Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 39


__ADS_3

Layla melihat jalan di balik kaca jendela dengan air mata yang menetes perlahan. Sementara Dinan menyetir dengan pandangan fokus ke depan. Mereka sedari tadi diam, tidak yang bicara sejak bergantian pamit mencium kening Risa untuk meninggalkan rumah Tuan Marc. Dinan sesekali melihat ke arah Layla, ia tahu gadis itu tengah bersedih, dan Dinan tidak suka akan hal itu.


“Tidak ada yang perlu kamu tangisi,” ucap Dinan yang akhirnya buka suara.


“Saya memang salah, Pak. Tapi Bapak tidak perlu menyakiti perasaan saya seperti tadi.”


“Aku tidak menyakitimu, kamu saja yang berlebihan,” tukas Dinan dengan datar.


“Perempuan manapun akan tersakiti karena ucapan Bapak. Bapak menghina saya dengan menuduh saya tidak bisa punya anak.”


“Buktinya kamu memang belum hamil, kan?” sergah Dinan.


Layla seketika menoleh, ia amat marah dengan pernyataan Dinan tersebut, “Apa Bapak ini masih anak kecil? apa Bapak ini masih main mobil-mobilan? Apa Bapak tidak tahu bagaimana seorang anak dapat hadir di rahim seorang perempuan?” tanya Layla dengan nafas memburu.


“Bukannya dari awal kamu memang tidak ingin punya anak? kamu tidak ingin dipisahkan dari anakmu, kan? Apa kamu lupa dengan ucapanmu sendiri?” debat Dinan dengan kesal, “lagi pula, jika kamu hamil, apa kamu pikir aku percaya anak yang kamu kandung adalah anakku? Yang aku percaya jika kamu hamil, itu anak laki-laki itu. ”


“DINAN!” teriak Layla dengan lantang, Dinan seketika tersenyum sinis. “Saya memang orang miskin, tapi kamu tidak berhak menilai saya serendah itu!”


“Kamu yang membuatku menilaimu seperti itu, kenapa sekarang kamu malah marah? Lebih baik kamu pikirkan lagi dengan jernih. Mau ayah dan bunda menilaimu tidak bisa punya anak, tidak ada untungnya bagimu, karena kamu akan pergi juga dari keluarga ini. Lalu kamu dirugikan dimana? seharusnya kamu senang karena mereka tidak akan menerimamu, jadi kamu bisa pergi bebas tanpa ada halangan.”


Air mata Layla luruh, ia terisak sedih. Secara logika Dinan memang benar, Tuan Marc bisa saja mencampakkannya tanpa menuntut apapun karena dia tidak bisa memberinya cucu. Tapi sungguh ucapan Dinan tadi membuatnya sakit hati. Seakan dia perempuan mandul, dan kalimat barusan yang menganggap dia seperti perempuan hina.


“Aku sudah memenuhi tujuanmu dari pernikahan ini, yaitu menyelamatkan anak-anak panti. Sekarang giliranmu memenuhi tujuanku dari pernikahan ini. Mengalahkan ayah dan mendapatkan lahan itu,” lanjut Dinan.


“Tapi kalimat yang Bapak ucapkan tadi benar-benar tidak bisa dimaafkan. Bapak merendahkan saya sebagai seorang perempuan.”

__ADS_1


“Dan berkali-kali aku bilang, kamu yang merendahkan dirimu sendiri. Aku sudah bersikap baik padamu, Layla. Sekarang tunjukan sikap baikmu, dan jangan berdebat lagi,” ucap Dinan yang kembali fokus dengan jalanan. Sementara Layla kembali menangis, hatinya terasa pilu dan teriris. Entahlah, gadis itu tidak tahu kenapa ia sama sekali tidak bisa menerima ucapan Dinan itu.


***


Tuan Marc memperhatikan Risa yang tidur nyenyak di ranjang. Bu Eva baru saja selesai menidurkan putri cantiknya itu. Sejak kepergian Dinan tadi, Risa berkali-kali bertanya kenapa Dinan lekas pulang setelah makan malam. Padahal Risa masih sangat merindukan kakaknya itu.


“Bunda mengkhawatirkan, Layla?” tanya Tuan Marc saat Bu Eva berdiri dari ranjang Risa.


“Kata-kata Dinan tadi pasti membuat Layla sakit hati, Yah,” tutur Bu Eva dengan lemah.


“Itu reaksi Dinan atas kelakuan Layla.”


“Maksud Ayah?” tanya Bu Eva dengan bingung.


“Dinan pasti tahu Layla bertemu dengan mantan kekasihnya. Sikap Dinan malah menunjukkan dia cemburu dengan hal itu.”


“Biarkan mereka selesaikan masalah itu dengan pikiran mereka, Bun. Yang pasti Dinan tidak akan pernah menyakiti Layla secara fisik. Kalau secara mental, Dinan pasti terpengaruh dengan luka-luka lamanya. Layla harus bersabar, hingga Dinan bisa membuang masa lalu itu. Ayah yakin, Dinan dan Layla bisa bersatu entah seperti apa caranya. Sikap Layla sangat cocok dengan sikap Dinan. Mereka bertolak belakang dan bisa saling mengisi satu dengan yang lain.”


“Ayah hanya bisa bicara, padahal apa yang dirasakan Layla jauh lebih sakit dari apa yang Ayah pikirkan. Bagi perempuan manapun, dikatai tidak bisa punya anak itu benar-benar menyakitkan, Yah,” tutur Bu Eva dengan kesal.


“Ayah tahu, tapi itu masalah rumah tangga mereka, kita tak boleh ikut campur, Bun.”


***


Sesampainya di apartemen, Layla lekas ke kamar dan langsung tidur. Energinya terkuras habis oleh beban pikiran dan mental. Hatinya terasa masih amat sakit oleh perkataan Dinan. Sekalipun ucapan laki-laki itu adalah untuk membuat Layla bebas dari keluarga Marc tanpa hambatan, tetap saja ia tidak ingin dikatai seperti tadi.

__ADS_1


Layla benar-benar lelah, ia langsung berbaring di ranjang. Dan tak beberapa lama ia terlelap tidur. Semua masalah ia buang jauh dari pikiran. Beban pikiran itu ia buang, agar otaknya tidak terus-terusan bekerja keras mencari jalan keluar. Juga beban mentalnya dapat ia kesampingkan, agar hatinya tidak terus-terusan tersiksa oleh keadaan.


Selama ini Dinan memang baik, tapi tidak untuk hari ini. Laki-laki itu benar-benar menyakiti perasaannya. Sementara Dinan tengah duduk di ruang kerjanya, memperhatikan Richard yang duduk di depannya setelah dipanggil Dinan untuk datang. Keadaan mereka tampak amat serius, terutama wajah Dinan yang tidak bersahabat kepada Richard.


“Kenapa, Nan? Sikapmu seperti di kantor saja, padahal ini bukan jam kerja.”


“Kamu bicara apa sama Layla?” tanya Dinan tanpa basa basi.


“Aku menyuruhnya untuk sadar diri, hanya itu.”


“Lalu dia jawab apa?” tanya Dinan menyelidik.


“Dia bilang dia terpaksa karena kamu ingin membuangnya. Dia ingin bersamamu, sementara kamu ingin dia pergi. Laki-laki itu akan jadi pelampiasannya saat kamu menendangnya dari sini.”


“Berarti kamu sudah mengertikan seperti apa dia?” tanya Dinan dengan alis terangkat sebelah.


“Jadikan dia istrimu yang sebenarnya, aku rasa dia tidak akan kembali pada laki-laki itu.”


Dinan mengembuskan nafas kasar. Richard kali ini membuatnya kesal.


“Untuk alasan apapun, pengkhianatan dan perselingkuhan tidak bisa dibenarkan. Dan sekarang kamu membenarkan apa yang dilakukan Layla. Karena aku akan menendangnya dari sini, lalu dia pergi dengan laki-laki lain sementara denganku dia masih berstatus istri. Apa kamu pikir perempuan seperti itu bisa dipercaya? Dia bermuka dua.”


Richard tersenyum sinis. “Kamu cemburu karena Layla pergi dengan laki-laki itu, kan?”


“Aku pikir dia berbeda, tapi sama saja,” aku Dinan yang tidak bisa mengelak akan hal itu. “Dia berkorban untuk anak-anak panti, aku pikir orang seperti itu sangat memahami betapa berharganya sebuah kepercayaan dan tanggung jawab. Memahami betapa pentingnya menjaga sebuah perasaan untuk sebuah kebahagiaan. Hingga mengorbankan diri untuk kebahagiaan orang lain. Aku kira perempuan seperti itu bisa dipercaya, Chard.”

__ADS_1


Richard terdiam, ia memperhatikan Dinan dengan penuh selidik. Dari dulu Dinan memang tidak bisa ditebak apa yang dipikirkannya. Setiap ia bertindak, hanya dirinya sendiri yang tahu apa yang ia inginkan.


“Mungkin aku terlalu baik kepadanya hingga dia melunjak. Untung saja aku menjaga hatiku agar tidak jatuh cinta lagi pada siapapun," lanjut Dinan.


__ADS_2