
Layla berusaha menghindar dari apa yang ingin dilakukan Bayu kepadanya. Namun Bayu dengan sigap menarik tengkuk Layla dan menariknya hingga wajah mereka begitu amat dekat. Layla tak punya pilihan lain, ia menggunakan tangannya untuk mendorong wajah Bayu menjauh darinya. Ia menepis tangan Bayu dengan kasar.
“La!” Bayu membuka matanya, ia kesal dengan Layla yang mendorong kepalanya dengan kasar untuk membatalkan ciuman yang hendak ia lakukan.
Layla kemudian lekas berdiri, ia tak menggubris sahutan Bayu, ia lebih memilih pergi meninggalkan Bayu dan berjalan cepat menuju tempat mobil Bayu terparkir.
“La! Layla!” Bayu memanggil Layla, namun gadis itu tetap tak menyahutnya.
Bayu bergegas mengejar Layla, ia menarik tangan Layla sebelum gadis itu menarik knop mobil hitamnya. “La … tunggu ….”
“Apaan sih, Mas!” Layla menepis tangan Bayu dengan kasar.
“Kamu jangan marah gini dong, La.” Suara Bayu memelas penuh rasa bersalah.
“Mas itu udah kelewatan, aku nggak mau seperti itu, Mas tetap aja maksa.” Layla melipat tangannya di depan dada, matanya memancarkan raut kejengkelan.
“Ok, La … Aku salah, aku minta maaf. Aku takkan mengulanginya lagi.” Bayu memelas memohon maaf.
“Udahlah, Mas. Mood ku udah hilang, antar aku pulang aja ke kontrakan!” Layla menarik knop mobil dan lekas masuk ke dalam, meninggalkan Bayu yang berdesis kesal dengan apa yang barusan ia lakukan. Ia berharap Layla dapat terbawa suasana dan terbuai dengan suasana sore di pantai. Tapi gadis itu terlalu sulit ia taklukan.
Bayu lekas beralih menuju pintu pengemudi, ia segera masuk dan menghidupkan mobilnya. Mobil mereka meninggalkan pantai dengan kecepatan sedang. Suasana mereka sunyi, tidak ada yang bersuara sedikitpun diantara mereka.
Bayu sesekali melihat kepada Layla, wajah gadis itu masih jengkel. Bahkan sedari tadi, Layla terus membuang muka dari Bayu. Melihat ke sisi lain jalan dengan rasa sedih dan kecewa.
“La … jangan marah lagi. Aku kan sudah minta maaf sama kamu,” sahut Bayu.
Namun Layla tak menanggapinya, gadis itu masih menatap jauh ke luar jendela mobil. Membuat Bayu merasa terabaikan oleh kesalahan yang menurutnya tak seberapa itu.
“La … aku tahu kalau tadi itu salah, aku hanya terbawa suasana. Aku melakukan hal itu karena aku mencintaimu, La.” Bayu masih berupaya melunakan hati Layla yang terlanjur kesal kepadanya.
__ADS_1
“Itu bukan cinta, Mas. Itu nafsu! Jangan bawa kata-kata cinta hanya untuk hasrat binatangmu!” Layla akhinya menanggapi Bayu dengan deru nafas penuh kejengkelan. Ia menatap Bayu dengan mata melotot kesal kepada kekasihnya itu.
“Iya aku tahu kalau kamu tidak menyukai hal seperti itu. Tapi kita ini pacaran, La. Kamu tak seharusnya menutup diri seperti ini dariku. Aku ini pacar kamu, apa salahnya jika kita melakukan itu. Itu bukti cinta, La.” Bayu berargumen dengan suara sedikit menekan kepada Layla.
“Kalau kamu mau, nikahi aku, Mas! Aku sudah sering minta dinikahi sama kamu, tapi kamu terus saja mengelak.” Layla membuang muka lagi dari Bayu dengan perasaan kesal.
Bayu mengusap wajahnya dengan kasar, lagi-lagi masalah itu yang dibahas. Membuatnya merasa Layla sama sekali tidak mengerti dengannya. Padahal ia baru saja dapat pekerjaan setelah di PHK beberapa bulan lalu.
“Ini karirku, La. Kamu ngerti dong. Kamu mau kita menikah truss aku jadi pengangguran? Mau jadi apa rumah tangga kita kalau aku tidak bekerja nanti?”
“Kamu bisa cari kerja lain, Mas. Ngapain kamu bertahan disana, gajinya juga nggak terlalu besar.” Layla menjawab seadanya saja. Ia menoleh dan menatap lekat wajah Bayu yang terlihat juga kesal kepadanya, “Jika kamu belum siap nikah, jangan minta yang macam-macam. Tunggu aja sampai kita menikah nanti!”
Bayu tak menjawab lagi, ia terlanjur geram dengan pendapat Layla yang tidak sejalan dengan cara berpikirnya. Layla terlalu kolot dengan ajaran panti yang masih ia bawa. Tidak selaras dengan budaya pergaulan yang sudah maju mengikuti perkembangan zaman dan budaya barat.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit dari pantai, mereka akhirnya sampai di kontrakan Layla. Gadis itu turun lebih dulu dan Bayu mengikutinya dari belakang. Bayu mengantar Layla sampai ke depan pintu kontrakan kekasihnya itu.
“Sampai sini saja, Mas!” Layla berbalik badan menatap wajah Bayu yang memandang lekat kedua bola matanya.
“Ini sudah malam, Mas. Lebih baik Mas pulang, istirahat.”
“Hmm … Ok, besok kita kemana? Kamu mau ke luar kota? mumpung besok hari minggu.” Bayu mencoba membujuk Layla untuk jalan-jalan bersamanya.
Layla melepas nafas berat, ia masih kecewa dengan kejadian di pantai tadi. “Aku besok mau ke panti aja, Mas. Sudah lama nggak mengunjungi panti. Pasti sudah banyak berubah disana sekarang.”
Bayu menatap Layla dengan raut kekecewaan. “Kalau begitu temani aku malam ini! Kita bisa makan malam dulu di luar, nanti ku antar lagi kamu ke sini, La.” pinta Bayu sedikit memelas.
“Mas dari dulu nggak pernah mau aku ajak ke panti, sekali saja Mas kesana, pasti Mas akan senang bermain sama anak-anak panti.” Layla membuka kunci pintu kontrakan dan segera masuk ke dalam.
Bayu mengekori langkah Layla untuk masuk, kontrakan itu kecil, hanya ada ruang tamu sederhana, dapur, kamar mandi, dan satu kamar Layla. Bayu duduk lesehan di ruang tamu kontrakan Layla seraya bersandar ke dinding. Ia perhatikan Layla yang melepas sweater merah muda yang di pakai gadis itu seharian tadi.
__ADS_1
“Aku sudah minta Mas untuk pulang, tapi Mas malah masuk ke dalam. Mas nyaman duduk di kontrakan lusuh gini?” Layla sejenak menatap wajah Bayu yang tersenyum sengir kepadanya.
“ini kan kontrakanmu, masa aku nggak senang bersama kamu disini.”
“Mas itu kan anak orang kaya, ayah Mas aja pensiunan di kementerian.” tukas Layla dengan lemah. Mungkin itu salah satu penghambat antara ia dan Bayu. Tapi perbandingan karir mereka, sebenarnya mereka cukup sebanding, bahkan karir kerja Layla jauh lebih bagus daripada Bayu.
“Yang pensiunan kementerian itu ayah, bukan aku! Jangan kamu bandingkan begitu, La. Aku nggak suka.” Bayu melenguh panjang, menatap kesal kepada Layla.
“Ya udah. Mas mau minum apa, biar aku buatkan, tapi jangan minta kopi, ya!” sahut Layla berkacak pinggang menatap Bayu.
“Ahh! Kamu ini, malah nanya mau minum apa, kalau kamu nggak ada kopi, ya sudah pasti teh lah, La.” Bayu mencibir Layla menahan rasa gemasnya kepada gadis itu.
Layla tersenyum sengir, ia turunkan tangannya dari pinggang. “Mas tunggu sebentar, ya. Aku buatkan dulu tehnya ke dapur.” Layla berjalan meninggalkan Bayu, ia menyibak kain pembatas ruang tamu dan dapur. Lekas ia menghidupkan kompor dan memanaskan air.
Sementara Bayu tersenyum sinis, ia berdiri dan menutup pintu kontrakan Layla, tak lupa ia menguncinya. Akhirnya kesempatan itu datang juga untuknya. Sudah terlalu lama ia menunggu kesempatan untuk memiliki Layla seutuhnya.
“Sudah cukup kamu menolakku, La. Malam ini akan menjadi malam pengantin kita lebih awal. Setelah ini aku yakin, kamu akan ketagihan denganku dan tidak akan ada yang bisa merebutmu dariku.” Bayu bergumam dengan penuh kesinisan. Ia merapikan kaos putih yang ia pakai. Kemudian lekas ia menyibak kain pembatas dapur dan ruang tamu.
Terlihat disana Layla tengah berdiri melipat tangan di depan dada, gadis itu fokus memandang air yang tengah ia panaskan. Bayu tersenyum tipis, ia mendekat kepada Layla yang membuat gadis itu menoleh kepadanya.
“Kenapa Mas kesini? Mas tunggu aja di luar, ini sebentar lagi airnya mendidih kok.” Sahut Layla seraya menurunkan tangannya dari dada.
Bayu tak menggubris Layla, ia semakin mendekati gadis itu dan menghempaskan tubuhnya pada tubuh Layla yang lebih kecil darinya.
“Mas kenapa?” tanya Layla yang merasa tak nyaman dengan tubuh Bayu yang mendorongnya hingga ke dinding dapur.
“Aku cinta sama kamu, La. Aku sayang sama kamu, malam ini akan menjadi malam kita untuk membuktikan cinta ini.” tutur Bayu dengan nafas yang memberat. Tangannya bergerak mengusap punggung Layla.
Layla lekas menghentikan tangan Bayu, ia berusaha menghindar dari wajah Bayu yang memburu wajahnya. “Mas!” Layla berusaha mendorong tubuh Bayu dari sisinya.
__ADS_1
“Percaya sama aku, La. Aku akan bertanggung jawab, Ini janjiku padamu.” Hembusan hangat nafas Bayu menghempa wajah Layla. Namun gadis itu masih berusaha memberontak. Bayu tersenyum sinis melihat Layla yang masih berusaha meronta melawan tenaganya.
“Kita nikmati malam ini dengan penuh kehangatan sayang.” ujar Bayu.