
Dengan pikiran kalutnya Garvin kembali kerumahnya dengan perasaan yang sangat menyakitkan. Lampu rumahnya sudah gelap, itu pertanda penghuni rumah sudah tertidur tak terkecuali sang papa.
Sebenarnya Garvin malas pulang kekediamannya namun sebelum pergi, Eglar memintanya untuk seceatnya pulang. Karena Eglar tak ingin kondisi putranya drop disaat hari bahagianya.
Dengan langkah lesu dan letihnya, Garvin mendudukkan dirinya disofa ruang tamu. Apakah bisa dirinya membuang perasaanya jauh- jauh untuk Maura sedangkan dirinya bakal satu atap nantinya.
"Sayang, jika itu mau kamu. Aku bisa apa sayang." Ucap Garvin mengeram frustasi, Efek minuman keras tak juga membuatnya menghilangkan kegelisahan di hatinya. Dirinya menelentangkan tubuhnya di atas sofa, Dengan tangan yang ada di atas dahinya.
Mau menyalahkan sang papa juga tak ada gunanya sebab Maura telah memohon padanya untuk bungkam dengan hubungannya. Akankah kisah cintanya berakhir indah atau malah menemukan jodoh masing- masing nantinya.
Garvin memejamkan matanya, terlalu capek menurutnya menerima takdir yang selalu mempermainkan cintanya.
...****************...
Seminggu sudah berlalu dan kini tiba saatnya Eglar dan Sherly menyakralkan hubungan mereka. Kediaman Maura sudah di sulap dengan demikian rupa walau hanya beberapa tamu undangan namun pernikahan mamanya dan papa barunya sangatlah mewah menurutnya.
Air mata Maura mengalir kala mengingat kejadian ditaman belakang yang membiat hubungannya harus berakhir sampai disitu.
Maura terus saja meyakini hatinya jika keputusan yang diambilnya adalah pilihan yang tepat. Walau awalnya sempat ragu namun Maura harus bisa karena Maura takut membuat sang mama kecewa padanya.
"Plis Maura, Lu harus tegar demi nyokap lu. Lu gak boleh cengeng ." Ujar Maura seorang diri sembari tangannya mengusap kasar air mata yang dengan kurang ajarnya menetes.
Tiba saatnya di acara yang membuat siapapun harapc- harap cemas. Hingga di hitungan menit dan dengan sekali tarikan nafas dalamnya. Eglar mampu mengucapkan janji suci tersebut dengan khidmat.
Maura yang bersanding di samping mamanya nampak meneteskan air mata dalam diamnya. Bukannya haru atas menyatunya kisah cinta Eglar dan Sherly. Melainkan hatinya hancur kala sang papa dengan lantangnya mengucapkan kalimat sakral itu.
__ADS_1
Sama dengan apa yang dirasakan Garvin, namun pria itu sangat pintar menyembunyikan kegelisahan hatinya. Tara dan Bara yang ikut menghadiri acara tersebut hanya bisa menguatkan sahabatnya. Mereka tau jika Garvin saat ini dalam keadaan tak baik- baik saja.
Begitupula sahabat dari Maura Devina, Arin dan Rania mereka memeluk haru atas apa yang menimpa sahabatnya. Mereka sangat menyayangkan jika hubungan yang hanya berumur sehari harus kandas atas keputusan keluarganya. Namun mereka tak bisa berbuat apa- apa, karena hanya takdirlah yang mampu mengubah segalanya.
Kini prosesi selanjutnya yaitu berfoto bersama keluarga besar. Maura nampak gugup kala harus melangkahkan kakinya ke atas pelaminan, Apalagi dirinya juga harus bersanding dengan mantan kekasih sekaligus kakak tirinya.
Jantung mereka sama- sama berpacu dengan cepatnya, Apalagi saat foto bersama berlangsung membuat Maura mendongak menatap Garvin yang berada di sebelahnya.
Maura yakin jika tangan yang bertengger dipinggangnya adalah tangan Garvin. Maura hanya diam saja menanggapinya, bukan berarti tak keberatan. Namun jika Maura bersikeras memberontak, ia yakin jika orang tuanya akan tau apa yang di lakukan Garvin padanya.
"Kak..." panggil Maura dengan pelannya, dirinya mendongak agar Garvin bisa mendengar panggilannya.
Garvin menaikkan satu alisnya dengan tampang datarnya. Namun sukses membuat hati Maura tercubit dengan sikap yang tak biasa dari Garvin tersebut.
"Kamu yang memintaku menerimanya sayang, tapi jangan harap kamu bisa lepas dariku." Bisik Garvin membuat Maura meremang di tempat.
"Apa maksutnya." Batin Maura kembali mendongak kala Garvin sudah kembali seperti semula. Garvin menggaruk kakinya agar tak ada yang curiga jika Maura dan Garvin tengah berbisik. Apalagi mereka di atas pelaminan dan menjadi sorotan oleh semua tamu undangan.
"Pa, Aku mau berfoto berdua dengan Maura. Apakah boleh.?" Ujar Garvin semakin merapatkan dirinya. Maura merasa bingung dengan tingkah Garvin saat ini, bukankah kemarin dirinya menyetujui kemauannya. Lalu mengapa sekarang tingkahnya berubah seperti saat ini.
"Berdua dengan Rara.?" Tanya Eglar lagi memastikan dengan seksama. Bingung tentu saja dengan kemauan sang putra yang menginginkan foto bersama Maura saja. Bukankah disini mempelai pengatinnya adalah dirinya dan Sherly.
Garvin mengangguk membenarkan ucapan sang papa. Dirinya butuh privacy dengan wanita yang menyiksa hatinya belakangan ini.
"Kak." Seru Maura yang tak menerima ucapan Garvin, dirinya ingin protes namun ucapan sang papa membuatnya dilanda kegelisahan.
__ADS_1
"Baiklah, jangan keluar dari rumah ini. Pesta belum usai vin, bagaimana nanti kata orang jika anaknya keluyuran di luar. Dan buat kamu Rara, jangan takut karena abangmu ini sekarang akan menjaga kamu." Papar Eglar membua lengkungan sempurna di bibir Garvin.
"Pa bagaimana bisa aku aman dijaga kak Garvin." Batin Maura berteriak dan menangis,Tentu saja takkan ada yang mendengarnya.
Tanpa menunggu lama , Garvin merangkul bahu Maura ke tempat yang menurutnya sepi dan netra Garvin mengarah pada taman belakang yang sempat menjadi saksi kandasnya hubungan mereka.
"Kak.." seru Maura kala Garvin menariknya di tempat yang mulai lenggang hilir mudik para undangan.
Garvin tak menggubrisnya namun dirinya semakin cepat menarik tangan Maura agar cepat sampai ketempat yang ia mau.
"Kak plis hentikan." Ujar Maura lagi mencoba melepaskan cekalan tangan Garvin pada lengannya.
Sekali lagi Garvin seperti tak mendengarkannya, Hingga dipersekian menit punggung Maura sudah terbentur tembok oleh ulah Garvin. Bukannya sakit sebab Maura didorong dengan penuh perasaan oleh Garvin.
"Kakmmptt..." Ucap Maura memberontak namun ciuman Garvin pada bibirnya hingga membuatnya bungkam dan mematung.
Hati Maura berdenyut dengan apa yang dilakukan Garvin padanya belum genap sehari dirinya menjadi seorang adik untuk Garvin . Tetapi kelakuan Garvin membuatnya menyesal telah mengenalnya.
Plakkkk....
Tamparan mendarat sempurna dipipi Garvin, ulah siapa lagi kalau bukan Maura. Maura memang sengaja melakukannya karna menurutnya tindakan yang dilakukan Garvin sangatlah tak senonoh. Apalagi dirinya baru beberapa jam menjadi adiknya.
"Kenapa kakak lakuin itu hah? Bukankah kakak sudah menyetujui permintaanku. Lalu kenapa kakak jadi kayak gini hah, Aku adikmu kak." Ujar Maura berderai air mata yang sudah mengalir dipipinya.
"Aku memang menetujuinya sayang, Tapi pada malam itu tapi sekarang aku berubah fikiran. Kamu bukan adikku Maura , kamu wanitaku, kamu kekasihku. Ingat itu." Ucap Garvin dengan suara lantangnya tak lupa tangannya mencemgkram erat bahu Maura yang nampak semakin bergetar karena menangis.
__ADS_1
"Kamu egois kak." Ujar Maura dengan suara melemah, Dirinya menundukkan kepalanya yang merasa enggan menatap pria dihadapannya ini.
Garvin tak merespon ucapan Maura namun tangannya menarik tubuh Maura kedekapannya. Sungguh akan sangat sulit bagi keduanya membuka lembaran baru dengan status barunya. Apalagi perasaan mereka saling bertaut satu sama lainnya.