Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 46


__ADS_3

Setelah Richard pergi, Layla menyusul Dinan ke lantai dua. Ia merasa benar-benar bersalah kepada Dinan, namun disisi lain ia juga berharap agar Dinan tidak salah paham. Dengan cemas Layla melangkah menghampiri Dinan yang duduk di kursi santai dinding kaca apartemen mereka. Layla tahu Dinan tidak akan marah kepadanya. Namun hal itulah yang terus membebani Layla. Bagaimana mungkin ia terus membuat kesalahan kepada orang yang tidak pernah marah kepadanya?


“Pak,” lirih Layla seraya memegang bahu Dinan yang tengah memejamkan mata di kursi santai.


Laki-laki itu membuka mata dan kemudian duduk dari sandaran kursi.


“Sepertinya kita harus beli satu kursi lagi untukmu,” ucap Dinan saat matanya terbuka.


“Bapak marah sama saya?”


“Marah untuk apa?” Dinan balik bertanya.


“Saya tadi memang bertemu dengan laki-laki itu, Pak. Saya meminta dia untuk tidak mengganggu saya lagi karena saya sudah menikah dengan, Bapak,” terang Layla.


Dinan kembali bersandar ke kursi santainya. “Tak perlu kamu jelaskan, apapun alasanmu, aku tidak akan percaya,” ucap Dinan yang seketika menusuk hati Layla.


Ini yang lebih memilukan ketimbang Dinan memarahinya. Jika Dinan marah, mungkin Layla hanya akan sakit hati mendengar caciannya, tapi jika seperti ini, perempuan itu malah dibebani rasa bersalah yang tak tahu ujungnya.


“Saya ingin belajar menjadi istri yang sempurna untuk, Bapak, jadi saya akan melupakan semuanya tentang dia,” ucap Layla lagi.


“Terserah kamu, sekarang pergi, aku mau istirahat,” ucap Dinan yang sudah memejamkan matanya lagi.


“Apapun yang Bapak inginkan dari saya, akan saya berikan, tapi tolong jangan membenci saya, Pak. Dari awal saya tidak pernah ingin menyakiti Bapak, saya tahu saya salah karena menemui dia. Tapi saya sudah sadar dan tidak akan mengulanginya lagi.”


“Aku mau istirahat, Layla. Apa kamu tidak mengerti dengan kalimat sesingkat itu?” Dinan bersuara dengan tegas.


Layla mengangguk pelan, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata kanannya. Gadis itu menarik nafas dan kemudian pergi dengan perasaan yang hancur. Jika seperti ini, akan semakin sulit untuk Layla membuat Dinan untuk percaya kepadanya.

__ADS_1


Sepeninggalan Layla, Dinan kembali membuka mata. Laki-laki itu mengembuskan nafas panjang. Ia mengurut dahinya dengan pelan. Sesaat kemudian laki-laki itu mengusap dadanya. “Jangan lagi, aku mohon, aku ingin hidup tenang tanpa merasakan rasa sakit lagi,” lirihnya dengan dada yang sesak.


***


Dinan baru saja selesai mandi, ia sudah berpakaian rapi dan turun ke lantai satu. Dinan lekas melangkah menuju dapur. Di sana Layla baru saja selesai masak. Cumi-cumi saos tiram dengan sayur tumis sudah tersaji dengan aroma yang menggugah selera. Layla berharap makanannya bisa dilahap Dinan hingga habis nanti malam.


Saat Dinan datang, laki-laki itu langsung mengambil gelas dan meminum segelas air. Layla memandang Dinan dengan tersenyum. Ia berusaha melakukan hal terbaik yang bisa Ia lakukan untuk Dinan.


“Bapak mau langsung makan?” tanya Layla dengan ramah.


“Masukkan semua masakanmu ke Tupperware,” seru Dinan.


Dahi Layla seketika berkerut. “Emang mau diapain, Pak?”


“Kita makan malam di rumah ayah, bawa semua makananmu, setelah itu bersiap-siap, aku tunggu setengah jam,” tutur Dinan, laki-laki itu kemudian pergi menuju ruangannya, meninggalkan Layla yang mengeluh ringan. Drama apalagi yang harus ia lihat nanti malam antara Dinan dan Tuan Marc?


Setengah jam kemudian Layla sudah menenteng Tupperware ke mobil Dinan. Mereka segera pergi menuju rumah Tuan Marc. Sepanjang perjalan mereka tidak banyak bicara, hanya musik yang mengalun indah di antara mereka. Layla memperhatikan jalanan, sesekali ia melirik kepada Dinan yang fokus menyetir. Apa rasanya saat Dinan mengakuinya sebagai istri di depan semua orang? Apa rasanya menjalin pernikahan yang sesungguh dengan Dinan?


“Bapak tadi kenapa cepat pulang?” tanya Layla yang teringat akan sesuatu.


“Capek di kantor,” tukas Dinan.


“Apa ada masalah, Pak?” tanya Layla memastikan.


Dinan mengembuskan nafas kasar, tidak mungkin ia mengaku bahwa karena Richard mengadukan pertemuan Layla dengan Bayu membuatnya tak nyaman di kantor seharian tadi.


“Tidak ada,” tutur Dinan.

__ADS_1


Layla mengangguk pelan. “Tempat baru untuk pantinya sangat bagus, Pak. Luas dan anak-anak sangat menyukainya,” terang Layla mencoba membuka percakapan di antara mereka.


“Baguslah,” jawab Dinan dengan singkat.


“Terimakasih banyak ya, Pak, untuk lahan baru itu. Oh ya, Pak, jika Bapak ada waktu kosong, kapan-kapan kita ke panti bareng ya, Pak. Main sama anak-anak di sana selalu menyenangkan. Nanti kita ajak Risa juga biar dapat teman baru di panti,” ajak Layla, ia berharap bisa membuat hati Dinan melunak walau perlahan.


“Jangan pernah dekati, Risa,” ucap Dinan dengan tegas, “aku tidak ingin tingkah burukmu ditiru oleh adikku.”


Layla seketika menelan ludah. Mungkin ini salah satu sikap Dinan yang amat tidak Layla sukai. Kata-kata Dinan amat tajam dan menusuk perasaannya.


“Saya tahu saya salah, Pak. Tapi saya tidak seburuk itu. Saya ingin meminta maaf sama Bapak, tapi waktu itu Bapak bilang kata maaf itu tidak berguna, yang harus saya lakukan adalah memperbaiki setiap kesalahan. Saya sudah mencobanya, Pak. Tapi Bapak tetap saja seperti ini sama saya, menyakiti hati saya dengan kata-kata Bapak,” ucap Layla dengan penuh kecewa.


Dinan mendesah pelan, entah kenapa ia bisa seperti itu sekarang? Padahal sebelumnya ia dengan cepat bisa melupakan kesalahan Layla. Apa dia terlalu memikirkan hubungan Layla dengan Bayu?


“Aku hanya ingin melindungi adikku, tidak ada maksud lain,” ucap Dinan dengan hati-hati.


“Saya pun tidak punya maksud buruk pada Risa. Dia juga adik saya, tidak mungkin saya mempengaruhi dia dengan hal-hal yang buruk,” ucap Layla dengan argumennya.


“Aku tidak mau berdebat, La,” sergah Dinan.


“Bapak selalu saja begini, saat kita berdebat dan Bapak tidak bisa menjawab kata-kata saya, Bapak selalu saja menghindar dengan cara seperti ini. Sikap Bapak ini membuat saya tidak nyaman. Saya selalu merasa tertekan karena sikap Bapak menyudutkan saya, seolah-olah saya yang salah dalam setiap masalah.”


Dinan berdesis kesal. “Lalu siapa yang salah? Aku yang salah karena kamu bertemu dengan laki-laki itu?” bentak Dinan dengan emosi.


“Iya!” Layla balas membentak, ia merasa Dinan tidak akan pernah marah kepadanya hingga ia berani menantang laki-laki itu.


“Dari awal ini memang salah, Bapak. Saat saya datang membawa dokumen itu ke ruangan Bapak, Bapak mengusir saya tanpa mengizinkan saya berkata apapun, lalu Tuan Marc meminta dokumen itu dari saya, itu salah Bapak, bukan salah saya. Saat kita menikah, Bapak yang menerimanya, saya hanya terpaksa untuk memenuhinya karena saya hanya karyawan rendah di perusahaan Bapak."

__ADS_1


"Bapak disiram Tuan Marc dengan air, itu salah Bapak, Bapak yang menyuruh saya meminta dokumen itu pada Tuan Marc. Saya pergi jalan dengan laki-laki lain, itu juga salah Bapak, Bapak tidak pernah menganggap saya sebagai istri Bapak, hingga saya mencari laki-laki lain. Semua ini salah Bapak, salah Bapak! Tapi dengan sikap Bapak itu, Bapak melimpahkan semua kesalahan kepada saya. Hingga saya merasa bersalah atas kesalahan Bapak sendiri.”


Mobil Dinan berhenti mendadak di tepi jalan. Laki-laki itu melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Membuat Layla yang tadi emosi sekarang malah cemas, apa dia berlebihan kepada Dinan barusan?


__ADS_2