Cinta untuk tuan muda kejam

Cinta untuk tuan muda kejam
Widya menampar Merpati


__ADS_3

"lalu aku harus apa?". ucap Daren kebingungan.


"ya telvon siapa kek buat bukain pintu nya cepet".perintah Della membuat Daren langsung merogoh kantung jas maupun celananya .


"lama banget sih cuma ngambil handphone doang". Della semakin kesal.


"Mbak handphone aku kayaknya di meja kerja deh".


"apa?! gimana sih kamu terus kita mau semalem gitu disini?".


"ya mbak kan punya handphone ya mbak telvon lah kawan mbak".


"kalo aku bawa handphone tanpa kamu ngomong aku sudah menelpon nya , handphone nya aku tinggal di dalam tas , aku pikir tadi hanya bertemu sebentar egh taunya ketemu sama kamu, kalo aku tau bakal ketemu sama kamu gak bakalan aku mau kesini buang buang waktu aja".


"maaf mbak". Daren menunduk merasa bersalah.


"maaf mbak maaf mbak". Della mengikuti cara ngomong Daren sambil meledek.


"emang kamu pikir dengan kata maaf pintu langsung terbuka gitu?".


"ya enggak sih". Daren masih setia dalam nunduk nya.


Della semakin malas meladeni Daren , ia melangkah menuruni anak tangga dan duduk di di lantai sambil bersandar di tembok, Daren pun mengikuti Della kini ia duduk di tepat samping Della.


"mbak masih marah ya? aku minta maaf mbak. jangan marah dong mbak". ucap Daren dengan nada memohon.


"sudahlah percuma minta maaf semua sudah terjadi. aku juga minta maaf karena aku sudah menampar mu". ucap Della seketika merasa bersalah sudah menampar adik dari bos nya, namun disisi lain Della juga sangat kesal dengan tingkah Daren. disini Della tidak bisa menyalahkan siapa pun mereka juga tidak akan tau jika mereka akan terjebak di atap ini.


"tidak apa apa mbak itu kan salah ku juga". ucap Daren menarik nafas panjang dan membuang nya dengan kasar.


"terserah deh".


jam menunjukkan pukul 11 malam Della mulai merasakan dingin di tubuh nya Daren yang seakan mengetahui Della sedang kedinginan langsung melepas jaket nya dan memakainya ke tubuh Della.


"eghh". ucap Della langsung terkejut.


"aku tau kok mbak Della mulai kedinginan, jadi pakek aja jaket nya". ucap Daren sembari tersenyum.

__ADS_1


"terus kamu?". ucap Della menatap Daren.


"aku udah biasa kok dengan hawa dingin, jadi jaket nya mbak pakek aja dari pada mbak masuk angin". Daren memang sudah terbiasa dengan hawa dingin apalagi dia yang sudah lama hidup di eropa musim salju belum sebanding dingin nya dengan dingin nya malam ,pikir Daren.


"heumm oke lah , tapi aku ngantuk mau tidur di mana coba?". ucap Della melihat sekeliling.


"eummm". Daren berfikir sejenak , lalu ia menepuk nepuk bahunya. " mbak bisa tidur bersandar di pundak aku". ucap Daren dengan senyum.


"dih males kamu ngambil kesempatan dalam kesempitan". ucap Della sinis.


"ya sudah kalau mbak ngak mau". Daren langsung memejamkan matanya dengan posisi yang yang sama duduk bersandar di dinding.


Della menatap Daren yang sedang tertidur matanya tertuju pada pipi mulus Daren yang tadi sudah ia tampar.


terlihat 5 jari mengecap di pipi Daren akibat tamparannya.


pasti itu sangat sakit, aku menamparnya sangat kuat, kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini sih? dan kenapa juga aku jengkel saat dia tidak ada kabar". batin Della bingung dengan dirinya sendiri.


tak selang berapa lama Della tertidur dan tanpa sadar ia menumpukan kepalanya di bahu Daren.


"mbak, emang mbak bener gak tau dimana mas Putra? ". tanya Putri disela sela langkah nya .


"gak tau deh ,kenapa kamu kangen ya di antar jemput sama dia ya kan". ucap Merpati meledek.


"ya gitu deh". kata Putri senyum malu.


Putri tidak cerita apapun kepada Merpati tentang dirinya yang menemui salma kemarin. karena ia tidak mau kakak nya itu ikut sedih karena melihat nya sedih.


tak butuh waktu lama kakak beradik itu langsung memanggil seisi rumah untuk sarapan bersama.


tak lama kemudian para keluarga langsung datang dan duduk di kursi masing masing.


"Daren kemana emang dia belum bangun?". tanya Merpati pada Putri.


"loh aku fikir dia sudah kumpul di sini soalnya di kamar kak Daren gak ada".jelas Putri.


"haiss... apa anak itu tidak pulang semalaman? benar benar mau aku marahi dia". ucap Elang geram.

__ADS_1


ia langsung mengambil handphone nya yang ada di saku jas nya dan langsung mencari nomor telepon Daren.


berkali kali Elang mencoba menelpon Daren namun Daren tidak mengangkat telpon nya.


"sudah lah sebaiknya kita makan dulu jugaan kan Daren laki laki dia juga sudah dewasa dia mengerti mana yang salah dan mana yang salah". ucap Merpati melerai emosi Elang.


Elang pun menurutku apa yang Merpati katakan , sedangkan Widya yang melihat Elang sangat menuruti kata kata Merpati merasa sangat jengkel , kini waktu Elang untuk Widya sudah di rebut semua oleh Merpati , bahkan kata kata yang Widya ucapkan tidak di gubris lagi oleh Elang.


setelah sarapan selesai Elang langsung berangkat menggunakan mobil nya sedangkan Putri berangkat bersama supir.


setelah semua beraktifitas dengan kesibukan nya masing masing Merpati membawa Alexa ke taman halaman belakang untuk berjemur di bawah terik nya matahari.


tiba tiba Widya datang dengan wajah angkuh nya.


"enak ya yang bisa buat Elang patuh dan tunduk". ucap Widya sinis .


"maksud Tante apa ya?". Merpati benar benar tidak tau apa yang di maksud oleh Widya.


"pura pura polos lagi , apa yang kamu lakukan? sampai sampai Elang bertekuk lulut padamu".


"aku tidak melakukan apa apa , lagian memang nya salah kalau Elang nurut padaku ? aku kan istrinya ". ucap Merpati tegas.


"wahh mentang mentang merasa menjadi kesayangan Elang kamu berani melawanku?". ucap Widya dengan geram.


plak... 1 tamparan keras melayang kepipi mungil milik Merpati.


" awssss" ringis Merpati.


"rasain ! itu balasan buat kamu yang sudah berani melawan ku!". ucap Widya langsung mencengkram dagu Merpati dengan kuat. " kamu tau gara gara kamu Elang seakan menjauh dari ku waktu nya sangat berkurang drastis padaku itu semua gara gara kamu wanita upik abu". lanjut Widya langsung melepas kasar cengkraman nya.


sedangkan Alexa yang melihat merasa geram namun ia saat ini tidak bisa berbuat apa apa. setelah puas memarahi Merpati Widya langsung melangkah pergi, Merpati melihat ke arah Alexa dan tidak memperdulikannya kepergian Widya.


wajah Alexa sudah basah akibat air matanya yang jatuh di pipi Alexa, Merpati pun langsung menghapus air mata itu.


"omma, kenapa omma menangis ? omma menangis karena perlakuan Tante Widya ya? sudah ya omma jangan menangis , Merpati gak papa kok tamparan itu tidak terasa sakit bagi Merpati". ucap Merpati seakan tau apa penyebab Alexa menangis. ia pun senyum yang lebar agar Alexa tidak khawatir padanya , padahal tamparan yang Widya berikan tadi terasa sangat sakit dan panas di pipinya .


like.komen.vote.gift . dan rate bintang 5. makasih pay pay.

__ADS_1


__ADS_2