
“Iya, karena tanpa nikah pun, kita juga bebas melakukan apa pun!” ucap Bayu kepada Layla.
Layla mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Bayu. “Udah, Mas! Aku lagi banyak pikiran, kalau Mas memang mau kita break dulu, oke, aku terima. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, aku sekarang tengah terancam dipecat oleh kantor, dan Mas malah tidak memberi pengertian sedikit pun untukku.” Layla berdiri, ia lekas menuju kasir kafe dan membayar makanan mereka.
Layla kemudian pergi meninggalkan Bayu yang hanya bisa mengepalkan tangannya menahan rasa geram. Layla lekas menuju halte yang ada di dekat kafe tersebut untuk menunggu bis kota. Sudah menjadi rutinitas Layla setiap hari, ia harus naik bis kota setiap pagi dan sore untuk menuju ke kantornya. Kontrakannya memang cukup jauh dari kawasan elit perkantoran tempat Marc property berada. Itu pun dipilih Layla untuk menghemat uang yang ia punya, walaupun jauh, tapi biaya kontrakannya jauh lebih murah daripada kontrakan di dekat kawasan perkantoran itu.
Layla duduk, bersandar di halte bis kota seraya menatap kosong ke jalanan yang macet. Ia menunggu bis kota bersama penumpang yang lain. Andai saja Bayu sedikit mengerti dengan dirinya, mau mengantar jemputnya dari kontrakan ke kantor, mungkin bebannya bisa berkurang. Tapi Bayu hanya bisa mencintainya, tanpa bisa berkorban untuknya.
Ahh! Pikiran Layla malah berpikir yang tidak-tidak tentang kekasihnya itu. Mungkin mereka memang harus break untuk sejenak, menenangkan diri dan mengintrospeksi kesalahan masing-masing. Seraya Layla berharap, Bayu bisa berubah.
Tepat di depan Layla duduk, sebuah mobil hitam mewah keluaran Jerman tengah terjebak kemacetan. Di dalamnya Dinan memandang wajah Layla dari kejauhan. Ia masih ingat dengan wajah yang tadi membuatnya terjatuh tersungkur ke lantai, laki-laki itu masih menahan kesal kepada Layla. Dinan tersenyum sinis memandang wajah Layla yang melamun menunggu Bis.
“Kamu sudah mengirim surat pemecatan untuk perempuan yang menggangguku tadi sore, Chard?” Dinan membuka suaranya kepada Richard yang duduk di kursi kemudi.
Sejenak Richard memandang wajah Dinan yang duduk di kursi tengah. “Saya sudah mengirim surat kepada Pak Denis, Pak. Tapi beliau bilang, Tuan Marc punya kepentingan dengan perempuan itu, jadi Pak Denis tidak bisa memecatnya.” jawab Richard dengan sopan.
“Kepentingan? Ada kepentingan apa ayah dengan dia?” tanya Dinan yang masih menatap wajah Layla.
“Saya tidak tahu, Pak.”
“Apa itu ada hubungannya dengan lahan panti yang tadi diminta ayahku untuk kita tunda dulu projeknya?” Dinan kembali bertanya. “Apa kamu tahu perempuan itu ingin bicara apa dengan aku tadi?” pertanyaan Dinan memburu penjelasan dari Richard.
“Ma—maaf, Pak. Saya tidak tahu dia bawa dokumen apa, tadi saya minta taruh di meja saya, dia malah ngotot ingin bicara langsung dengan anda, Pak.”
Bis yang ditunggu Layla datang dan berhenti tepat di depan halte, menutupi pandangan Dinan kepada Layla. Saat Bis sudah berjalan, Layla sudah tidak terlihat lagi disana, Dinan melepas nafas kasar. Bangku yang tadi diduduki Layla sudah kosong. Sementara Bis tersebut berjalan di jalur khusus, Dinan dan Richard masih terjebak di tengah macet.
“Saya ada informasi buruk, Pak. Saya belum membicarakan hal ini dengan Anda.” Richard melanjutkan pembicaraan mereka.
“Informasi apa, Chard?”
“Tentang Nona Jenny, Pak. Dia sepertinya sudah tahu jika anda sudah pulang dari Amerika.” tukas Richard.
__ADS_1
“Cepat atau lambat dia pasti akan tahu jika aku sudah pulang, jadi tidak perlu dibicarakan lagi. Jangan bahas lagi tentang dia, Chard! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa percaya lagi dengan perempuan. Semua perempuan itu sama, tidak ada beda sedikitpun,” tukas Dinan dengan tegas.
Richard diam, ia tidak ingin melawan sedikitpun kepada Dinan. Sekarang ia lebih memilih fokus melewati kemacetan. Mengantar Dinan untuk segera sampai ke apartemennya.
***
“Buk! Mana dokumen kemarin? Pak Dinan mencari dokumen itu!” Suara seorang laki-laki terdengar jelas di telinga Layla yang tengah sibuk bekerja.
Layla memutar kepalanya, memandang sosok laki-laki yang sekarang tengah berdiri di dekat meja kerjanya. Ia ingat, laki-laki itu adalah orang yang kemarin memberikan dokumen tentang projek di lahan pantinya.
“Dokumennya sedang di pegang Tuan Marc, Pak. Beliau belum mengembalikannya sama saya,” jawab Layla dengan sedikit rasa bersalah.
“Ha! Sama Tuan Marc? Kok bisa Buk? Tuan Dinan meminta dokumen itu sekarang.” Staff building manager tersebut tampak cemas.
“Aduh! Gimana ya, Pak? Saya juga bingung, Tuan Marc membawa dokumen itu kemarin.” Layla menatap lekat wajah staff itu yang tampak gelisah. “Bilang saja nama saya kepada Pak Dinan, Pak. Bapak jangan khawatir, saya akan tanggung jawab kok.”
“Iya! Ibuk memang harus tanggung jawab, Ibuk tahu sendiri seperti apa Pak Dinan, kan? Saya bisa dipecat kalau dokumen itu hilang.” Staff tersebut kemudian pamit dengan membawa rasa kesalnya.
“Sstt! La … Layla!” Suara Emma setengah berbisik memanggil Layla.
Layla menoleh kepada Emma yang duduk tak jauh dari posisinya, Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya ada apa. Layla melepas nafas panjang, “Dokumen kemarin diambil Tuan Marc. Kamu lihat sendirikan kemarin?”
Mulut Emma membulat membentuk huruf O, “Truss, gimana? Apa kamu jadi bertemu Pak Dinan kemarin?”
Layla menggeleng pelan, ia menatap lekat wajah Emma yang penasaran menunggu jawabannya. “Aku terancam dipecat, Ma,” tutur Layla yang membuat mata Emma membulat kaget.
“Layla ….” Suara seorang laki-laki memanggil Layla.
Lekas Layla mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Pak Denis yang memanggilnya. “I—iya, Pak,” jawab Layla dengan sedikit gugup.
“Ke ruangan saya, ada yang perlu kita bahas,” perintah Pak Denis.
__ADS_1
“Ba—baik, Pak.” Layla lekas berdiri, meninggalkan Emma yang menatapnya keheranan.
“Layla dipecat? ya Tuhan, tuh anak udah dibilangin, masih aja tetap kekeh bertemu Pak Dinan,” gumam Emma kepada dirinya sendiri.
Sementara Layla berdiri di depan meja kerja Pak Denis seraya meremas tangannya dengan gugup, ia pandangi raut wajah Pak Denis yang terlihat gelisah. Apa Pak Denis ingin menyampaikan kabar pemecatannya? Layla benar-benar takut akan hal itu. Padahal posisinya di induk perusahaan Marc property itu sudah cukup bagus.
“Ada masalah apa kamu sama Pak Dinan dan Tuan Marc, La? Dokumen apa yang kemarin kamu berikan kepada Tuan Marc kemarin?” tanya Pak Denis dengan datar.
“Itu dokumen salah satu projek perusahaan, Pak.”
“Jangan mencampuri apa yang bukan menjadi urusanmu, La. Apa lagi kemarin kamu selancang itu meminta Tuan Marc untuk tidak menggusur panti di lahan itu,” tukas Pak Denis dengan tegas.
“Maaf, Pak,” ucap Layla dengan lemah.
“Pak Richard menyuruhku memecatmu, suratnya sudah masuk ke bagian personalia, tapi Tuan Marc menahannya. Makanya sekarang kamu masih bisa bekerja. Untuk lahan itu, jangan minta yang aneh-aneh lagi!
"Sekarang pergi ke lantai 7, temui Tuan Dinan, minta maaf atas semua kesalahanmu. Dan satu lagi, segera ambil dokumen itu dari Tuan Marc dan berikan ke bagian building manager, bagaimana pun caranya. Jangan buat masalah seperti ini lagi, Layla!”
Layla menelan salivanya, ia hanya ingin menyelamatkan pantinya. Apa itu salah? Ahh! seketika Layla teringat kepada Bayu. Disaat dia butuh dukungan laki-laki itu, Bayu malah minta break dan meninggalkannya seorang diri menanggung semua masalah itu. Tak ada keluarga tempat bersandar, tidak ada teman tempat mengadu, Layla benar-benar seorang diri menghadapi semua masalahnya selama ini. Termasuk masalah yang membuatnya terancam dipecat sekarang.
Layla pamit meninggalkan ruangan Pak Denis, ia melangkah menuju lift. Layla sama sekali tidak menghiraukan pandangan rekan kerjanya serta Emma yang melihatnya penuh penasaran dengan apa yang dibicarakan Layla dengan Pak Denis.
Layla naik menuju lantai tujuh dengan langkah lemah dan wajah tertunduk. Sudah habis karirnya disana, ia harus mencari pekerjaan baru lagi. Tapi akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan sebagus pekerjaannya sekarang.
Saat Layla keluar dari lift di lantai 7, ia berjalan menuju meja Richard yang sibuk bekerja seperti biasa. Layla berjalan gontai, ia mendekati meja Richard dan menunduk memberi hormat.
“Si-siang Tuan!” Sapa Layla menahan rasa takutnya.
Richard mengangkat kepalanya, ia tersenyum kesal melihat wajah Layla yang tertunduk lemah di depannya. Richard kemudian berdiri dan mengetuk pintu ruangan Dinan tanpa bersuara apapun. Ia masuk ke dalam, meninggalkan Layla yang bergidik takut dengan keadaan.
Setelah Richard keluar, ia melihat sinis kepada Layla. “Pak Dinan menyuruh Lo masuk, siap-siap saja menerima kemarahannya,” tutur Richard penuh intimidasi.
__ADS_1
Layla menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang, romanya berdiri menahan rasa takut. Apa hari itu karirnya akan habis? Dan Ia akan melihat amarah Dinan yang berapi-api, seperti gosip yang beredar. Walaupun sejatinya tidak ada yang pernah melihat amarah Dinan itu secara langsung.