendudukkan Risa diantara Tuan Marc dan Bu Eva. Gadis cilik itu sangat antusias melihat es krim yang dibelikan Dinan.


“Bukain untuk Risa, Bun.” Pinta Risa kepada bundanya.


Lekas Bu Eva mengambil kotak itu dan membukanya, sementara mata Dinan dan mata Tuan Marc saling melempar tatapan tajam.


***

__ADS_1


Disuguhi 2 gelas kopi hangat, Dinan dan Tuan Marc duduk di sofa ruang kerja Tuan Marc. Suasana mereka terasa sedikit mencekam. Bukan rahasia lagi jika hubungan Tuan Marc dan Dinan sebenarnya tidak terlalu baik, terutama setelah Tuan Marc menikah dengan Bu Eva. Dinan memilih pergi untuk melanjutkan kuliahnya ke Amerika.


Dinan baru balik beberapa bulan ini, dan Tuan Marc langsung memberikannya posisi direktur utama melalui rapat pemegang saham luar biasa Marc property. Dan Tuan Marc menjadi dewan komisaris perusahaan. Namun hubungan mereka tak kunjung membaik, Dinan memilih tinggal seorang diri di apartemen, ketimbang kembali ke rumah.


“Jadi ada perlu apa kamu malam-malam ke sini, Nan?” tanya Tuan Marc membuka suara lebih dulu.


“Soal perempuan tadi, Ayah ingin aku menikah denganya’kan? Tapi ada syaratnya.” Dinan berbicara penuh kesinisan. “Semua saham ayah harus menjadi milikku, dan semua aset Ayah dan perusahaan harus atas namaku.”


Tuan Marc tersenyum, “Apa kamu ingin mengambil semuanya tanpa menyisakan satupun untuk Risa dan bundanya? Sejak kapan kamu menjadi seserakah ini sekarang?”


“Sejak Ayah menikah lagi! Risa adikku, aku akan menjaganya, sementara bunda, dia bisa hidup sendiri jika ayah nanti sudah tidak ada,” lanjut Dinan.


Tuan Marc melepas nafas berat, “Kau bahkan terang-terangan berbicara saat aku tidak ada, Nan. Sebenci itukah kau kepadaku?” Mata Tuan Marc berkaca-kaca, tak menyangka Dinan bisa berbicara seperti itu kepadanya.


“Ini kenyataannya, Yah. Entah Ayah atau aku yang duluan mati dan meninggalkan semua harta ini. Jika memang ayah yang duluan pergi, aku tidak akan memberikan sepeser pun dari harta ayah untuk bunda, dan Risa akan hidup denganku,” tutur Dinan dengan dingin.


“Dinan ….” Suara Tuan Marc memberat. “Kau terlalu membenci perempuan, aku yang salah karena selalu memilih perempuan yang salah, hingga akhirnya kamu yang terluka, tapi ku pastikan, Bundamu bukan perempuan seperti yang dulu, dan juga Layla, aku sudah melihat sendiri kehidupannya.”


“Itu salahku Dinan, aku menikahi perempuan yang salah, dan memilih ibu sambung yang salah, tapi percayalah, Eva tidak seperti mereka. Aku juga salah memilih Jenny untukmu, aku terlalu tergiur dengan penawaran bisnis ayahnya dan akhirnya melukai hatimu.”


“Cukup, Yah! Aku tidak peduli lagi dengan semua yang terjadi, perempuan-perempuan itu berhati iblis, dan bagiku mereka semua sama. Aku tidak butuh perempuan dalam hidupku. Aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri menjalani hidupku.”


“Tapi tanpa perempuan, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku.” Tuan Marc sejenak menghela nafas panjang, ia meminum kopinya sejenak dan kemudian kembali melihat Dinan. “Jika kau tidak menikah dan memiliki anak, semua hartaku akan menjadi milik Eva dan Risa, dan kau tidak akan dapat apapun.”


Dinan berdesis, wajahnya meringis menahan geram, “Aku hanya percaya sama adikku, jika ayah benar-benar mendahului kami, aku yang akan menjaga Risa. Biar aku yang mendidiknya untuk menjadi perempuan baik.”


Tuan Marc tertawa mendengar ucapan Dinan, membuat mata Dinan melotot kesal melihat tawa lepas ayahnya. “Apa kamu pikir Risa bisa hidup bahagia denganmu? Dia masih kecil sehingga bisa seperti itu kepadamu, tapi jika dia sudah besar dan bisa berpikir jernih, dia akan memilih bundanya yang baik daripada kakaknya yang tidak bisa mengendalikan emosi.”

__ADS_1


“Cukup, Yah!” Dinan membentak Tuan Marc.


“Sakitku mungkin akan bertambah parah Dinan, tapi cobalah menerima Eva, agar aku bisa tenang meninggalkan dunia ini. Cobalah menerima Layla, aku takkan salah memilih perempuan lagi untukmu.”


Dinan menggigit bibirnya, Ia kemudian berdiri. “Aku akan menikah dengan perempuan itu, dan sebagai gantinya semua yang kuminta tadi. Jangan berikan sepeserpun harta ayah pada Bunda. Sampai kapanpun aku takkan pernah bisa mempercayai perempuan lagi. Mereka semua sama bagiku, pengkhianat dan tidak tahu terima kasih, dipikiran mereka hanya uang-uang dan kenikmatan dunia. Mereka bahkan mau menjajakan tubuh mereka hanya untuk kepuasan nafsu mereka.”


“Tapi laki-laki juga seperti itu, Nan. Kamu terlalu naif menilai semua perempuan seperti itu. Jangan karena hanya semua perempuan yang kamu kenal seperti itu, lalu kamu menghakimi semua perempuan seperti itu.”


“Aku tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi, malam ini aku ingin tidur bersama Risa. Setelah aku menikah, mungkin aku tidak bisa lagi tidur dengan dia.” Dinan kemudian meninggalkan ruangan Tuan Marc.


Kopinya bahkan tidak ia sentuh sama sekali, pikirannya sudah terlalu kalut dengan rasa trauma yang menghantuinya. Tuan Marc bersandar di sofa ruang kerjanya. Ia meremas tangannya sendiri. “Aku yakin Layla bisa mengubah Dinan, aku yang salah, memperkenalkan Dinan pada perempuan-perempuan jahanam itu,” gumam Tuan Marc.


***


Dinan berjalan pelan menghampiri Risa yang tengah asyik memakan es krim bersama Bu Eva. Gadis cilik itu asyik  menyendok es krim dan memakannya, bahkan sampai melumer di bibir kecilnya. Bu Eva melihat Dinan dengan mata datar, ia seperti merasakan kekhawatiran Dinan.


“Sudah selesai bicara dengan ayahmu, Nan?” tanya Bu Eva seraya berdiri.


Dinan tak menjawab, ia menghampiri Risa dan memilih duduk di lantai agar kepalanya bisa lebih rendah dari Risa. Dari sana ia menatap wajah cantik adiknya itu. Umur mereka bahkan berbeda sangat jauh, 23 tahun bedanya.


“Kakak mau?” Risa menawarkan sesendok es krim untuk Dinan.


Dinan tersenyum getir melihat tingkah lucu adiknya, ia membuka mulutnya dan Risa menyuapinya dengan tersenyum senang melihat kakaknya.


“Jika kamu menyayangi Risa, tinggallah bersama kami disini, Nan. Bunda janji, Bunda tidak akan berlaku kasar kepadamu. Belajarlah untuk melupakan bayangan buruk itu, Nan.” Bu Eva buka suaranya kepada Dinan. Ia paham, begitu sulit bagi Dinan membuang kenangan buruk yang telah membekas di ingatannya, bahkan membekas di badannya.


“Malam ini aku akan tidur dengan Risa, Bun,” jawab Dinan yang tak memperdulikan ucapan Bu Eva tadi.

__ADS_1


“Kakak ingin tidur denganku?” Risa bertanya antusias, Dinan  mengangguk menjawabnya. “Yeee!” gadis cilik itu bertepuk tangan dengan riang. Membuat Bu Eva tersenyum melihat kedua anaknya.


*Note : terbit setiap shubuh


__ADS_2