
Hari itu Layla menaiki bis untuk datang ke tempat panti yang baru. Sejak anak-anak dipindahkan, Layla sama sekali belum pernah ke sana. Ia ingin melihat seperti apa rumah baru untuk adik-adiknya. Alamat panti yang baru sudah didapatkan Layla dari Emma. Namun sebelum sampai di panti, Layla memilih turun di halte terdekat dengan kantor Bayu. Ia ingin memenuhi keinginan Bayu untuk bertemu dengannya sekali lagi.
Layla masuk ke dalam sebuah kafe dan duduk di pojok dekat jendela. Gadis itu memesan jus jeruk seraya menunggu Bayu yang sudah ia kabari sebelumnya. Selang beberapa saat, Bayu pun datang dengan senyum sumringah. Ia seakan menahan rindu yang sudah mendalam kepada Layla setelah tidak bertemu dua hari belakangan.
Bayu memesan jus jeruk yang sama dengan Layla. Ia duduk di samping Layla dan berusaha merangkul gadis itu. Namun Layla menepis tangan Bayu. Ia memberi jarak untuk duduk mereka. Bayu yang tampak senang seketika kecewa.
“Kenapa, La?” tanya Bayu yang kali ini berusaha memeluk Layla. Lagi-lagi Layla menghindar.
“Aku perempuan bersuami, Mas. Jadi tolong hargai statusku. Suamiku saja tidak pernah seperti ini kepadaku,” ucap Layla dengan tegas.
“La, kita tahu pernikahanmu seperti apa. Jadi kenapa harus membahas statusmu sebagai istri orang lain?” tanya Bayu yang merasa heran dengan Layla. Sikap gadis itu sedikit berbeda dari pertemuan terakhir mereka.
“Aku tahu, Mas. Tapi tolong hargai diriku sebagai perempuan. Aku benar-benar merasa hina saat laki-laki yang bukan suamiku menyentuhku sesuka mereka. Sementara aku sudah bersuami yang memperlakukanku dengan baik. Jadi tolong, Mas. Aku ini bukan perempuan murahan,” tutur Layla.
Bayu mengembuskan nafas panjang. Ia benar-benar kesal dengan keadaan.
“Aku nggak mau lama-lama, Mas. Katakan apa yang Mas inginkan dari pertemuan ini?”
“Aku hanya rindu, La. Kangen sekali sama kamu,” aku Bayu dengan lemah.
“Mas, keadaannya sekarang tidak tepat. Tunggu semuanya selesai, aku akan kembali padamu.”
“Iya, kapan, La? kapan? aku tidak bisa lama-lama jauh darimu. Apalagi saat aku menyadari kamu tidur satu atap dengan laki-laki lain, itu membuatku sakit, La.” Bayu bicara dengan sedikit emosional.
Layla merapikan anak rambutnya. “Aku tidak tahu sampai kapan, Mas. Tapi percayalah, cepat atau lambat semuanya akan berakhir.”
“Iya, berapa lama? seminggu lagi? sebulan? setahun?” tanya Bayu meminta kepastian.
__ADS_1
Kepala Layla menggeleng pelan. Bahkan sekarang ia berharap hubungannya dengan Dinan tidak akan pernah berakhir. Entah dimana ia bisa menemukan suami seperti Dinan yang dalam pandangannya adalah sosok suami yang ia harapkan.
“Aku tidak bisa memastikan hal itu, Mas. Tapi yang aku tahu, cepat atau lambat, dia akan membuangku dari hidupnya. Saat itu aku akan kembali padamu.”
Bayu seketika tersenyum sinis mendengarnya. “Aku hanya jadi tempat pelarianmu saat dia tidak membutuhkanmu lagi, La?”
Layla menelan ludah mendengarnya. Untuk sesaat ia tersentak kaget, mungkin benar itu yang ia harapkan dari Bayu untuk saat ini. Layla berdiri, ia merapikan baju dan rambutnya untuk bersiap-siap pergi.
“Kamu yang membuat semua ini terjadi, Mas. Jika kamu tidak minta kita break saat itu, aku tidak akan diminta untuk menikah dengan dia. Sekarang di saat keadaannya serumit ini, kamu juga melimpahkan semua beban kepadaku seolah-olah aku adalah orang yang mengkhianatimu disini. Aku minta jangan hubungi dan temui aku dulu, Mas. Sampai semua ini selesai.” Layla melangkah pergi meninggalkan Bayu—Laki-laki yang sekarang merasa sakit hati karena sikap Layla. Sejak awal Layla menolak sentuhannya tadi, Bayu sudah terlanjur panas dan kecewa. Sekarang Layla malah menambah kekecewaan itu.
***
“Maaf, Pak Richard, bukannya saya tidak mau membantu, tapi saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hal itu,” ucap Bu Irma saat Richard mengucapkan nama Herman Barata.
“Masa sih ibu tidak tahu tentang keluarga Barata yang memiliki lahan itu?” tanya Richard menyelidik.
“Kira-kira itu tahun berapa, Bu?” tanya Richard lagi.
Bu Irma terlihat berpikir, menghitung sesuatu dengan tangannya. Bibirnya bergerak memperkirakannya.
“Sekitar tahun 1996 atau 1997, Pak. Itu tahun pertama saya masuk ke panti ini.”
“Udah lama juga ya, Buk,” pancing Richard.
“Iya, Pak, sejak saat itu saya sangat mengenal panti ini lebih baik dari siapapun,” jawab Bu Irma yang sudah masuk ke dalam pancingan Richard.
“Berarti ibu tahu betul dong tentang kebakaran di tahun 1999?” tanya Richard lagi yang membuat mata Bu Irma membulat.
__ADS_1
“I-itu, Bapak tahu darimana soal itu?” Bu Irma balik bertanya dengan gugup.
“Ibu hanya perlu menjawab, tak penting saya tahu dari mana akan hal itu.”
Bu Irma memperbaiki posisi duduknya dan berusaha untuk tampak tenang di depan Richard. “Hasil penyelidikan polisi itu disebabkan oleh arus pendek, Pak.”
“Iya saya tahu, tapi ibu tahu kalau pemilik penginapan sebelum panti ini berdiri juga tewas dalam kejadian itu?” tanya Richard yang sinis memandang Bu Irma. Ia seakan sudah mendapatkan kepala Bu Irma untuk tahu tentang perempuan yang juga berada di posisi penting pendirian panti tersebut.
“Itu, saya tidak tahu, Pak. Saya sudah jelaskan saya tidak tahu apa-apa soal pendirian yayasan itu. Apalagi tentang hal yang Bapak tanyakan barusan. Saya tidak tahu tentang perempuan itu,” elak Bu Irma yang kali ini terpaksa membuang muka dari Richard.
Laki-laki itu menahan geram, Bu Irma masih ingin berkilah walaupun sudah berhasil ia jebak seperti itu.
“Oke, kalau begitu saya tanya yang lain. Apa yayasan Putri Gemala adalah milik keluarga atau kerjasama beberapa orang saat itu?” tanya Richard yang lebih memilih mengejar hal lain.
“Yayasan milik keluarga Pak Gemala, Pak. Beliau punya 4 putri, dan yayasan dikelola oleh mereka dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan Pak Gemala,” terang Bu Irma dengan resah.
“Lalu, siapa saja keempat putrinya itu?” tanya Richard lagi.
Bu Irma mulai merasa tak nyaman. Ia mengusap dahi, menandakan ia berada di posisi tertekan.
“Bapak bisa cari sendiri di website yayasan, semua tentang putri beliau ada disana.”
Richard kemudian berdiri. Ia juga merasa tidak enak melihat tingkah gugup Bu Irma. Laki-laki itu kemudian merapikan jas dan dasinya. Ia kemudian pamit meninggalkan ruangan baru Bu Irma. Bu Irma sendiri akhirnya dapat bernafas lega. Ia berkali-kali menarik nafas dan membuangnya untuk menenangkan semua rasa takut yang menghampirinya .
Setiap kalimat yang akan keluar dari mulut Richard, seakan-akan menerornya. Sehingga ia tidak bisa mengendalikan rasa gugup yang menyerang. Richard keluar dari ruangan Bu Irma, disana ia melihat Layla yang tengah memperhatikan panti baru untuk adik-adiknya.
“Kamu menyukai tempat baru ini?” tanya Richard.
__ADS_1