
Jam dinding masih menunjukkan pukul 02:46, hari akan menjelang pagi. Namun sesosok pria yang tengah tertidur di sofa nampak masih enggan memejamkan matanya. Walaupun rasa badan dan tubuhnya lelah dan letih. Namun entah mengapa fikirannya tak bisa membuatnya tertidur dengan nyenyaknya. Mengingat masalah silih berganti menghampirinya.
Maura yang tadi kembali mengeluh pusing karena efek alkohol yang diminumnya. Sehingga membuat Garvin tak ada pilihan lain selain menyuruh Maura istirahat sehabis membersihkan diri. Walaupun Garvin berkeinginan bercerita bahkan ingin meluruskan kesalahan pahaman yang terjadi. Tetapi melihat kondisi Maura seperti itu membuatnya tak tega. Biarlah esok fikir Garvin, Dirinya akan menjelaskan bahkan melanjutkan apa yang belum sempat diucapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari menjelang, dengan kicauan burung yang membuat suasana semakin asri. Tapi semua itu tak berpengaruh di keluarga Lubis yang nampak saling diam. Apalagi Jo dan Richards nampak acuh seperti tak ingin bertegur sapa. Membuat Claudia yang tak tau apa- apa seakan heran dengan kelakuan dua pria di hadapannya.
Bahkan pertanyaan yang mengarah pada keduanya seakan enggan dijawab. Mungkinkah faktor semalam yang membuat keduanya nampak asing dimata Claudia.
Flashback on...
Setelah mengantar Maura dan kembali pulang dengan keadaan emosi yang terlamapau jelas diwajahnya. Richard yang menunggu kedatangan sang anak, karena ada sesuatu yang dibahas dengan Jo dan itu sangatlah penting.
Tak peduli dengan tampang Jo yang seperti tengah emosi, namun dirinya harus secepatnya mengatakan hal tersebut. Richard tak ingin hal yang buruk terjadi pada Maura, apalagi sampai menyakiti hati Maura.
" Datang ke ruangan papa Jo, ada hal yang ingin papa katakan" Ujar Richard ketika melihat Jo masuk ke dalam rumah dengan tampang emosinya.
Claudia yang berada di samping Richard hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar apa yang diucapkan Richard. Ada kepentingan apa sehingga tak ada hari esok untuk melanjutkan fikir Claudia. Karena memang Richard dan Claudia memang sengaja menunggu kedatangan Jo karena khawatir . Apalagi hari sudah menjelang malam, Dan Jo masih belum datang mengantarkan Maura pulang. Baik Richard dna Claudia takut jika ada hal buruk pada Maura maupun Jo.
" Pa, apa harus sekarang. Ini sudah tengah malam loh. " Pungkas Claudia melihat jam dinding yang tengah menunjukkan pukul 00.01.
__ADS_1
Menurut Claudia, Ia tak ingin kedua pria dihadapannya ini sakit karena terlalu sering begadang karena urusan pekerjaan. Apalagi melihat dirinya yang tak mungkin bisa mengurus keduanya jika sakit. Mengurus dirinya sendiri saja kesusahan apalagi mengurus orang- orang yang disayangngnya.
"Gak bisa ditunda lagi ma, masalahnya ini sangatlah besar harus segera di tangani. Kalau tidak ,perusahaan yang akan menanggung." Sahut Richard bohong ,taklupa dengan mata menyorot penuh arti ke arah Jo.
" Oke baiklah. Kalau sudah selesai nanti cepat istirahat. Mama gak mau kalian sakit." Ujar Claudia mendorong kursi rodanya seorang diri. Dengan dirinya pergi ke kamar, itu akan membuat keduanya bisa dengan cepat memulai membahas permasalahannya di ruangan Richard. Claudia tak akan bisa melarangnya karena itu menyangkut kehidupan keluarganya selanjutnya.
Setelah kepergian Claudia, Richard melangkahkan kakinya ke arah ruangannya dengan penuh ke was- wasan. Takut apa yang dilihat beberapa jam yang lalu adalah kenyataan. Jika itu terjadi, Richard tak akan segan- segan memberi peringatan pada Jo nantinya.
Ceklekk....
Jo yang mengikuti langkah Richard menutup pintu dengan tangan agak gemetaran. Akankah Ricard tau apa yang dilakukan Jo pada Maura barusan . Jika benar, itu tandanya dirinya takkan aman hingga beberapa hari terakhir fikir Jo .
" Jam 18:07 kamu ada dimana Jo." Ujar Richard ketika sudah mendudukkan bokongnya di kursi kebesaran miliknya. Apalagi netranya melihat lekat ke arah Jo yang hendak duduk didepannya.
Jantung Jo berdegub dengan kencang kala kata- kata tersebut keluar dari mulut Richard. Dengan rasa gugupnya, Jo masih mematung tanpa ada niatan menjawab ucapan Richard. Fikirannya kembali tertuju pada beberapa jam lalu, Dimana Maura juga bercerita seperti melihat dirinya. Apakah Maura dan Richard bersama ketika melihat dirinya.
Brakk....
"Jawab Jo, Apa kamu sudah bisu hingga tak bisa menjawab pertanyaan papa." Ujar Richard menggebrak meja dengan emosi karena Jo tak menjawab pertanyaannya.
"Aku bersama dengan Rendi pa di apertementnya." Bohong Jo tak berani memandang mata Richard. Jo yakin jika dirinya melihat mata Richard , Richard akan dengan mudah tau kebohongannya.
__ADS_1
" Jujurlah Jo." Sahut Richard bersedekap dada sembari menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
Keringat dingin sudah mulai mengucur di dahi Jo mendengar ucapan Richard. Begitulah tabiat Richard yang tak bisa di bohongi. Dan hal itu sangatlah dibenci oleh sosok Jo.
"Pa, tadi aku gak sengaja bertemu dengannya pa. Bahkan aku berantem tadi." Jujur Jo yang tak punya pilihan lain. Karena sejauh mana Jo berbohong, Richard akan selalu tau semuanya.
"Cihhh... masih ingin mengelak Jo, Apa kamu ingin papa membatalkan perjodohanmu dengan gadis baik seperti Maura. Jika kelakuan burukmu saja tak bisa hilang dari dirimu Jo." Sergah Richard dengan penuh ancaman tak lupa senyuman sinis di tujukan pada sang darah daging.
"Jangan pa, Aku sudah berusaha semampuku . Tapi aku tadi tak sengaja bertemu dengannya pa." Timpal Jo mencoba memberi penjelasan, Karena ia tau Richard takkan main- main dengan ucapannya.
"Ingat Jo, Papa takkan membiarkan Maura sakit hati karena ulahmu. Dari pada liat dia sakit hati, mending batalin segera perjodohan itu. Papa yakin Agler ataupun Sherly mau menerimanya." Seru Richard mencoba bernegosiasi kala Jo sangat sulit merubah keburukannya.
Jika memang Jo tak bisa merubah sifatnya, Richard akan benar- benar membatalkan perjodohan itu. Karena baginya perasaan Maura jauh lebih penting dari segalanya.
Meskipun dulu Jo dan Maura sempat dipertemukan di waktu kecil. Hingga membuat Jo jatuh hati pada sosok gadis mungil bernama Maura Alexio. Sampai saat ini perasaan itu tak bisa pernah lenyap. Apalagi Jo pernah hampir gila kerena mencari sosok gadis mungil di waktu kecil yang pernah bermain bersamanya.
Dengan rasa kefrustasian, Jo malah memilih jalan yang salah. Dimana dirinya mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengencani beberapa wanita. Richard dan Claudia tak tau lagi harus berbuat apa kala tau sifat dan tabiat Jo yang sesungguhnya. Apalagi Jo secara terang- terangan membawa wanitanya kerumah mewahnya.
"Jo mohon pa, jangan pernah batalin perjodohan itu. Jo janji akan menghilangkan kelakuan buruk itu. Tapi Jo mohon, Jangan sekalipun batalin perjodohan itu karena Jo hampir gila mencari gadis kecil milik Jo pa." Sergah Jo memohon pada Richard dengan kesungguhannya.
Jo takut yang diucapkan Richard akan menjadi kenyataan. Mengingat dirinya hampir gila mencari teman kecil yang begitu mudahnya mendapatkan perhatiannya.
__ADS_1
Bersambung....