
Layla tengah berdiri di depan lift untuk segera naik ke lantai tiga, gadis itu baru saja selesai mengurus beberapa pekerjaan di lantai satu. Saat menunggu pintu lift terbuka, Jenny tiba-tiba saja datang di samping Layla. Perempuan itu tampak tidak dalam emosional yang baik. Wajahnya terlihat tak bersahabat, seperti sedang menahan marah.
Sekilas Layla melihat perempuan itu, ia ingat wajah Jenny, perempuan yang mengajak suaminya menikah. Mengingat hal itu saja, sudah membuat hati Layla terasa panas. Ia memang kalah jauh dari Jenny, tapi secara paras, Layla merasa tidak kalah, ia hanya kalah soal berdandan dan bergaya. Mana mungkin Layla bisa menyaingi pakaian outfit mahal yang Jenny kenakan, kecuali jika Dinan mau memberinya uang banyak.
Pintu lift terbuka, mereka berdua masuk ke dalam lift yang sama, bersama dua orang lainnya yang hendak ke lantai lima. Layla memencet tombol tiga, karyawan yang lain memencet tombol lima. Sementara Jenny memencet tombol 7, seketika semua orang melihat kepada Jenny yang tak peduli dengan mereka.
Layla menahan kesal, mau apa lagi perempuan itu bertemu dengan Dinan? Entah kenapa Layla merasa panas sendiri memikirkannya. Saat Layla terpaksa keluar dari lantai tiga, ia hanya bisa berbalik badan melihat Jenny yang kemudian menghilang saat pintu lift tertutup.
“Dia mau bertemu suamiku lagi? dasar perempuan tidak tau diri!” bentak Layla yang bingung melampiaskan rasa marahnya.
Langkah Layla tidak beraturan menuju ruang kerjanya. Pikirannya terasa tidak tenang, jika saja Dinan mengakuinya sebagai istri, Layla akan dengan berani menghadang Jenny di sana. Tapi apalah daya, Layla hanya bisa berwajah kesal saat kembali duduk ke kursi kerjanya.
“Kamu kenapa, La?” tanya Emma yang melihat ada perubahan di wajah Layla.
“Nggak apa-apa?” jawab Layla dengan ketus, ia memperhatikan layar komputer dengan wajah yang tak enak.
“Truss kenapa kamu begitu?” tanya Emma dengan penuh penasaran.
“Aku nggak apa-apa, Emma!” ucap Layla dengan nada sedikit meninggi.
Emma kaget dengan sikap Layla, ia memilih diam, sepertinya Layla tidak ingin diusik. Perempuan itu tengah menerka-nerka, apa yang akan diperbuat Jenny di ruangan Dinan nanti.
Sementara Jenny melangkah cepat menuju meja Richard yang tengah sibuk bekerja. Laki-laki itu sibuk mengurus beberapa laporan yang masuk ke mejanya. Ia juga sedang menunggu laporan dari orang suruhannya yang tengah mencari data tentang Herman Barata.
“Aku mau ketemu Dinan, jangan biarkan ada orang yang masuk,” ucap Jenny memerintah Richard.
__ADS_1
Richard menoleh, ia tersenyum sinis melihat Jenny yang melangkah sok berkuasa di sana. Perempuan itu masuk ke dalam ruangan Dinan tanpa mengetuknya lebih dulu. Jenny memperhatikan ruangan yang sunyi itu. Tidak ada siapa-siapa disana, ruangan itu kosong. Jenny melangkah menuju meja kerja Dinan. Kosong, meja itu rapi. Laptop di sana juga tertutup.
“Mana Dinan?” tanya Jenny pada dirinya sendiri. Perempuan itu memutar langkah untuk keluar.
Di depan ruangan Dinan, ia memukul meja kerja Richard dengan marah. “Dimana Dinan? dia pergi kemana?” tanya Jenny dengan kesal.
Richard menoleh sebentar, kemudian fokus lagi dengan pekerjaannya. “Dia keluar,” jawabnya dengan singkat.
“Keluar kemana? dia pergi sama siapa?” tanya Jenny mendesak.
“Aku tidak tahu, apa kamu tidak lihat aku lagi kerja?” Richard bersuara dengan nada yang tetap datar.
Jenny mendengus, Richard pasti tahu Dinan kemana. “Kamu berani membantahku sekarang ya? Aku ini …”
“Kamu tidak punya hak apa-apa disini,” potong Richard dengan kesal, “ini bukan perusahaan keluargamu, jadi jaga sopan santunmu disini.”
Richard mengangkat kedua bahunya. “Pegilah, jangan ganggu pekerjaanku,” ucap Richard yang kali ini balik memerintah Jenny.
“Kamu …” ucap Jenny menunjuk wajah Richard dengan geram, “lihat ya nanti, aku akan suruh Dinan memecatmu!” ancam Jenny yang tidak tahu lagi cara membalas sikap Richard. Gadis itu pergi dengan banyak beban di pikirannya. Jika Dinan benar sudah menikah, posisinya akan semakin tersudut. Ia butuh kekuatan agar posisinya juga kuat di tengah keluarga Barata.
Richard memperhatikan kepergian Jenny dengan tatapan sinis. “Ini belum seberapa dari pada saat kamu mempermalukan Dinan dulu. Kamu akan hancur karena kesombonganmu itu, dasar perempuan tak tahu diri!” maki Richard dengan penuh rasa sakit hati.
Di sisi lain ibukota, Dinan tengah menikmati es krim bertiga dengan Risa dan Bu Eva. Dinan dapat melepas sejenak beban pikirannya saat bisa jalan bersama Risa. Laki-laki itu sangat menyayangi adik tirinya tersebut. Dinan tidak ingin Risa merasakan apa yang dulu Ia rasakan. Karena itulah Dinan amat perhatian kepadanya.
Bu Eva baru saja selesai mengangkat panggilan Tuan Marc, suaminya itu sedikit cemas karena Bu Eva belum juga kembali dari sekolah Risa. Mendengar Dinan mengajak Risa jalan-jalan, Tuan Marc merasa jauh lebih tenang.
__ADS_1
“Ayah bilang apa, Bun?” tanya Dinan saat Bu Eva sudah kembali duduk di samping Risa yang berada di tengah-tengah mereka.
“Dia cemas kenapa Bunda belum sampai di rumah. Tapi dia amat senang mendengar kamu mengajak Risa jalan-jalan, Nan. Ayahmu berpesan untuk singgah sebentar di rumah, dia ingin membicarakan sesuatu denganmu,” terang Bu Eva panjang lebar.
Dinan hanya mengangguk pelan, dia yakin ayahnya mencemaskan tentang lahan panti yang bermasalah itu.
“Nan,” panggil Bu Eva dengan ragu, “kamu dan Layla tidak ada masalahkan? Ibu khawatir kamu tidak nyaman hidup dengan Layla, karena selama ini kamu biasa menjalani semuanya seorang diri,” terang Bu Eva sedikit bimbang.
“Bunda tidak perlu mencemaskan hal itu, cemaskan saja Layla yang tidak nyaman denganku,” ucap Dinan yang sebenarnya dapat merasakan kecemasan Bu Eva.
Dinan paham bahwa Bu Eva mencemaskan Layla yang tidak tahan tinggal bersamanya, namun Bu Eva memutar balikkan kalimatnya agar tidak menyinggung Dinan.
“Satu hal yang harus Bunda pahami,” Dinan melanjutkan kalimatnya, “kalau nanti aku dan Layla tidak bisa bertahan lama, maka jangan salahkan siapa-siapa, aku ataupun Layla.
“Nan, bukalah hatimu untuk Layla. Ayah dan Bunda yakin, dia bisa menjadi istri terbaik untukmu,” ucap Bu Eva seraya mengusap bahu Dinan. Risa sedari tadi tidak mendengarkan percakapan mereka, gadis cilik itu lebih sibuk memperhatikan orang-orang yang sibuk bermain di taman tersebut.
“Bunda bisa bicara seperti itu karena merasa aku bukanlah anak yang baik, kan?” ucap Dinan yang membuat Bu Eva menelan ludah.
“Bukan begitu maksud Bunda, Nan …”
“Tapi bagaimana jika Layla yang tidak bisa membuka hati untukku? karena dia sudah memiliki pilihan lain yang ia cintai,” ucap Dinan melanjutkan kalimatnya.
Kali ini Bu Eva terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Hal itu hanya dijawab Bu Eva di depan Layla secara langsung. “Tapi Layla tidak mungkin mencintai laki-laki lain, Nan, ayahmu sudah memeriksa latar belakangnya dengan baik. Lagi pula Layla itu anak baik-baik, dia tidak mungkin mencintai laki-laki lain selain suaminya sendiri.”
Dinan tersenyum ringan, ia membelai rambut panjang Risa yang tergerai indah. “Seperti itulah ayah menilai perempuan-perempuannya dulu, dia melihat perempuan itu amat baik dan menurut patuh, lalu perempuan itu menerkamku di belakang ayah, persis sama seperti sekarang.”
__ADS_1
“Jadi Bunda jangan pernah berharap aku dan Layla akan bertahan lama. Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak bisa hidup dengan perempuan seperti dia,” ucap Dinan dengan suara sedikit menekan.
Risa seketika menoleh mendengar suara Dinan, wajahnya bingung, kenapa nada suara kakaknya seperti tadi? Namun ia menganggap itu hanya angin lalu setelah Dinan tersenyum hangat kepadanya. Risa kembali memperhatikan keadaan di taman dengan kembali menikmati es krim di tangannya.