
Layla baru saja selesai memasak sarapan saat Dinan turun dari lantai atas. Laki-laki itu segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Layla memasak ayam panggang dengan sayur tumis sebagai pelengkap. Ia dengan percaya diri duduk di depan Dinan, yakin jika masakannya bisa membuat Dinan ketagihan hingga makan dengan lahap.
“Kamu hari ini masih akan pulang terlambat?” tanya Dinan.
Layla kaget mendengarkan pertanyaan Dinan. “Saya …” ucap Layla terbata. Ia takut jika Dinan tahu dia bertemu dengan Bayu. “Nggak, Pak. Nanti saya pulang seperti biasa, tidak akan telat lagi.”
“Bagus, nanti kita makan malam di rumah ayah.”
Kali ini Layla keheranan mendengar ucapan Dinan, “Apa Bapak dan Tuan Marc sudah baikan?” tanya Layla dengan penasaran. Ia melihat Dinan yang sangat menikmati masakannya.
“Jangan banyak tanya, aku tidak suka jika orang luar tahu banyak tentangku dan keluargaku.”
“Tapi saya istri, Bapak,” sergah Layla dengan spontan.
Dinan tersenyum sinis. Membuat Layla gugup, ia gelagapan untuk menjelaskan.
“Se-setidaknya status saya masih istri, Bapak,” ucap Layla lagi.
“Sampai kapan kamu mau menyandang status itu?” tanya Dinan dengan datar.
Layla mengambil piring, ia terlalu gugup untuk membahas hal seperti ini. “Sampai Bapak memulangkan saya ke kontrakan lusuh yang Bapak bilang.”
“Oh, bagaimana jika hal itu tidak pernah terjadi?”
Layla melihat kepada Dinan. Tangannya berhenti bergerak. “Maksud Bapak? Bapak ingin saya terus disini bersama, Bapak?” tanya Layla dengan gugup.
“Aku sedang berpikir mengirimmu ke neraka.”
Layla seketika menelan ludah. Ucapan Dinan membuatnya kehilangan nafsu makan. Perempuan itu urung mengambil nasi, ia hanya minum air teh yang sudah ia siapkan. Sementara Dinan tampak makan dengan lahap. Laki-laki itu mengangkat kepala, melihat kepada Layla lagi dengan lekat.
“Ayah selalu berkata jangan ubah kucing yang baik menjadi singa yang kejam. Kamu tahu kan maksudnya? Jadi jangan buat kebaikanku menjadi kebencian yang lebih dalam dari ini.” Dinan mengakhiri sarapannya, ia berdiri dan kemudian pergi meninggalkan Layla.
Gadis itu diam membatu disana. Ayah dan anak itu ternyata sama, sama-sama baik dan sama-sama menakutkan. “Apa Pak Dinan tidak suka karena aku pulang terlalu malam dua hari ini?” tanya Layla bertanya-tanya, “lalu aku harus gimana? Mas Bayu juga meminta jatah waktuku untuknya." Layla memegang rambutnya dengan rasa frustrasi.
Sementara Dinan tengah mengetuk pintu apartemen Richarcd. Hanya tiga ketukan, pintu tersebut sudah terbuka. Richard sudah tahu siapa yang datang. Ia lekas keluar seraya memegang tas kerjanya.
“Kita langsung ke kantor?” tanya Richard.
__ADS_1
Dinan tidak menjawab, ia segera menuju lift.
“Kamu sudah memberi Layla pelajaran, Nan?” tanya Richard memastikan.
“Segera dapatkan info dari yayasan, Chard. Kita tidak punya waktu main-main.”
“Itu masalah pekerjaan, sekarang ini belum jam kerja, jadi gimana dengan Layla?” tanya Richard lagi.
“Tidak ada masalah dengan dia, aku tidak mau mengurus hal-hal seperti itu.”
“Dia menginjak-injak harga dirimu, Nan. Aku tidak suka dengan hal itu.”
Dinan mengembuskan nafas kasar. “Kemarin kamu bilang dia itu lebih baik dari Jenny, sekarang malah seperti ini,” keluh Dinan.
Richard menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku kira dia tidak akan bertemu laki-laki itu lagi setelah kalian menikah, tetapi ternyata aku salah, dia perempuan yang juga tidak punya harga diri.” Richard merangkul bahu Dinan dengan akrab. “Ngomong-ngomong, rasa dia gimana? enak nggak?”
“Rasa apa?” Dinan menoleh kepada Richard dengan wajah bingung.
“Rasa itulah, rasa apalagi?”
Dinan masih memperhatikan Richard penuh selidik.
Dinan mendorong wajah Richard yang amat dekat dengan dirinya. “Aku tidak ngapain-ngapain dia.”
“Ha? serius?” tanya Richard tak percaya. “Rugi amat hidupmu, Nan. Udah punya istri malah dianggurin, habisin aja sampai kamu puas, setelah itu baru buang.”
“Aku nggak mau ada Dinan-Dinan berikutnya, Chard. Kamu tahukan dia nggak bisa dipercaya, di belakangku dia berani jalan dengan laki-laki lain. Bahkan dari awal aku sudah mengancam akan membunuhnya jika dia berkhianat. Tapi tetap saja dia melakukannya, dia tak ada bedanya dengan perempuan-perempuan itu. Dan anak-anak yang akan lahir dari dia akan menjadi seperti diriku di masa kecil mereka. Aku tidak mau punya anak yang nasibnya sama buruknya denganku,” jelas Dinan panjang lebar.
Richard terdiam, apa yang terjadi pada Dinan benar-benar membuat laki-laki itu takut untuk memiliki ikatan dengan perempuan. Trauma berat itu harus segera diobati, atau jika tidak, sampai kapanpun Dinan tidak akan pernah mau memulai hubungan. Laki-laki itu akan selalu dihantui bayang-bayang masa lalu.
Richard paham betul akan hal itu, namun ia tidak tahu harus bagaimana membantu Dinan. Sikap keras Dinan tidak bisa ia lawan. Sementara Layla juga membuat dirinya kecewa. Layla sudah masuk ke dalam hidup Dinan, seharusnya gadis itu bisa bersikap lebih baik.
Sementara Dinan sudah sampai di dekat mobil. Ia menunggu Richard yang berjalan jauh di belakang. Laki-laki itu memperhatikan ke sekitar. Ada rasa yang tidak dapat ia pahami di dalam hatinya. Rasa kecewa yang sudah berlalu lama di masa lalu, sekarang kembali menguap ke permukaan. Laki-laki itu mengusap mata. Ia tidak ingin menangis, mengingat seperti apa sakit yang dulu ia rasakan. Termasuk saat Jenny mengkhianatinya, mempermalukannya di depan banyak orang.
***
“Tak banyak yang kami punya, Pak, Ini salah satu dokumen yang masih tersimpan.” Mulia—salah satu pengurus yayasan yang menemui Richard saat laki-laki itu datang mencari informasi.
__ADS_1
“Tidak ada nama pemilik lahan itu, Buk?” tanya Richard, ia memutuskan datang sendiri ke sana, tidak menyuruh orang-orangnya lagi untuk mengurus hal itu.
“Setahu saya namanya Herman. Namanya disebut-sebut oleh petinggi yayasan yang sudah pensiun saat proses lelang kemarin. Surat-surat tentang lahan itu yang diberikan oleh Herman kepada yayasan terbakar sekitar tahun 1999. Kantor Panti itu terbakar, dokumen-dokumen penting ikut lenyap.”
Richard mendengarkan cerita Mulia dengan seksama. “Terbakar? kenapa, Buk?”
Mulia menarik nafas kasar. “Penyelidikan mengatakan karena arus pendek listrik. Tapi pihak yayasan meyakini ada kesengajaan.”
Mata Richard menyipit, Mulia tampak gelisah.
“Kesengajaan, Buk?”
“Ini rahasia, Pak. Jangan bilang kalau saya menceritakan ini pada Bapak. Saya tidak mau yayasan memecat saya.”
Richard mengangguk.
“Saya tidak mau perusahaan Bapak rugi besar karena kelalaian yayasan di masa itu,” lanjut Mulia.
“Saya tidak akan mempersulit posisi Ibuk. Saya hanya butuh informasi tentang pemilik lahan itu,” tutur Richard meyakinkan Mulia.
Mulia menarik nafas panjang. “Keluarga Barata tidak terima Pak Herman memberikan lahan itu kepada yayasan secara cuma-cuma. Itu benar-benar merugikan mereka, nilai lahan itu akan terus meningkat karena posisinya yang amat strategis. Pihak yayasan mencurigai pihak Barata sengaja membakar kantor panti agar surat-surat penting itu hangus terbakar. Sehari setelahnya Pak Herman meninggal karena kecelakaan mobil.”
“Saat itu saya masih muda, tidak paham betul masalahnya. Tapi semakin ke sini, saya menyadari masalah itu amat rumit. Pihak yayasan tidak mau kehilangan lahan itu, jauh sebelum kebakaran itu mereka sudah menggadaikan lahan panti ke bank untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar. Surat kepemilikan yang digadaikan itulah yang dilelang oleh bank dan dibeli oleh perusahaan Bapak.”
“Sementara surat-surat lain termasuk bukti serah terima lahan dari Pak Herman ikut hangus saat kebakaran. Ini kejadian lama, semua yang saya ceritakan ini hanya diketahui oleh beberapa orang yang memang sudah lama mengabdi untuk yayasan.”
Richard mengangguk paham, “lalu, orang yang menyewa tanah itu untuk penginapan dimana sekarang, Buk?” tanya Richard yang teringat akan sesuatu.
“Kabarnya dia ikut tewas dalam kebakaran itu. Ini kejanggalan lainnya, Pak. Mereka terkunci di dalam sehingga tidak bisa menyelamatkan diri. Beberapa pengurus panti tewas, termasuk perempuan itu.”
“Jadi dia perempuan, siapa namanya?” tanya Richard menyelidik.
Buk Mulia tampak tidak nyaman. Ia tidak suka dengan sikap Richard yang seakan tengah menjadi seorang penyidik.
“Saya tidak tahu, mungkin Bapak bisa periksa data kepolisian untuk kasus itu. Ada beberapa perempuan yang tewas. Atau lebih baik Bapak bertanya pada Buk Irma. Dia tahu banyak hal tentang panti itu, termasuk sejarah pendiriannya.”
Richard tersenyum sinis, benar dugaannya. “Bu Irma ya? pengurus panti itu?”
__ADS_1
“Dia sebelumnya bekerja di penginapan itu, setelah berubah menjadi panti, ia ikut mengurusnya hingga sekarang. Dia lebih tahu dari saya dan semua orang di yayasan ini.”
Richard berdiri. Ia kemudian pamit untuk meneruskan pekerjaannya. Informasi dari Mulia membuatnya sampai ke babak baru dari kasus lahan itu.