
Jam kantor hari itu sudah selesai. Layla tak kunjung datang mengantarkan dokumen yang diminta Dinan. Laki-laki itu bahkan berulang kali melihat ke arah jam digital di mejanya. Berulang kali juga ia melihat ke arah pintu. Layla tak kunjung datang di sana. Dinan meremas rambutnya sendiri karena kesal dengan keadaan.
“Kenapa dia tidak datang-datang?” tanya Dinan dengan perasaan resah.
Ia benar-benar menginginkan dokumen itu segera agar bisa menyusun langkah untuk mempertahankan lahan di panti tersebut. Dinan menarik gagang telpon di mejanya.
“Richard, dimana Layla? kenapa dia tidak datang juga?”
“Maaf, Pak, saya tidak tahu soal Layla?”
“Ah, sial, cepat kamu cari di ruang kerjanya,” ucap Dinan dengan suara sedikit meninggi.
Richard mengerutkan dahi karena kesal, “jelas-jelas perempuan itu istrinya, kenapa malah bertanya sama aku coba?” rutunya saat Dinan sudah menutup panggilan.
Richard segera menghubungi Pak Denis untuk menanyakan keberadaan Layla. Sialnya lagi, Pak Denis mengatakan bahwa Layla tidak masuk kantor hari itu. Laki-laki yang selalu setia di depan ruangan Dinan itu mendengus kesal. Perempuan itu benar-benar menyusahkannya saja. Richard segera memberi kabar kepada Dinan akan hal itu.
Dinan sendiri masih menatap telepon di meja kerjanya—menunggu kabar dari Richard. Saat telepon itu berdering, Dinan langsung mengangkatnya.
“Dimana dia?” tanya Dinan dengan nada memburu, ia sudah tahu bahwa itu panggilan dari Richard.
“Dia nggak balik ke kantor lagi, Pak,” jawab Richard.
Belum sempat Richard melanjutkan kalimat, Dinan sudah menutup telepon itu dengan rasa marah yang ingin meluap-luap.
“Dia gagal, dasar perempuan tidak berguna!” makinya dengan kesal.
__ADS_1
Dinan lekas berdiri, merapikan tas kerjanya dan keluar dari ruangan tersebut. Ia mendatangi Richard di depan ruangannya itu.
“Mana kuncil mobil?” tanya Dinan tanpa basa basi.
Richard dengan patuh mengeluarkan kunci mobil dari laci kerjanya.
“Kamu pulang naik taksi,” ucap Dinan dengan datar, “segera dapatkan informasi tentang pendiri panti asuhan itu,” lanjut Dinan memberi perintah.
Dinan berlalu pergi tanpa mendengar jawaban apapun dari Richard. Membuat laki-laki yang sudah mengenalnya hampir 15 tahun itu mengeluh kesal. Sore ini Richard harus pulang dengan taksi seorang sendiri. Ditinggal begitu saja oleh Dinan.
Laki-laki itu mengendarai mobilnya untuk pulang ke apartemen. Mencari Layla yang tak kunjung kembali ke perusahaan. Saat sampai di apartemennya, Dinan memanggil Layla berkali-kali. Suaranya lantang untuk memaksa gadis itu keluar. Ia juga memeriksa setiap ruangan yang ada di apartemennya itu. Nihil, Layla tidak ada di sana. Di dapur, di kamar, ruang tengah, hingga ruang kerja Dinan. Semuanya kosong, Layla tidak ada di sana.
“Pergi kemana dia?” tanya Dinan yang masih kesal dengan keadaan yang jelas sama sekali tidak ia inginkan, “apa dia di rumah ayah?” pikir Dinan.
Namun lekas laki-laki itu menggeleng. Ia bisa menebak kemana Layla pergi. Mobil Dinan kembali melaju kencang memecah jalanan ibukota. Bergabung dengan kendaraan lain yang semakin sore semakin banyak jumlahnya seiring jam pulang kantor. Menghabiskan waktu lebih dari setengah jam di jalanan, Dinan akhirnya sampai di kontrakan Layla yang kemarin ia kunjungi. Laki-laki itu yakin, ia tidak akan salah menebak kemana Layla pergi.
“Aku suruh mengambil dokumen itu, kamu malah menangis disini,” keluh Dinan dengan pemandangan yang ia lihat.
“Jika bapak hanya ingin marah-marah, lebih baik pulang saja,” ucap Layla memberanikan diri menantang mata tajam Dinan yang memandangnya.
Dinan mendorong tubuh Layla ke dalam, kemudian ia ikut masuk dan mengunci pintu itu. Mereka saling melempar tatapan. Dinan tak mengira kalau Layla akan seberani itu menantangnya.
“Aku tidak main-main untuk masalah ini.”
“Saya juga tidak main-main, PAK!” bentak Layla.
__ADS_1
“Kamu jelas salah, malah menantang.”
“Saya memang salah, tapi saya tidak pantas diginikan oleh Anda! Saya sudah berusaha maksimal, tapi anda tetap saja menyalahkan saya, Tuan Dinan,” bentak Layla. Di saat posisinya yang terdesak seperti itu, yang bisa Layla keluarkan hanyalah keberanian untuk membela diri. Ia tidak ingin seperti perempuan di ruangan Dinan tadi pagi yang ditendang seperti sampah oleh Dinan.
“Beginilah perempuan, ia sudah tahu akan kesalahannya, bukannya memperbaiki kesalahan itu, tapi malah mencari alasan untuk membela diri agar dia terlihat benar. Dari awal kamu sudah salah, bukannya segera memperbaiki kesalahanmu, tapi malah membuat kesalahan lain untuk membenarkan kesalahan pertamamu.
“Iya, saya perempuan, yang berhak merasa benar disini bukan hanya anda saja,” balas Layla yang tidak tahu harus bagaimana lagi. “Saya tahu saya salah pak, tapi tolong jangan perlakukan saya seperti ini. Saya sudah memintanya sama Tuan Marc, tapi beliau menolaknya. Saya tidak berani untuk memaksanya mengembalikan dokumen itu. Saya juga tidak bisa menentang anda, tolong jangan buat saya ada di posisi seperti ini.”
Dinan terdiam, berkali-kali ia mengembuskan nafas kasar. Menenangkan emosinya yang tidak suka melihat sikap Layla.
“Kamu memaki saya, kemudian meminta tolong kepada saya, kamu tidak sadar kalau kamu ini benar-benar gila, ha?”
“Saya memaki anda sebagai atasan, dan saya meminta tolong kepada anda karena anda adalah suami saya,” ucap Layla dengan tegas.
Dinan terdiam untuk beberapa saat. Menyisakan hening di antara mereka. Ia mengusap wajah dengan kasar. “Aku tunggu di mobil,” ucapnya dengan pelan dan kemudian meninggalkan Layla seorang diri disana. Gadis itu terduduk ke lantai, menangisi dirinya sendiri. Hatinya terasa amat kacau saat itu.
Pada akhirnya Layla memang memilih melarikan diri. Tidak meminta dokumen itu kepada Tuan Marc dan tidak menemui Dinan lagi di kantor. Entah seperti apa nasibnya nanti. Ia tidak tahu sama sekali. Siapapun tidak ada yang ingin berada di posisi Layla sekarang. Berada diantara hubungan Dinan dan Tuan Marc yang tidak harmonis.
***
Tidak ada yang bersuara di antara mereka saat di dalam mobil. Dinan diam dan fokus ke jalanan. Sementara Layla membuang muka, ia sibuk merenungi dirinya sendiri. Entah apa yang harus ia perbuat untuk memperbaiki semuanya. Ia sungguh tidak tahu. Satu hal yang ia syukuri dari masalah itu adalah adik-adiknya di panti asuhan yang tidak jadi terusir dari sana.
Sesampainya di gedung apartemen, mereka segera naik ke lantai 23. Layla buru-buru naik ke lantai dua apartemen mereka, ia hendak mandi karena yakin keadaannya amat buruk saat itu. Entah seperti apa penampilannya, Layla tidak tahu, yang pasti rambutnya berantakan, matanya sembab dan memerah serta bajunya yang kusut.
“Jangan lupa masak makan malam,” seru Dinan sebelum Layla naik ke lantai dua. Sementara Layla membersihkan diri, Dinan memilih untuk masuk ke ruangan kerjanya. Larut dalam berbagai pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan.
__ADS_1
Mereka sibuk dengan kebutuhan masing-masing, sebelum nanti malam harus membahas masalah itu lagi.