Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 44


__ADS_3

Layla antusias melihat panti baru yang menurutnya jauh lebih baik dari panti yang lama. Secara ukuran, panti yang sekarang jauh lebih luas dari sebelumnya. Untuk gedung, keadaannya juga lebih baik karena panti lama yang tidak pernah di renovasi untuk pembaruan sarana. Yayasan tidak mau membuang uang untuk lahan yang jelas tidak akan mereka miliki.


Di beberapa sisi, Layla melihat ada pembangunan yang berjalan. Menurut adik-adiknya yang tadi menemani Layla, masih banyak fasilitas baru yang sedang dibangun untuk mereka. Anak-anak polos itu tampak bahagia dengan tempat baru tersebut. Mereka seakan menemukan rumah baru, meninggalkan rumah lama yang sempit untuk 67 anak-anak. Jika di tempat lama mereka tidur berdesak-desakan di kamar, di tempat baru ini mereka punya kasur sendiri-sendiri. Bahkan sekarang ada dua bus yang menjadi inventaris panti yang siap mengantar mereka pulang pergi ke sekolah setiap hari.


Layla ikut bahagia melihat kegembiraan adik-adiknya. Ia bahkan ingin menemui Dinan saat itu juga dan berterima kasih atas kebaikan suaminya itu. Saat Layla ingin menemui Bu Irma di kantornya, Layla mendengar suara laki-laki yang bisa ia kenali sebagai suara Richard. Percakapan di dalam amat serius, membuat Layla mengurungkan niat untuk masuk. Layla memilih untuk berdiri di luar, melihat anak-anak panti yang sudah pulang sekolah bermain di taman.


Selang beberapa saat, Layla mendengar suara pintu ruangan Bu Irma terbuka, gadis itu tak menoleh, ia tetap melihat adik-adiknya di halaman sana.


“Kamu menyukai tempat baru ini?” tanya Richard.


“Tempatnya bagus, Pak. Anak-anak sangat menyukai tempat ini,” jawab Layla tanpa menoleh.


“Pak Dinan sudah amat baik kepadamu, kan? Dia menepati janjinya dengan baik,” tukas Richard dengan santai.


“Iya, Pak. Saya sangat berterima kasih kepadanya. Setiap hari yang saya lihat darinya hanya sikap dan kebaikan hatinya untuk saya dan hari ini untuk anak-anak panti.”


Richard tertawa tipis. Kali ini Layla menoleh karena tidak suka mendengar tawa Richard yang terdengar mengejek.


“Apa ada yang salah dengan ucapan saya, Pak?” tanya Layla dengan kesal.


“Kamu mau berterima kasih? Apa kamu sedang bercanda? Semua yang kamu lakukan hanya menyakiti Pak Dinan, termasuk tadi kamu bertemu lagi dengan laki-laki itu. Apa kamu pikir aku tidak melihatnya sebelum sampai ke sini, Layla?” tanya Richard dengan sinis. Richard memang melihat Layla dan Bayu bertemu di kafe. Mobilnya tepat berhenti di depan kafe tersebut saat menunggu lampu merah menjadi hijau.


Layla menelan ludah. “Saya tadi hanya ingin memintanya untuk tidak menemui saya lagi, Pak. Itu semua saya lakukan karena saya lebih memilih Pak Dinan,”ucap Layla dengan jujur.


“Dan kamu pikir aku percaya? perempuan sepertimu benar-benar menyusahkan saja, selalu berkilah untuk menyelamatkan dirimu sendiri.”

__ADS_1


“Saya jujur, Pak, saya benar-benar memintanya untuk tidak mengganggu saya lagi,” ucap Layla dengan nada sedikit meninggi.


“Terserah kamu, aku sekarang hanya penasaran dengan Tuan Marc, entah mengapa dia masih mempertahankanmu sebagai istri Pak Dinan.” Richard kembali membuat Layla takut.


“Maksud, Bapak?”


“Jika aku dan Dinan tahu kamu bertemu dengan laki-laki lain. Apa menurutmu Tuan Marc tidak tahu? Dia gagal menikah tiga kali, dan menjodohkan Dinan dengan perempuan yang salah juga. Apa menurutmu dia tidak mengawasi menantunya ini untuk menjaga hati putranya?” tanya Richard mengintimidasi, “Tuan Marc selalu berada selangkah di depanku dan Dinan. Termasuk tentang dirimu, karena itu Pak Dinan tidak menerima saran Tuan Marc dalam menyelesaikan masalah lahan itu. Pak Dinan capek selalu berada di bawah bayang-bayang ayahnya.”


Layla seketika menjadi lemas. Apa Tuan Marc tahu dia jalan berdua dengan Bayu?


“Tunggu saja bagianmu, Layla,” suara Richard santai, namun cukup membuat Layla menelan ludah, “Aku harus balik ke kantor, jangan lupa masakan makan malam yang enak untuk Dinan,” ucap Richard sebelum berlalu pergi meninggalkan Layla yang dibaluti rasa takut.


Gadis itu dibuat tak karuan oleh ucapan Richard barusan. Jika Tuan Marc tahu hal itu, sudah pasti nasibnya akan habis. Laki-laki itu pasti tidak akan memberinya maaf sedikitpun. Layla terdiam lama memikirkan itu semua. Untuk kemudian salah satu teriakan adiknya yang tengah bermain membuat Layla sadar akan keadaan. Ia mengusap matanya yang terasa perih. Kemudian berbalik badan untuk masuk ke ruangan Bu Irma.


“Permisi, Bu!” sapa Layla menghampiri Bu Irma.


Perempuan itu mengangkat kepala, “Eh, Layla, akhirnya datang juga, ibu kira kamu tidak tahu tempat baru kita,” sahut Bu Irma, ia menutup bukunya.


“Masa aku nggak tahu, Bu. Kan suamiku sendiri yang memilih tempat ini,” ucap Layla setengah bercanda—walaupun sebenarnya ia tahu tempat itu bukan dari Dinan.


“Pak Dinan memilihkan tempat yang bagus dan nyaman, La. Kamu sendiri sama Pak Dinan gimana? Apa tidak ada masalah dalam pernikahan kalian?” tanya Bu Irma dengan nada menyelidik.


Layla menggeleng pelan, “Pak Dinan benar-benar orang baik, Bu,” ucap Layla dengan semangat, “Dia sering masak sarapan sendiri kalau aku terlambat bangun, dia juga tidak manja dan meminta aku menyiapkan semua keperluannya. Dia memang menyuruhku membereskan pekerjaan rumah, tapi saat aku lalai, dia tidak marah dan mau mengerjakannya sendiri. Dia pengertian sekali, Bu. Bahkan kemarin dia merawatku saat sakit.”


"Sakit apa, La?" tanya Bu Irma yang tampak khawatir.

__ADS_1


"Cuma demam kok, Buk."


Bu Irma lega mendengarkan penjelasan Layla. Kekhawatiran sejak awal tentang pernikahan Layla sekarang sudah terobati. Bahkan ia hanya bertanya dengan satu kalimat, lalu Layla menjelaskan panjang lebar. Itu sudah cukup menjelaskan bahwa Layla nyaman dengan pernikahannya.


“Lalu pekerjaanmu gimana? Apa tidak terlalu membebani dirimu dengan status istri direktur?” tanya Bu Irma lagi.


Kali ini Layla menggeleng, wajahnya sedikit berubah. Apa suatu hari nanti Dinan mau mengakui dirinya sebagai istri di depan semua orang?


“Tidak, Bu, semuanya berjalan lancar,” jawab Layla, “oh, ya, Bu. Ngomong-ngomong apa Pak Dinan atau Pak Richard pernah menemui Ibu untuk tanya tentang sesuatu?” tanya Layla.


Bu Irma membuang muka, ia tampak sedikit gugup jika membahas masalah itu. Ada selang waktu yang cukup lama saat Richard keluar hingga Layla masuk ke ruangan itu. Sehingga Bu Irma tidak tahu bahwa Layla melihat Richard disana.


“Ibu bingung, La. Mereka bertanya tentang yang ibu tidak tahu,” keluh Bu Irma.


“Setidaknya beri mereka informasi yang ibu tahu. Itu akan membantu Pak Dinan untuk mendapatkan lahan itu, Bu. Apalagi lawan mereka adalah keluarga Barata. Mereka orang yang …”


“Kamu kenal keluarga Barata, La?” tanya Bu Irma dengan cepat memotong kalimat Layla. Wajahnya tampak panik disana.


“Mereka keluarga terkenal, Bu. Masa aku tidak tahu tentang mereka, bisnis mereka tersebar hingga luar negeri. Tapi bagi beberapa pebisnis, keluarga mereka dikenal buruk karena persaingan bisnis tidak yang sehat.”


“La, hindari mereka, jangan ikut campur dengan urusan Pak Dinan yang menyinggung tentang mereka. Mereka itu orang-orang jahat, La,” ucap Bu Irma yang tampak semakin khawatir.


Layla tersenyum seperti biasa. “Ibu tenang saja, Pak Dinan pasti bisa mengatasi mereka, untuk itu ibu perlu memberi Pak Dinan informasi yang ia butuhkan.”


“Semua ini rumit, La, ibu tidak mau terlibat, termasuk kamu, jangan ikut-ikutan masalah mereka,” tutur Bu Irma.

__ADS_1


__ADS_2