Cinta Tak Bersuara

Cinta Tak Bersuara
Chapter 17


__ADS_3

Selesai mandi, Layla keluar dari kamar mandi dengan membawa gaun yang tadi ia pakai. Gadis itu melangkah pelan menuju ranjang Dinan yang masih rapi. Layla melihat laki-laki itu duduk di dekat jendela memandang tab-nya yang cukup besar. Dinan tampak sibuk membaca beberapa berita ekonomi disana.


Tak banyak bicara, Layla ingat bahwa Dinan menyuruhnya untuk bersiap-siap pulang. Entah pulang kemana, Layla tidak tahu sama sekali, padahal rumah Dinan jelas berada disana. Lekas Layla memasukkan baju di lemari ke dalam koper Dinan yang terbuka. Ia memasukkan pakaian hingga koper itu penuh sesak. Kemudian menutup koper itu dengan cepat. Setelahnya Layla beranjak ke cermin untuk menyisir rambutnya yang berantakan sehabis mandi.


“Pakai ini,” seru Dinan seraya menyodorkan hairdryer kepada Layla.


“Terima kasih, Pak,” jawab Layla. Ia mengeringkan rambut dengan hairdryer tersebut.


“Setelah selesai, bawa koper ke bawah, jangan lama-lama, Aku masih banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan.”


Dinan berlalu pergi meninggalkan Layla disana. Gadis itu melihat punggung Dinan keluar dari kamar dengan wajah bingung.


“Apa dia sebaik itu?” tanya Layla pada dirinya sendiri. “Bukannya dia itu tempramen? semena-mena dan kejam?”


“Dia memang kejam, seenaknya saja membuat kesepakatan yang jelas merugikanku sebagai perempuan,” dengus Layla yang kembali melanjutkan kegiatannya.


Sementara di lantai bawah, Dinan menghampiri Risa untuk berbicara sejenak dengan adiknya yang masih asyik menonton TV. Untuk kemudian menemui Tuan Marc dan Bu Eva yang masih duduk di dekat kolam.


“Aku butuh dokumen itu, Yah,” ucap Dinan yang membuat percakapan Tuan Marc dan Bu Eva berhenti seketika.


“Kamu baru saja menikah, sekarang sudah memikirkan masalah pekerjaan lagi, Nan.”


“Aku sudah menuruti keinginan Ayah, sekarang tepati kata-kata Ayah sesuai kesepakatan kita, juga berikan dokumen itu, aku ingin segera menyelesaikan masalah lahan itu.”


Tuan Marc mengembuskan nafas kasar. Ia sebenarnya tidak mau memberikan semua hartanya kepada Dinan tanpa menyisakan sedikitpun bagian untuk Bu Eva. Ia tidak bisa mengabaikan istrinya itu, juga Risa sekalipun Dinan berjanji akan menjaga anaknya itu kelak.

__ADS_1


“Kita masih harus membahasnya, Nan. Untuk dua hari ini jangan pikirkan dulu masalah pekerjaan. Kamu perlu waktu bersama dengan Layla untuk saling mengenal.”


“Aku tidak butuh perempuan itu, sekarang berikan dokumen itu dan tepati janji Ayah,” ucap Dinan tegas.


Tuan Marc tersenyum sinis, keras kepala Dinan membuatnya juga bersikap keras. “Sekarang kita lihat, siapa yang paling berkuasa, Nan.” Ia membuka korannya lagi untuk mencari kesibukan.


Bu Eva sedari tadi hanya diam, ia tidak bisa ikut campur dalam masalah ayah dan anak itu. Pun sampai detik itu ia tidak tahu bahwa Dinan tidak ingin memberikan sepeserpun harta Tuan Marc untuk dirinya dan Risa. Tuan Marc sendiri masih tidak setuju dengan keinginan Dinan itu, ia masih mengupayakan hal lain untuk membagi semua hartanya dengan adil bagi Dinan dan Risa.


“Ayah memang tidak akan memenuhi permintaanku, kan? Jadi kita lihat saja apa yang akan terjadi dengan perempuan pilihan ayah itu nanti,” ucap Dinan tanpa beban sama sekali.


Membuat Layla yang baru saja turun dari lantai atas menelan ludah mendengarnya. Perempuan itu sudah berdiri di ruang tengah dengan menarik koper yang tadi disuruh Dinan. Kali ini Layla bergidik ngeri, apa nasibnya tidak akan baik-baik saja nanti? Apalagi sekarang ia sudah tahu bahwa ia dan Dinan tidak akan tinggal di rumah itu. Setidaknya jika di rumah itu, ada Tuan Marc dan Bu Eva yang akan membelanya jika Dinan berlaku sewenang-wenang.


“Jaga sikapmu, Dinan. Dia istrimu, perlakukan dia sebagai istri,” ucap Tuan Marc dengan tegas. Sementara Bu Eva tampak cemas karena tahu Layla mendengar kalimat Dinan barusan.


Ia kemudian menghampiri Risa yang melihatnya dan Layla bergantian. Gadis cilik itu seperti bingung sendiri melihat tingkah kakaknya yang tidak biasa. Dinan dengan tersenyum menghampiri adiknya. Seolah tidak ada masalah sama sekali disana.


“Kakak sama tante pergi dulu ya, sayang,” ucap Dinan mendekap adik kecilnya.


“Kakak sama tante pergi kemana?” tanya Risa dengan polos.


“Ke rumah kami, nanti kalau ada waktu luang kakak sama tante ke sini lagi kok,” ucap Dinan.


Layla hanya tersenyum tipis kepada Risa kemudian ia beranjak pergi setelah memberi hormat kepada Tuan Marc dan Bu Eva yang memandangnya dengan bimbang.


“Kenapa Dinan harus seperti itu bicaranya?” seru Bu Eva yang merasa iba dengan Layla.

__ADS_1


“Tenang saja, Bun. Dinan takkan pernah berlaku  buruk kepada Layla, Ayah tidak akan salah mengambil keputusan ini,” ucap Tuan Marc yang kembali fokus dengan korannya.


Bu Eva hanya bisa berharap semua pikiran buruknya tidak akan pernah terjadi. Dan juga ia berharap yang terbaik untuk rumah tangga yang baru saja dibangun oleh Dinan dan Layla.


***


Mobil yang dilajukan Dinan berjalan cepat meninggalkan rumah Tuan Marc. Suasana di dalam mobil terasa sepi, Dinan dan Layla tak ada yang bersuara sama sekali. Dinan fokus melihat jalanan yang cukup ramai. Sementara Layla melamun melihat kesibukan orang-orang di pinggir jalan. Pikiran perempuan itu melayang jauh kepada sosok Bayu. Ada perasaan yang tersimpan untuk laki-laki itu jauh di dalam hatinya. Ada rindu yang ia rasakan setelah beberapa hari ini tidak bertemu dengan kekasih hatinya itu sama sekali.


Bahkan wajah Bayu selalu mengedar dalam pandangan Layla. Membuatnya terbersit untuk lari dari Dinan jika nanti anak-anak di panti sudah mendapatkan tempat yang layak. Layla memutar kepala untuk melihat Dinan yang fokus mengemudi. Laki-laki itu amat tampan, kulitnya putih, rahangnya tegas dan sorot matanya tajam. Tubuhya juga bagus, rajin olahraga sepertinya, namun kekejaman laki-laki itu yang terkenal di kantor membuat nyali Layla ciut setiap harus berhadapan dengannya.


“Ada barang yang harus kamu jemput dulu ke rumah?” tanya Dinan membuka suara saat menyadari Layla memandangnya. Tatapan Layla membuatnya merasa gadis itu ingin meminta sesuatu.


“Jika Bapak tidak keberatan, saya ingin menjemput beberapa barang pribadi saya di rumah,” ucap Layla.


“Beritahu jalannya,” tukas Dinan dengan datar.


Mobil tersebut berbelok di simpang jalan, menuju kontrakan Layla. Dinan menambah kecepatan mobilnya karena sore sudah menjelang dan gelap akan segera datang.  Tak banyak yang ingin dijemput Layla. Hanya beberapa saja untuk keperluannya, karena pakaiannya sudah disiapkan oleh Bu Eva. Lagi pula ia tidak mau membawa banyak barang murahannya untuk tinggal di apartemen Dinan yang pasti amat mewah.


Layla kembali melihat kepada Dinan yang masih fokus menyetir. Untuk beberapa kesempatan, ia merasa Dinan tidak sekejam yang diisukan orang-orang di kantor. Saat pertemuan pertama mereka, Dinan marah karena kesalahan Layla sendiri yang dengan lancang mendorong pintu ruangan Dinan hingga laki-laki itu terjatuh. Sementara di beberapa kesempatan sikap Dinan terlihat normal.


“Ada lagi yang kamu inginkan?” tanya Dinan yang kembali menyadari jika Layla kembali melihat kepadanya.


“Tidak, Pak, saya ingin mengucapkan terimakasih karena mau mengantar saya ke kontrakan sebentar.”


*note : jangan lupa like dan tambah ke favorit ya teman-teman

__ADS_1


__ADS_2